NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 13 Meja Makan dan Tatapan Berbahaya

Ballroom hotel tempat dinner investor malam itu terlalu megah untuk ukuran acara yang menurut Theo Santoso disebut “sekadar jamuan santai.”

Kalau ini santai, maka audit tahunan mungkin setara piknik keluarga.

Rania Azarina melangkah masuk di sisi Gavin sambil berusaha mengabaikan tatapan puluhan pasang mata yang langsung tertuju pada mereka.

Gaun hitam yang dikenakannya mendadak terlalu pas di tubuh.

Bukan karena modelnya.

Melainkan karena tangan Gavin yang masih bertengger mantap di pinggangnya sejak mereka turun dari mobil.

Hangat.

Terlalu natural.

Dan terlalu mudah membuat jantungnya kehilangan ritme.

“Kenapa tangan kamu belum pindah?” bisiknya tanpa mengubah ekspresi.

Gavin tetap tersenyum profesional.

“Karena investor sedang melihat.”

“Kita bahkan belum duduk.”

“Antisipasi.”

“Manipulatif.”

“Efisien.”

Rania mendecak pelan.

Sialnya, ia mulai terbiasa dengan jawaban-jawaban seperti itu.

Sebelum sempat membalas, suara berat yang terlalu familiar terdengar dari belakang.

Clarissa berdiri di samping Theo, diikuti beberapa petinggi perusahaan lain.

“Bagus. Kalian datang tepat waktu.”

Theo Santoso.

Sudah berdiri di sana dengan tuxedo hitam sempurna dan ekspresi datar khasnya.

Kalau ada orang yang bisa terlihat mengintimidasi bahkan saat menghadiri acara formal, itu dia.

Matanya menyapu penampilan mereka.

Lalu berhenti beberapa detik.

Tatapannya sempat turun ke tangan Gavin di pinggang Rania.

Lalu naik lagi.

Mengamati.

Menilai.

Seperti auditor hubungan.

Rania mendadak ingin pindah negara.

“Lumayan meyakinkan.”

Rania mengernyit.

“...Terima kasih?”

“Itu bukan pujian.”

“Tentu saja bukan.”

Theo mengangguk tipis.

“Investor utama kita, Robert Lim, sangat teliti.”

Ia menatap mereka bergantian.

“Kalau kalian terlihat palsu, dia akan tahu.”

Kalimat itu membuat bahu Rania menegang.

Seolah belum cukup, Theo menambahkan:

“Dan kalau dia tahu, kesepakatan ekspansi regional senilai ratusan miliar bisa gagal.”

Theo menoleh pada Rania.

"Jangan mengecewakan saya".

Lalu ia berbalik dan pergi.

Rania menatap punggung CEO mereka dengan hampa.

“Saya kadang bertanya-tanya apakah beliau pernah punya masa kecil yang normal.”

“Dengan Theo, saya tidak berani berasumsi.”

Investor utama malam itu bernama Robert Lim.

Pria Singapura berusia sekitar lima puluh tahun dengan senyum ramah dan mata yang terlalu tajam.

Robert memperhatikan interaksi mereka.

“Ah! The newlyweds!”

Rania memaksakan senyum.

“Yes.”

Robert tertawa kecil.

“Your CEO already told us about the office romance.”

Rania hampir tersedak udara.

Ia menoleh tajam ke Theo yang berdiri beberapa meter dari sana.

Pria itu sama sekali tidak terlihat bersalah.

Tentu saja tidak.

“Please, sit.”

Mereka duduk bersebelahan di meja bundar utama.

Sayangnya, Clarissa duduk tepat di seberang Gavin.

Dan dari cara perempuan itu sesekali melirik, jelas ia menikmati situasi ini.

Bencana.

Rania berusaha tersenyum natural.

Masalahnya, natural terasa sulit saat seluruh kesuksesan bisnis perusahaan bergantung pada kemampuan akting pernikahanmu.

Percakapan awal berjalan aman.

Tentang pasar regional.

Strategi ekspansi.

Prediksi tren digital.

Topik yang nyaman.

Wilayah profesional.

Makan malam baru berjalan lima belas menit ketika Robert akhirnya melontarkan pertanyaan yang langsung membuat napas Rania tercekat.

“So, tell us. How did you two fall in love?”

Sunyi.

Garpu di tangan Rania nyaris terlepas.

Ia menoleh pada Gavin.

Gavin menoleh padanya.

Tatapan mereka bertemu.

Satu detik.

Dua detik.

Tidak ada skrip.

Tidak ada persiapan.

Dan jelas Theo sengaja membiarkan ini terjadi.

“Ladies first,” kata Robert ceria.

Sial.

Rania menegakkan punggung.

Otaknya bekerja cepat.

Lalu ia tersenyum.

Dipaksakan.

“Actually—”

“Dia membenci saya saat pertama kali bertemu.”

Suara Gavin memotongnya.

Rania menoleh.

Apa?

Robert tertawa.

“Oh?”

Gavin menatapnya.

Tatapannya tenang.

Nyaris terlalu tenang.

“Meeting pertama kami dua tahun lalu. Saya mengkritik presentasinya di depan semua orang.”

Rania membeku.

Karena itu nyata.

Benar-benar terjadi.

Dan pria itu mengingatnya.

“Bukan mengkritik,” sela Rania refleks.

“Kamu menghancurkan seluruh slide saya.”

Gavin tersenyum tipis.

“Presentasimu memang buruk.”

“Karena kamu datang terlambat dan mengubah brief setengah jam sebelumnya.”

Robert tertawa.

“Interesting,” kata Robert.

Lalu ia menatap mereka penuh minat.

“What happened next?”

“Awalnya kami saling tidak suka," kata Rania.

Robert tampak tertarik.

“Oh?”

Rania melirik Gavin.

Pria itu menatapnya, memberi isyarat halus agar lanjut.

“Di kantor, kami selalu bersaing. Setiap presentasi berubah jadi medan perang kecil.”

“Masih terdengar seperti rivalitas.”

“Memang.”

Rania mengambil napas.

“Lalu suatu hari saya sadar... orang yang paling sering menantang saya justru orang yang paling mendorong saya untuk berkembang."

Hening.

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa rencana.

Dan entah kenapa terasa terlalu jujur.

Tatapan Gavin berubah.

Sedikit.

Nyaris tak terlihat.

Namun cukup membuat jantung Rania berdetak lebih cepat.

Robert tersenyum puas.

“Beautiful.”

Lalu ia menoleh pada Gavin.

“And you?”

Semua mata kini tertuju pada pria itu.

Gavin meletakkan gelasnya perlahan.

Tatapannya tak lepas dari Rania.

“Awalnya saya mengaguminya.”

Napas Rania tertahan.

“Rania adalah satu-satunya orang di kantor yang tidak pernah berusaha menyenangkan saya.”

Beberapa orang tertawa.

Termasuk Robert.

Namun Gavin belum selesai.

“Dia selalu menantang setiap ide saya. Mengkritik saat perlu. Dan tetap berdiri teguh meski semua orang lain memilih aman.”

Nada suaranya tenang.

Terkontrol.

Tapi terlalu tulus.

“Jadi saya pikir... kalau suatu hari saya ingin membangun sesuatu yang besar dengan seseorang, saya ingin orang itu adalah dia.”

Sunyi.

Rania membeku.

Apa-apaan ini?

Ini terlalu bagus untuk sekadar improvisasi.

Clarissa terlihat kehilangan senyumnya sesaat.

Ia menyesap wine perlahan.

Senyumnya masih ada.

Tapi jemarinya mencengkeram garpu sedikit terlalu erat.

Robert bertepuk tangan kecil.

“Now that,” katanya puas, “sounds real.”

Di ujung ruangan, Theo mengangguk tipis.

Seolah mencatat bahwa performa mereka memuaskan.

Psikopat.

Masalahnya, pujian Robert belum cukup.

Setelah dessert dihidangkan, pria itu tersenyum jahil.

“One last thing.”

Rania langsung punya firasat buruk.

“I believe in chemistry.”

Oh, tidak.

Robert menatap mereka berdua bergantian.

“Would you mind proving yours?”

Sunyi.

Jantung Rania langsung menghantam tulang rusuknya.

Karena dari semua kemungkinan skenario malam ini, hanya ada satu cara paling logis untuk “membuktikan chemistry.” Dan ia sangat tidak siap jika Gavin memikirkan hal yang sama.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!