NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Keesokan paginya, suasana di ruang makan mansion Karadağ terasa sangat dingin, meski sinar matahari musim semi Istanbul mulai menembus jendela kaca yang besar.

Aliya sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya—rok lipat dan kemeja putih yang dipadu dengan rompi almamater.

Wajahnya terlihat sedikit pucat, dan anting-anting yang ia temukan semalam masih tersimpan rapat di saku roknya, menjadi beban rahasia yang menyesakkan.

Onur yang sudah duduk di kursi kebesaran di ujung meja, meletakkan surat kabarnya saat melihat Aliya melangkah ragu menuju ruang makan.

"Aliya, duduklah. Sarapan dulu sebelum kamu berangkat sekolah," ucap Onur dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, namun tetap memiliki wibawa yang tak terbantahkan.

Aliya mengangguk kecil dan duduk di kursi yang ditarikkan oleh salah seorang pelayan.

Di seberangnya, Hakan sedang asyik memotong daging asap dengan raut wajah yang penuh penghinaan.

"Lihatlah ini," Hakan tiba-tiba bersuara, memecah keheningan dengan tawa remehnya.

"Sejak kapan mansion Karadağ berubah menjadi asrama sekolah? Ayah, apakah kita sekarang juga membuka layanan antar jemput anak sekolah dengan limusin?"

Aliya menunduk dalam, tangannya mencengkeram erat pinggiran seragamnya di bawah meja.

"Hakan, tutup mulutmu," desis Emirhan yang baru saja masuk dan mengambil tempat di samping Aliya. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang sangat nyata.

Hakan justru tertawa lebih lebar, sama sekali tidak takut.

"Kenapa, Kak? Aku hanya bicara kenyataan. Gadis ini terlihat sangat asing di meja makan ini. Lihat saja caranya memegang sendok, sangat kontras dengan kemewahan di sekelilingnya. Apa dia tahu berapa harga satu piring yang dia gunakan sekarang?"

Emirhan berhenti mengaduk kopinya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Hakan dengan tatapan yang sangat tajam, seolah mata itu bisa menembus jantung adiknya.

Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap, para pelayan bahkan menahan napas mereka.

"Hakan Karadağ," ucap Emirhan dengan nada bicara yang sangat lambat namun penuh penekanan.

"Jika aku mendengar satu kata ejekan lagi keluar dari mulutmu tentang Aliya, aku pastikan mulai besok kamu tidak akan punya akses ke satu pun fasilitas perusahaan, termasuk mobil mewah yang kamu banggakan itu. Mengerti?"

Hakan langsung terdiam, wajahnya berubah merah padam karena kesal.

Ia tahu kakaknya tidak pernah main-main dengan ancamannya terkait bisnis dan fasilitas.

Onur hanya mengamati interaksi kedua putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sudah cukup. Makan makanan kalian," perintah Onur singkat.

Di tengah ketegangan itu, Aliya tetap terdiam. Ia tidak menyentuh makanannya.

Pikirannya tidak tertuju pada ejekan Hakan, melainkan pada anting yang ada di sakunya dan rahasia apa lagi yang disembunyikan oleh tembok rumah besar ini.

Setelah suasana meja makan yang tegang itu berakhir, Aliya bangkit dengan gerakan yang sangat sopan.

Meski hatinya masih berdenyut karena ejekan Hakan dan misteri anting semalam, ia tetap menjaga tata krama yang diajarkan ibunya.

Aliya melangkah mendekat ke arah Onur, lalu dengan takzim meraih tangan pria itu dan menciumnya.

Onur tampak sedikit tertegun, namun ia mengangguk kecil dengan sorot mata yang sulit diartikan.

Setelah itu, Aliya beralih ke arah Zaenab. Meski Zaenab hanya memberikan tangan yang kaku dan wajah yang dingin, Aliya tetap melakukan hal yang sama sebagai bentuk penghormatan.

"Aku berangkat sekolah dulu," pamit Aliya lirih.

"Ayo, aku antar," sahut Emirhan sambil menyambar kunci mobilnya.

Di dalam mobil sedan mewah yang melaju membelah jalanan Istanbul menuju sekolah, keheningan terasa sangat mencekam.

Aliya hanya menyandarkan kepalanya di jendela, menatap deretan pepohonan yang berlari tanpa minat.

Tangannya sesekali meraba saku seragamnya, memastikan anting berlian itu masih ada di sana.

Emirhan melirik Aliya dari kaca spion tengah.

Ia merasa ada yang tidak beres. Aliya yang biasanya akan tersenyum atau setidaknya berbicara sedikit, kini benar-benar menutup diri.

"Aliya," panggil Emirhan lembut.

Gadis itu tidak menoleh.

"Aliya, ada apa? Kenapa kamu diam saja dari tadi?" tanya Emirhan lagi, kali ini ia menepikan mobilnya sebentar di pinggir jalan yang agak sepi.

Ia memutar tubuhnya agar bisa menatap Aliya sepenuhnya.

"Apa aku membuat kesalahan? Apa karena ucapan Hakan tadi?"

Aliya akhirnya menoleh. Ia menatap wajah pria yang sangat ia cintai itu, mencoba mencari jejak kebohongan atau rahasia di sana.

Ingatannya kembali pada kejadian semalam, tentang bau parfum wanita di kamar Emirhan dan anting yang terjatuh. Namun, ia belum sanggup untuk bertanya.

Ia takut jika kebenaran akan menghancurkan satu-satunya tempat ia bersandar sekarang.

Aliya hanya menggelengkan kepalanya perlahan saat mendengar perkataan Emirhan.

"Tidak ada, Emir. Aku hanya sedikit lelah dan gugup karena sudah lama tidak masuk sekolah," jawab Aliya dengan suara yang dipaksakan tenang.

Emirhan menghela napas panjang. Ia meraih tangan Aliya dan mengecup punggung tangannya berkali-kali.

"Jangan pikirkan Hakan. Jangan pikirkan siapa pun di rumah itu. Selama ada aku, kamu akan baik-baik saja. Mengerti?"

Aliya hanya mengangguk kecil, meski di dalam hatinya ia berbisik, “Bagaimana jika justru orang yang paling aku percaya adalah orang yang menyimpan rahasia paling besar dariku?”

Mobil itu pun kembali melaju, membawa Aliya menuju gerbang sekolah, sementara anting di sakunya terasa semakin berat, seolah siap untuk diletakkan di atas meja kejujuran kapan saja.

Di ruang kerjanya yang luas, Onur berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman mansion.

Pikirannya tidak pada laporan bisnis di mejanya, melainkan pada wajah Aliya yang sangat mirip dengan seseorang dari masa lalunya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil ponselnya dan mencari nomor yang selama puluhan tahun tak pernah ia hubungi.

Sebuah pesan singkat ia ketikkan: "Maria, kita perlu bicara. Aku menunggumu di kafe tempat kita biasa bertemu dulu. Sekarang."

Di sisi lain kota, Maria yang sedang sibuk di dapur restoran kecilnya terdiam saat ponselnya bergetar.

Begitu membaca nama pengirimnya, napasnya terasa sesak.

Tanpa membuang waktu, ia melepas celemeknya dan segera naik ke lantai atas untuk mengganti pakaian.

"Zartan, jaga restoran sebentar. Ibu ada urusan mendadak," ucap Maria dengan nada terburu-buru saat menuruni tangga.

Zartan hanya bisa menatap punggung ibunya dengan bingung.

Sesampainya di kafe yang bernuansa klasik itu, Maria langsung menangkap sosok pria yang duduk di sudut ruangan.

Onur Karadağ, masih dengan wibawa yang sama, namun sorot matanya tampak lebih lelah.

"Silakan duduk, Maria," ucap Onur begitu Maria

berdiri di depan mejanya.

Maria menarik kursi dengan kasar, wajahnya mengeras.

"Ada apa, Onur? Kenapa kamu mendadak mengundangku ke sini setelah belasan tahun kita tidak saling bicara?"

Onur tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah wanita yang pernah mengisi masa mudanya itu.

"Maria, pesanlah dulu. Kita bicara dengan kepala dingin."

Maria mendengus, namun ia memanggil pelayan. "Kopi hitam dan satu roti gandum," ucapnya singkat.

Setelah pelayan pergi, suasana kembali hening dan mencekam.

Onur memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Maria.

"Maria, aku tidak ingin berbelit-belit. Saat melihat Aliya di rumahku, aku merasakan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan."

Ia menjeda sejenak, suaranya merendah. "Maria, apakah Aliya putriku?"

Mendengar pertanyaan itu, Maria tidak menunjukkan wajah terkejut.

Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi dan tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang penuh dengan rasa pahit.

"Aliya putriku dari mendiang suamiku, Onur," jawab Maria dengan nada bicara yang tajam.

Ia menatap Onur dengan tatapan meremehkan. "Jangan terlalu percaya diri. Kamu pikir setelah meninggalkan aku begitu saja, dunia ini akan memberimu hadiah berupa seorang anak?"

Maria meminum kopinya yang baru saja datang, lalu melanjutkan dengan suara dingin.

"Aliya tidak ada hubungannya dengan darah Karadağ. Dia putri dari pria yang benar-benar menjagaku saat kamu memilih pergi demi harta keluargamu. Jadi, berhenti berimajinasi."

Onur terdiam, mencari kebohongan di mata Maria, namun wanita itu begitu pandai menyembunyikan lukanya di balik topeng kemarahan.

Ia tidak tahu bahwa jauh di lubuk hatinya, Maria sedang menggenggam erat tangannya di bawah meja agar tidak terlihat bergetar.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!