NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kota Avalon

Terjebak Di Kota Avalon

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21.Mata-mata dan drama di aula utama.

Di sisi lain kota, jauh di atas awan kelabu yang menyelimuti Istana Kerajaan Avalon, sebuah bayangan hitam melesat cepat menembus angin. Burung gagak raksasa itu terbang dengan kecepatan yang tidak wajar, membelah langit dengan sayap yang tak bersuara.

Matanya yang merah menyala masih menyimpan gambaran terakhir yang baru saja ia saksikan yaitu sosok gadis berwajah teduh namun memiliki tatapan tajam layaknya elang. Gadis yang berdiri di gerbang keluarga Star born dengan penuh wibawa.

Burung itu mendarat dengan anggun di tepi balkon sebuah kamar yang sangat luas dan megah namun terasa begitu dingin dan suram.

Ruangan itu didominasi oleh warna hitam dan perak. Perabotan terbuat dari kayu gelap yang berukiran rumit, dan di tengah ruangan terdapat sebuah meja kerja besar yang penuh dengan gulungan kertas dan peta sihir.

Di sana, duduk seorang pria di atas kursi singgasana kerjanya.

Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan namun mematikan. Rambut hitam legamnya sedikit berantakan, menutupi sebagian dahinya yang lebar. Sepasang matanya berwarna merah menyalah, seolah menyimpan badai yang siap meledak kapan saja. Aura kekuatan yang dipancarkannya begitu pekat dan menekan, membuat udara di sekitarnya terasa berat.

Itu adalah Pangeran Ka eldrago mir.

Ka el menghentikan gerakan tangannya yang sedang memutar cincin hitam di jari manisnya. Ia mendongak, dan saat melihat burung itu, sudut bibirnya yang biasanya selalu datar perlahan terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang misterius.

"Kau kembali, Shadow..." gumam Ka el dengan suara berat yang bergetar.

Burung gagak itu, adalah Shadow. Naga hitam milik putra mahkota yang bisa berubah bentuk ke hewan yang ia inginkan.

Ia tidak terbang menjauh. Ia justru melangkah mendekat ke tepi meja. Tiba-tiba, tubuh burung itu bersinar dengan cahaya hitam pekat. Bentuknya membesar, berubah wujud menjadi asap tipis, dan dari dalam asap itu muncullah sebuah proyeksi gambar magis yang melayang di udara.

Gambar itu memperlihatkan apa saja yang dilihat Shadow mulai dari tadi.

Terlihat jelas kereta kuda yang datang, terlihat gadis itu turun dengan gagah berani, terlihat bagaimana ia menatap Lord Valde mar dan Lady Seraphina tanpa rasa takut sedikitpun.

Ka el menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya tak lepas menatap proyeksi itu. Jari-jarinya saling bertaut di depan dagu, menatap sosok gadis di dalam gambar itu lekat-lekat.

"Benar..." bisik Ka el pelan, matanya berkilat penuh arti. "Itu dia. Gadis yang sama yang pernah aku temui di desa terpencil itu. Gadis yang tidak takut padaku bahkan saat aku menunjukkan taringku."

Ka el tertawa kecil, suara tawanya rendah dan bergema di ruangan yang sunyi itu.

"Dulu mereka bilang dia cacat, tidak punya sihir, bodoh dan penakut. Tapi lihatlah dia sekarang... Aura yang dia bawa... jauh lebih menakutkan daripada penyihir tingkat tinggi manapun."

Ka el mengulurkan tangannya, menyentuh gambar wajah Luna ria di udara.

"Jadi mereka benar-benar memanggilmu kembali untuk dijadikan pengantin ku, kalian tidak tahu... bahwa kalian bawa bukan gadis yang kalian kira."

Mata Ka el memancarkan rasa penasaran yang besar bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat namun berbahaya.

"Luna ria,aku akan menunggumu."

Dengan satu jentikan jari Ka el, gambar itu lenyap, dan Shadow kembali menjadi burung kecil yang bertengger tenang di bahu tuannya.

Kembali di kediaman utama Star born.

Suasana di dalam aula utama sangat mewah dan hangat—setidaknya itulah kesan yang ingin ditampilkan. Lampu-lampu kristal bergantung indah memancarkan cahaya keemasan, memantul di lantai marmer yang mengkilap.

Luna ria duduk di sofa panjang yang empuk bersama orang tuanya. Ivy berdiri tegak di belakang kursi tuannya, sementara Rian, Bimo, dan Lira ditempatkan di ruang tunggu tamu lain menunggu instruksi selanjutnya.

"Minumlah teh ini, sayang. Ini teh herbal langka yang diimpor dari Utara, sangat bagus untuk kesehatan," kata Lady Seraphina dengan nada manja sambil menuangkan teh ke dalam cangkir porselen berukir emas.

Wanita itu tersenyum sangat manis, matanya menyipit menatap putrinya yang terbuang itu. Namun di balik senyum itu, ada rasa penilaian yang tajam. Ia heran, kenapa gadis ini terlihat begitu berbeda? Kenapa auranya begitu tenang dan tidak mudah digoyahkan?

"Terima kasih, Ibu," jawab Luna ria lembut. Ia mengambil cangkir itu dengan kedua tangan, menyesapnya sedikit, lalu memasang wajah polos dan sedikit canggung. "Enak sekali... Tidak seperti air sumur yang biasa aku minum di villa."

Luna ria sengaja berkata demikian. Ia sengaja menampilkan citra diri sebagai gadis desa yang polos, kumuh, dan tidak tahu apa-apa. Ia ingin mereka meremehkannya. Semakin mereka meremehkan, semakin mudah baginya untuk menjatuhkan mereka nanti.

Benar saja, melihat sikap Luna ria yang terlihat "kampungan" dan polos itu, rasa was-was di hati Lord Valde mar sedikit berkurang.

Bagus. Dia masih bodoh seperti kabar yang aku dengar. Tidak berubah banyak. Jadi rencananya akan mudah jalan, batin Lord Valde mar tersenyum puas.

"Ya tentu saja sayang. Di sini kau akan mendapatkan yang terbaik. Mulai sekarang, kau harus belajar bersikap seperti seorang putri sejati. Kau harus berterima kasih pada Ayah dan Ibu yang sudah mau menerimamu kembali," ucap Lord Valde mar dengan nada menggurui.

"Ya, Ayah. Luna ria sangat berterima kasih. Luna ria janji akan berusaha menjadi baik," jawab Luna ria dengan kepala tertunduk sedikit, memainkan ujung gaunnya seolah gadis pemalu.

Ivy yang berdiri di belakang hampir saja tertawa melihat akting tuannya yang luar biasa. Nona ini memang jenius. Paling polos di mulut, paling tajam di hati, pikir Ivy.

Tiba-tiba...

Tok... Tok... Tok...

Suara dentingan kayu menyentuh lantai terdengar pelan namun jelas dari arah tangga utama.

Semua kepala menoleh ke arah sana.

Muncullah sosok seorang gadis yang berjalan turun dengan perlahan, dibantu oleh sebuah tongkat kayu berukir indah.

Gadis itu memiliki wajah yang sama persis dengan Luna ria. Hidung, mata, bentuk wajah, semuanya identik. Namun ada perbedaan yang mencolok.

Warna mata mereka yang berbeda, Lae ria memiliki warna bola mata biru cerah. Sedangkan Luna ria dengan warna biru peka dan sikap mereka juga sangat berbeda.Jika Luna ria memiliki aura yang tenang dan misterius, gadis itumemiliki aura yang lemah lembut, pucat, dan terlihat sangat rapuh tapi hati yang cukup licik.

Itu adalah Lea ria Star born. Saudara kembar identik Luna ria.

Lea ria mengenakan gaun berwarna soft pink yang sangat anggun, rambutnya dikepang indah, dan wajahnya terlihat sangat cantik namun pucat pasi. Kaki kirinya tampak sedikit tertatih, membuatnya harus bergantung penuh pada tongkat yang ia pegang.

"Ayah... Ibu..." panggil Lea ria dengan suara lembut dan serak, seolah orang sakit.

"Ah, Lea ria sayang! Kau sudah bangun?" Lady Seraphina langsung berdiri dan berlari kecil menyambut putri kesayangannya itu dengan penuh perhatian berlebih. "Aduh, kenapa turun sendiri sayang? Dimana pelayanmu? Hati-hati kakimu sayang..."

Lord Valde mar juga berdiri dengan wajah penuh kasih sayang yang tulus, sangat berbeda saat ia melihat Luna ria.

Lea ria tersenyum lemah, lalu matanya beralih menatap ke arah sofa. Matanya bertemu dengan mata Luna ria.

Untuk sesaat, waktu seakan berhenti. Dua wajah yang sama persis saling bertatapan. Satu tersenyum polos, satu lagi tersenyum manis namun ada kilatan tajam di baliknya.

"Kakak..." panggil Lea ria pelan. "Akhirnya Kakak Luna ria pulang juga. Aku sangat rindu pada Kakak."

Lea ria berjalan mendekat—atau lebih tepatnya tertatih mendekat—dibantu oleh ibunya.

"Aku juga rindu, Adikku," jawab Luna ria berdiri dan tersenyum manis. Namun di dalam hati, ia mendengus dingin. Rindu? Jangan bercanda. Aku tahu betul ular apa yang bersembunyi di balik kulit domba itu.

Selama mereka kecil, Lea ria adalah orang yang dipenuhi kasih sayang keluarga Star born, berbeda dengan Luna ria yang selalu sendiri di villa hanya ditemani ibu Ivy dan Ivy.

Lae ria bilang rindu, membuat Luna ria muak. Luna sedikitpun tidak percaya dengan keluarga Star born.

"Ayo duduk sini, Kak. Dekat aku," ajak Lea ria ramah sambil menunjuk sofa di sebelahnya.

"Iya, terima kasih," jawab Luna ria polos. Ia berjalan mendekati sofa yang ditunjuk. Sofa itu terlihat empuk dan nyaman.

Tapi saat Luna ria hendak melabuhkan duduknya...

Sssst!

Dari sudut matanya yang tajam, Luna ria melihat gerakan kecil. Jari kaki Lea ria yang tersembunyi di bawah gaun panjangnya bergerak cepat, menyulap sedikit energi sihir—sangat tipis sehingga mata awam tidak akan melihatnya—mengarahkan sebuah gaya magnet atau dorongan halus tepat ke arah bantalan sofa.

Tujuannya jelas! Lea ria ingin membuat permukaan sofa itu menjadi licin dan berminyak secara tiba-tiba, sehingga saat Luna ria duduk, ia akan terpeleset, jatuh tersungkur ke lantai, dan tampak sangat bodoh serta kaku di depan orang tuanya!

Dasar anak kecil, batin Luna ria tertawa sinis. Gerakan secepat itu ingin menipunya? Dia bahkan sudah melawan pembunuh bayaran yang bergerak lebih cepat dari kilat!

Tanpa terlihat mengubah ekspresi wajah yang masih tersenyum polos, tangan kanan Luna ria yang berada di saku roknya bergerak cepat.

Ia mengambil sebuah batu kerikil kecil yang sengaja ia simpan sejak tadi—benda sederhana namun mematikan di tangan seorang ahli strategi seperti dia.

Dengan teknik lemparan yang presisi dan halus, tanpa suara, tanpa gerakan mencolok...

Pr...rt!

Batu kecil itu melesat cepat, tepat mengenai bagian bawah tongkat kayu yang dipegang erat oleh Lea ria!

"Apa?!"

Seketika pegangan Lea ria tergetar hebat dan terlepas karena sentuhan tak terlihat itu. Keseimbangannya yang sudah memang rapuh langsung goyah parah.

Bukannya Luna ria yang jatuh, justru Lea ria yang kehilangan tumpuan!

BRUK!!

"Duh!!"

Dengan suara keras, tubuh mungil Lea ria terdorong ke samping dan jatuh tersungkur ke karpet mewah itu. Tongkat kayunya terpelanting jauh ke sudut ruangan.

Suasana menjadi hening total.

Lady Seraphina menjerit kaget. "Lea ria!! SAYANGKU!!"

Lord Valde mar langsung berdiri tegak dengan wajah panik. "Apa yang terjadi?! Kenapa kau bisa jatuh, Nak?!"

Luna ria hanya berdiri mematung di tempatnya, masih dengan wajah polos dan sedikit kaget yang sangat natural. Bahkan ia menutup mulutnya dengan tangan.

"Ya ampun, Adikku! Kamu tidak apa-apa?!" seru Luna ria berpura-pura khawatir dan segera berjongkok ingin membantu. "Hati-hati dong, kakak belum juga duduk lho, kok kamu sudah jatuh sendiri sih?"

Kalimat itu terdengar polos, namun menusuk tepat di hati Lea ria.

Lea ria bangun dengan wajah memerah padam, bukan karena sakit, tapi karena malu dan marah! Ia tidak mengerti! Ia yang mengatur sihir untuk menjatuhkan kakaknya! Kenapa justru dirinya yang jatuh?! Siapa yang main trik?!

Saat Luna ria mendekat berniat menolong...

PLAK!

Dengan kasar, tangan Luna ria ditepis keras oleh Lea ria.

"JANGAN SENTUH AKU!!" teriak Lea ria, suaranya melengking dan kehilangan kesopanannya seketika.

Wajah cantiknya berubah masam penuh kebencian. Matanya menatap tajam ke arah Luna ria.

"Kau! Kau yang melakukannya bukan?! Kau sengaja menjatuhkanku! Dasar gadis tidak berguna! Gadis desa tidak tahu diri! Berani-beraninya kau membuatku malu?!"

Semua orang di ruangan itu terbelalak.

Lady Seraphina menutup mulutnya tak percaya. Lord Valde mar melongo.

Putri mereka yang selama ini dikenal sangat lemah lembut, sopan, penyayang, dan tidak pernah marah sedikitpun... tiba-tiba bersikap begitu kasar, membentak, dan memancarkan aura kebencian yang begitu pekat terhadap kakaknya sendiri?

"Le... Lea ria...?" Lady Seraphina terbata-bata. "Sayang... apa yang kamu katakan? Jangan begitu pada kakakmu..."

Lea ria baru sadar ia kehilangan kendali. Ia melihat wajah syok orang tuanya. Ia panik. Ia segera mencoba mengubah ekspresinya kembali menjadi wajah sedih dan menangis.

"Aku... aku tidak apa-apa, Bu... Aku cuma kaget... Kakak Luna ria... dia... dia mendorongku..." isak Lea ria berpura-pura menangis, mencoba memutar balik fakta.

Tapi terlambat.

Sorot mata tajam dan nada bicaranya tadi... sudah cukup jelas didengar oleh semua orang. Bahkan oleh Ivy.

Luna ria berdiri kembali, menepuk-nepuk bajunya yang tidak kotor sedikitpun. Senyum polosnya masih ada, tapi kini ada rasa mengejek di sana.

"Ya ampun, Lae ria... Kamu kenapa sih?" tanya Luna ria dengan suara lembut namun menusuk. "Kakak kan cuma mau bantuin. Kamu sendiri yang jatuh karena tidak seimbang. Kok malah nuduh kakak?"

Luna ria membungkuk mengambil tongkat kayu itu dari lantai, lalu memberikannya kembali kepada Lea ria dengan sangat pelan dan sopan, namun saat tongkat itu hampir sampai di tangan Lae ria, Luna ria berbisik pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Main kotor itu tidak baik, Dik. Apalagi kalau lawannya bukan orang bodoh seperti yang kamu kira. Hati-hati... nanti malah kaki kamu yang beneran patah."

Lea ria mendongak, matanya membelalak ketakutan dan marah melihat tatapan dingin Luna ria yang berubah total dalam sekejap.

Luna ria kembali tersenyum manis menatap orang tuanya.

"Sudah lah, Ayah, Ibu. Mungkin Lae ria lagi capek jadi mudah marah. Biarkan aku bantu dia duduk ya..."

Meskipun Luna ria tersenyum, suasana di ruangan itu kini telah berubah total.

Lord Valde mar dan Lady Seraphina kini saling pandang. Sebuah keraguan besar mulai muncul di benak mereka.

Benarkah putri kesayangan mereka sebaik itu? Dan benarkah Luna ria selemah itu?

Permainan di keluarga Star born baru saja dimulai, dan Luna ria telah menunjukkan bidak pertamanya dengan sangat mematikan.

1
Frida
seru, ada romantisnya juga..buat deg2 an yg baca dan senyum2 sendiri.... kelanjutannya segera up banyak2 dong author please....😍👍
Kusii Yaati
mau seburuk apa riasan mu luna itu tak akan mempan buat pangeran KA El karena dia sudah pernah lihat wajahmu... tapi tidak apa" yang penting sakit hatimu sudah kau balas dengan mempermalukan wajah ayahmu yg kejam itu.semangat Thor nanti up lagi ya Thor 😁💪😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😁😁😁
Kusii Yaati
wah Luna ria hebat, walau tidak punya sihir tapi tubuhnya kebal akan serangan sihir 😱
Kusii Yaati
up lagi Thor yg banyak... penasaran gimana reaksi keluarga Luna ria melihat putri yang di buang menjadi Badas dan kuat 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor seru nih ceritanya 💪💪💪😘😘😘
Rubiyata Gimba
sepertinya ceritanya bagus thor abdit cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!