Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengiyakan semuanya.
"Tante..." gumam Adira lirih saat melihat ibu Teo menghampirinya dengan wajah merah padam.
"Ngapain kamu datang menemui anak saya?!" teriak wanita itu murka. Tanpa basa-basi, ia langsung menarik paksa Teo yang sedang duduk bersebelahan dengan Adira, menjauhkan putranya seolah-olah Adira adalah wabah penyakit.
Adira berdiri mematung mendengar wanita paruh baya itu membentaknya.
"Kamu tahu tidak? Anak saya ini dipecat gara-gara kamu! Iya, kan? Pasti gara-gara kamu!" tuduh wanita itu dengan telunjuk gemetar. "Semua orang tahu kamu itu seharusnya membusuk di penjara. Tapi tiba-tiba kamu bisa keluar... itu artinya ada seseorang yang mengeluarkanmu, dan saya curiga orang itu adalah orang yang sama yang menjebloskanmu ke sana!"
"Sepanjang anak saya dekat denganmu, hidupnya tiba-tiba berubah sial seperti nasibmu itu! Kamu itu perempuan pembunuh yang tega menghabisi nyawa temanmu sendiri! Cuih! Sok baik, sok asyik!" lanjutnya penuh kebencian. "Almarhumah Anisa itu baik sekali padamu, tapi karena kamu tidak tahu cara berterima kasih, tega-teganya kamu membunuhnya!"
"Lihat sekarang, keluargamu semua sudah hancur! Dan tidak berhenti di situ, kau malah mendekati putraku sampai kesialan yang ada dalam dirimu mengalir kepadanya! dan putraku dipecat, pasti ada hubungannya denganmu, kan?"
Wanita itu tertawa sinis, matanya menyalang penuh dendam. "Aku sudah mendengar gosip tentangmu. Aku tahu dari teman-teman kalau kamu sudah masuk ke perusahaan Tuan Arlan. Santet apa yang kamu gunakan, hah?! Sampai sebegitunya?! Berapa harga tubuh yang kau jual?! Dasar pel*cur! Perempuan murahan! Mungkin kerjamu cuma memu*skan orang-orang berkuasa, makanya kamu bisa keluar dari penjara, kan?!"
Makian bertubi-tubi itu meluncur deras dari mulut ibu Teo, menghujam harga diri Adira tanpa ampun.
"Ibu, apa yang Ibu katakan? Adira tidak seperti itu," saat Teo mencoba membela, ibunya langsung membentak keras.
"Kamu diam, Teo! Diam! Lihat sekarang, kamu dipecat dengan cara tidak hormat setelah wanita ini menemuimu! Wanita ini benar-benar pembawa sial!"
"Sial, sial, sial! Biar kubunuh dia! Aku sudah susah payah menyekolahkanmu hingga lulus sarjana, dengan mudahnya wanita ini merenggut semuanya dariku! Perempuan sial!"
"Ibu! Cukup, Ibu! Apa-apaan sih, tidak enak dilihat orang banyak! Mengapa Ibu tega sekali bicara sekasar itu pada Adira?" bentak Teo sambil mencoba menenangkan ibunya.
"Apa kamu bilang? Ibu tega?!" sanggah ibunya dengan suara meninggi. "Eh, Teo, Ibu menyekolahkanmu dengan susah payah sampai jadi sarjana! Ibu berusaha mati-matian demi masa depanmu, tapi lihat, wanita ini datang dan merenggut segalanya dalam sekejap! Dan kamu berani-beraninya bilang Ibu tega?!"
Kejadian itu membuat Adira menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar taman. Namun, Adira hanya terdiam mematung, seolah membenarkan setiap tuduhan kejam dari ibu Teo. Di dalam hatinya, ia merasa memang pembawa sial. Ia adalah perempuan pembawa sial bagi siapa pun di dekatnya.
"Ibu, cukup! Sudah cukup! Ayo kita pulang!" seru Teo frustrasi. Pria itu kemudian menoleh ke arah gadis di hadapannya. "Adira, aku minta maaf. Aku harus membawa Ibu pulang dulu."
Adira hanya diam seribu bahasa, tanpa menanggapi sedikit pun permohonan maaf Teo.
"Sekali lagi, maafkan aku, Adira," bisik Teo lirih. Segera ia merangkul dan menarik ibunya pergi sebelum semakin banyak orang yang menghakimi dan mengerumuni Adira.
"Ternyata dia itu putri dari Sutra Santoso, ya?" bisik salah satu ibu yang sedang memangku anaknya di taman. "Dari tadi dia ada di sini, tapi aku tidak sadar kalau bukan karena ibunya Teo yang marah-marah tadi."
"Gadis itu sepertinya memang pembawa sial. Kayaknya dia harus dibawa ke orang pintar supaya bisa dimandikan agar sialnya hilang. Ibunya meninggal saat dia baru berusia 11 tahun, entah karena sakit atau kecelakaan. Yang pasti nasibnya malang sekali setelah itu."
"Iya, dan di usianya yang baru 16 tahun, dia jadi pembunuh! Sampai sekarang pun ayahnya hilang bak ditelan bumi. Perusahaannya bangkrut dan semua asetnya dibekukan. Benar-benar perempuan pembawa sial!"
Mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang membuat Adira tertawa. Ia menertawakan dirinya sendiri dalam hati—sebuah tawa yang lahir dari luka yang teramat dalam.
Tiba-tiba, suara guntur menggelegar di langit yang mendung. Sepertinya hujan deras akan segera turun membasahi bumi. Ibu-ibu yang tadinya asyik bergosip itu langsung berbondong-bondong menggendong anak-anak mereka dan bergegas pergi, meninggalkan Adira sendirian di taman itu.
Adira masih mematung, diam dengan wajah tanpa ekspresi. Namun, tak ada yang tahu bahwa hatinya telah hancur berkeping-keping. Harapannya seolah telah sirna. Ia merasa seperti manusia yang terisolasi, tak tahu harus mengadu ke mana atau berbagi beban dengan siapa. Ia merasa benar-benar hidup sendirian di kota yang kejam ini.
Perlahan, air matanya mulai luruh bersamaan dengan hujan yang tiba-tiba tumpah dengan sangat deras. Suara guntur dan kilat saling bersahutan, seolah sedang bertarung di atas langit yang kelam.
Langit seperti mengerti dan ikut berduka melihat keadaan Adira yang begitu menyayat hati. Gemuruh petir yang bersahutan seakan menjadi jeritan mewakili rasa sakit yang tak sanggup ia ucapkan, sementara derasnya hujan menyamarkan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Di tengah badai itu, Adira merasa alam adalah satu-satunya yang tidak menghakiminya. Hujan yang turun bukan lagi sekadar air, melainkan dekapan dingin yang menemaninya di saat semua orang membuang dan menyebutnya pembawa sial.
Namun, gadis itu tetap bergeming di sana. Hatinya terluka parah, bersimbah darah yang tak kasat mata. Ia menangis tersedu-sedu, sementara hatinya terus berbisik pedih, "Apa yang mereka katakan itu benar... aku memang gadis pembawa sial."
"Ibu... bisakah aku ikut Ibu? Aku ingin menyerah... Kenapa dunia begitu kejam?" jerit Adira sesenggukan, menumpahkan isi hatinya yang telah ia pendam selama delapan tahun.
Adira akhirnya melepaskan tangisnya dengan suara nyaring. Ia meraung di tengah badai karena ia tahu tak akan ada seorang pun yang bisa mendengar tangisan pilunya di bawah deru hujan yang sangat lebat dan suara petir yang menggelegar dahsyat.
"Anisa, aku ingin pergi bersamamu. Aku lelah berada di sini. Aku lelah terus dihakimi oleh semua orang," isak Adira dalam keputusasaan yang teramat dalam.
"Tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Aku lelah, Anisa... aku benar-benar lelah berada di sini. Aku ingin menyerah," rintihnya lagi, suaranya nyaris hilang ditelan deru hujan.
Setelah puas menumpahkan segala tangisnya di tengah badai, gadis itu merasa beban di hatinya sedikit lebih ringan. Selama ini ia memang terlalu banyak memendam perasaan, menumpuk rasa sakit yang teramat dalam di kesunyian hingga jiwanya terasa tercekik oleh kejamnya hidup.
Ia sadar tak ada satu pun tempat untuknya bersandar. Tak ada tempat mengadu, apalagi sekadar mencurahkan isi hatinya. Semua orang sengaja menjauhinya, dan segelintir orang yang mendekat hanyalah mereka yang ingin memanfaatkannya demi kepentingan pribadi.
Dengan langkah gontai, Adira pun mulai berjalan kaki menuju kediaman Tuan Arlan. Ia tidak membawa ponsel karena sengaja meninggalkan ponselnya di mobil tadi.
Gadis itu terus melangkah di tengah kedinginan yang menusuk tulang. Namun, anehnya, ia tak lagi merasakan dinginnya air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Yang ia rasakan hanyalah perih di hatinya yang berdenyut hebat. Ia terus bertanya-tanya dalam benak, ke mana ia harus benar-benar pulang?
Ia sudah tidak memiliki tempat tinggal yang layak disebut rumah. Ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Rasanya, hidupnya benar-benar telah hancur sehancur-hancurnya, tanpa sisa sepeser pun harapan.
Setelah cukup lama berjalan menembus derasnya hujan, akhirnya Adira tiba di depan mansion milik suaminya. Ia mendongak, menatap kemegahan bangunan itu dengan mata sayu yang penuh kepedihan.
"Selamat datang di rumah penuh siksaan," gumamnya pelan pada diri sendiri sebelum melangkah masuk.
Malam itu, suasana mansion terasa sunyi karena para pelayan sudah kembali ke rumah masing-masing, hanya menyisakan beberapa pengawal yang berjaga di luar. Tak ada satu pun pengawal yang berani menyapa saat melihat Adira pulang dalam keadaan basah kuyup; mereka hanya diam membisu melihat nyonya rumah mereka tampak begitu hancur.
Tanpa memedulikan tatapan siapa pun, Adira terus berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di dalam, ia menanggalkan seluruh pakaiannya yang basah tanpa sisa. Ia tidak berniat untuk mandi atau membersihkan diri. Rasa lelah yang luar biasa membuat dirinya tak lagi peduli pada kesehatan fisiknya sendiri.
Dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun, Adira langsung menyelinap ke dalam selimut dan memejamkan mata. Pikirannya kosong. Mau hidup atau mati, ia sudah tidak peduli lagi. Ia hanya ingin tidur dan melupakan kenyataan pahit yang terus menghantam hidupnya.
***
"Apa wanita itu sudah pulang?" tanya Arlan sambil tetap terfokus mengecek beberapa laporan perusahaan yang dibawa oleh asisten kepercayaannya.
"Sudah, Tuan. Baru saja," jawab asistennya pelan. Arlan segera menyelesaikan pemeriksaan berkas-berkas tersebut, lalu mengembalikannya kepada Wira.
"Pergilah."
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian Wira, Arlan melihat arloji di tangannya. Ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, dan Adira baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah menghilang entah ke mana.
Tanpa suara, Arlan meraih tongkatnya. Dengan langkah perlahan, ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Adira.
Saat Arlan memutar knop pintu, ternyata gadis itu tidak mengunci kamarnya. Ia langsung melangkah masuk dan mendapati Adira sudah berada di atas tempat tidur. Gadis itu tampak tertidur sangat pulas dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Arlan berjalan mendekat, lalu menatap wajah Adira lekat-lekat. Masih ada sisa air mata yang mengering di pipinya, jejak dari kesedihan mendalam yang ia tumpahkan tadi. Namun, napas gadis itu kini sudah mulai teratur, menandakan ia telah terlelap dalam kelelahannya yang luar biasa.
Arlan menarik kursi meja rias yang letaknya berdekatan dengan tempat tidur, lalu duduk di sana. Ia menatap wajah Adira dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Sorot matanya seolah sedang mencari bayang-bayang Anisa di dalam diri gadis itu.
Pria itu kemudian merogoh saku dan membuka ponselnya. Ia mulai menggeser layar, melihat kembali foto-foto lama milik Anisa. Di sana terlihat Anisa dan Adira sedang berpose bersama dengan senyum yang begitu lepas dan bahagia. Foto-foto itu menjadi bukti bisu bahwa dulu mereka berdua adalah sahabat sejati yang sepertinya tak akan pernah bisa terpisahkan oleh apa pun.
"Bukan aku yang membunuhnya... Tidak, bukan aku..." lirih suara Adira. Ternyata gadis itu tengah mengigau di tengah tidurnya yang gelisah.
Arlan yang masih duduk di sana terdiam, kembali menatap wajah Adira dengan intens. "Seandainya ayahmu bukan pembunuh adikku, mungkin kau adalah satu-satunya wanita yang paling aku cintai saat ini. Karena apa yang adikku cintai, itulah yang aku cintai juga."
Pria itu perlahan mengangkat tangannya; jemarinya ingin membelai lembut rambut Adira yang berantakan. Namun, tangannya tertahan di udara, hanya menggantung kaku sebelum akhirnya ia menariknya kembali dengan kasar. Ekspresi wajahnya seketika mengeras; kebencian kembali menguasai hatinya.
"Nyawa dibayar nyawa. Dan kau adalah tawanan yang kupastikan tidak akan mati sebelum tersiksa," ucap Arlan dengan nada dingin dan tajam.
Tanpa menoleh lagi, ia bangkit berdiri, meraih tongkatnya, dan melangkah pergi meninggalkan kamar itu, mengunci kembali hatinya rapat-rapat dari rasa iba.
Hati Arlan tampaknya telah membeku, benar-benar keras dan seolah tertutup rapat untuk kata maaf. Baginya, kesalahan ayah Adira adalah luka abadi yang tidak akan pernah bisa disembuhkan.
Dendam atas kematian Anisa telah mendarah daging, hingga ia buta akan kenyataan bahwa Adira juga merupakan korban dari situasi ini. Kasih sayang yang dulu mungkin sempat ada, kini telah tertimbun oleh obsesi untuk membalas dendam pada adiknya melalui penderitaan Adira. Ia telah menetapkan takdir bahwa Adira harus menanggung seluruh beban dosa ayahnya, menjadikan gadis itu tawanan dalam sangkar emas yang penuh dengan duri kebencian.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang