Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Keluarga
Bersama senopati Wira Pati, Jaka melangkah menuju istana Raja , Istana Wijaya Kesuma, karena tadi ia makan di kedai yang cukup jauh dari istana Jaka dan Senopati berjalan cukup jauh tetapi mereka mengisi perjalanan itu dengan berbincang bincang
" Paman Senopati, mengapa di kotaraja bisa ada perusuh seperti dua orang tadi ?" tanya Jaka.
" Kota raja pusat pemerintahan kerajaan Wijaya Kesuma, walau kami sangat ketat mengawasi setiap orang yang masuk tetap saja ada beberapa yang lolos" jawab Senopati sedikit mengeluh
JAka mengangguk mengerti, ramainya orang yang keluar masuk Kota Raja setiap hari pastinya memungkinkan para penjahat masuk, apalagi jika mereka pintar menyamar
Akhirnya mereka tiba di gerbang Istana , prajurit jaga yang melihat Senopati Wira Pati datang dengan cepat membuka gerbang dan memberi hormat
Senopati Wira Pati membawa Jaka langsung ke Balairung Istana, di mana Raja Arya Jaya telah menunggu
Saat memasuki Balairung, terlintas kenangan masa kecil Jaka saat datang bersama kedua orang tuannya , saat melihat pot bunga yang sisinya gompal, ia mendekat dan meraba pot itu
" ha ha ha, kau masih ingat dulu kau bermain pedang pedangan di sini dan mengenai pot bunga itu sampai gompal" Senopati tertawa melihat jaka mengenang masa kecilnya yang nakal
" iya paman, saat teringat seakan kejadian itu baru terjadi kemarin" ucap Jaka
setelah mengenang masa kecilnya sejenak mereka kembali melangkah masuk ke dalam Balairung Istana, Jaka melihat tak banyak yang berubah semua sama lantai dengan permadani dan langit langit berhias lukisan para dewa
saat masuk ke ruang utama ternyata semua berkumpul di sana, Raja Arya Jaya duduk di singgasana nya yang megah dengan hiasan Naga, wajahnya tampak tenang dengan tatapan teduh, ia masih terlihat gagah walau mulai tampak sedikit keriput
" Salam Paduka" ucap Jaka saat berhadapan dengan Prabu Arya Jaya, berlutut dengan satu kaki
" Bangun lah " terdengar suara sang raja pelan tetapi berwibawa,
" Katakan siapa namamu ?" tanya Prabu Arya Jaya sambil menatap Jaka dengan seksama, selama ini sudah beberapa orang yang mengaku anak Mahesa
" Saya Jaka Wisesa paduka, ayah hamba Mahesa, dan ibu hamba Mayang" jawab Jaka
" apa kau bisa membuktikan jika dirimu anak Mahesa?" tanya sang raja
" bisa paduka" jawab Jaka cepat , ia membuka bajunya dan memperlihatkan rajah yang berupa Kembang Wijaya kesuma di punggungnya
" Patih bayu Geni, coba kau lihat apa tanda ini asli!" seru sang Raja menyuruh Patih nya memeriksa, memang ada cara khusus untuk mengetahui rajah itu asli atau tidak, jika asli maka saat di uji akan mengeluarkan bayangan bunga wijaya kesuma yang sedang mekar untuk beberapa saat
Patih Bayu Geni mendekat dan mulai menguji keaslian rajah Wijaya Kesuma itu
" Wuuung"
saat Patih menguji dari rajah yang ada di punggung Jaka, keluar bayangan bunga wijaya , semua yang berada di sana menjadi senang
" Jaka Cucuku, kemarilah" Prabu Arya jaya memanggil Jaka mendekat, saat jaka mendekat ia langsung memeluk nya
" Kemana saja kau selama ini cucuku,?" tanya Raja sambil menatap Jaka
" Kakek, aku terjatuh ke jurang , dan bertahan di sana selama ini" sahut Jaka, ia mellepas pelukannya dan melihat kesekitar, namun ia tak menemukan orang yang di cari
" Kakek, ayah dan ibuku di mana?" tanya Jaka yang heran ayah dan ibunya tak ada di sana, mendengar pertanyaan Jaka balairung itu menjadi hening seketika
Raja Arya Jaya mengatur napas sejenak
" Cucuku, saat perampokan malam itu, ayah dan ibumu telah tiada" ucap sang raja dengan nada sedih
" ayah Ibu" Jaka jatuh terduduk di depan singgasana , harapan bertemu dengan kedua orang tuanya musnah, ia cukup terpukul mendengar itu
" Macan Hitam !" desis Jaka dengan emosi meluap
" tahan cucuku, tenangkan dirimu" Raja Arya jaya menepuk pelan bahu Jaka
" Kami juga telah beberapa kali mengirim pasukan tetapi semua di kalahkan" pemimpin Perguruan Macan Hitam memiliki strategi yang unggul" senopati Wira Pati berbicara
Jaka tiba tiba teringat akan ucapan Ki Ageng Surya
" Kakek , apa kakek mengenal Ki Ageng Surya?" tanya Jaka
" Tentu saja , ia temanku saat aku masih muda dulu dan berkelana di dunia persilatan, apa kau bertemu dengannya?" Raja Arya balik bertanya
" aku berhutang budi padanya kakek, ia yang menyelamatkanku dari jarum beracun" sahut Jaka " dan kemaren ia mengatakan akan menghimpun semua perguruan aliran putih untuk memberantas perguruan Macan Hitam" lanjut jaka
" Sudah ku duga dia tak akan tinggal diam saja" ucap raja Arya Jaya sambil tersenyum
" Kita tunggu perkembangan Ki Ageng surya saja, sambil melatih pasukan kita secara khusus untuk ikut bergabung bersama mereka nantinya" lanjut Raja Arya Jaya
saat mereka berbincang bincang, di sudut ruangan seorang pemuda dengan pakaian mewah menatap dengan geram pada Arya
" kenapa bocah ini datang, dia pasti mengharapkan warisan tahta kakek" gumam pemuda itu, lelaki yang di sebelahnya menyikut ,karena gumaman itu terdengar olehnya
" Raden, jangan keras keras, jika kedengaran yang lain dan di laporkan nantinya menjadi masalah " tegur orang itu
" Biar saja aku Rama Jaya tak takut " ucapnya sombong,
Setelah berbincang bincang Raja yang mengetahui Jaka baru melakukan perjalanan Jauh menyuruh senopati Wira mengantarkan ke kamar Mahesa
saat hendak pergi jaka merasakan tatapan yang mengacam pada dirinya, Jaka menoleh ke arah ancaman itu dan pandangannya tertuju pada Rama Jaya yang langsung menunduk saat Jak melihat ke arahnya
" Paman senopati, siapa dia" tanya Jaka pelan
Senopati melihat sejenak ke arah Rama Jaya
" dia sepupu kamu , anak dari Bima Jaya, ada apa?"tanya Senopati Wira Pati bertanya balik
" Sepertinya ia tak menyukaiku" sahut Jaka
" Sepertinya ia terancam dengan kedatanganmu, selama ini ia telah menganggap dirinya pewaris tahta setelah Raja Arya jaya, mungkin ia mengira kau datang untuk merebut tahta" sahut Senopati Wira Pati
" hmm, seingatku dulu ia tak begitu?" gumam Arya , dulu ia dan Rama sering bermain bersama dan sikapnya ceria
" mungkin dulu ia belum berambisi menjadi Raja, kini kalian telah dewasa, ia menjadi berambisi menjadi Raja, dan kedatanganmu tentu di anggap penghalang untuk dia menjadi Raja" sahut senopati Wira Pati
Jaka di bawa ke sebuah kamar besar milik ayahnya, kamar itu terawat dan bersih sepertinya selalu di bersihkan setiap waktu
saat melihat lukisan ayah dan ibunya terpajang, tak terasa air mata Jaka menetes,
" ayah Ibu, tenanglah di alam sana aku akan membalaskan dendam ini" gumam Jaka
Di sampingnya Senopati Wira Pati menepuk bahu Jaka pelan.
" balas dendam perlu, tetapi kita tak boleh gegabah" ucap Senopati Wira Pati menasehati
Jaka mengangguk mengerti, setelah mengantar Jaka ke kamar untuk beristirahat , Seno pati Wira Pati undur diri, tapi ia berjanji akan datang lagi nanti malam