Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ingat Apapun
Sesaat setelah Sita berlari ke kamarnya usai digauli dengan paksa oleh majikan lelakinya, pak Kasim baru berani menampakkan dirinya dan berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Agam.
Terasa olehnya jantungnya masih berdegup kencang karena takut dan juga khawatir. Takut jika Agam akan melihatnya memergokinya dan juga khawatir pada Sita yang terlihat menangis meraung dan meronta tadi.
Ia memeriksa apakah majikannya masih ada di ruang tamu tengah itu atau tidak. Namun alangkah terkejutnya dia saat mendapati majikannya masih dalam keadaan kacau dan tidak sadarkan diri.
Pak Kasim mengernyitkan dahinya mendapati majikannya yang terus bergumam-gumam tidak jelas. Ia pikir Agam sudah tertidur.
"Maira ...," gumamnya.
Pak Kasim yang berdiri dibelakang sofa dan hendak melangkah pergi itu pun terkejut mendengar suara majikannya. Ia perlahan menengok dan ternyata majikannya masih memejamkan matanya.
Pak Kasim memberanikan diri untuk mendekatinya namun ragu-ragu dan hanya berdiri agak jauh.
"Apa pak Agam mabuk, ya?" gumamnya pelan sambil menggaruk kepalanya, bingung.
Untuk memastikannya pak Kasim mencoba lebih mendekati majikannya yang pakaiannya masih berantakan dan tidak memakai celana.
"M-mas Agam ...," panggilnya seraya menggoyangkan bahu majikannya. Pak Kasim bahkan sampai berkeringat dingin saat ini. Ia takut jika ternyata Agam tidak mabuk dan menghajarnya setelah ini.
Tapi Agam tak bergeming sedikitpun, ia terus meracau menyebut nama istrinya. Dengan jarak yang cukup dekat itu pak Kasim bisa mencium bau minuman dengan jelas.
Astagfirullah, jadi pak Agam mabuk berat? Jadi tadi Sita? Ya, Allah ... betapa berdosanya saya yang telah membiarkan semua ini terjadi, sesal pak Kasim. Hatinya terus berkecamuk dihantui rasa bersalah.
Pak Kasim menutup mulutnya, ia mengira tadi memang majikannya melakukan perbuatan itu dalam keadaan sadar. Ia tidak berani menolong Sita yang tak berdaya, karena jika ia menolongnya bisa-bisa ia kehilangan pekerjaannya. Apalagi saat ini istrinya sedang sakit di kampung. Anak-anaknya juga butuh biaya sekolah.
Ya Allah, Sita. Maafkan bapak, kalau bapak tau mas Agam sedang mabuk tadi, pasti bapak bantuin kamu.
Pak Kasim menengok ke kamar Sita yang terlihat gelap. Ia merasa sangat bersalah saat ini. Kemudian kembali melihat majikannya yang sangat kacau itu. Ia membantu Agam untuk ke kamarnya dengan bersusah payah. Kemudian membersihkan noda di sofa dan memunguti kancing baju milik Sita yang berceceran.
Malam itu, semalaman pak Kasim benar-benar tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang. Ia terus teringat pada Sita yang diperlakukan tidak baik oleh Agam tadi.
*****
"Aahh ...," Agam mengerjapkan matanya perlahan. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut karena efek minuman semalam. Matanya masih terasa sangat berat, begitu juga kepalanya.
Tapi ia mencoba untuk tetap bangun dan melawan rasa kantuk yang masih menderanya. Ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas dan memeriksanya.
Astaga, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Maira, gumamnya saat mendapati ada lebih dari dua puluh kali panggilan dari istrinya. Namun betapa ia makin terbelalak saat melihat jam berapa saat ini.
Matanya membulat sempurna tatkala mendapati jika ini sudah lewat jauh dari jam kerjanya seharusnya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, waktu yang seharusnya ia sudah berada di kantor dengan segala kesibukannya.
Jam sebelas? Bagaimana aku bisa tidur selama ini? Kepalaku sakit sekali rasanya.
Agam segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Lagi-lagi ia dibuat terkejut setengah mati karena kancing pakaiannya terbuka semua dan dalam kondisi tidak memakai celana sama sekali.
Apa ini? Bagaimana ..., aarrrggh! Pasti gara-gara minum semalam aku bahkan tidak mengganti pakaianku dengan benar. Jika saja semalam para bos itu tidak mengadakan acara minum-minum. Pasti tidak seperti ini jadinya. Sekarang aku tidak pergi ke kantor, bahkan mengganti pakaian pun aku tidak mampu.
Disela perang batinnya, ponsel Agam yang baterainya hampir habis itu berdering. Ada nama Maira terpampang disana. Buru-buru ia mengangkatnya.
"Halo, Sayang," sapanya. Suaranya terdengar sedikit serak.
"Mas Agam nggak apa-apa kan? Semalam Maira kirim pesan kenapa nggak dibalas? Maira telepon juga nggak diangkat. Mas Agam baik-baik aja kan? Nggak terjadi apa-apa kan, Mas?" Maira menyerbunya dengan pertanyaan sesaat setelah Agam menyapanya.
Untuk sesaat Agam menarik sudut bibirnya hingga melengkung. Ia senang karena istrinya se-khawatir itu padanya. Itu artinya Maira juga sangat mencintainya, pikirnya.
"Sayang, aku tidak apa-apa. Kau terlalu mengkhawatirkan ku, maafkan aku yang semalam sampai mengabaikanmu. Aku sedang bersama para bos di acara itu, tidak sempat menengok ponselku. Aku tidak tahu jika kau meneleponku karena ponselnya dalam keadaan silent mode," terang Agam.
Maafkan aku Maira, aku harus berbohong padamu. Kau pasti akan marah jika tahu aku sedang mabuk semalam.
Hhh ... ya Allah, maafkan kekhilafan yang ku perbuat ini. Agam mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tapi perasaan Maira nggak enak terus dari semalam, Mas," ujar Maira.
"Sayang, aku tidak apa-apa. Kau pikir aku akan berbuat apa? Kau sangat mengenalku selama ini." Agam terus meyakinkan istrinya.
"Tapi, Mas-"
"Sayang, apa kau tidak merindukanku? Kapan kau pulang? Bagaimana urusanmu?" Agam mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa justru sekarang Agam lah yang merasakan perasaan yang tidak enak, terasa sesak di dadanya, tapi kenapa? Terasa ada sesuatu yang seperti menghimpit di dalam dadanya.
"Tentu saja aku rindu, Mas. Pak Hardi tadi pagi bilang jika sore ini urusan sudah selesai, aku dan tim diijinkan pulang duluan. Aku bisa naik pesawat nanti." Maira mengatakannya dengan bersemangat.
"Oh, ya? Alhamdulillah kalau begitu, semoga urusanmu cepat selesai, Sayang. Aku sudah kangen sekali."
"Iya, Mas. Ya udah, Maira tutup dulu teleponnya karena meeting nya udah mau dimulai. Doakan saja ya, Mas."
"Pasti, Sayang. Mas selalu mendoakan yang terbaik untuk istri Mas."
Setelah saling mengucapkan salam, Agam pun menutup teleponnya. Tapi tiba-tiba rasa sesak itu kembali datang seolah menekan dadanya dengan kuat. Bersamaan dengan rasa sakit kepala yang kembali menderanya.
Agam memejamkan matanya dan mencoba mengingat apa saja yang terjadi semalam. Tapi nihil, ia bahkan tidak ingat siapa yang mengantarnya pulang, hingga bagaimana ia bisa berada di kamarnya.
Cukup lama ia berbaring dan menatap kosong pada langit kamarnya, berharap ada selintas kejadian yang ia ingat yang telah terjadi semalam.
Aku tidak bisa mengingat apapun yang terjadi semalam. Agam menepuk-nepuk keningnya karena tak berhasil mengingat apapun. Ia hanya berharap, saat ia mabuk tidak melakukan hal yang memalukan di pesta. Bisa malu dia jika ternyata dia berbuat sesuatu yang memalukan di luar kesadarannya.
Agam menggelengkan kepalanya dan berjalan terhuyung-huyung ke kamar mandi.
gw intip koq gk ad🙃