Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Kesunyian adalah hal pertama yang disadari Nirmala saat ia membuka mata. Bukan kesunyian yang mencekam seperti di pusat Sandiwayang, melainkan kesunyian yang jujur suara angin yang benar-benar menyentuh daun, dan suara air mengalir di kejauhan yang tidak membawa rintihan jiwa-jiwa yang tersesat.
Ia menemukan dirinya terbaring di atas bale-bale bambu yang dialasi kain jarik cokelat tua. Bau asap rokok klobot dan aroma kopi yang sangat pekat menusuk hidungnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa berat yang luar biasa menahannya.
"Jangan dipaksa, Nir. Biji Purba itu sedang mencari tempat untuk beristirahat di dalam tubuhmu."
Nirmala menoleh. Di sudut ruangan yang remang-remang, Arka duduk bersila. Ia tidak lagi memakai kain kafan berdarah. Matanya kini tertutup oleh kain hitam yang rapi. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang, meskipun ia kini hidup dalam kegelapan abadi.
"Arka... kita di mana?" bisik Nirmala. Suaranya masih serak, seolah-olah ada serbuk kayu yang tertinggal di tenggorokannya.
Nirmala menatap ujung jemarinya yang bergetar. Di bawah kuku-kukunya yang kini tumbuh lebih keras dan berwarna kecokelatan, ia seolah bisa merasakan aliran cairan yang bukan lagi darah sepenuhnya. Setiap kali ia menutup mata, suara krak dari dahan yang patah selalu memicu ingatannya kembali ke malam itu, malam ketika langit Sandiwayang runtuh dan bumi memuntahkan segala isinya.
...——— Flashback on ———...
Cahaya putih yang meledak dari dada Nirmala saat ia menanamkan Biji Purba itu bukan hanya menghancurkan Kakek, tapi juga merobek dimensi Sandiwayang. Dunia di sekitar mereka mulai mencair seperti lilin yang terbakar. Pohon Randu Alas raksasa itu meraung suara raungan yang berasal dari ribuan tenggorokan mayat yang tergantung di dahannya.
"Arka! Pegang tanganku!" Nirmala menjerit. Dadanya terasa seperti dibelah oleh kapak panas. Biji Purba itu mekar di dalam jantungnya, mengirimkan akar-akar cahaya yang berebut ruang dengan akar hitam Sandiwayang.
Arka, yang matanya hanya bisa melihat spektrum energi, merangkak di tengah badai debu kayu dan potongan daging mumi yang berjatuhan. "Aku tidak bisa melihat jalan, Nir! Tapi aku merasakan tarikan bumi! Ikuti suaraku!"
Mereka berlari menembus lapangan rambut yang kini mulai terbakar oleh cahaya putih. Di belakang mereka, dahan-dahan raksasa seukuran bus jatuh menghantam tanah, menciptakan lubang-lubang menganga yang menelan segala sesuatu. Nirmala melihat raga 'Ibu' nya yang tadi terlempar kini hancur menjadi serpihan kayu lapuk sebelum sempat menyentuh dasar jurang yang tercipta di lantai hutan.
"Jangan menoleh, Nir! Terus lari!" Arka menarik tangan Nirmala dengan kekuatan yang luar biasa.
Tiba-tiba, sebuah akar raksasa mencuat dari tanah, melilit kaki Arka dan mengangkatnya ke udara. Arka terbalik, kepalanya hampir menghantam batu cadas.
"Arka!" Nirmala berbalik, tangannya yang kini memiliki kekuatan aneh mencengkeram akar itu. Ia tidak memotongnya dengan pisau, melainkan dengan kehendaknya. Serat kayu di tangan Nirmala berdenyut, dan akar hitam itu seketika layu seolah-olah energinya disedot habis oleh Nirmala.
Arka jatuh ke pelukan Nirmala. Mereka terus berlari menuju celah cahaya putih yang merupakan gerbang keluar. Di belakang mereka, Sandiwayang bukan lagi sebuah desa, itu adalah pusaran hitam yang melahap dirinya sendiri. Suara jeritan terakhir Kakek yang memanggil nama Nirmala terdengar seperti kutukan yang menggantung di udara sebelum akhirnya hilang ditelan ledakan sunyi.
Mereka melompat ke dalam cahaya itu tepat saat seluruh hutan tersebut runtuh menjadi debu.
...——— flashback off ———...
"Kita di rumah Aki. Kita sudah pergi dari Sandiwayang dua hari yang lalu. Kau tidur sangat lama Nir." jawab Arka menyadarkan lamunan Nirmala. Ia berdiri, berjalan mendekati Nirmala tanpa menabrak satu pun perabot di ruangan itu. Ia meletakkan tangannya di atas dahi Nirmala, merasakan suhu tubuh gadis itu yang tidak stabil.
Nirmala melihat ke bawah, ke arah lengannya. Jeritan tertahan keluar dari mulutnya.
Jahitan kayu itu masih ada. Namun, warnanya tidak lagi hitam legam, melainkan berubah menjadi cokelat keemasan yang berkilau redup. Serat-serat kayu itu kini telah merata, masuk ke bawah kulitnya seperti tato timbul yang hidup. Yang paling mengerikan adalah di bagian dadanya tepat di atas jantungnya, terdapat sebuah benjolan kecil berbentuk biji yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
"Aki bilang, kau tidak lagi hanya manusia." Arka berkata pelan, seolah bisa membaca pikiran Nirmala. "Kau adalah wadah bagi Biji Purba. Sandiwayang sudah hancur, akarnya sudah layu menjadi debu, tapi mereka meninggalkan 'warisan' di tubuhmu."
Tiba-tiba, pintu bambu terbuka. Aki masuk dengan membawa sebuah baskom kayu berisi cairan berwarna keruh yang mengeluarkan uap panas. Wajah tua itu menatap Nirmala dengan tatapan yang sulit diartikan antara kasihan dan kagum.
"Bangunlah, Wadon Silihan. Waktunya 'memberi makan' bagian dirimu yang lapar," ujar Aki tegas.
Aki membantu Nirmala duduk. Dengan bantuan Arka, Nirmala mencelupkan tangannya yang terjahit ke dalam baskom tersebut. Seketika, rasa panas yang luar biasa menyengat syaraf-syarafnya. Nirmala memekik, mencoba menarik tangannya, namun tangan Arka yang kuat menahannya.
"Tahan Nir, lihatlah." bisik Arka.
Nirmala memperhatikan dengan ngeri. Dari balik celah-celah jahitan kayu di kulitnya, puluhan serangga kecil berwarna putih ulat kayu yang transparan mulai keluar satu per satu, jatuh ke dalam air panas dan mati seketika. Air di dalam baskom berubah menjadi hitam pekat.
"Itu adalah residu dari Sandiwayang. Mereka mencoba bersarang di dalam serat kayu Biji Purba." Aki menjelaskan sambil terus menuangkan air garam ke luka Nirmala. "Kau harus melakukan ini setiap pagi selama sisa hidupmu. Jika tidak, kayu itu akan tumbuh liar dan menutupi wajahmu."
Nirmala menangis dalam diam. Kemenangan ini terasa begitu pahit. Ia selamat, tapi ia harus menjalani ritual yang menjijikkan ini setiap hari hanya untuk tetap terlihat seperti manusia.
Kehidupan di lereng gunung memberikan ritme baru bagi mereka. Arka belajar untuk hidup sebagai orang buta dengan kemampuan yang melampaui indra manusia biasa. Ia bisa mendengar pertumbuhan jamur di balik kayu lapuk, dan ia bisa merasakan kehadiran seseorang dari jarak seratus meter lewat getaran tanah.
Nirmala, di sisi lain, menjadi asisten Aki dalam meramu obat-obatan. Namun, ia harus selalu mengenakan baju lengan panjang dan kain yang menutupi lehernya. Ia masih takut melihat pantulan dirinya di cermin.
Suatu sore, Nirmala sedang berada di dapur, mencoba memotong sayuran untuk makan malam. Tangannya yang sebelah kanan yang paling banyak ditumbuhi serat kayu terasa sangat kuat. Begitu kuatnya, hingga tanpa sadar ia menekan pisau terlalu keras dan membelah talenan kayu itu menjadi dua bagian dengan satu hentakan ringan.
"Krak!"
Nirmala tertegun. Ia menatap telapak tangannya. Serat kayu di sana tampak berdenyut, seolah-olah ia merasa senang telah menghancurkan sesuatu.
"Kontrol emosimu Nir." Arka muncul di ambang pintu dapur. Meskipun tidak melihat, ia tahu ada sesuatu yang rusak. "Kayu itu bereaksi terhadap kemarahan dan ketakutanmu. Jika kau marah, ia akan mengeras. Jika kau sedih, ia akan menjadi rapuh."
Nirmala meletakkan pisau itu dengan tangan gemetar. "Sampai kapan, Arka? Sampai kapan aku harus hidup seperti monster yang bersembunyi?"
Arka mendekat, meraba meja hingga ia menemukan tangan Nirmala. Ia menggenggam tangan yang terasa kasar seperti kulit pohon itu dengan sangat lembut.
"Kau bukan monster, Nir. Kau adalah bukti bahwa Sandiwayang bisa dikalahkan. Kita berdua adalah cacat yang selamat. Aku kehilangan mataku, dan kau kehilangan kemurnian ragamu. Tapi kita masih di sini, kan?"
Nirmala menatap Arka. Di bawah kain hitam itu, ia tahu Arka telah memberikan segalanya untuknya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arka. Harum tubuh Arka kini bercampur dengan bau tanah dan cendana, sementara tubuh Nirmala sendiri berbau seperti hutan setelah hujan bau getah yang segar namun asing.
"Aki bilang ada cara untuk membuat jahitan ini memudar?" tanya Nirmala penuh harap.
"Bukan memudar, tapi 'berhibernasi'." Arka mengoreksi. "Besok, Aki akan membawamu ke sebuah sendang tersembunyi di puncak tebing. Kita harus menanam sisa energi Sandiwayang yang masih menempel di jiwamu ke dalam air itu. Itu adalah proses yang menyakitkan, tapi itu akan memberimu kendali penuh atas raga kayumu."
Malamnya, saat seluruh gunung diselimuti kabut, Nirmala duduk di teras rumah Aki. Ia melihat ke arah cakrawala, ke arah di mana desa Sandiwayang seharusnya berada. Di kejauhan, ia melihat sebuah kilatan cahaya kemerahan yang sangat tipis di langit.
Tiba-tiba, ia merasakan gatal yang luar biasa di belakang telinganya. Saat ia meraba, ia menemukan sebuah tunas kecil, sangat kecil, berbentuk bunga Randu yang baru akan mekar.
Nirmala terkesiap. Ia segera memetik tunas itu hingga berdarah. Darahnya kini berwarna merah tua, namun sangat kental seperti sirup.
Ia menyadari bahwa perjuangan mereka belum benar-benar selesai. Sandiwayang mungkin sudah hancur secara fisik, namun ide tentang Sandiwayang telah berakar di dalam dirinya. Ia harus belajar hidup berdampingan dengan predator yang kini bersemayam di bawah kulitnya.
"Nir? Kenapa jantungmu berdetak begitu cepat?" suara Arka terdengar dari dalam kamar.
"Tidak apa-apa Arka." jawab Nirmala bohong. Ia menyembunyikan tunas bunga yang berdarah itu di dalam genggamannya. "Hanya angin malam yang sedikit dingin."
Nirmala menatap langit bertabur bintang, menyadari bahwa mulai malam ini, ia bukan lagi gadis biasa dari Jakarta. Ia adalah penjaga sebuah rahasia kuno yang jahat, dan Arka adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak tersesat menjadi pohon yang kesepian.
Untuk Othor Juga... Selamat Hari Raya ya, Maapkan pembaca ini yang mungkin sering ngeluh di komentar🤣Mohon maap lahir dan batin kak🙏🙏🙏