Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah akad
Setelah prosesi selesai, paman Cantika segera kembali ke rumahnya. Warga mulai membubarkan diri setelah memastikan semua video dan foto dihapus di bawah pengawasan ketat Arka. Akhirnya, hanya tinggal Arka dan Cantika yang ditinggalkan berdua di teras balai desa yang kebetulan bersampingan dengan rumah pak RT. Hari sudah mulai gelap. Semburat jingga di langit seolah menertawakan nasib mereka berdua.
Arka melonggarkan dasinya, lalu melepasnya dan memasukkan ke dalam saku jas. Ia menatap mobilnya yang masih terparkir di kejauhan, dikerumuni anak-anak desa yang penasaran.
"Sudah puas?" tanya Arka ketus tanpa menoleh ke arah Cantika.Berbeda saat tadi ada paman dan pak RT.
Cantika berdiri di belakangnya, wajahnya tertunduk dalam. "Maafkan saya, Tuan Arka. Saya benar-benar minta maaf."
"Berhenti minta maaf. Kata itu tidak akan mengubah status saya di KTP dari lajang menjadi menikah," sahut Arka tajam. "Dengar, Cantika. Pernikahan ini hanya di atas kertas. Di depan orang-orang desa ini, kita suami istri. Tapi bagi saya, kamu tetaplah gadis penjual keripik yang sialnya saya temui tadi sore."
Cantika mengangguk pelan. "Saya mengerti. Saya tidak akan menuntut apa pun dari Tuan. Tuan bisa pergi sekarang, saya tidak akan memberi tahu siapa-siapa."
Arka tertawa sinis. "Pergi? Kamu pikir Pak RT itu bodoh? Dia pasti akan mengawasi kita selama beberapa hari ini untuk memastikan saya tidak meninggalkanmu begitu saja. Kalau saya menghilang malam ini, besok pagi dia akan melaporkan saya ke polisi dengan tuduhan penipuan."
Arka menghela napas panjang, tubuhnya terasa berat seolah seluruh beban dunia menindih pundaknya. Setelah prosesi akad nikah selesai, stres yang selama ini ditahannya mulai membuncah. Ia merasa seperti baru saja terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung. Bagaimana caranya ia harus menjelaskan semua ini kepada orang tua dan tunangannya?
Di Jakarta, orang tuanya pasti sedang menunggu kabar baik dari perjalanan bisnisnya ke desa ini. Ayahnya, seorang pengusaha sukses, sudah merencanakan pernikahan mewah Arka dengan tunangannya yang berasal dari keluarga konglomerat. Semua undangan sudah dicetak, hotel bintang lima sudah dipesan, dan bahkan cincin berlian telah dipilih. Kini, dalam hitungan jam, status Arka berubah menjadi suami seorang gadis desa yang tak dikenalnya.
“Bagaimana mungkin ini terjadi?” gumam Arka dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar. Ia membayangkan reaksi ayahnya yang pasti murka, ibunya yang akan menangis histeris, dan tunangannya yang mungkin langsung membatalkan pertunangan. Ponselnya sudah bergetar beberapa kali sejak tadi, tapi ia tak berani mengangkatnya. Pesan dari rumahnya bertubi-tubi: “Sayang, sudah sampai mana? Aku kangen.” Setiap kata itu seperti pisau yang menusuk dada Arka.
Sementara itu, Cantika berdiri beberapa langkah di belakangnya, tubuhnya gemetar ketakutan. Sikap Arka sekarang sangat berbeda dibandingkan saat masih ada paman dan Pak RT. Tadi, meski dingin, Arka masih bisa menahan emosinya demi menjaga citra. Kini, setelah semua orang pergi, tatapan Arka penuh amarah dan kebencian yang tak disembunyikan lagi. Cantika merasa seperti sedang berdiri di depan singa yang siap menerkam.
Ia menundukkan kepala lebih dalam, tangannya saling meremas ujung kebaya sederhananya yang sudah kusut. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia berusaha menahannya. “Saya takut,” pikir Cantika. “Apa yang akan terjadi padaku sekarang? Tuan Arka pasti membenciku habis-habisan. kalau saja kesalah pahaman itu tidak terjadi…”
“Hai, kamu!” suara Arka yang tiba-tiba keras namun tertahan membuat Cantika tersentak. Ia mendongak sedikit, melihat Arka kini berbalik menghadapnya dengan wajah merah padam. “Kamu pikir ini lucu? Kamu hancurkan hidupku dalam sehari! Satu sore saja, Cantika. Satu sore sialan!”
Cantika mundur selangkah, suaranya hampir hilang. “Maaf … Tuan. Saya tidak bermaksud begitu. Semua terjadi begitu cepat,saya juga tidak mau semua ini terjadi."
“Kalau saja aku tidak menolongku ,dan membiarkan kamu pingsan di tempat itu ini tak akan terjadi,dan sekarang kamu yang bikin aku terjebak pernikahan palsu ini!”
Malam semakin gelap. Lampu-lampu di teras balai desa menyala redup, menerangi wajah Cantika yang pucat pasi. Angin malam meniup lembut, membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering. Arka berjalan mondar-mandir di teras, tangannya mengepal erat. Ia mencoba menyusun strategi di kepalanya: mungkin besok pagi ia bisa pulang ke Jakarta dengan alasan darurat bisnis, lalu mencari pengacara untuk mengurus pembatalan pernikahan secara diam-diam. Tapi Pak RT pasti akan curiga. Desa ini kecil, berita akan menyebar cepat.
“Besok aku harus telepon Mama,papa,” kata Arka lebih kepada dirinya sendiri. “Tapi bagaimana? ‘Halo, Pa, Ma… aku baru saja menikah dengan penjual keripik di desa terpencil’? Mereka akan mengira aku gila!”
Cantika memberanikan diri mendekat sedikit, suaranya pelan dan bergetar. “Tuan Arka… kalau Tuan mau, saya bisa bilang ini semua kesalahan saya. Saya siap menanggung semuanya. Tuan bisa pulang besok, saya tidak akan menahan Tuan.”
Arka berhenti melangkah dan menatap Cantika tajam. “Kamu tidak mengerti, ya? Ini bukan hanya soal kamu atau aku. Ini soal nama keluarga besar. Kalau berita ini sampai ke Jakarta, reputasiku hancur. Bisnisku bisa terancam. Tunanganku … viona … dia pasti akan marah .”
Mendengar kata “tunangan”, hati Cantika seperti diremas. Ia baru sadar betapa besar kerugian yang dialami Arka karena ulahnya. Air matanya akhirnya jatuh juga, mengalir pelan di pipi. “Saya benar-benar takut, Tuan. Saya takut Tuan marah besar seperti ini. Tadi saat akad masih ada orang lain, Tuan masih bisa tersenyum meski dipaksa. Sekarang … Tuan seperti orang lain.”
Arka melihat air mata Cantika dan untuk sesaat emosinya melunak, tapi segera ia ingat posisinya. Ia mengusap rambutnya kasar. “Sudah, jangan nangis di sini. Pak RT bisa melihat dari rumahnya. Kita harus pura-pura harmonis setidaknya malam ini.”
Cantika mengusap air matanya cepat. “Baik, Tuan. Saya akan ikut apa kata Tuan.”
Arka melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam. setelah itu Arka menatap Cantika dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Pakai sendal bututmu itu. Kita ke rumahmu sekarang."
"Ke rumah saya? Tapi ... rumah saya kecil dan kotor. Tuan tidak akan suka."
"Saya tidak peduli,yang penting saya bisa istirahat " bentak Arka, stresnya semakin memuncak. "Dan saya tidak punya pilihan. Saya harus terlihat seperti suami yang bertanggung jawab selama satu atau dua malam sampai situasi kondusif. Baru setelah itu saya bisa membawa kamu ke kota dan membereskan masalah ini secara hukum."
Cantika hanya bisa mengikuti langkah lebar Arka menuju mobil. Saat mereka berjalan melewati kerumunan warga yang masih tersisa, beberapa orang bersiul dan menggoda dengan nada usil. Arka hanya bisa mengepalkan tinju di dalam saku jasnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Di dalam mobil mewah yang kedap suara itu, suasana terasa sangat canggung. Arka mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Harum parfum sandalwood di mobilnya kini terasa memuakkan, karena di sampingnya duduk seorang gadis yang kini resmi menjadi istrinya gadis yang masih berbau keringat, tanah, dan singkong goreng.
"Tuan ..." panggil Cantika setelah beberapa saat keheningan yang mencekam.
"Apa lagi?"
"Terima kasih ... karena sudah menyelamatkan kehormatan saya, meskipun saya tahu Tuan sangat terpaksa."
Arka terdiam sejenak. Ia melirik melalui kaca spion kecil, melihat mata Cantika yang jujur dan tulus. Rasa marah dalam dadanya sedikit mereda, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa.
"Jangan berterima kasih dulu," ujar Arka dingin. "Kamu belum tahu bagaimana rasanya hidup di dunia saya. Dan percayalah, menjadi istri seorang Arka Pradipta, meski hanya pura-pura, adalah pekerjaan paling berat yang pernah ada. Lebih berat daripada mengupas seribu ton singkong."
Arka menginjak pedal gas. Mobil mewah itu meluncur perlahan memasuki gang sempit yang berlumpur menuju rumah Cantika. Lampu-lampu rumah warga yang temaram ikut menyaksikan perjalanan dua orang yang baru saja terikat oleh pernikahan paksa yang paling absurd di desa itu.
Malam semakin larut. Di dalam mobil, Arka Pradipta pria yang biasanya mengendalikan segalanya kini harus menghadapi kenyataan bahwa hidupnya baru saja berubah total hanya karena sebuah tumpukan keripik singkong yang hancur dan satu kesalahan kecil di sore yang seharusnya biasa saja.
Cantika duduk diam di kursi penumpang, tangannya saling meremas. Ia tidak berani bicara lagi. Hatinya campur aduk antara rasa bersalah, ketakutan, dan sedikit harapan kecil yang tak berani ia akui.
Sementara itu, Arka hanya bisa menatap lurus ke depan, ke jalan gang yang gelap. Pikirannya kini tidak lagi menghitung untung rugi bisnis, melainkan bagaimana cara keluar dari pernikahan gila ini secepat mungkin tanpa menghancurkan diri sendiri dan gadis polos di samping