Alex patah hati karena wanita yang ia incar ternyata lebih memilih rival bisnisnya. Membuat pria ini putus asa dan memilih melampiaskan kesedihannya dengan minum minuman keras.
Dalam keadaan terpuruk, tak sengaja Alex bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan wanita yang ia sukai.
Sayangnya kesalahpahaman sering terjadi di antara mereka. Meski begitu, tak dipungkiri bahwa Alex sebenarnya juga menyukai gadis itu.
Akankah Alex mampu merebut hati si gadis penolong? Ataukah malah menghindarinya gara-gara gadis itu berwajah mirip dengan wanita yang dia suka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Merepotkan
Bohong jika Emma tidak kesal dengan Alex. Harusnya jam segini ia sudah istirahat, tapi lihatlah demi tanggung jawab aneh yang dibebankan kepadanya, terpaksa ia harus mengukur jalan untuk mencarinya.
Apesnya, Alex tidak menjawab panggilan telepon darinya. Membuat Emma semakin frustasi.
Di detik berikutnya, Emma teringat dengan pertemuan pertama mereka. Mengingat hal itu, Emma pun berinisiatif pergi ke tempat hiburan tersebut. Berharap Alex ada di sana.
"Semoga saja dia ada di sana. Awas saja kalo benar, akan ku becek mukanya sampai benyek!" ancam Emma kesal.
Tak minggu waktu lagi, Emma pun langsung mengarahkan kendarannya menuju tempat tersebut. Sembari berharap usahanya kali ini tak sia-sia. Karena Emma tak tahu lagi harus mencari ke mana baby big yang sangat merepotkan itu.
Benar, ketika ia sampai di depan club itu, Emma melihat ada mobil Alex terparkir di sana.
Tak menunggu waktu lagi, Emma pun seger turun dan berniat menjemput Alex pulang.
Sayang, Emma tak bisa masuk karena tak bisa menunjukkan kartu Identitas sekaligus member miliknya.
"Sial! Kenapa sih harus pakek member card segala?" umpat Emma kesak sembari memukul kesal mobil yang ia kendarai tadi.
Tak punya pilihan lain, Emma pun memutuskan menunggu.
Satu jam, dua jam, Alex tak juga keluar. Membuat Emma kesal, geram dan ingin sekian mencabik-cabik pria merepotkan itu. Andai Alex adalah adiknya.
"Ya Tuhan, sampai kapan aku menunggu pria menyedihkan itu?" gumam Emma, malas.
Selepas berucap demikian terlihat segerombolan preman sedang menyeret seorang pria. Spontan Emma pun tercengang. Karena ia tahu bahwa pria yang saat ini sedang di hajat oleh beberapa preman itu ternyata adalah Alex.
Tak ingin kembali kena masalah, Emma pun segera turun dan melerai perkelahian tersebut.
"Hay kalian... lepaskan pria itu!" teriak Emma marah.
Tak ayal para preman itu pun melihat ke arah Emma.
"Wahhhh.... siapa dia? berani sekali nantangin kita!" ucap salah satu preman.
Emma tak peduli, rasa lelah yang ia derita sepertinya butuh pelampiasan. Dan sudah lama juga ia tidak melampiaskan amarahnya ini. Sungguh Emma merasa sangat beruntung dipertemukan dengan preman ini. Sehingga ia bisa leluasa melampiaskan apa yang ia ingin kan tanda adanya tuntutan.
Emma tidak memundurkan tubuhnya barang selangkag pun. Membuat Alex yang pura-pura mabok langsung tercengang. Tentu saja dia takut jika Emma di hajar oleh para preman itu. Alex saja pura-pura mabok agar tidak di hajar sama mereka. Eehhhh... Emma malah nantangin.
"Emma, lari!" teriak Alex, ketika salah satu dari preman itu sudah berjarak sangat dekat dengan Emma.
Sayangnya, Emma sama sekali tak mendengarkan Alex, justru ia langsung menyambut serangan preman itu dengan beberapa jurus yang ia bisa.
Emma terlihat begitu gesit menghajar mereka. Sehingga membuat Alex tercengang.
Tak ingin melihat Emma berjuang sendiri, Alex pun ikut menyerang ora preman itu.
"Sial mereka makin banyak, Em!" Ucap Alex ketika beradu punggung dengan Emma.
"Di hitungan ketiga, kita serang mereka, setelah itu kita lari ke arah pintu gerbang, gimana?" Tanya Emma.
"Oke! satu dua tiga, seranggg!!!" teriak Alex.
Setelah mengeluarkan aba-aba itu Alex dan Emma langsung menyerang beberapa preman yang ada di depan mereka.
Merasa ada celah melarikan diri, Alex langsung menggandeng Emma dan mengajak gadis itu berlari sekencang mungkin.
"Sial mereka mengejar kita Em!" ucap Alex.
"Benar, sebaiknya kita sembunyi," ajak Emma.
Alex menurut, lalu mereka segera masuk ke dalam salah satu gang. Sayangnya, gang yang mereka masuki buntu. Sehingga terpaksa mereka bersembunyi.
"Itu ada meja, kita masuk sana aja," ajak Emma ketika melihat ada meja, mungkin punya emak-emak jualan makanan kalau pagi.
Alex meminta Emma masuk terlebih dahulu ke dalam kolong. Setelah itu baru dirinya.
Kolong yang sempit mengakibatkan mereka berdua berdesak-desakan. Hingga tanpa sengaja, kening mereka bertabrakan.
Seolah tidak rela Emma merasakan sakit, Alex langsung mengelus kening gadis itu.
"Sorry, kamu nggak pa-pa kan?" tanya Alex.
Belum sempat Emma menjawab, terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Emma yakin jika langkah kaki itu adalah langkah kaki para preman itu.
Takut ketahuan, mereka berdua pun berpelukan. Hingga tidak menyadari bahwa saat ini wajah mereka sangat dekat.
Alex tak mau kehilangan momen paling berharga ini. Ia pun menatap wajah gadis yang telah sukses mengalihkan perhatiannya ini. Menatap gadis itu dengan tatapan paling mesra.
Emma tak menyadari apa yang dilakukan Alex. Sebab ia telalu fokus mendengarkan suara orang-orang yang mengejarnya.
Orang-orang itu terdengar masih sibuk mencari mereka. Hingga tanpa mereka sangka, hujan datang mengguyur mereka. Bukannya pergi, para preman itu berteduh di samping meja mereka. Bahkan ada yang duduk di atas meja.
Emma dan Alex tak punya pilihan lain selain semakin mempererat pelukan mereka. Sangking eratnya, sampai tak sengaja bahwa saat ini wajah mereka terasa sangat dekat. Bahkan bisa mencium aroma napas masing-masing.
Tubuh basah kuyup karena rembesan air hujan. Emma terlihat mengigil. Alex bisa merasakan gadis itu kedinginan di saat tak sengaja Alex melihat bibir Emma gemetar.
Entah punya keberanian dari mana, nyatanya saat ini Alex telah berani melahap bibir gadis itu. ********** perlahan. Seakan memberikan kehangatan. Emma tak bisa menolak apa lagi marah. Sebab ia tahu saat ini di atas kepala mereka ada para preman itu.
Berteriak tertangkap preman. Diam termakan oleh predator.
Sungguh nasib Emma berasa di atas dua mata uang yang berbeda. Penuh dilema dan sulit memilih.
Sayangnya, Alex malah terlena dan terus menikmati bibir itu. Mencium Emma lebih mesra dan dalam. Sampai napas Emma tersegal. Maklum, ini adalah pengalaman pertamanya berciuman. Namun sayang, pengalaman pertama ini sangat tidak romantis menurut Emma karena ia melakukannya dengan seseorang yang tidak ia sukai.
Bersambung...
kog malah muncul masalah baru,...
lanjut crazy up gtu kak😊