Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Membuatku Cemburu
Namun beberapa meja di seberang sana..., Joyce baru saja duduk. Tanpa sadar, dia melihat ke arah kiri, Dan tanpa sengaja... pandangan mereka bertemu. Pandangan Joyce dengan Ardian.., Hanya sepersekian detik. Namun cukup membuat keduanya sama-sama terdiam.
Joyce tampak terkejut. Jelas tidak menyangka akan bertemu CEO Aethera Corporation di tempat seperti ini. Joyce segera mengalihkan pandangannya.
Jantungnya sempat berdegup lebih cepat karena terkejut melihat Ardian di sana. Namun yang lebih mengganggunya adalah perempuan yang duduk tepat di hadapan lelaki itu.
Cantik. Elegan, dan terlihat sangat serasi. Seperti memang perempuan itu ditakdirkan untuk Ardian Mahendra..
"Mmpphh... kenapa ada rasa tidak suka melihat CEO Aethera Corporation" sambil mengendalikan degup jantung, gadis itu bertanya pada dirinya sendiri.
"Tidak sombongkan jika aku tidak menyapanya..?'
Joyce tampak menghela nafas.. Sejenak keraguan datang menghampirinya
"Toh.. jikapun aku menyapanya, memang beliau ingat padaku."
"Aku kan cuma remahan rengginang baginya.." tanpa sadar Joyce tersenyum kecut.
"Jo... Joyce?"
Suara Tania, rekan EO-nya, mengagetkannya dan akhirnya membuatnya kembali fokus. Dia tersenyum pada rekannya
"Kamu dengar nggak sih?"
"Hah? Maaf. Aku tadi kurang fokus" dia merasa malu dan merasa bersalah.
Tania mengernyit, kemudian melihat ke sekeliling..
"Kamu kenapa? Ada yang mengganggumu kah.."
"Nggak apa-apa Tan.. swear. Wait a minute."
Joyce buru-buru membuka laptopnya. Tetapi pikirannya sudah tidak lagi fokus pada proposal acara yang sedang dibahas.
Entah kenapa, ada rasa aneh yang muncul di dadanya. Padahal Ardian bukan siapa-siapa. Jika dibandingkan dengan dirinya, ia merasa seakan bumi dan langit
Lagian mereka baru bertemu beberapa hari. Bahkan hubungan mereka sebatas profesional. Dia tenaga freelance yang dikontrak menjadi MC event. Dan laki-laki itu adalah langit, dengan dukungan sumber daya yang luar biasa
Namun saat melihat lelaki itu duduk bersama perempuan lain... ada sesuatu yang terasa tidak nyaman. Ulu hatinya terasa nyeri..
Joyce langsung membenci perasaan itu.
Karena ia tahu persis bagaimana rasanya berharap terlalu banyak pada seseorang. Dan ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
"Sudah dibuka file yang kukirim..?"
"Iya ini sudah kubuka.. Ini venue nya di Sentul city ya.."
"Yap.. out door. Tapi jangan khawatir, tim panggung sudah memastikan jika suasana out door tidak akan mengganggu suaramu. Mereka profesional, Lux Audio sudah memberikan jaminan..
"Aku paham Tann.. Beberapa kali jadi MC.., Lux Audio pernah jadi provider sound system nya. Kita juga beberapa dah ada yang kenal.."
***********************
Di meja nomor dua belas. Ardian merasa... untuk pertama kalinya sejak duduk di kafe itu, merasa sore harinya menjadi sedikit lebih menarik. Dia yang sejak tadi merasa malas berada di tempat itu, menjadi lebih bersemangat.
Dan dari meja lain di depannya, Jessica memperhatikan semuanya. Termasuk cara Ardian menatap perempuan yang baru saja masuk itu.
Senyumnya perlahan memudar. Muncul rasa yang tidak suka, dan merasa keberadaanya tidak dihargai Karena sebagai perempuan... ia tahu persis arti tatapan tersebut.
Jessica berusaha tersenyum tipis sambil mengaduk kopinya.
"Aku boleh jujur?"
Ardian mengangkat sebelah alis, dia mengalihkan pandangan dan menatap gadis di depannya.
"Tentu."
"Kamu terus melihat ke arah sana."
Tatapan Jessica mengarah ke meja Joyce. Ardian tidak langsung menjawab, dan menunggu lanjutan perkataan Jessica.
"Dan perempuan itu bukan rekan kerjamu."
Bukan pertanyaan. Sebuah kesimpulan. Jessica terlalu cerdas untuk tidak menyadarinya.
Ardian akhirnya tersenyum kecil.
"Observasimu bagus. Dan hal itu tidak mengganggumu kan.."
Jessica tertawa pelan. Namun suara tawa itu sumbang, seakan mencoba menutup hati yang sedang galau
"Jadi aku benar?"
Ardian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Beberapa detik ia terdiam. Lalu menjawab jujur.
"Saya mengenalnya. Sudah jujurkan aku.."
"Mantan pacar?"
"Bukan."
"Calon pacar?"
Kali ini Ardian benar-benar tertawa kecil. Dan itu membuat Jessica terkejut.
Menurut informasi yang ia dengar, Ardian Mahendra terkenal dingin dan sulit didekati. Tetapi ketika perempuan itu muncul... ekspresinya berubah.
Sangat tipis. Namun cukup terlihat. Dan Jessica meletakkan cangkir kopinya.
"Aku rasa aku tahu kenapa kamu nggak tertarik dengan perjodohan ini."
Ardian tidak menyangkal. Dan itu sudah menjadi jawaban.
"Tapi ingat Ardian... ada harga mahal yang harus dibayar dengan sikap penolakanmu.."
perkataan Jessica seakan menyinggung Ardian..
"Atur saja Jess... berapa pinalty yang aku harus bayar.. "
"Hidup ini indah.., dan hanya satu kali."
"Akan menjadi hal yang merugi, bahkan memuakkan jika hanya ikut aturan keluarga yang tidak berdasar."
Jessica mengambil nafas dalam. Dia menatap tajam ke arah laki-laki di depannya.
"Ardian Mahendra... CEO Aethera Corporation. Kamu bisa bersikap ketus dan egois di depanku.." ucapnya dalam hati.
"Namun... selama ini apa yang aku mau, akan selalu terwujud. Dan aku mau kamu.."
Meskipun hatinya sakit melihat sikap Ardian Mahendra.. namun..
"Terserah apa katamu Ardian.. tapi lihat saja nanti.." ucapan Jessica seakan menekan Ardian.
"Apa apaan.. aku tunggu Jess.. Dan aku tidak pernah suka dengan orang yang menindasku."
"Kita akhiri saja blind date ini.. Apapun yang akan kamu lakukan, aku selalu siap dengan konsekuensinya.."
dengan tegas, Ardian merespon perkataan Jessica.
"Hempphh... okay.."
Tanpa perkataan lagi, Jessica langsung berdiri. Dia tanpa pamit, langsung melangkahkan kaki meninggalkan Ardian sendiri..
**************
Satu jam kemudian. Pertemuan Joyce dengan klien akhirnya selesai. Ia dan Tania mulai membereskan dokumen-dokumen mereka.
Ketika berdiri dari kursinya, tanpa sengaja matanya kembali mencari meja Ardian. Kosong. Mereka sudah pergi.
Aneh. Padahal harusnya ia merasa lega. Namun tidak tahu sebabnya, justru ada sedikit rasa kecewa yang tidak bisa dijelaskan. Namun dengan cepat, ia menghalau rasa kecewanya.
"Aku bukan siapa-siapa bagi Tuan Ardian.. Sadar diri Joy.." ucap Joyce dalam hati
"Yuk?" ajak Tania.
"Iya."
Mereka berjalan menuju pintu keluar. Tetapi baru beberapa langkah... suara seseorang menghentikannya.
"Ms. Joyce."
Joyce langsung menoleh. Jantungnya kembali berdegup kencang. Dia mendapati Ardian berdiri di dekat pintu masuk kafe.
Sendirian. Dan jasnya kini tersampir di lengan. Seolah memang sedang menunggunya.
Tania yang melihat situasi itu langsung tersenyum jahil.
"Oke, aku pulang duluan ya.. aku ke mobil dulu." seperti memberi kesempatan pada Joyce.., Tania ngeloyor pergi
"Tania!"
Namun wanita itu sudah kabur lebih dulu. Dia melambaikan tangan tanpa menatap, dan berjalan meninggalkan Joyce dan Ardian berdua. Joyce mendadak bingung, tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Begitu juga dengan Ardian.. Hening beberapa detik.
"Meeting?" tanya Ardian akhirnya.
Joyce mengangguk. Sesaat Joyce jika bingung bagaimana harus bersikap.
"Klien baru ya."
"Berjalan lancar kan negonya?"
"Cukup lancar. Tadi kami cuma berusaha menyamakan persepsi saja.." ucap Joyce lirih