NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melewati batas...

Suara langkah kaki menuruni tangga, membuat Nolan menoleh.

"Kau sudah bangun?"

"Ya. Kapan kau pulang?"

"Belum lama. Kemari."

Nolan menyerahkan beberapa paperbag kepada Hana yang berwajah bantal.

"Apa ini?"

"Pakaian untukmu. Buang semua pakaian yang kau bawa."

"Kenapa?"

"Seperti gembel."

Ucapan Nolan begitu menusuk relung hati Hana.

Bagaimanapun pakaian yang ia kenakan adalah hasil jerih payahnya menyisihkan uang.

"Turuti ucapanku." Nolan yang tak sabar menunggu respon dari diamnya Hana.

"Baik. Terima kasih." Ia kembali ke kamarnya dengan membawa semua pemberian Nolan.

Ia pun langsung mengganti pakaian yang melekat di tubuhnya dengan gaun simple yang manis.

Nolan tertegun ketika Hana kembali turun mengenakan dress simple yang membuatnya terlihat seperti gadis remaja.

"Berapa umurmu?"

"21 tahun. Kenapa kau bertanya lagi?"

"Tidak. Kau terlihat sangat segar seperti remaja belasan tahun."

"Apa gaun ini memiliki sihir?"

Nolan terkekeh geli mendengar pertanyaan polos Hana.

"Anggaplah begitu."

Nolan menepuk sofa di sisinya, mengisyaratkan Hana untuk duduk di sana. Perempuan itu menurut.

"Apa yang kita lakukan di sini?"

"Kau ingin melakukan apa?" Nolan meletakkan kepalanya di bahu Hana.

Tubuhnya ia turunkan sedikit dari sofa agar sejajar dengan tubuh perempuan di sisinya.

"Aku tak terlalu menyukai keramaian." Sambung Nolan sembari memejamkan matanya.

"Kupikir di sini tak terlalu ramai seperti Indonesia.

Sejak tiga hari yang lalu kita kemari aku jarang melihat penduduk sekitar. Kecuali saat di festival kemarin."

Hana menoleh ketika Nolan tak memberi respon apapun terhadap ucapannya.

Ia terkejut begitu melihat Nolan yang tertidur sembari menyender di bahunya.

Terlihat lucu ketika tubuh kecilnya menopang tubuh Nolan yang besar.

"Apa yang kau dapatkan?" Tanya Luca ketika Ruby masuk ke ruangannya.

"Mereka hanya terlihat sesekali keluar villa, terakhir kali mereka berada di sebuah festival. Dan keesokan harinya, pria itu keluar hanya seorang diri menemui seseorang."

"Kau tau siapa?"

"Seorang teman lama, mereka hanya membahas hal biasa."

"Terus ikuti pergerakan mereka, jangan sampai kehilangan jejak. Laporkan sekecil apapun informasi yang kau dapatkan."

"Baik, tuan."

"Kau pergilah bersama sekretarisku menemui pemegang saham."

"Baik, tuan." Ruby berlalu keluar ruangan.

Luca memutar bolpoin dengan cepat. Pikirannya dipenuhi oleh nama Hana. Ia tak sabar menanti permohonan maaf dari Hana karena tak sanggup melunasi hutangnya.

"Menjual tubuhmu pun kurasa belum cukup kecuali kau menyerahkan diri padaku." Gumam Luca meremas kuat bolpoin yang ia genggam hingga patah.

Ia membuang sembarang arah bolpoin tersebut dan melempar vas tanaman yang berada di dekatnya.

Pranggg!

Kondisi ruang kerjanya yang berantakan seolah mencerminkan betapa marahnya ia terhadap Hana.

Harga dirinya terluka oleh sikap gadis itu. Ia seperti pengemis saat berhadapan dengan Hana.

"Apa villa yang kita tempati adalah milik tuan?" Sore itu Nolan mengajak Hana pergi ke danau yang tak jauh dari villa.

"Ya."

Hana mengangguk paham.

"Hana, kurasa ada yang mengikuti kita." Sontak ucapan Nolan membuat Hana mengedarkan pandangan.

Memang ada beberapa turis yang sedang berada di danau.

"Siapa?" Hana mengedarkan pandangannya.

"Apa kau punya musuh?"

Hana terkejut mendengar pertanyaan Nolan.

"Orang sepertiku siapa yang mau bersaing? Mungkin kau."

"Entahlah." Nolan terkekeh.

"Lalu untuk apa orang-orang itu kau bawa?" Hana menunjuk para pengawal yang berada di depan Villa.

Nolan mengikuti arah pandang Hana, ia tersenyum kecil.

"Orang suruhan Ayahku." Nolan mengangkat bahu.

Hana diam memikirkan kemungkinan kecil. Namun, ia merasa tak ada gunanya dan untuk apa orang itu melakukan hal ini.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Menu makan malam." Tangan Hana melempar batu kecil ke danau.

"Tidak perlu, kita makan malam di luar."

"Apa makanan di sini enak?"

"Untuk itu aku mengajakmu untuk mencicipinya. Kau akan tahu nanti."

"Baiklah."

"Berikan nomor teleponmu." Nolan menjulurkan ponselnya kepada Hana.

"Aku tak membawa ponsel."

"Apa?"

"Kau mendengarnya."

"Kenapa kau meninggalkan barang yang sangat penting?"

"Tidak penting bagiku."

"Aneh." Gumam Nolan yang masih di dengar oleh Hana.

Perempuan itu tak tersinggung.

Nolan menyadari ucapannya. Ia berdehem pelan.

"Bagaimana jika seandainya aku meninggalkanmu di sini atau di tengah jalan? Ini bukan Indonesia, kau bahkan tak bisa berbahasa inggris."

"Kuanggap itu sudah menjadi takdirku. Jika aku akan menjadi gelandangan di sini, aku akan menjalaninya." Ucapan Hana membuat Nolan tertegun.

Ia mengira bahwa gadis ini memiliki beban yang ia pikul sendiri hingga sampai pasrah dengan keadaan.

Pria itu mengalihkan pembicaraan.

"Kau hafal nomormu, kan?"

"Tidak."

"Kalau begitu, ini kartu namaku. Tolong hubungi aku."

"Kenapa?"

"Relasi. Siapa tahu suatu hari nanti kau membutuhkan bantuanku atau sebaliknya."

Hana memilih menyimpan kartu nama tersebut ke dalam saku sweaternya.

"Apa sebelumnya kau hanya mengurung diri di villa?"

"Ya, bergumul seharian bersama perempuan yang ku sewa."

Hana menyesal menanyakan hal tersebut yang membuatnya risih. Nolan terkekeh melihat raut wajah Hana yang terlihat seperti ingin muntah.

"Jika sedang musim dingin, aku bermain ski."

"Apa itu menyenangkan?" Hana tampak antusias mendengarnya.

"Lumayan."

"Kau ingin mencobanya?"

Hana menggeleng.

"Ini bukan musim dingin."

"Lain waktu kita kemari lagi."

Nolan tersadar dengan ucapannya yang spontan. Ia begitu senang bersama Hana hingga menjanjikan sesuatu pada perempuan yang suci ini.

"Itu tidak akan terjadi. Gunakan kesempatan itu untuk perempuan lain."

"Kenapa tidak kau?"

"Aku berpikir ini yang terakhir."

"Kenapa?"

"Hanya begitu." Hana mengedikkan bahu.

Mereka berbincang santai menghabiskan waktu sore hingga menjelang malam mereka kembali ke villa untuk bersiap makan malam di luar.

"Hana, apa kau sudah siap?" Nolan berdiri di depan pintu kamar Hana, ia sudah cukup lama menunggu perempuan itu turun.

"Nolan, aku tak bisa."

"Kenapa?"

"Pokoknya aku tak bisa."

Nolan tak sabar dengan jawaban Hana memilih membuka pintu kamar, ia melihat Hana yang membelakanginya mengenakan dress ketat berlengan panjang.

"Apa yang kau lakukan? Kau sudah siap kenapa tak keluar?"

"Nolan.. Aku tak bisa mengenakan ini ke luar."

"Kenapa?" Nolan melangkah mendekat.

"Jangan!" Cegah Hana yang menyilangkan kedua tangannya di dada.

Nolan membalik tubuh Hana agar menghadap ke arahnya.

"Wow!"

"Jangan lihat!" Hana berjinjit menutup mata Nolan menggunakan kedua tangannya. Tangan besar itu menepis tangan Hana.

Manik hijau begitu berbinar melihat belahan dada Hana yang terlihat penuh.

Jakunnya naik turun menelan ludah.

Hana segera menutupinya dengan kedua tangannya.

"Kubilang jangan lihat!" Hana berwajah masam menatap Nolan kesal.

"Kau.. tampak sexy."

Gaun berlengan panjang itu memiliki belahan dada yang rendah dengan model bahu terbuka.

Membuat kesan sexy bagi yang memakainya.

"Kenapa kau memberikan pakaian yang tak wajar?" Sungut Hana berusaha menutupi dengan selimut.

Nolan berusaha keras menahan sesuatu yang bangkit dalam dirinya.

"Hana."

"Ya?"

Nolan mengurung Hana yang duduk di tepi tempat tidur.

"A-apa yang kau lakukan?" Cicit Hana.

"Aku ingin malam bergairah."

"Ingat perjanjian kita, Nolan." Hana berusaha mendorong tubuh Nolan namun tak bisa.

Tenaganya kalah dengan Nolan.

"Menyingkir!"

Nolan tak mengindahkan ucapan Hana.

"Menyingkir brengsek!"

Pria itu tetap tak mendengarkan.

PLAKK!

"Kau menamparku, Hana." Nolan mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Menyingkir dariku!"

"Tidak."

PLAK!!

Nolan kembali menatap Hana yang sudah berang.

"Potong saja gajiku untuk itu."

"Aku ingin bayaran yang lain."

Kedua matanya memanas menatap manik hijau yang bergairah.

"Aku mohon jangan." Ucap Hana pelan.

Tubuhnya bergetar takut akan kejadian yang buruk.

Ia menyadari bahwa dirinya hanya seorang diri berjenis perempuan di villa.

"Nolan.." pria itu memandang lekat Hana yang begitu cantik di matanya.

Tangannya menelusup memegang rahang dan kepalanya.

"Ahh, Hana.." Nolan mengecup bibir Hana tanpa seizinnya.

Kedua tangannya yang memegang gaun mengerat mendapati perlakuan kurang ajar Nolan.

Tubuhnya tiba-tiba lemas tak berdaya di bawah kungkungan Nolan. Air matanya jatuh begitu mendapat perlakuan tak senonoh.

Bibir pria itu mengecup, melumat bibirnya cukup lama. Hana hampir kehabisan napas akibat Nolan yang cukup brutal menyerangnya.

Tangan Nolan tak berhenti meremas dan memilin puncak dada Hana yang mengakibatkan lenguhan sexy lolos dari bibir perempuan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!