NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia masa lalu

Begitu tiba di rumah Nadia duduk sebentar di sofa depan televisi. Tangannya menyentuh mainan kunci boneka kelinci yang dikaitkan di kunci motornya.

Menatap mainan kunci itu, membawanya kembali di malam menakutkan yang hampir membuatnya kehilangan harga diri untuk kedua kalinya. Namun, malam itu nasib baik masih berpihak padanya. Seseorang menyelamatkannya.

"Siapapun orang itu, terimakasih banyak." lirih Nadia diikuti jatuhnya bulir bening yang seakan tahu betapa bersyukurnya Nadia.

Setelah sedikit bernostalgia, Nadia langsung mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, betapa terkejutnya Nadia melihat Laura yang terduduk lemas bersandar di pintu.

"Beb, ya ampun, lo udah pulang!" Bergegas menghampiri Laura sambil membungkus rambut basahnya dengan handuk.

"Nad, gue hancur...." ucapnya menatap Nadia dengan tatapan sendu.

"Kenapa? Apa yang terjadi?" Nadia memeriksa suhu tubuh sahabatnya itu kalau kalau ia demam.

"Gue hancur... gue..." tangisnya pecah setelah menyenderkan kepalanya ke bahu Nadia.

Nadia yang bingung pun, tidak berani bertanya, dia hanya membantu mengelus punggung sahabatnya itu membantunya agar merasa sedikit lebih baik.

Laura menangis cukup lama, hampir lima belas menit. Mereka duduk di lantai yang dingin dengan posisi Nadia memeluk Laura seakan mengatakan padanya bahwa dia tidak sendirian saat ini.

"Udah tenang?" tanya Nadia saat Laura akhirnya menjauhkan kepala dari pundak Nadia.

Nadia membantu Laura berdiri, membawanya untuk duduk di sofa depan televisi. Nadia juga mengambilkan segelas air putih yang langsung di minum sampai habis oleh Laura.

"Nad, gue ketemu dia lagi." lirihnya nyaris tidak terdengar oleh Nadia.

Kening Nadia mengkerut, matanya pun ikut menyipit. "Mantan pacar lo itu?" tebak Nadia yang direspon dengan anggukan oleh Laura.

"Tadi, sebelum gue naik mobil, dia tiba tiba datang, mendekat sambil manggil nama gue."

Nadia meraih kedua tangan Laura untuk dia genggam. "Terus, dia ngomong apa?"

"Gak ada. Dia cuma manggil, terus mastiin gue benaran Laura atau bukan. Gue langsung bilang aja kalau dia salah orang."

Nadia mendengarkan setiap cerita yang Laura sampaikan. Ia tidak memberi komentar apapun sampai Laura sendiri yang mungkin nanti minta saran darinya.

"Ingatan gue tentang malam itu memenuhi kepala gue, Nad. Gue takut, gue merasa diri gue hina, bodoh, gampangan..."

Air mata Laura tidak bisa berhenti menetes sejak tadi, bahkan kali ini makin deras diiringi suara yang juga ikut gemetar.

"Kenapa dia harus muncul lagi. Harusnya gue gak ketemu dia lagi. Gue takut, Nad. Gue harus gimana?" Celotehnya sebelum akhirnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Nadia memperbaiki posisi duduknya, meraih kedua tangan Laura yang menutupi wajahnya untuk ia genggam dengan lembut. "Ra, gak banyak yang gue tau tentang masa lalu lo dengan mantan lo itu. Kalau lo ngerasa gak harus ketemu dia lagi, ya gak usah ketemu."

Laura mendongak, menatap wajah tenang Nadia. "Lo benar, beb. Gue pikir dengan tidak bertemu dia itu jalan terbaik untuk kesehatan mental gue. Tapi, gimana kalau gak sengaja ketemu dia lagi?!"

"Kalau lo gak sengaja ketemu dia lagi, pura pura gak lihat aja. Atau kalau perlu lo lari yang kencang. Oke!" menyapu sisa air mata di wajahnya.

Laura tersenyum lega. "Makasih ya, beb. Makasih juga lo gak cerita ke yang lain tentang rahasia terbesar dalam hidup gue."

"Iya. Lagian semua orang juga mungkin punya satu hal yang mereka rahasiakan." gumam Nadia yang malah teringat kejadian sore tadi saat ibu dan kakaknya yang tiba-tiba muncul hanya untuk meminta uang.

"Tapi lo gak punya rahasia aneh-aneh, kan?" tanya Laura menatap langsung kedalam sorot mata Nadia.

Nadia menunduk, lalu kemudian dia memberanikan diri menatap Laura. "Gue punya. Gue juga punya rahasia yang gue simpan sendiri."

"Apa rahasia lo, beb? Coba cerita. Gue janji akan jaga rahasia lo. Gue mau tau karena gue ingin menjadi sahabat yang bisa mengerti dan memahami lo."

Nadia tersenyum, sebentar menghela napas. "Thanks, beb."

"Beb, lo bisa percaya sama gue. Kalau lo ada masalah atau apapun itu, cerita aja. Siapa tau gue bisa bantu."

Nadia tersenyum. "Lo langsung semangat gitu, padahal belum semenit yang lalu masih nangis sesenggukan."

"Ya itu karena gue udah cerita semua ketakutan gue dan itu benar-benar membantu, gue jadi lebih lega sekarang. Makanya sekarang giliran lo yang cerita. Ya, ya, ya!"

Nadia menghela napas sebelum akhirnya membuka mulutnya perlahan. "Sebenarnya." mulut Nadia kembali bungkam beberapa saat. "Sebenarnya, tahun lalu, awal kita ketemu di depan kontrakan ini. Hari itu... hari itu, gue baru tau kalau ternyata gue cuma... gue anak pungut."

Mulut Laura terbuka, dengan cepat dia membungkam mulut dengan tangannya sendiri, mata pun ikut melotot setelah mendengar ucapan Nadia barusan.

"Beb...." Laura memberi pelukan berharap bisa menguatkan Nadia.

"Ya, gue baru tahu kenyataan itu pas gue baru lulus SMA. Sebenarnya gue udah dengar desas desus itu bahkan sebelum ayah meninggal. Tapi, gue gak mau percaya. Karena gue yakin gue anak kandung ayah, ibu gue."

"Beb.... Sorry, gue gak tau. Lo pasti takut banget waktu pertama dengar kenyataan itu."

Bukannya nangis Nadia malah tersenyum, tapi senyuman itu bukan senyum bahagia. Sorot mata Nadia jelas mengatakan semuanya tentang apa yang terjadi padanya setelah mengetahui kenyataan sebenarnya tentang siapa dirinya.

"Makanya, gue makasih banget karena hari itu lo setuju satu kontrakan sama gue. Setidaknya kehadiran lo saat itu membuat gue bertahan."

"Beb...." Laura menangis lagi sambil terus memeluk Nadia. "Lo gak sendirian. Lo punya gue, Jeni sama Yuri juga. Lo harus ingat itu!" Nadia mengangguk sambil tersenyum getir.

Laura melepas pelukan tiba-tiba saat teringat ada satu pertanyaan lain. "Lo udah tau siapa orang tua kandung lo?" Nadia menggeleng.

"Lo mau cari tau?"

"Gak."

"Kenapa?"

Senyum getir itu terlihat lagi di wajahnya. Matanya sendu, tangannya sedikit gemetar. "Lebih baik gue gak tau siapa orang tua kandung gue, Ra."

"Kenapa?"

"Ibu gue bilang, gue di temuin ayah di bak sampah. Itu berarti gue dibuang, kan? Mereka tidak menginginkan gue. Jadi buat apa gue cari tau siapa mereka."

Laura kembali memeluk Nadia. "Beb.... Tapi, siapa tau mereka gak berniat buang lo. Siapa tahu mereka terpaksa dan siapa tahu lo mungkin diculik dan dibuang di tempat sampah."

Nadia tersenyum geli. "Kebanyakan nonton sinetron lo, beb."

"Ih tapi gue serius. Siapa tau gitu. Gak ada salahnya juga cari tau kebenarannya, beb."

"Thanks, beb. Gue berharap lo benar. Tapi, gue benaran gak mau tau. Gue takut kalau kenyataannya nanti kehadiran gue malah mengacaukan semuanya."

Air mata Laura menetes lagi. Rasanya sangat sedih mengetahui fakta kehidupan Nadia yang jauh lebih berat dari apa yang dia alami dalam hidupnya.

"Beb, Lo gak sendiri, kita selalu ada buat lo." Mereka kembali saling memeluk untuk saling menguatkan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!