Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Antara Nyawa dan Trauma Masa Lalu
Aiswa terbangun dengan kepala yang terasa berat. Ia melirik jam di nakas, pukul enam sore.
Gila, ia tertidur hampir seharian! Beruntung tidak ada agenda seminar tambahan sore ini. Setelah membasuh wajah dan berganti pakaian, perutnya mulai berdemo minta diisi.
Ia melangkah menuju restoran hotel. Suasananya sudah mulai sepi, hanya ada beberapa tamu yang tersisa. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Desi, rekan sejawatnya.
"Lho, Bu Aiswa baru mau makan?" sapa Desi ramah.
"Iya, Bu, tadi ketiduran parah," jawab Aiswa sambil nyengir kuda.
"Pantas dicariin nggak ada. Saya baru saja selesai, mau ditemenin?"
"Nggak usah, Bu, saya berani kok sendiri. Makasih ya, Bu!"
Aiswa segera mengambil piring. Matanya tertuju pada sebuah panci sup besar yang mengepul hangat. Aromanya sungguh menggoda, perpaduan kaldu ayam dan rempah yang kuat. Tanpa pikir panjang, ia mengambil satu mangkuk penuh. Aiswa memilih meja paling pojok, tempat yang paling pas untuk menikmati kesendirian sambil membalas pesan-pesan yang tertunda.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit sampai sebuah suara melengking membelah ruangan.
"Tante Guruuu!"
Zianna berlari kencang, langsung nangkring di kursi sebelah Aiswa. Mbak Suci menyusul di belakang dengan wajah sedikit lelah.
"Tante Guru ke mana aja? Aku cariin tau!" gerutu Zianna manja.
"Maaf ya, Sayang, Tante ketiduran. Kamu sudah makan?" tanya Aiswa lembut.
Dalam hati ia bersorak kegirangan karena tidak melihat batang hidung Devan.
Skor satu kosong untuk gue! batinnya sambil melirik Mbak Suci yang juga tampak lega.
"Sudah tadi sama Papa. Padahal Zia mau makan bareng Tante," sesal bocah itu.
Matanya kemudian beralih ke mangkuk di depan Aiswa.
"Tante makan sup ya? Boleh Zia coba?"
"Boleh, Sayang." Aiswa menyuapi Zianna sesendok kuah dan isinya.
"Wah! Enak banget! Ada jamurnya, Zia suka jamur!" seru Zianna senang.
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aiswa.
"Jamur?" gumamnya lirih.
Ia segera mengaduk mangkuknya. Benar saja, di balik potongan ayam, ada irisan jamur kancing yang dipotong sangat kecil, hampir tak terlihat jika tidak teliti.
Wajah Aiswa mendadak pucat pasi.
"Ada apa, Mbak?" Suci menyadari perubahan raut wajah Aiswa yang mendadak pias.
"Saya... saya alergi jamur, Mbak," bisik Aiswa.
Jantungnya mulai berdegup kencang karena panik. Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin tadi cuma sedikit, mungkin dosisnya nggak parah.
"Tenang, Mbak Suci, kayaknya tadi saya cuma minum kuahnya aja. Jamurnya nggak kemakan banyak. Aman kok, aman."
Padahal, Aiswa tahu benar tadi ia sempat mengunyah beberapa potong karena saking laparnya.
"Mbak yakin? Alergi itu bahaya, Mbak, kita ke rumah sakit ya?" ajak Suci cemas.
"Enggak, yakin kok. Obat saya ada di kamar, di koper," ujar Aiswa berusaha berdiri.
Namun, saat ia melangkah, pandangannya mendadak kabur. Kepalanya seperti dipukul benda tumpul, dan dadanya mulai terasa sesak. Oksigen seolah menghilang dari sekitarnya.
"Tante Guru mau ke mana?" Zianna mengejar, wajah kecilnya mulai ketakutan.
"Tante... Tante mau istirahat sebentar ya. Mbak Suci, tolong bawa Zianna kembali ke kamarnya," ucap Aiswa terbata.
Napasnya mulai pendek-pendek. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas awan. Tubuhnya limbung.
Hap.
Sepasang lengan kekar menangkap tubuhnya tepat sebelum kepalanya menghantam lantai marmer. Aiswa berusaha mendongak dengan sisa kesadarannya. Bayangan wajah tegas Devan Argian muncul di matanya. Aiswa ingin memberontak, ingin berteriak 'Lepaskan!', tapi tenaganya habis. Ia pingsan dalam dekapan pria itu.
Devan tidak membuang waktu. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Melalui penyadap yang terpasang di tas Aiswa, ia sudah mendengar segalanya, tentang sup jamur itu. Ia sudah berlari sekencang mungkin dari kamarnya begitu mendengar kata 'alergi'.
"Siapkan mobil sekarang!" teriak Devan pada Lucas lewat jam tangannya.
Ia menggendong Aiswa ala bridal style, mengabaikan tatapan semua orang di restoran. Zianna menangis sesenggukan mengikuti di belakang. Di dalam mobil, Devan memacu kendaraannya dengan kecepatan yang nyaris gila.
"Pa... Tante Guru bakal baik-baik saja kan?" tangis Zianna pecah di kursi belakang.
Devan tidak menjawab. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dia harus baik-baik saja," desis Devan rendah, lebih kepada dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah sakit, petugas medis langsung membawa Aiswa ke ruang gawat darurat. Devan berdiri di koridor yang beraroma antiseptik tajam. Aroma yang paling ia benci. Aroma yang membangkitkan monster masa lalu di kepalanya.
Langkah kaki perawat, suara mesin EKG, dan lorong-lorong putih ini... semuanya mengingatkan Devan pada malam saat ia kehilangan istrinya. Selama empat tahun, Devan bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah sakit lagi. Ia bahkan membangun klinik pribadi di rumahnya hanya agar tidak perlu mencium aroma kematian ini.
Namun malam ini, demi seorang gadis yang baru dikenalnya beberapa hari, Devan melanggar sumpahnya sendiri. Ia berdiri di sana, gemetar dalam diam, menahan sesak di dadanya yang bukan karena alergi, melainkan karena trauma.
Ia memeluk Zianna yang duduk di pangkuannya, mencoba memberikan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki.
"Pa... Zia takut," isak Zianna.
"Jangan takut. Papa di sini. Dan Tante Guru... dia tidak akan pergi ke mana-mana," ucap Devan dengan nada mutlak.
Mata elangnya menatap pintu ruang UGD dengan intensitas yang mengerikan.
Jangan berani-berani pergi, Aiswa. Karena aku belum mengizinkanmu mati.