Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta baru
Kaki Adira terasa lemas, seolah tak lagi mampu menopang tubuhnya. Namun, ia memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak, pandangannya terus berkelana penuh pikiran. Ia kembali menatap Zo. Bibirnya bergetar, seolah ada seribu kata yang ingin ia tanyakan, namun lidahnya terasa kelu.
"K-ka—"
Tok... tok... tok...
Percakapan tegang di antara mereka terhenti seketika saat terdengar suara ketukan di pintu. Zo merapikan jasnya yang sedikit berantakan, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia membiarkan Adira tetap mematung di sana, seolah kehadirannya sudah tidak berarti lagi.
Ceklek!
Pintu terbuka, memperlihatkan Asisten Wira yang melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Nyonya," sapa Asisten Wira dengan sangat sopan.
Adira hanya terdiam. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar dengan langkah gontai. Ia meninggalkan ruangan itu tanpa menyadari bahwa Zo sedang menatapnya dalam diam—menatap punggungnya yang semakin mengecil hingga akhirnya menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.
Setelah kepergian Adira, Zo terlihat menumpukan salah satu tangannya di atas meja, lalu memijat pangkal hidung mancungnya seolah sedang berpikir keras.
"Maaf jika saya mengganggu, Tuan," ujar Asisten Wira dengan nada tidak enak hati. Ia merasa kehadirannya telah mengganggu kebersamaan antara Zo dan Nyonya Adira.
"Tidak apa-apa. Ada apa?" tanya Zo balik, suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan.
"Sebentar lagi kita akan bertemu klien. Apakah kita akan membawa Nyonya Adira juga?" tanya Wira kepada sepupu majikannya itu.
Zo terdiam sejenak sebelum menjawab dengan dingin. "Tidak perlu. Kau pasti tahu, kan, bahwa kehadiran Adira di sini hanyalah sebagai umpan?"
"Tentu saja, Tuan. Saya paham maksud Anda," sahut Wira menunduk patuh.
"Ayo, kita segera berangkat sekarang."
"Baik, Tuan."
Mereka pun bergegas keluar dari ruangan itu untuk memenuhi janji pertemuan dengan klien.
Adira yang sudah lebih dulu turun, melirik ke arah sopirnya dengan waspada. Memanfaatkan kelengahan pria itu, ia mengendap-endap pergi dan meninggalkan area tersebut tanpa suara.
Ternyata, Adira memiliki tujuan lain. Ia ingin menemui Teo. Meskipun ia telah mendekam selama delapan tahun di penjara, ingatannya tentang lokasi rumah pria itu tidak pernah pudar. Kedatangannya kali ini bukan karena ia masih menyimpan perasaan suka seperti dulu. Perasaannya saat ini sangat berbeda; jika dulu ia masih labil dan kekanakan, sekarang ia adalah wanita dewasa yang dirundung rasa bersalah teramat dalam.
Adira merasa bertanggung jawab atas nasib buruk yang menimpa Teo. Karena dirinya, pria itu harus kehilangan pekerjaan yang telah dibangun dengan susah payah. Ia hanya ingin bertemu langsung untuk memastikan kondisi Teo dan meminta maaf, murni karena rasa kasihan dan tanggung jawab moral.
Sopir pribadinya sama sekali tidak menyadari bahwa Adira telah menghilang secara sembunyi-sembunyi.
Adira segera menghentikan taksi dan meluncur menuju alamat rumah Teo. Selang beberapa menit, ia sudah tiba di depan pekarangan rumah pria itu. Belum sempat ia mengetuk pintu, ia sudah melihat Teo yang tengah duduk sendirian di halaman samping rumahnya yang berdekatan dengan taman bermain anak-anak.
"Itu dia," gumam Adira lirih. Ia melangkah perlahan menghampiri Teo yang tampak termenung memandangi keceriaan anak-anak di taman. Dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa ia sedang tertekan akibat keputusan rumah sakit yang tiba-tiba memecatnya tanpa alasan masuk akal.
Adira menarik napas dalam-dalam, mencoba menyiapkan hatinya. "Assalamualaikum, Teo," sapa Adira lembut, saat ia sudah berdiri tepat di belakang pria itu.
Teo mengerutkan alisnya, merasa sangat mengenali suara yang memanggil namanya. Ia pun segera menoleh. Wajahnya yang semula muram dan tak bersemangat, seketika berubah cerah dihiasi senyuman manis saat melihat kehadiran wanita yang selama ini diam-diam ia sukai.
"Adira?"
"Hai, kamu sedang apa di sini?" tanya Adira, berpura-pura seolah tidak tahu-menahu tentang musibah yang baru saja menimpa Teo.
Teo kembali melemparkan senyuman manisnya, lalu mengalihkan pandangan sejenak ke arah anak-anak yang tengah asyik bermain. "Aku cuma sedang duduk-duduk saja. Rasanya sangat membosankan kalau terus berada di dalam rumah," sahutnya pelan, mencoba menyembunyikan masalah beratnya dari hadapan Adira.
Ia tidak pernah menyangka bahwa Adira sebenarnya sudah mengetahui segalanya.
"Kamu suka anak-anak?" tanya Adira tiba-tiba, matanya ikut memandangi keceriaan di taman bermain itu.
"Tentu saja. Bukankah semua manusia menyukai anak-anak? Mereka sangat menggemaskan, apalagi saat hati kita sedang gundah gulana," sahut Teo lembut. "Melihat tawa anak-anak itu seperti obat yang menenangkan. Tawa mereka tidak memiliki beban, sangat berbeda dengan orang dewasa yang terkadang tertawa, namun hatinya sebenarnya rapuh," lanjutnya dengan sedikit bumbu candaan.
Adira hanya menanggapinya dengan senyuman biasa—senyuman tipis yang terasa tawar. Entah mengapa, semenjak keluar dari penjara, gadis itu tidak pernah benar-benar merasa bahagia. Sepertinya, tawa dan keceriaan telah hilang selamanya dari garis hidupnya.
"Oh iya, ngomong-ngomong... sedang apa kamu di sini, Adira? Masih banyak hal yang belum sempat kita bahas. Dan bagaimana bisa kamu tiba-tiba ada di depan rumahku?" tanya Teo penuh rasa ingin tahu.
Adira terdiam sejenak, kembali menampakkan senyum tipisnya. "Aku berutang padamu," ujarnya tiba-tiba, membuat Teo mengerutkan alisnya dengan bingung.
"Berutang? Berutang apa padaku?"
Gadis itu menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa pedih yang mulai membuncah. "Maafkan aku, Teo," bisiknya lirih, penuh sesal.
"Maaf? Kenapa kamu meminta maaf, Adira? Kamu tidak salah apa-apa padaku. Kenapa tiba-tiba begini? Kita sudah delapan tahun tidak bertemu, kok kamu malah minta maaf?" tanya Teo bertubi-tubi.
Ternyata, pria itu benar-benar belum tahu bahwa pemecatannya didalangi oleh Zo, sang penanam saham terbesar di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Maafkan aku... karena aku, kamu dipecat dari pekerjaanmu," ucap Adira jujur. Pengakuan gadis itu tentu saja membuat Teo terperanjat.
"Apa hubungannya denganmu, Adira? Aku memang dipecat, meskipun aku sendiri tidak tahu apa punca dan alasan di balik keputusan itu. Tapi sebenarnya, itu tidak ada hubung—"
"Tentu saja ada!" Adira langsung memotong ucapan pria itu. "Karena akulah kau dipecat, Teo!"
Teo ternganga, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Maksudmu apa, Adira? Aku benar-benar tidak mengerti," ujar Teo dengan raut wajah yang mulai berubah sangat serius.
"Aku... aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya sekarang."
"Tapi kenapa, Adira? Ceritakan yang sesungguhnya! Apa yang sebenarnya terjadi?" desak Teo.
"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Yang jelas, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mengembalikan pekerjaanmu," balas Adira dengan tatapan sedih dan rasa bersalah. Mengingat Teo yang tidak mengerti apa-apa malah terseret oleh masalahnya.
Tiba-tiba, Teo menggenggam pergelangan tangan Adira dengan erat. "Katakan padaku, apa sebenarnya yang kau tutupi dariku, Adira?" tanya pria itu menuntut jawaban.
Adira sangat kaget saat tiba-tiba Teo menggenggam tangannya. Ia teringat kemarahan Arlan yang meledak saat Teo memeluknya tempo hari, Adira pun buru-buru menarik tangannya dari genggaman Teo. Reaksi mendadak itu membuat Teo terperanjat. Adira tahu, sentuhan sekecil apa pun bisa membawa petaka lebih besar bagi mereka berdua.
"Kau jijik kusentuh, Adira?"
Kekecewaan terpancar jelas dari mata Teo. Adira buru-buru menggeleng, berusaha menenangkan suasana meskipun suaranya sedikit terbata-bata. "Tidak, bukan itu maksudku! Maksudku... kita ini sudah dewasa. Tidak baik kalau kita saling bersentuhan tanpa ada status apa-apa," dalih Adira.
Entah mengapa, alasan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. "Teo, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Adira dengan nada sangat serius.
Teo kembali tersenyum tipis, meskipun rasa kecewanya belum sepenuhnya hilang. "Iya, ada apa, Adira?"
"Apakah kamu pernah melihat Ayahku selama aku di penjara?" tanya Adira penuh harap.
Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Teo berubah drastis. "Sepanjang kamu berada di penjara, Ayahmu tidak pernah muncul di mana pun. Ayahmu seolah hilang ditelan bumi," jawabnya lirih.
Air mata Adira mulai membendung. Ternyata ayahnya benar-benar tidak pernah menampakkan diri. Pikirannya melayang-layang penuh tanya; ke mana ayahnya? Apakah ayahnya masih hidup?
"Kamu yakin tidak pernah melihat Ayahku sedikit pun?" tanya Adira lagi, suaranya mulai bergetar hebat. Ia adalah anak yang paling dimanja oleh ayahnya. Kenyataan bahwa ia kehilangan jejak ayahnya membuatnya merasa sangat takut.
Teo menggeleng pelan dengan tatapan sedih. "Maafkan aku, Adira. Aku benar-benar tidak pernah melihat Ayahmu lagi."
Air mata Adira akhirnya tumpah, namun ia segera menghapusnya dengan cepat. Tak ingin larut dalam kesedihan, Adira pun segera mengalihkan topik pembicaraan. "Lalu... kenapa kau tidak pernah menjengukku ke penjara, Teo?"
Teo mengerutkan alisnya dengan heran. "Apa kamu benar-benar tidak tahu, Adira?"
"Apa?" tanya Adira penasaran.
"Kamu itu sama sekali tidak diperbolehkan untuk dijenguk oleh siapa pun atas permintaan keluarga Arlan Erlangga. Tidak ada satu orang pun yang diizinkan untuk menemuimu. Makanya, aku tidak pernah bisa datang menjengukmu, Adira. Apakah kamu benar-benar tidak tahu soal itu?"
"Apa?"
Adira benar-benar terperanjat mendengar fakta yang baru saja terungkap. Dadanya terasa sesak seolah dihantam benda tumpul. Gadis itu tidak menyangka ternyata sebenci itu Arlan kepadanya. Namun, saat mengingat kembali bahwa Arlan menganggapnya sebagai seorang pembunuh, segalanya terasa wajar bagi Adira.
Rasa sakit di dadanya kian bertambah. Di tengah larutan kesedihan yang mendalam itu, tiba-tiba terdengar suara melengking seorang perempuan.
"Wanita sialan! Wanita pembawa sial! Sedang apa kau di sini? Berani-beraninya kau datang kemari!"
Teo dan Adira sama-sama terperanjat, lalu menoleh ke arah sumber suara dengan jantung berdegup kencang.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang