NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Saat realita dan bahagia berjalan bersama

Anindia yang duduk di samping Keanu menatap suaminya dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Sementara Shaka yang tadi aktif kini lebih tenang dalam pangkuan Keanu, sesekali ia menggerakkan tangan kecilnya tanpa tujuan yang jelas.

Anindia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menghela nafas pelan. Keanu yang duduk di sebelahnya langsung menyadari itu. Ia tidak langsung bertanya, hanya sesekali melirik Anindia sembari menjaga Shaka yang mulai bersandar di dadanya.

"Kenapa sayang?" Ujar Keanu pada akhirnya.

Anindia menoleh, "Barusan aku dapat pesan dari Mita."

Keanu memikirkan sejenak, nama itu seperti tidak asing di telinganya. "Mita temen SMA kita?" Tanyanya memastikan.

Anindia mengangguk singkat, "Iya. Katanya, Yudhi kecelakaan."

Keanu mengernyitkan dahi, tatapannya terfokus pada Anindia.

"Yudhi?" Ulang Keanu, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Anindia mengangguk, "Iya. Mita bilang Yudhi kecelakaan tadi pagi, terus langsung dibawa ke rumah sakit."

Keanu menghela nafas pelan, tangannya refleks mengusap kepala Shaka. "Gimana keadaannya?" Tanya Keanu singkat.

"Belum tau, Mas," jawab Anindia. "Mita cuma bilang itu aja."

Keanu terdiam sebentar, menatap meja di depannya seolah sedang berpikir cepat. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk singkat.

"Nanti setelah kamu pulang dari kampus, kita jenguk dia," ujar Keanu dengan nada serius.

"Kita?" Ujar Anindia sedikit terkejut.

Keanu mengangguk tanpa ragu. "Iya. Aku antar kamu dulu ke kampus."

Keanu melirik jam tangannya sekilas, lalu kembali menatap Anindia. "Lalu aku jemput kamu. Kita langsung ke rumah sakit."

Anindia tersenyum, ada rasa lega yang perlahan muncul di dadanya. Bukan hanya karena Keanu ikut peduli, tapi karena Keanu selalu membuatnya tidak merasa sendirian.

"Makasih ya, Mas," ujar Anindia pelan.

Keanu langsung menggeleng kecil, "Gak perlu terima kasih, sayang." Ujarnya, lalu ia mengangkat Shaka ke dalam gendongannya. "Ayo siap-siap. Kamu bisa telat nanti."

Anindia kembali mengangguk, lalu bangkit dari duduknya. Tangannya meraih tas kecil berisi perlengkapan Shaka yang ia letakkan di samping kursi.

Keanu sudah berdiri lebih dulu, dengan Shaka dalam gendongannya. Anak itu tampak tenang, ia menyandarkan dagunya pada pundak Keanu. Tangan mungilnya menepuk-nepuk pelan punggung ayahnya.

"Ayo," ajak Keanu kemudian.

Anindia mengikuti di belakang, tanpa kata. Keduanya sama-sama hening, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

Hari itu, Keanu tidak memiliki jadwal kuliah. Tidak ada kelas yang harus ia hadiri, tidak ada urusan kampus yang menunggu. Karena itulah ia bisa sepenuhnya menemani Anindia tanpa terburu-buru.

Tiba di parkiran, Keanu membuka pintu mobil untuk Anindia lebih dulu. Setelahnya, ia memindahkan Shaka ke dalam pangkuan Anindia. Lalu, ia berpindah ke sisi kemudi.

Mesin mobil dinyalakan. Keanu melirik sekilas ke arah anak dan istrinya lalu kembali fokus pada jalan. Mobil mulai berjalan, meninggalkan tempat itu di belakang.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Langkah kaki Anindia terdengar pelan di koridor kampus yang mulai ramai. Tasnya tersampir di bahu, sementara tangannya membawa buku yang ia dekap di depan dada.

Beberapa menit yang lalu, Keanu baru saja mengantarkannya sampai parkiran. Tidak banyak kata yang diucapkan saat itu, hanya pesan singkat untuk berhati-hati dan jangan terlalu memaksakan diri. Setelahnya, mobil itu melaju membawa Shaka pulang ke rumahnya.

Kini, Anindia berjalan sendirian. Suasana kampus langsung menyambutnya dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi suara ocehan Shaka, yang ada hanya suara hiruk pikuk mahasiswa.

Anindia menghela nafas pelan, realita kembali menyapanya. Ia melangkah masuk ke dalam gedung, melewati beberapa mahasiswa yang saling berpapasan.

"Morning Nindi."

"Pagi Anindia."

Beberapa mahasiswa sempat menyapanya, dan Anindia hanya membalas dengan senyum kecil dan anggukan singkat. Ia terus melangkah menuju ruang kelasnya.

Hari ini, Anindia bukan hanya sekedar anak, istri, atau ibu. Ia juga seorang mahasiswi. Dan, tugas-tugas itu masih menunggunya.

Langkah Anindia tetap teratur menyusuri koridor. Ia hampir tiba di depan kelasnya, ketika suara langkah kaki lain terdengar dari samping.

"Morning, Anindia."

Anindia refleks menoleh, sosok Ardy sudah berdiri tidak jauh dari sana, dengan senyum santai seperti biasanya.

"Pagi, kak," balas Anindia singkat, dengan seutas senyum tipis.

Ardy berjalan sedikit mendekat, seolah itu sudah menjadi suatu kebiasaan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Sendirian?" Tanya Ardy kemudian, melirik sekilas ke sekeliling.

"Iya kak," jawab Anindia yang memperlambat langkahnya sejenak. "Mas Keanu lagi gak ada jadwal hari ini."

Ardy mengangguk pelan, seolah memahami. "Oh, pantes. Kirain lagi sibuk."

Anindia hanya membalas dengan anggukan kecil, tanpa menambahkan apapun. Ia tetap berjalan, berusaha menjaga percakapan tetap biasa saja.

Beberapa saat hening, sebelum akhirnya Ardy kembali bersuara. "Gimana kabar Mama sekarang?" Tanyanya dengan nada yang lebih serius.

Anindia menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis. "Alhamdulillah, udah pulih."

"Syukurlah," ujar Ardy tulus. "Kemarin sempat kepikiran juga."

"Makasih, kak."

Percakapan itu sebenarnya ringan, tidak ada yang aneh juga berlebihan. Semuanya terasa seperti obrolan biasa antar dua teman.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuat Anindia merasa tidak nyaman. Pikirannya tiba-tiba teringat pada satu hal, ucapan Keanu beberapa waktu lalu.

Langkah Anindia melambat tanpa ia sadari, tangannya mencengkram buku sedikit lebih erat. Lalu ia menoleh ke arah Ardy sejenak, hanya sejenak.

"Kak, aku masuk dulu, ya?" Ujar Anindia sembari menunjuk kelas di depannya.

Ardy bergenti, lalu mengangguk santai. "Iya, nanti ketemu lagi."

Anindia membalas anggukan itu singkat , lalu melangkah masuk ke dalam kelas. Begitu melewati pintu, ia menghela nafas pelan. Seolah baru saja keluar dari sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa.

Anindia melangkah masuk dengan langkah tenang. Di dalam ruangan belum terlalu ramai, hanya terlihat beberapa mahasiswa yang duduk di tempat masing-masing, sibuk dengan urusannya sendiri.

Ia berjalan menyusuri barisan bangku, hingga akhirnya ia tiba di bangkunya. Tasnya ia letakkan pelan di atas meja, lalu ia mengambil laptop di dalamnya.

Anindia langsung menyalakan perangkat itu, lalu membuka file tugasnya. Ia memperhatikan sekali lagi tugas itu dengan saksama. Tanpa sadar, seutas senyum terukir di wajahnya.

Anindia mengingat kembali pagi tadi. Tidak ada pembicaraan tentang tugas, tidak ada pengakuan dari Keanu yang telah membantu. Semuanya dilakukan diam-diam, tanpa meminta pengakuan.

Setelah beberapa saat, ia kembali menutup laptopnya. Satu bebannya sedikit berkurang hari ini, semua itu karena kepekaan suaminya.

Anindia bersandar di kursinya. Di tengah realita yang kembali menuntutnya ada hal yang tetap sama, ia tidak sendirian.

Beberapa menit berlalu, ruangan mulai dipenuhi dengan mahasiswa mahasiswi lainnya. Suara percakapan terdengar di dalam ruangan, bercampur dengan suara kursi yang bergesekan dengan lantai.

Anindia yang tadi sempat bersandar, kembali menegakkan tubuhnya. Ia melirik sekilas ke arah pintu, memastikan waktu.

Tak lama, langkah kaki tegas terdengar dari depan pintu. Sosok dosen yang cukup dikenal di kalangan mahasiswa langsung memasuki ruangan. Tatapannya tajam, langkahnya pasti. Tanpa perlu mengatakan apa-apa, kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana kelas menjadi tegang.

"Selamat pagi," ujar dosen itu singkat, tanpa senyum.

"Pagi, Pak," sahut mahasiswa hampir bersamaan, meskipun tidak terdengar kompak.

Dosen itu meletakkan buku dan beberapa berkas di atas meja, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Untuk sejenak, semuanya benar-benar hening. Tidak ada satupun yang berani hanya untuk sekedar menimbulkan suara.

"Hari ini, saya tidak akan menjelaskan materi," tegasnya. "Saya ingin melihat hasil kerja kalian."

Beberapa dari mereka saling melirik, sebagian lagi terlihat santai, ada juga yang langsung tegang.

Anindia sendiri merasakan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat. Tangannya refleks membuka laptop kembali, memastikan kembali file tugasnya, meskipun ia sudah yakin sejak tadi.

Dengan satu helaan nafas, Anindia kembali menutup laptopnya, menunggu giliran untuk mempresentasikan tugasnya.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan lagi tentang tugas dan nilai, tapi tentang satu hal sederhana yang membuat semuanya terasa lebih ringan.

Satu beban telah dilepaskan. Dan sekali lagi ia sadar, di balik semua yang ia jalani, ada seseorang yang diam-diam memastikan ia baik-baik saja.

Di sisi lain kota, tepatnya di kediaman keluarga Bramantyo, Keanu sedang duduk di lantai dengan punggung yang bersandar pada sisi sofa. Kaosnya sedikit kusut, rambutnya tidak se-rapi tadi pagi. Namun, raut wajahnya terlihat jauh lebih santai.

Di depannya, Shaka duduk dengan posisi yang belum sepenuhnya stabil. Tangannya sibuk memegang satu balok kecil, lalu menjatuhkannya begitu saja.

Di ruang tengah itu, suasana terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Lantai yang semula rapi, kini dipenuhi dengan berbagai mainan kecil milik Shaka. Mobil-mobilan, balok warna warni, serta robot-robot kecil berserakan tanpa pola.

"Eh, jatuh lagi," ujar Keanu dengan nada lembut.

Shaka justru tertawa kecil, tangannya menepuk-nepuk permukaan lantai. Keanu menggeleng pelan, lalu meraih beberapa balok yang berserakan. Ia mulai menyusun perlahan, membuat sebuah menara kecil.

"Nih, ayah bikin yang tinggi, ya," gumam Keanu.

Shaka memperhatikan dengan mata berbinar. Begitu menara itu berdiri, tangannya langsung terulur tanpa ragu.

Brukk!!

Balok-balok itu kembali jatuh berantakan. Keanu terdiam sejenak, lalu menghela nafas pelan dengan ekspresi pasrah.

"Ya ampun, nak... Baru aja jadi," ujarnya dengan seutas senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.

Shaka kembali tertawa, jelas menikmati kemenangannya. Lalu, bocah laki-laki itu membalas dengan ocehan kecil, tangannya kembali meraih balok lain.

Keanu mengusap kepala kecil itu pelan. "Iya, iya... Jagoan ayah emang paling hebat."

Beberapa saat kemudian, Keanu merebahkan tubuhnya setengah di lantai, satu tangannya tetap menjaga Shaka agar tidak bergerak terlalu jauh.

Di tengah semua itu, Keanu melirik ponselnya di atas meja. Layarnya gelap, tidak ada notifikasi baru.

Pikirannya sempat terlintas pada Anindia. Namun, hanya sebentar. Fokusnya kembali pada Shaka yang mulai merangkak menjauh, tertarik pada mobil-mobilan di dekat meja.

"Eh, jangan jauh-jauh," ujar Keanu cepat, lalu ia meraih tubuh kecil itu dan menariknya kembali mendekat.

Shaka kembali tertawa, seolah itu bagian dari permainan. Keanu menggeleng dengan kekehan kecil, tangannya kembali mengacak-acak rambut tipis Shaka.

Di sudut ruangan, dua pasang mata memperhatikan tanpa menggangu.

Mbak Tika berdiri tak jauh dari dapur, tangannya masih memegang sebuah lap kering. Di sampingnya, Bi Yeyen memperhatikan dengan tenang, sesekali melirik ke ruang tengah.

Keduanya sama-sama tersenyum. Tatapan mereka tertuju pada Keanu yang duduk di lantai, bermain bersama putranya.

Mbak Tika sedikit mendekat, lalu berbisik pelan, cukup agar mereka berdua yang mendengar.

"Mas Keanu berubah banget ya, Bi. Sejak nikah sama Mbak Nindi," ujarnya lirih, matanya masih melirik ruang tengah. "Keliatan banget bahagianya."

Bi Yeyen tersenyum hangat, diselingi dengan anggukan singkat. "Iya, cinta itu memang bisa merubah seseorang."

Mbak Tika kembali menoleh ke arah Keanu, yang saat itu sedang menggelitik perut Shaka dengan gerakan yang lembut. Keduanya tertawa, semuanya terasa begitu ringan.

"Dulu Mas Keanu kan..." Ujar Mbak Tika yang sengaja menggantung ucapannya. "Ya gitu."

Bi Yeyen mengangguk lagi, seolah mengerti tanpa dijelaskan lebih lanjut. "Karena Den Keanu sudah menemukan rumahnya." Ujarnya dengan senyuman yang lebih dalam.

Di tengah mainan yang berserakan dan tawa kecil yang terdengar, semuanya terasa sederhana. Karena di sana, ada kebahagiaan yang nyata.

Di rumah itu tidak ada kesunyian. Yang ada hanya suara tawa kecil, ocehan tanpa arti, dan seorang ayah yang menikmati perannya tanpa banyak kata. Sementara di tempat lain, Anindia berjuang dengan dunianya, menuntutnya untuk tetap kuat dan fokus.

Dua dunia yang berbeda, namun berjalan beriringan. Dan tanpa mereka sadari, disitulah keseimbangan tercipta. Antara tanggung jawab dan kebahagiaan, serta kewajiban dan rasa memiliki.

Hari itu mungkin tidak diisi dengan hal besar, tidak pula dengan kejadian yang luar biasa. Namun,tentang pengingat bahwa kehidupan tidak selalu tentang memilih salah satu. Karena terkadang, realita dan bahagia memang bisa berjalan bersama.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!