Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Abu Vulkanik dan Senyuman di Balik Gelas Anggur
Langit di ufuk selatan Kerajaan Valeria tidak berwarna biru atau kelabu, melainkan merah pekat layaknya besi yang dipanaskan di atas tungku tempa. Udara di sekitarnya bergetar oleh gelombang panas yang mendidihkan molekul oksigen. Tempat itu adalah Lembah Abu Vulkanik, sebuah kawah raksasa sisa letusan gunung purba ribuan tahun lalu, yang kini menjadi habitat bagi monster-monster bertipe api tingkat tinggi.
Langkah sepatu bot Ajil meninggalkan jejak di atas lapisan abu tebal berwarna abu-abu gelap. Bau belerang sangat tajam, cukup untuk membuat paru-paru manusia biasa melepuh hanya dengan beberapa tarikan napas. Namun, Setelan Malam Abadi miliknya memancarkan medan gaya pasif yang terus menetralisir suhu ekstrem dan menyaring udara beracun sebelum masuk ke rongga hidungnya.
Pikiran Ajil masih sedikit terbayang oleh wajah Milo, bocah yang baru saja ia selamatkan. Ada sedikit kelegaan di sudut hatinya yang beku mengetahui bocah itu selamat, namun di saat yang sama, hal itu memperbesar lubang kerinduan di dadanya terhadap Arzan dan Dara.
Tiba-tiba, tanah di bawah kakinya bergetar hebat. Retakan-retakan panjang menyebar di atas tanah vulkanik, memancarkan cahaya magma dari kedalaman bumi.
[SISTEM: Peringatan Bahaya Ekstrem! Bos Area Terdeteksi. Niat membunuh terkunci pada Anda.]
[Nama: Beruang Api Kematian]
[Level: 70]
[Kelas: A (Monster Bencana Alam Wilayah)]
Dari balik bukit abu vulkanik di depannya, meledaklah sebuah pilar api raksasa ke udara. Bersamaan dengan hujan batu pijar, seekor monster merangkak naik. Ukurannya sebesar rumah dua lantai. Beruang itu tidak memiliki bulu biasa; sekujur tubuhnya ditutupi oleh lelehan magma yang terus bergolak dan batuan obsidian yang tajam sebagai zirah alaminya. Matanya adalah dua buah bola api putih yang menyilaukan, dan saat ia membuka rahangnya, lelehan lahar menetes dari taring-taringnya, membakar tanah tempatnya berpijak.
Beruang Api Kematian meraung, sebuah suara yang terdengar seperti gunung meletus. Gelombang kejut dari aumannya menerbangkan abu vulkanik, menciptakan badai pasir panas yang menyapu lembah.
Ajil berdiri tak tergoyahkan. Jaket hitam panjangnya berkibar hebat melawan badai panas. Wajahnya tetap datar, tak ada sedikit pun gentar di matanya yang sedingin es abadi. Monster Level 70 bagi petualang Kelas A adalah mimpi buruk yang membutuhkan strategi, sihir pelindung berlapis, dan kerja sama tim. Namun bagi Ajil, ini hanyalah samsak latihan untuk meluapkan amarahnya.
"Kau menghalangi jalanku," ucap Ajil pelan.
Beruang raksasa itu mengangkat kedua kaki depannya dan menghantamkannya ke tanah.
BUMM!
Sebongkah gelombang magma setinggi lima meter melesat membelah tanah, bergulung ganas ke arah Ajil layaknya tsunami api.
Ajil tidak menghindar. Ia menyalurkan Mana Tak Terbatas ke kaki kanannya dan menghentakkannya ke tanah. Aura hijau pekat dari Gravitasi Jiwa meledak ke depan, membentur gelombang magma itu. Gravitasi mutlak menekan tsunami api itu hingga rata dengan tanah dalam hitungan detik, memadamkannya menjadi batu obsidian hitam yang berasap.
Melihat serangannya gagal, Beruang Api Kematian marah besar. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang tak masuk akal untuk ukurannya, mengayunkan cakar raksasanya yang membara untuk membelah tubuh Ajil.
WUSSSHH!
Ajil menunduk, menghindari tebasan yang lewat hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya. Hawa panas dari cakar itu membuat udara di sekitar kepala Ajil berdesis. Tanpa kehilangan momentum, Ajil melesat maju, masuk ke area pertahanan monster itu. Tangan kanannya ditarik ke belakang. Urat-urat di lengannya menonjol, menyala dengan kilatan petir ungu yang murni dan mematikan.
"Mati."
BLAAARRR!!
Tinju Petir Ungu Ajil menghantam dada berlapis obsidian beruang tersebut. Ledakan yang terjadi jauh lebih besar dari pukulan-pukulan sebelumnya. Petir ungu tingkat God-Tier itu langsung menembus zirah magma seolah itu hanya selembar kertas basah. Aliran listrik yang ganas merobek organ dalam sang monster, membekukan darah mendidihnya, dan menghancurkan inti api di dalam jantungnya.
Raungan kesakitan sang beruang terputus seketika. Tubuh raksasa seberat puluhan ton itu terpental ke belakang, terangkat dari tanah, dan menabrak tebing kawah hingga tebing itu runtuh menimbun separuh tubuhnya. Api di matanya padam, magmanya mendingin menjadi batu hitam pekat yang retak-retak.
Beruang Api Kematian Kelas A itu tewas hanya dalam satu serangan balasan.
[SISTEM: Berhasil menaklukkan Beruang Api Kematian Lv.70. EXP Masif Ditambahkan!]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 45.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 55.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 65.]
[Peringatan: Level Anda telah melampaui 50. Segel Pertama dari 'Pedang Petir Hijau Abadi' akan segera terbuka jika Anda memanggilnya.]
[Menyerap drop material: 1x Inti Magma Murni (Kelas A+), 4x Cakar Obsidian Kematian, 10x Kristal Sihir Tingkat Tinggi.]
Ajil menarik napas pelan. Peningkatan level yang drastis ini membuat aliran mana di dalam tubuhnya terasa semakin padat dan brutal. Otot-ototnya berdengung pelan, menyesuaikan diri dengan kapasitas fisik yang baru. Ia mengibaskan tangannya, menyimpan material berharga itu ke dalam Cincin Ruang, lalu membalikkan badan, berjalan kembali ke utara.
Malam telah larut ketika Ajil kembali mendorong pintu ganda Guild Petualang Valeria.
Suasana malam itu jauh lebih riuh dari biasanya. Para petualang memenuhi meja-meja bundar. Di salah satu meja terdekat, sekelompok petualang sedang tertawa sambil merobek daging Kalkun Hutan Panggang yang dilumuri saus lada hitam dan bawang putih, ditemani gelas-gelas kayu berisi Bir Madu Gandum yang berbusa. Aroma rempah, daging panggang, dan alkohol mengudara kental.
Namun, seperti halnya malam kemarin, kehadiran sang Algojo Berjaket Hitam membuat sebagian besar aula terdiam. Mereka masih ingat betul bagaimana pria ini membawa kepala Orc Pemimpin dan naik dari Kelas F ke Kelas C dalam sekejap.
Ajil tidak memedulikan tatapan-tatapan penasaran itu. Ia berjalan lurus ke meja resepsionis, di mana Karin sedang berjaga sambil menyesap teh herbal untuk menahan kantuk.
"Misi selesai," ucap Ajil datar, suaranya memotong keheningan di sekitar meja.
Karin tersedak tehnya. Ia buru-buru meletakkan cangkirnya dan berdiri. Matanya melebar melihat Ajil berdiri tanpa luka sedikit pun, hanya sedikit debu vulkanik di ujung sepatunya. "T-Tuan Ajil... Misi Kelas A? Lembah Abu Vulkanik? A-Anda sudah menyelesaikannya?!"
Ajil tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menyambungkan mana ke cincinnya.
Klonthang!
Sebuah bongkahan kristal sebesar kepala manusia berwarna merah menyala, berdegup layaknya jantung yang berdetak dan memancarkan hawa panas yang luar biasa, jatuh di atas meja kaca mahoni. Di sebelahnya, tergeletak empat buah cakar hitam legam sebesar pedang pendek.
Suhu di sekitar meja resepsionis mendadak naik drastis. Kaca meja mulai retak karena panas dari Inti Magma Murni tersebut.
Karin menjerit pelan, buru-buru merapalkan sihir Tirai Es kelas rendah untuk mencegah mejanya terbakar. "Dewa-dewa Ridokan... Inti Magma Beruang Api Kematian! Ini murni dan tidak rusak sedikit pun!"
Keributan di Guild pecah. Para petualang berdiri dari kursi mereka.
"Dia membunuh Beruang Api Kematian?!"
"Monster Kelas A itu butuh dua puluh orang elit untuk menumbangkannya! Dia melakukannya sendirian?!"
"Siapa sebenarnya pria ini?!"
Di tengah keributan itu, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat. Leon, Sang Master Guild, yang sedang berada di lantai dasar untuk memeriksa laporan bulanan, berjalan menghampiri meja resepsionis. Zirah putih mutiaranya memantulkan cahaya lentera Guild.
Leon menatap Inti Magma di atas meja dengan dahi berkerut, lalu menatap Ajil. Master Guild Kelas SS itu menyipitkan matanya, mengaktifkan skill pasif Mata Dewanya untuk mengukur fluktuasi energi Ajil.
Mata Leon terbelalak. Wibawanya sebagai jenderal perang seakan runtuh sesaat. Ia mundur setengah langkah tanpa sadar.
"Mustahil..." gumam Leon, suaranya bergetar menahan ketidakpercayaan yang absolut. "Kemarin... kemarin levelmu baru menyentuh angka 35 saat kau mengalahkan Orc Besi. Tapi malam ini... fluktuasi mana dan kepadatan ototmu... kau berada di Level 65?!"
Seluruh aula guild yang mendengarnya menahan napas serentak. Naik 30 level dalam waktu kurang dari satu hari? Itu melanggar hukum alam Planet Ridokan! Petualang jenius pun membutuhkan waktu berbulan-bulan latihan berdarah hanya untuk naik lima level di tahap menengah.
"Aku butuh hadiahku. Dan informasi tentang keberadaan penyihir dan Prasasti Dimensi," potong Ajil dingin, sama sekali tidak peduli dengan reaksi syok Leon.
Leon menarik napas panjang, berusaha menenangkan badai di kepalanya. Pria di depannya ini bukanlah manusia normal. Ia adalah anomali yang dikirim para dewa, atau mungkin iblis yang menyamar.
"Kau... menaklukkan monster Kelas A tanpa kelompok, dan pertumbuhanmu tidak masuk akal," ucap Leon dengan nada serius, menatap lurus ke mata Ajil yang kosong. "Bakat seperti ini belum pernah ada dalam sejarah benua barat. Sebagai Master Guild, aku tidak bisa membiarkanmu tertahan di Kelas C. Otoritasku mengizinkan pengecualian mutlak dalam keadaan perang atau menemukan jenius setingkat bencana."
Leon menyentuhkan cincin emasnya ke cincin perak Ajil. Cahaya putih terang memancar, jauh lebih terang dari kemarin.
[SISTEM: Otoritas Mutlak Master Guild Diterima. Peringkat Kelas Guild Diperbarui secara beruntun.]
[Kelas Guild saat ini: S (Pahlawan Legendaris / Eksekutor Tunggal)]
"Aku menaikkanmu tiga kelas lagi," suara Leon menggema, tegas dan mutlak. "Dari C, melewati B dan A, langsung ke Kelas S. Mulai malam ini, kau memiliki otoritas yang nyaris setara denganku di kota ini. Kau bisa mengambil misi pembantaian tingkat negara, dan mengakses arsip rahasia terdalam."
Aula guild sunyi senyap. S-Class. Predikat monster yang hanya dimiliki oleh kurang dari sepuluh orang di seluruh Kerajaan Valeria. Dan pria berjaket hitam ini mendapatkannya di hari keduanya mendaftar!
Leon menatap Ajil lekat-lekat, wajahnya menyiratkan kekhawatiran seorang mentor. "Ajil... pertumbuhan kekuatan yang instan dan penuh darah seperti ini selalu membawa bayaran yang mengerikan bagi jiwa manusia. Kekuatan Kelas S berarti musuh yang akan datang padamu bukan lagi monster liar, melainkan iblis, bangsawan korup, dan pasukan negara. Kau memikul beban yang terlalu berat sendirian."
Ajil mengambil kantung koin emas dari Karin yang masih gemetar. Ia menatap Leon dengan pandangan yang tak tertebak, lalu menyimpan kantung itu ke dalam sistemnya. Pria berhati dingin itu memalingkan wajahnya, bersiap pergi. Namun sebelum ia melangkah, ia menoleh sedikit, memberikan jawaban yang membuat seluruh petualang terdiam merinding.
"Kekuatan yang tumbuh dari genangan darah dan rasa putus asa bukanlah sebuah anugerah, Master Leon," ucap Ajil dengan nada bariton yang begitu berat, menembus relung hati siapa pun yang mendengarnya. "Itu adalah kutukan. Sebuah kutukan yang rela kupikul agar anak-anakku di dunia lain sana tidak perlu merasakannya. Aku tidak peduli jika harus membakar seluruh benua ini, asalkan jalan pulangku terbuka."
Ajil melangkah pergi, membelah kerumunan petualang yang otomatis menunduk hormat, meninggalkan keheningan panjang di lantai dasar Guild Valeria.
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk lantai dasar.
Di lantai tiga, di area VIP yang temaram dan hanya diterangi oleh lilin-lilin beraroma cendana, suasana terasa sangat kontras. Area ini memiliki pagar kayu jati berukir indah yang menghadap langsung ke aula bawah, memberikan pemandangan sempurna ke arah meja resepsionis.
Di sudut balkon tersebut, Erina duduk dengan postur yang sangat anggun. Ia telah melepas jubah hijaunya, menyisakan zirah sutra mithril yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut perak kebiruannya tergerai indah, memantulkan cahaya lilin layaknya air terjun berlian di malam hari.
Di meja bundar kecil di depannya, terdapat sebuah botol kristal panjang yang berisi cairan berwarna biru bersinar—Anggur Air Mata Peri, minuman paling langka dan mahal yang hanya bisa dipesan oleh petualang Kelas S atau bangsawan tingkat atas. Di jari telunjuknya yang lentik, ia memegang sebuah gelas porselen ramping, menggoyang-goyangkan anggur biru itu dengan gerakan memutar yang lambat.
Sepasang mata zamrud Erina menatap lekat ke bawah, ke arah sosok Ajil yang sedang berjalan keluar dari pintu ganda guild.
Seharian ini, ia telah mengikuti pria itu. Ia melihat Ajil membantai tiga puluh bandit dengan kekejaman iblis. Namun, ia juga melihat Ajil meneteskan air mata, tersenyum rapuh, dan memberikan sebuah permen kepada anak kecil yang menangis. Kontras yang luar biasa itu telah meruntuhkan pertahanan yang dibangun Erina selama ratusan tahun. Pria arogan, raja-raja yang meminangnya dengan emas... tak ada satupun dari mereka yang memiliki kedalaman jiwa dan rasa sakit seindah sang Algojo Berjaket Hitam.
"Kutukan yang kau pikul demi keluargamu, ya?" bisik Erina pelan, suaranya semerdu petikan harpa di taman surga.
Ia mengangkat gelas porselen itu ke bibir merah mudanya dan menyesap anggur manis itu perlahan. Saat cairan hangat itu mengalir di tenggorokannya, Erina menyandarkan punggungnya ke kursi beludru merah.
Sebuah senyuman terukir di wajah cantiknya. Bukan senyuman sinis, bukan pula senyuman meremehkan yang selalu ia berikan pada pria-pria di benua timur. Ini adalah senyuman murni, tulus, dan penuh dengan kehangatan—sebuah pemandangan langka yang jika dilihat oleh ras manusia atau elf, akan membuat mereka rela mengorbankan nyawa.
"Kau adalah anomali paling menakjubkan di dunia ini, Ajil," batin Erina, matanya melembut menatap pintu guild yang tertutup. "Kau berhati sedingin es karena takut kehilangan apa yang tersisa di dalam dirimu. Tapi suatu hari nanti... aku akan membuat mata kosongmu itu menatapku dengan kehangatan yang sama seperti yang kau berikan pada anak manusia siang tadi."
Sang High Elf tercantik dari benua timur itu kembali menyesap anggurnya, menanti hari esok di mana ia akan melangkah keluar dari bayang-bayang dan menampakkan dirinya di hadapan sang algojo pujaan hatinya.