NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu yang Mencair

Malam Minggu di kafe Glass House, Di balik meja bar yang mengilap, Bara sibuk menata cangkir-cangkir keramik. Keringat tipis membasahi keningnya, sisa dari kerja kerasnya mencuci piring dan menyiapkan pesanan sejak sore tadi. Semua ini ia lakukan demi satu tujuan: mengumpulkan lembar demi lembar rupiah.

​Bara baru saja hendak menyeka meja. Ketika matanya tertuju pada pintu kaca besar di depan kafe, sebuah mobil mewah berhenti, dan dari dalamnya keluar sosok yang sangat ia kenal. Laras. ​Gadis itu tampak cantik, namun detak jantung Bara seolah berhenti ketika melihat seorang cowok keluar dari sisi pengemudi. Cowok itu berpakaian rapi, terlihat berkelas, dan dengan santainya berjalan di sisi Laras.

​Ada rasa panas yang tiba-tiba membakar dada Bara. Rasa cemburu itu datang tanpa permisi, tajam dan menyakitkan. Siapa dia? Kenapa dia bisa sedekat itu dengan Laras? batin Bara penuh pertanyaan.

​Saat pintu kafe berdenting terbuka, aroma parfum maskulin yang mahal menyeruak masuk, beradu dengan aroma kopi. Mata Laras menyapu ruangan, dan saat itulah pandangan mereka bertabrakan. Langkah Laras terhenti. Bibirnya bergetar pelan, membentuk sebuah nama yang nyaris tak terdengar di tengah bisingnya musik akustik kafe.

​"Bara..." sapa Laras lirih.

​"Apa, Ras?" Denandra menoleh, ia tidak menangkap gumaman Laras dengan jelas.

​Laras tidak menjawab. Ia terpaku, menatap Bara yang berdiri kaku di balik mesin espresso. Bara menatap balik dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rindu, ada luka, dan ada amarah yang tertahan di sana.

​Denandra, yang pada saat itu tidak peka, langsung menarik tangan Laras menuju meja di sudut ruangan. Dengan gaya pria budiman, ia menarik kursi untuk Laras.

​"Duduk, Ras. Nanti kalau pacar gue datang, lo bilang aja kalau lo sepupu gue, ya!," bisik Denandra penuh semangat.

​Namun, Laras tidak mendengarkan. Matanya masih tertuju pada sosok jangkung di balik bar.

​"Ras! Laras!" Denandra mulai gemas. Ia memegang kedua sisi wajah Laras, memaksa gadis itu menoleh dan menatapnya.

"Lo lihat apa, sih?"

​Denandra mengikuti arah pandang Laras.

Matanya tertuju pada Bara, pria bertubuh tegap dan lumayan kekar yang sedang menyiapkan kopi dengan wajah dingin. Denandra terdiam sejenak, lalu sebuah senyum jahil terukir di wajahnya.

​"Cowok lo?" tanya Denandra blak-blakan.

​"Bukan," jawab Laras singkat, nada suaranya terdengar bergetar. Ia segera membuang muka, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kini berantakan.

​Di balik meja bar, tangan Bara yang sedang memegang tamper kopi tampak mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melihat bagaimana tangan cowok asing itu menyentuh wajah Laras. Pemandangan itu terasa menyakitkan.

Bara merasakan ada sesuatu yang berbeda saat melihat Laras duduk di sana. Rasa panas yang merayap di dadanya lebih terasa seperti cubitan kecil yang terus-menerus mengganggu.

Ia menarik napas panjang, aroma kopi yang kuat membantu menenangkan sarafnya. Tangannya yang tadinya tegang kini mulai melemas, meski matanya tetap tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah meja sudut itu.

Rian meletakkan slip pesanan di samping mesin.

​"Meja sudut, Hot Chocolate satu, Iced Americano satu, Bar."

​​Bara mengangguk kecil. Ia mengabaikan pesanan kopi milik cowok itu dan lebih dulu fokus pada cokelat hangat untuk Laras. Ia mengambil bubuk cokelat murni, mencampurnya dengan sedikit air panas hingga menjadi pasta yang kental dan mengilat. Sambil menunggu susu dipanaskan, matanya kembali mencuri pandang ke arah Laras. Di sana, Laras tampak sedang mendengarkan Denandra bercerita dengan antusias.

Ada rasa cemburu yang halus di dadanya saat melihat betapa santainya cowok itu berada di dekat Laras. Namun, Bara segera menepis pikiran itu. Ia menuangkan susu yang sudah di-steam sempurna ke dalam pasta cokelat, menciptakan tekstur yang creamy dan lembut. ​Alih-alih membuat pola yang rumit, Bara hanya membentuk lingkaran kecil yang presisi di tengah—sederhana, namun penuh konsentrasi.

​"Ini pesanan meja sudut," ujar Bara pendek kepada Rian.

​Bara berdiri diam, berpura-pura sibuk mengelap steam wand yang sebenarnya sudah bersih. Dari balik mesin, ia mengawasi Rian yang meletakkan cangkir cokelat itu di depan Laras. ​Laras sempat tertegun sejenak. Ia menyentuh pinggiran cangkir yang hangat, seolah bisa merasakan kehadiran Bara melalui suhu minuman itu. Matanya langsung mencari sosok Bara di balik bar.

​Pandangan mereka bertemu di sela-sela riuhnya kafe. Tidak ada ledakan amarah, hanya sebuah tatapan dalam yang menyimpan ribuan tanya. Bara hanya membalasnya dengan anggukan tipis yang nyaris tak terlihat, lalu kembali menunduk untuk membersihkan meja. Ada sedikit rasa sesak saat melihat Denandra kembali menarik perhatian Laras dengan tawa renyahnya, namun Bara memilih untuk tetap tenang.

"Gadis itu... dia terus-terusan liat ke sini, lho."

celetuk Rian saat kembali ke bar.

Bara tidak menyahut. Ia hanya tersenyum kecut sambil terus bekerja.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

Suasana di meja sudut itu mendadak berubah ketika lonceng di pintu kafe berdenting nyaring. Seorang gadis dengan gaya modis masuk, matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya tertuju pada Denandra.

​"Sayang!" seru gadis itu sambil melangkah cepat.

​Denandra seketika bangkit dari kursinya, wajahnya berubah cerah—sebuah ekspresi yang jauh lebih tulus daripada saat ia berbicara dengan Laras tadi.

"Akhirnya sampai juga. Kenalin, ini Laras, sepupu gue yang paling baik sedunia."

​Denandra memberikan kedipan penuh kode kepada Laras. Laras hanya bisa tersenyum kaku, mengangguk sopan pada pacar Denandra yang kini sudah mengambil tempat duduk di samping Denandra. Mereka berdua langsung larut dalam obrolan mesra, seolah dunia hanya milik berdua, meninggalkan Laras yang kini benar-benar menjadi 'obat nyamuk' di meja itu.

​Di balik meja bar, Bara memerhatikan adegan itu dengan saksama. Tangannya yang sedang memegang kain lap terhenti sejenak. Ada rasa lega yang perlahan mengalir, menggantikan sesak cemburu yang sempat menghimpit dadanya sejak tadi.

​"Ternyata bukan pacar Laras," batin Bara.

Sudut bibirnya hampir terangkat membentuk senyum tipis yang tertahan. ​Bara kembali sibuk dengan mesin espressonya, namun kali ini gerakannya terasa lebih ringan. Ia sengaja menunduk saat Denandra sesekali melirik ke arah bar, namun fokusnya tetap pada satu titik: Laras yang kini duduk sendirian di tengah kemesraan dua orang di depannya.

​Laras menyesap cokelat hangatnya, merasakan kehangatan yang familiar mengalir ke tenggorokannya. Ia tahu Bara sedang memerhatikannya. Di tengah riuhnya kafe dan obrolan manja Denandra dengan pacarnya, Laras merasa seolah ada benang tak kasat mata yang menghubungkannya dengan cowok di balik meja bar itu.

​Tiba-tiba, Denandra mencondongkan tubuhnya ke arah Laras, berbisik pelan namun cukup keras untuk didengar, "Gue ke toilet sebentar ya, Ras. Jagain pacar gue, jangan sampai diculik pelayan galak itu."

​Denandra tertawa kecil sambil melirik ke arah Bara, lalu melangkah pergi menuju bagian belakang kafe. Kini, di meja itu hanya tersisa Laras dan pacar Denandra yang sibuk membenarkan riasan wajahnya.

​Laras meletakkan cangkir cokelatnya. Ini kesempatannya. Ia melirik ke arah bar, mendapati Bara sedang sendirian karena Rian sedang sibuk melayani meja di lantai dua. ​Laras berjalan pelan menuju meja bar, berpura-pura ingin mengambil tisu atau sekadar melihat menu tambahan.

​Bara tidak mendongak, ia sibuk membersihkan sisa bubuk kopi, namun ia tahu Laras sedang melangkah ke arahnya. Aroma mawar segar yang lembut mulai tercium, mengalahkan aroma kopi yang kuat di sekitarnya.

​"Cokelatnya... enak," bisik Laras saat ia sampai di depan meja bar.

​Bara akhirnya mendongak. Tatapan mereka bertemu di sela-sela uap mesin kopi. Senyum tipis yang sejak tadi tertahan akhirnya muncul di wajah Bara.

1
Ros 🍂
semangat ya Thor 💪🏽
Ijin mampir🙏
penavana: thankyouuuu
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Kaaaaan.... bah ternyata bukan kulkas pintu seratus, tapi manusia yang perlu penakhluk. mana si putri lagi
Faeyza Al-Farizi
modus....modus.... gak usah dipinjemin ndoro... 😌😌😌😌
Faeyza Al-Farizi
Nah kan.... yang waras gitu loh
Faeyza Al-Farizi
ya bukan berarti dia yang godain bujang..... bisa-bisanya, makanya gak usah pacaran, 😌
Faeyza Al-Farizi
Heh sabun Wing gak usah ngadi-ngadi, kamu yang pertama bangunin macan tidur, udah tau lawannya membara, malah di pancing 🫵, lagian gak bisa gitu anteng orang sekola kok nantang2
Faeyza Al-Farizi
sumpah seru bagian ini, berasa kembali ke jaman pas awal-awal demen novel. seger banget hawanya 😌😌
Faeyza Al-Farizi
cupu amat make nama bapak, HUUUUUUUUUU 🫵🫵🫵🫵🫵🫵
Faeyza Al-Farizi
ngebayangin Laras, lari buat nolongin. 😌
Faeyza Al-Farizi
sumpah habis ini kamu kemana-mana punya pengawal pribadi😌
Faeyza Al-Farizi
ketahuan bohong kau 😌😌
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 bisa-bisanya ada kebetulan model gini 😭😭
penavana: fakta nih kaak 🤭
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Bara, heh... tapi paham sih aku, emang modelan kamu paling hapalnya nama guru BK, gadis unceran sama pak satpam 😌
Faeyza Al-Farizi
heeeee preman nyuruh ndoro agung buat ndatengin, berani amat 🫵
Faeyza Al-Farizi
buseeeet ini intuisinya kuat banget 😱
Adi Lima
ya kalo gitu pesan ayam geprek online aja, suruh kurir taroh di sekuriti, terus numpang makan di situ 😄🤣🤣🤣🤣
Adi Lima
Biar bapak yang kasih Tips & Trik untuk ngelawan secara intelek 😄🤣
Adi Lima
oooooh, jadi berani melawan itu pertanda kedewasaan
Adi Lima
yaaaah, shutdown lagi... mungkin dipandang soal ini si Laras gak perlu tau detilnya 🤣
Adi Lima
eh, surprise, ternyata ibunya penuh pengertian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!