NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Hening di pusat Sandiwayang bukanlah hening yang damai. Itu adalah kesunyian di dalam perut pemangsa sebelum ia mulai mengunyah. Lapangan luas di hadapan Nirmala tidak ditumbuhi rumput, melainkan hamparan rambut manusia yang tumbuh dari tanah, berdesir halus saat tertiup angin yang berbau tembaga dan nanah.

Di tengahnya, Pohon Randu Alas itu berdiri monumen kematian yang merobek langit. Raga-raga manusia yang tergantung di dahannya tidaklah mati sepenuhnya. Mereka berayun pelan, kulit mereka yang pucat dan transparan menunjukkan aliran getah hitam yang mengalir menggantikan darah di balik vena mereka. Beberapa dari mereka membuka mata-mata yang telah berubah menjadi lubang kayu yang kering, dan menatap Nirmala dengan kerinduan yang lapar.

"Kau lihat mereka, Nirmala?" suara Kakek terdengar seperti gesekan dua batu nisan. "Mereka adalah 'buah' yang belum matang. Mereka tidak memiliki jantung sepertimu. Mereka hanyalah wadah kosong yang menunggu diisi oleh ingatanmu."

Nirmala mundur selangkah, namun kakinya tertahan. Rambut-rambut di tanah mulai melilit pergelangan kakinya, menariknya perlahan menuju pusat pohon. "Kek... lepaskan aku. Kenapa Kakek melakukan ini?"

Kakek tertawa, suara tawa yang diiringi dengan muntahan getah hitam dari mulutnya. "Aku tidak melakukannya, Nak. Pohon ini yang menginginkannya. Ayahmu mencuri 'percikan kehidupan' dari inti pohon ini untuk menciptakanmu. Dia pikir dia bisa menipu alam. Dia memberimu raga, tapi dia lupa bahwa raga itu hanyalah pinjaman yang bunganya adalah seluruh jiwamu."

Tiba-tiba, pohon raksasa itu bergetar. Suara krak... krak... krak... yang memekakkan telinga bergema, bukan dari dahan, melainkan dari langit yang seolah-olah retak. Satu per satu, raga yang tergantung itu mulai mengeluarkan suara rintihan masal yang bergabung menjadi satu kidung pemujaan yang sumbang.

"Arka, lakukan sesuatu!" teriak Nirmala.

Arka berdiri tegak, meski darah hitam terus merembes dari balik kain penutup matanya. Ia memegang Biji Purba di telapak tangannya. Biji itu kini berdenyut merah, bereaksi terhadap keberadaan sang Randu Alas.

"Aku tidak bisa mendekat, Nir! Akar-akar di sini menolak keberadaan Biji Purba ini. Tanah ini sudah terlalu busuk untuk menerima kehidupan baru!" Arka berteriak, suaranya bersaing dengan suara rintihan mayat-mayat gantung.

Kakek Nirmala tiba-tiba bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Tubuhnya yang bungkuk dan kaku itu melesat, tangan kayunya yang tajam mencengkeram leher Arka dan mengangkatnya ke udara.

"Manusia buta yang lancang." desis Kakek. "Kau pikir biji kecil itu bisa mengalahkan ribuan tahun rasa lapar?"

"Arka!" Nirmala mencoba berlari menolong, namun jahitan di tubuhnya bereaksi.

JREET!

Nirmala jatuh berlutut. Benang-benang kayu di lengan dan dadanya tiba-tiba tertarik kencang oleh kekuatan magnetis dari pohon raksasa itu. Ia menjerit saat merasakan kulitnya mulai robek secara vertikal, mengikuti jalur jahitan kayu tersebut. Bukannya darah, yang keluar adalah sulur-sulur akar kecil yang tumbuh dari dalam dagingnya sendiri, mencari jalan untuk menyatu dengan tanah rambut di bawahnya.

"Proses panen dimulai, Nirmala." Kakek berkata sambil melemparkan tubuh Arka ke tumpukan mayat-mayat yang membusuk di bawah pohon. "Raga manusiamu akan dikupas, dan jantungmu akan ditanam di inti akar agar Sandiwayang bisa meluas hingga ke jantung kota."

Nirmala merasakan dadanya sangat panas. Di bawah lapisan kulitnya, jantungnya berdetak dengan liar, namun bunyinya kini berubah. Bukan lagi deg-dug, melainkan suara detak kayu yang dipukul.

tok... tok... tok...

Dari atas dahan, sebuah raga yang tergantung perlahan turun. Raga itu mengenakan baju biru yang sangat dikenal Nirmala. Itu adalah sosok 'Ibu' yang sebenarnya bukan lagi ilusi kabut, tapi raga asli ibu Nirmala yang telah menjadi mumi kayu selama bertahun-tahun. Wajahnya kering, matanya tertutup oleh tunas mawar hitam yang tumbuh dari kelopak matanya.

Raga itu mendarat di depan Nirmala. Tangannya yang kaku terangkat, meraba wajah Nirmala dengan ujung jari yang keras seperti ranting.

"Beri... aku... hidupmu..." bisik raga itu.

Nirmala menangis histeris. Ia melihat ibunya sendiri menjadi eksekutor bagi nyawanya. Di saat yang sama, Arka yang tergeletak di tumpukan mayat mulai merangkak. Ia tidak bisa melihat, namun ia bisa merasakan denyut jantung Nirmala yang mulai melemah.

"Nir... dengarkan aku!" suara Arka terdengar serak di tengah hiruk-pikuk hutan. "Jangan lawan rasa sakitnya! Masukkan Biji Purba itu ke dalam lukamu! Biarkan dia memakan jantung kayumu sebelum pohon itu melakukannya!"

"Apa maksudmu, Arka? Itu akan membunuhku!"

"Jika kau tidak melakukannya, kau akan menjadi salah satu dari mereka yang tergantung itu selamanya! Pilihannya hanya dua! mati sebagai manusia, atau hidup abadi sebagai kayu yang menderita!"

Kakek Nirmala meraung marah dan mencoba menerjang Arka kembali, namun Arka dengan sisa kekuatannya melemparkan Biji Purba itu ke arah Nirmala. Biji itu meluncur di udara, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan mata kayu sang Kakek.

Nirmala menangkap biji itu dengan tangannya yang sudah separuh berubah menjadi dahan. Biji itu terasa sangat dingin, sangat murni. Ia menatap ke arah raga ibunya yang kini mulai membuka mulut, memperlihatkan kerongkongan yang dipenuhi oleh serangga tanah.

"Maafkan aku, Ibu..."

Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan mutlak, Nirmala menekan Biji Purba itu masuk ke dalam luka jahitan yang menganga di dadanya.

Seketika, dunia seakan berhenti berputar.

Suara jeritan yang bukan berasal dari manusia meledak dari dalam tubuh Nirmala. Cahaya putih keluar dari sela-sela rusuknya, membakar akar-akar hitam yang melilitnya. Raga ibunya terlempar ke belakang, hangus menjadi abu dalam sekejap.

Namun, kengerian belum berakhir. Biji Purba itu tidak hanya memakan kekuatan Sandiwayang, ia mulai bertunas di dalam tubuh Nirmala. Nirmala bisa merasakan akar-akar putih itu merayap di sepanjang pembuluh darahnya, bertarung dengan akar hitam Randu. Tubuhnya menjadi medan perang dua kekuatan purba.

"ARKA! SAKIT! SAKIT SEKALI!" Nirmala menjerit hingga matanya mengeluarkan darah putih yang kental.

Seluruh Pohon Randu Alas itu mulai berguncang hebat. Mayat-mayat yang tergantung jatuh satu per satu seperti buah busuk. Kakek Nirmala berlutut, tubuh kayunya mulai retak-retak dan hancur menjadi serpihan.

"Apa... apa yang kau lakukan, Anak Terkutuk..." rintih Kakek sebelum wajahnya pecah menjadi debu.

Tanah di bawah mereka mulai amblas. Inti dari Sandiwayang sedang runtuh. Arka merangkak menuju Nirmala, mencoba meraih tangan gadis itu di tengah ledakan cahaya dan kegelapan yang saling beradu.

Namun, di atas mereka, dahan-dahan tertinggi dari Randu Alas yang belum hancur mulai meluncur turun seperti tombak-tombak raksasa, mengincar jantung Nirmala yang kini menjadi pusat dari badai energi tersebut.

"Jika aku harus menjadi tanah, maka kau harus ikut bersamaku!" suara sang Randu Alas menggelegar dari dalam bumi.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
bacaaa ahhh, jika tidak lanjut baca berarti mentalku nggak kuat😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣 aku yakin pasti kuat mentalmu
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Mungkinkah gempa selama ini karena pertarungan itu? 😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku juga gk tw😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Gak kebayang kalo aku ikut blusukan kek mereka, pasti asma ku lgsg kambuh🤧
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Bisa nih aku pinjam Nirmala buat bersihin air laut yg butek di daerahku/Proud/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Sip.... Kalo gak dibolehin nanti ku culik Nirmala nya🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tiga puluh hari itu sebentar lho, gak bisa apa waktunya ditambah🙄
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dih dia nego😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Oh Nirmala... Hidupmu tidak pernah di berikan nafas lega sebentar saja
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk semua cast dan para kru di balik cerita Nirmala, Mohon maap lahir dan Batin...

Untuk Othor Juga... Selamat Hari Raya ya, Maapkan pembaca ini yang mungkin sering ngeluh di komentar🤣Mohon maap lahir dan batin kak🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!