NovelToon NovelToon
My Best Photo

My Best Photo

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Henny

"Aku tak mungkin akan jatuh cinta padamu, walaupun kau adalah pria terakhir yang ada di dunia ini. Aku lebih baik mati dari pada harus menghabiskan seluruh hidupku bersamamu!" teriak Maura dengan kemarahan yang meluap-luap.

Ben tersenyum "Mari kita buktikan. Dan kau harus siap untuk mati jika jatuh cinta kepadaku"

Ini adalah kisah Ben si play boy yang akhirnya patah hati dan berusaha menemukan cinta sejatinya bersama gadis tomboy yang tak sengaja ditemuinya di jembatan. Apakah akhirnya gadis itu mampu menjadi pelabuhan akhir sang mantan play boy yang patah hati ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang terungkap.

Hujan turun malam ini. Maura berdiri di dekat jendela kamarnya. Menatap kaca jendela yang basah.

Entah sudah berapa lama gadis berambut hitam itu berdiri di sana. Ia bahkan melewatkan makan malamnya.

Besok adalah hari pernikahanku. Aku tak tahu apakah ini adalah keputusan terbaikku. Aku juga tak tahu apa yang akan terjadi besok. Mama....andaikan kau ada di sini. Aku sangat merindukanmu.

Maura berbicara dengan hatinya sendiri.

tok.....tok...

"Masuklah!" kata Maura.

Pintu terbuka. Maura terkejut melihat papanya datang sambil membawa sebuah map di tangannya.

"Ada apa?" tanya Maura dingin sambil tetap berdiri didekat jendela kamarnya. Ia membelakangi papanya.

"Papa datang mengantar surat pengalihan hak atas warisan mamamu"

Maura berbalik. Ia tak percaya papanya akan memberikannya secepat ini.

"Jika kau sudah selesai menikah, kau dapat meminta om Rudi di Jakarta untuk mengalihkan semuanya atas namamu. Vila milik mamamu, rumah dan uang yang tersimpan direkening. Papa sama sekali tak pernah menggunakannya. Dan ini, ada surat yang dituliskan mamamu sebelum kematiannya. Papa tak tahu isinya apa. Dia hanya berpesan untuk memberikan padamu pada saat yang tepat. Jadi papa pikir ini adalah saat yang tepat." Gerald tersenyum lalu segera meninggalkan kamar putrinya.

Tangan Maura bergetar memegang surat itu. Ia sangat mengenal tulisan mamanya. Tanpa sadar Maura menangis. Ia membuka dengan rasa penasaran.

***Anakku sayang....

mama tak tahu berapa usiamu saat ini

namun mama yakin kalau kamu cukup

mengerti untuk memahami semua ini.

jangan marah jika papamu menikahi

Iriana karena mama yang meminta pada

papamu.

sewaktu kecil papa dan mama memang sudah

dijodohkan namun kami sama-sama belum tahu.

Saat papamu kuliah di London, ia ketemu dengan

Iriana. Mereka saling jatuh cinta dan menjadi

pasangan ideal saat itu.

saat papamu pulang ke Indonesia, dia diperhadapkan pada kenyataan bahwa kami

harus menikah.

Demi menjaga nama baik keluarga, papamu menikahi mama walaupun perasaannya hancur karena harus meninggalkan Iriana.

Selama kami menikah, papamu selalu bersikap baik pada mama, ia pun sama sekali tak pernah menghubungi Iriana. Sampai akhirnya ketika mama sakit , mama meminta papamu untuk menghubungi Iriana. Ternyata ia sama sekali belum menikah.

Mama meminta setelah 3 bulan kematian mama, mereka harus menikah dan tinggal di London agar kamu tak akan sedih mengingat mama terus. Mama yakin Iriana akan menyayangimu seperti mama menyayangimu.

Anakku, jaga papamu dengan baik ya. Karena mama tahu ia sangat menyayangimu. Tolong perhatikan kesehatan papamu karena dia sudah menyayangi mama dengan tulus selama kami menikah.

Jadilah anak yang selalu membanggakan papamu.

Hormati papamu dan Iriana. Jangan membenci mereka. Karena demi menjaga nama baik mama, mereka relah mengorbankan perasaan mereka.

Anakku...

Mama akan selalu menjagamu. Mama akan selalu mencintaimu. Kelak jika kau menikah, jadilah istri dan mama yang baik bagi anak-anakmu

yang mencintaimu

MAMA***

Tangis Maura langsung pecah begitu ia selesai membaca surat itu. Terbayang bagaimana sikapnya selama ini terhadap papanya dan Iriana.

Pada hal Iriana selalu mengasihinya dengan tulus. Tak pernah membedahkan sedikitpun dengan adiknya Gerry.

Hati Maura memberontak. Terbayang kata-kata kasar dan pedas yang sering dilontarkannya kepada papanya.

Ya Tuhan, mengapa aku begitu jahat selama ini? Ternyata semua yang papa lakukan adalah mewujudkan semua permintaan mama. Papa....maafkan aku. pekik hati Maura sedih.

Ia segera membuka pintu kamar dan berlari ke lantai satu walaupun ia tak menggenakan sendal. Di ketuknya pintu kamar papanya, untuk pertama kali setelah 8 tahun tinggal di rumah ini.

"Papa.....papa..!" panggilan itu akhirnya keluar dari mulut Maura setelah selama bertahun-tahun ia tak mengucapkannya lagi.

Iriana yang membukakan pintu, dibelakangnya ada Gerald yang baru saja berdiri dari tempat tidur.

"Ada apa, Maura?" tanya Gerald heran. Sudah sangat lama ia merindukan anaknya memanggilnya dengan sebutan papa.

"Papa....maafkan aku!" Maura langsung tersungkur dibawa kaki papanya. Ia memeluk kaki papanya dengan sangat erat.

"Maafkan Maura papa.....selama ini maura sudah bersikap sangat kurangajar pada papa. Maura bersikap kurangajar tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Surat dari mama menjelaskan segalanya. " Tangis Maura sangat dalam.

Gerald tersenyum lega. Ia segera mengangkat Maura dan membawanya duduk di sofa.

"Papa sudah lama memaafkanmu. Papa tahu suatu saat nanti kamu pasti mengerti"

Maura memeluk papanya. Ia menyesal telah membuang 8 tahun lebih waktunya dan melepaskan pelukan papanya yang selalu membawa kedamaian.

"Papa....mengapa baru memberikan suratnya sekarang?.Mengapa menungguh begitu lama untuk membuatku mengerti?"

"Papa tidak tahu apa isi surat mamamu. Yang papa harapkan agar kamu kelak bahagia." Gerald mengusap kepala putrinya dengan lembut. Ia sangat rindu dengan situasi seperti ini.

"Tante Iriana,maafkan aku juga ya..." Maura menatap Iriana dengan wajah penuh penyesalan.

Iriana tersenyum sambil mengangguk. Ia tak dapat berbicara karena tangisnya sudah lebih dulu pecah.

Maura melepaskan pelukan papanya dan mendekati Iriana. Memeluk istri papanya itu dengan erat.

"Bolehkah aku memanggilmu mommy?"

Tangis Iriana semakin dalam "Tentu saja sayang. Aku sudah lama mengharapkan ini. Aku tahu kalau aku tak bisa menggantikan mamamu dihatimu namun aku bisa memberikan kasih sayang seperti yang mamamu berikan"

"Mommy...."

"Anakku"

Gerald pun tak dapat menahan air matanya. Anaknya kini kembali menyayanginya. Walaupun besok dia harus meninggalkan rumah ini karena akan menikah, namun Gerald tahu malam ini sudah menjadi awal yang baik.

Setelah semuanya selesai, Maura pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Namun baru sampai di depan pintu ia berbalik.

"Papa, bolehkah aku tidur di sini?"

"Boleh" Gerald dan Iriana sama-sama menjawab.

Maura tersenyum senang.

Mereka bertiga tertawa bersama sebelum akhirnya lampu kamar dimatikan.

"Maura, kau tidak bertanya tentang calon suamimu?" tanya gerald penasaran.

"Aku tahu pilihanmu tidak salah papa. Biarlah itu menjadi kejutan esok hari. Aku tak mau memikirkannya malam ini karena malam ini aku hanya ingin bersama papa" Maura memegang tangan papanya dan Iriana. Lalu memejamkan matanya. Rasanya sekarang ia sangat mengantuk.

15 menit kemudian.....

"Mom....dad...wakeup. Sepertinya kak Maura melarikan diri. Ia tak ada di kamarnya" terdengar suara Gerry.

"Anak itu mengganggu saja" Iriana membuka pintu.

"Kakakmu tidur di sini. dia nggak minggat"

"Aku juga mau tidur di sini!" ujar Gerry dan langsung masuk ke kamar dan naik ke atas tempat tidur.

"Jangan ribut. Papa dan kakakmu sudah tertidur" kata Iriana.

"Mereka sudah berbaikan ya?"

"Sejak kapan mereka marahan?"

Gerry menggaruk kepalanya yang tidak gatal"Aku bingung. lebih baik aku bobo saja" Gerry pun membaringkan tubuhnya.

Iriana tersenyum. Terima kasih Tuhan untuk malam yang indah ini.

************

Gaun pengantin sudah terpasang di tubuh Maura. Ia harus mengakui gaun pengantin ini terlihat sangat mewah.

Sepatu yang dikenakannya pun sangat mewah. Begitu juga dengan anting, kalung dan mahkota yang terpasang di kepalanya.

"Sayang, kau sudah siap?" tanya Gerald saat memasuki kamar anaknya.

"Iya, pa."

"Kau sangat cantik. Papa jadi ingat dengan mamamu saat kami menikah. Ia pun terlihat sangat cantik"

Maura hanya tersenyum. "Aku yakin saat ini mama sedang tersenyum bahagia"

"Apakah, kamu nggak akan memakai cadar itu?"

"Aku akan memakainya papa. Karena aku masih memegang janji yang kuucapkan pada mama untuk menjaga diriku sampai aku menikah"

"Papa bangga padamu, sayang"

Iriana masuk. Ia segera mengatur cadar yang menutupi wajah Maura. "Ayo kita pergi. Mereka semua sudah menungguh di gereja"

Sebuah mobil limosin putih mengantar mereka ke geraja.

Saat sudah berdiri di depan pintu gereja, Maura merasa gugup. Ia menggandeng tangan ayahnya dengan wajah yang sedikit gugup. Ia melihat pria yang sudah menungguhnya di depan altar. Dari balik cadarnya ia menatap pria itu.

Apakah aku mengenalnya?

#Terima kasih sudah membaca part ini

#Like dan komentarnya ya kalau suka

😍😍😍😍

1
Alvia Vi
hahahay..
gemes
Gia Nasgia
Miss you Ben😘
Gia Nasgia
Sdh hatam tapi nggak bisa move on😂🤭
pipi gemoy
vote buat Ben✌️
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼
pipi gemoy
sudah baca Thor 😎🌹
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼☕🙏🏼
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🌹
pipi gemoy
congrats Ben 👏🏼🌹
pipi gemoy
Maura keren Ben👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼🌹
pipi gemoy
hadir Thor ☝🏼
Angga Gati
bagus ceritanya
VS
Faith terooss
VS
haii.. hai...
Wasista Mustika S.
Karya yang bagus... Ringan tapi berkesan.. Walau terkadang sifat Ben yg menjengkelkan, tapi secara keseluruhan, novel ini merupakan penggambaran bagaimana cinta sejati akan menemukan titik akhirnya..
Enny Olivia: terima kasih sudah membacanya
total 1 replies
fitri
senyam senyum sendiri akoooh....😂
gia nasgia
Ben memang pria pilihan untuk Maura 🥰🥰
gia nasgia
Ben 😂😂
gia nasgia
Bumil pegang kendali
gia nasgia
ciee ficlen gercep
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!