Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Apakah putri sudah mengerti?"
Ling Xi mengangguk pelan. "Mengerti, Lian."
"Kalau begitu, sebelum mulai berlatih... kita periksa terlebih dahulu kekuatan putri di bola kristal."
"Bola.. kristal," ucap Ling Xi dengan pelan seperti berbisik.
Lian pun mengeluarkan bola kristal di balik jubahnya. Bola kristal itu memancarkan aura dingin.
"Sekarang, letakkan tangan putri di atas bola kristal ini."
Putri Ling Xi pun menaruh kedua tangannya di atas bola kristal itu. Seketika bola kristal itu bergetar, memancarkan cahaya berwarna demi warna. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, putih hingga hitam. Cahaya-cahaya itu berputar seperti pusaran kecil.
Lian yang melihat itu pun tertegun. Bahkan napasnya terasa berhenti sesaat.
"Tu-tujuh... tujuh elemen...?" gumamnya tak percaya.
Ling Xi memandangi bola itu dengan bingung. "Kenapa... warnanya sebanyak ini?"
Belum menjawab, Lian kembali mengambil bola kristal kedua dari balik jubahnya untuk mengukur ranah kekuatan.
"Putri, coba letakkan tanganmu lagi di bola kristal kedua."
Begitu tangannya menyentuh permukaan bola itu, rasa dingin menjalar ke tangannya. Namun, ia menghiraukan itu, ia melihat cahaya lain lagi yang langsung melompat naik.
Dari ranah dasar... ranah pondasi... ranah pulsasi... ranah jalur bintang... hingga akhirnya berhenti di ranah inti bintang. Dan itu berada di sub level akhir.
Cahaya itu begitu terang hingga menimbulkan bayang-bayang di rumput.
Lian semakin terkejut melihat hal itu. Ia berpikir bahwa tuannya ini baru mencapai ranah pulsasi.
Namun kenyataannya, ia sudah berada di ranah inti bintang tahap akhir. Jauh dari dugaannya.
Setelah berbagai macam kejutan hingga membuat ia terdiam lama, akhirnya Lian pun mencoba mengembalikan ekspresinya seperti biasa.
Lian pun menutup telapak tangannya perlahan, menyembunyikan bola kristal itu kembali ke dalam jubahnya.
Wajahnya kembali tenang, namun sorot matanya masih menyimpan keterkejutan yang belum reda.
"Putri," ucapnya dengan hati-hati, "apa yang barusan terjadi... tidak boleh diketahui siapapun. Termasuk oleh orang-orang istana sekalipun."
Ling Xi terkejut. "Apa segitu berbahayanya?"
Lian mengangguk pelan. "Iya. Tujuh elemen merupakan sesuatu yang bahkan tidak tercatat dalam kitab kuno. Kecuali dewa-dewi. Untuk manusia biasanya paling banyak memiliki elemen tidak lebih dari dua."
Dengan bingung, Ling Xi bertanya, "Dewa-dewi?"
Sambil menganggukkan kepalanya, Lian menjawab, "Iya, tapi hanya dua orang yang memiliki 7 elemen ini. Yaitu Dewi Takdir dan Dewa Agung."
"Lian, tadi kamu bilang, aku memiliki 7 elemen?"
"Benar," jawab Lian.
"Tujuh elemen itu apa saja?"
"Sebelum saya menjawab, lebih baik kita duduk dulu."
Setelah itu, mereka pun duduk di taman dekat mansion yang berada di ruang dimensi.
"Baiklah, saya akan menjawabnya putri," jawab Lian.
Dengan tarikan nafas, Lian pun mulai menjelaskan, "Di alam dunia ini, terdapat tujuh warna kekuatan, diantaranya, merah - api, jingga - petir, kuning - angin, hijau - penyembuh, biru - air, putih - cahaya dan hitam - kegelapan."
"Kegelapan?" tanya Ling Xi sambil memiringkan kepalanya yang seolah bingung.
"Benar. Biasanya kegelapan dikeluarkan untuk menghukum seseorang yang telah melakukan kejahatan."
Dengan menganggukkan kepala, "Baiklah, sekarang aku sudah mengerti. Bagaimana jika sekarang Lian mengajariku berlatih kekuatan?"
"Baiklah, ayo."
Mereka pun berdiri di tengah lapangan. Sebelum memulai latihan, Lian memegang kedua tangan Ling Xi.
"Fokuslah, putri. Tarik napas dan rasakan aliran energi yang mengali di tubuhmu. Biarkan ia mengalir menuju dantian."
Ling Xi pun menurut.
Lian perlahan menjauh dari Ling Xi.
Sedangkan Ling Xi, ia mulai duduk di tengah lapangan dan perlahan matanya mulai menutup.
Aliran hangat mulai muncul di sekelilingnya, dan perlahan masuk ke dalam tubuh. Aliran itu terus mengalir menuju dantiannya.
Dan detik berikutnya -
BOOM -
Ling Xi kecil tersentak ketika tubuhnya memancarkan cahaya biru terang yang kuat. Angin disekitarnya berputar, rumput merunduk dan air terjun kehidupan bergetar. Bahkan Lian memandangnya dengan mata besar.
"P-putri... ini... tidak mungkin..."
Ling Xi membuka mata pelan.
"A-aku... kenapa?"
Lian menelan ludah, wajahnya penuh keterkejutan.
"Putri... saya baru menjelaskan untuk merasakan aliran energi itu. Dan saya tidak menyangka, tidak lebih dari satu dupa, putri sudah berhasil menerobos ke ranah roh bulan tahap awal. Bahkan energimu terlihat stabil di tingkat ini..."
Namun detik berikutnya - Ling Xi merasakan dantiannya kembali menghangat, ia pun segera menutup matanya kembali.
BOOM.
Ledakan energi menggema.
"Ranah Roh Bulan... tahap tengah..." bisik Lian.
Belum lama ledakan energi yang kedua, kini mulai muncul kembali gelombang energi yang ketiga.
BOOM!
Getaran dahsyat menyapu udara.
"Ranah Roh Bulan... tahap puncak..."
Tak lama kemudian, langit perlahan menghitam, suara petir bergemuruh.
Lian yang melihat itu, segera membuat perisai di sekeliling Putri Ling Xi, karena ia tahu, petir surgawi akan segera muncul.
Sedangkan Putri Ling Xi yang akan menerima petir surgawi, jantungnya berdegup dengan kencang. Ada rasa takut yang belum pernah ia kenal. Namun di balik itu, ada sesuatu yang seolah... menyambut petir itu.
KRAASSHHH!
Petir pertama muncul, menciptakan retakan diantara perisai. Lian pun segera memperkuat kembali perisai itu.
Tak lama kemudian, petir kedua muncul.
KRAAASSSHHH!
Lebih kuat dari petir pertama, tapi membuat sekeliling perisai berhamburan.
Dan petir terakhir, muncul dengan kekuatan besar dan menggelegar.
KKKRRRAAAASSSHHH!
Dentuman keras mengguncang perisai yang diciptakan oleh Lian. Perisai itu bahkan pecah oleh petir ketiga, dan membuat tubuh Putri Ling Xi terpental begitu kuat dan menimbulkan bunyi "BUGH". Selain itu, akibat yang lainnya membuat pohon-pohon disekitarnya langsung tumbang oleh kekuatan petir surgawi.
Sedangkan Putri Ling Xi ia langsung tersadar ketika tubuhnya terpental, dan langsung mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya.
Darah masih terlihat jelas di mulutnya. Wajahnya perlahan kian memucat sebelum akhirnya ia pingsan.
Lian yang melihat itu langsung berlari ke arah Putri Ling Xi dan segera menggendongnya dengan bridal style menuju ke dalam mansion.
Lian menendang pintu mansion dengan cukup kuat hingga membuat pintu terlepas dari engselnya. Namun, Lian menghiraukan hal itu, ia segera membawa tubuh Ling Xi ke dalam kamar utama yang berada di lantai bawah.
Setelah membaringkannya, Lian segera menyalurkan kekuatannya pada tubuh sang putri.
Cahaya hijau perlahan masuk dan mulai menyelimuti tubuhnya.