[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Rasa Kepedulian yang Nyata
Matahari sudah menyengat tepat di atas kepala, namun atmosfer di dalam kediaman Crassia justru membeku kaku. Rena berdiri di depan pintu kamar putrinya, mengetuk lembaran kayu jati itu berkali-kali dengan jemari yang bergetar. Sejak pukul tujuh pagi tadi, Elleta mengunci diri dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Waktu kini sudah merangkak hampir pukul dua belas siang.
"Elleta, buka pintunya, Sayang. Makan sedikit, ya? Ini sudah siang. Papa juga sudah berangkat ke kantor. Mama mohon, buka pintunya... ini Mama," panggil Rena. Suaranya mulai parau, sarat akan kecemasan seorang ibu yang diabaikan.
Tetap hening. Rasa panik yang sejak pagi bersarang di dada Rena kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Dengan napas yang mulai memburu, ia merogoh saku gaunnya, mencari nomor kontak suaminya, lalu menekan tombol panggil.
"Halo, Mas?" suara Rena pecah begitu sambungan terhubung.
"Ada apa lagi, Rena? Aku sedang sibuk di ruang rapat!" sentak Yuda dingin dari seberang telepon.
"Elleta, Mas... dari pagi dia sama sekali tidak mau membuka pintu kamarnya. Belum makan atau minum sedikit pun. Aku takut terjadi sesuatu di dalam," isak Rena, tak lagi mampu membendung air matanya.
"Biarkan saja! Nanti kalau dia lapar, dia juga akan keluar sendiri. Tolong jangan ganggu aku dengan urusan rumah tangga yang sepele seperti ini, Rena!"
Tut. Sambungan telepon diputus sepihak. Rena hanya bisa terpaku, menatap nanar gagang pintu cokelat di hadapannya dengan perasaan campur aduk. "El, kalau kamu nanti lapar, langsung ke dapur, ya. Mama sudah buatkan sayur lodeh kesukaanmu," bisiknya lirih ke arah pintu, sebelum akhirnya melangkah pergi dengan bahu lesu.
Di dalam kamar, Elleta berbaring telentang menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Air mata yang mengalir sejak semalam kini mengering di pipinya, meninggalkan rasa perih dan panas di sekeliling kelopak matanya yang membengkak.
Di atas nakas, ponselnya tidak berhenti bergetar dan berdenting notifikasi dari berbagai media sosial yang terus menghujaninya dengan komentar jahat tanpa ampun.
Ia sempat mencoba menghubungi Daniel, mencari satu-satunya tempat bersandar yang ia miliki saat ini. Namun, panggilannya hanya berakhir pada nada tunggu yang dingin.
Rasa ingin mengadu, kemarahan yang membuncah, hingga rasa sesak di dadanya seolah menyumbat tenggorokan, menjelma menjadi lara yang menyiksa.
Sebuah getaran panjang menandakan pesan masuk. Elleta dengan cepat meraih ponselnya.
Daniel: Maaf banget, El. Aku sedang sibuk sekali hari ini. Ada proyek besar dari klien utama yang harus kuselesaikan secepatnya. Nanti kalau urusanku di sini sudah beres, aku langsung telepon balik, ya.
Elleta menatap layar itu dengan tatapan hampa. Proyek besar. Kalimat itu terasa seperti tamparan pelan yang mengingatkannya betapa jauhnya jarak mereka sekarang.
Di saat dirinya sedang dihujat oleh publik dan dipaksa masuk ke dalam jerat perjodohan, pria yang ia harapkan justru tidak ada di sampingnya.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Steve? Apa melihatku terpojok seperti ini membuat egomu puas?" desis Elleta getir pada kesunyian kamar.
Waktu bergulir cepat, sore yang suram perlahan tenggelam digantikan pekatnya malam. Deru mesin mobil Yuda yang memasuki pelataran rumah seketika membuat tubuh Elleta menegang.
Dadanya bergemuruh hebat saat mendengar langkah kaki berat dan tergesa-gesa menaiki tangga menuju lantai dua. Ia tahu, jam malam telah tiba, dan ia sengaja melewatkan agenda makan malam penting yang diatur Papanya.
Brak! Brak! Brak!
"BUKA PINTUNYA, ELLETA! APA KAMU SUDAH HILANG AKAL DAN LUPA HARI INI HARI APA?! JANGAN MEMANCING EMOSI PAPA UNTUK MENDOBRAK PINTU INI!" suara Yuda menggelegar, mengguncang keheningan koridor.
Rena yang berdiri di belakang suaminya tampak pucat pasrah, tangannya meremas ujung pakaiannya sendiri.
"Mas, sudahlah... jangan dibentak seperti itu. Aku takut dia syok di dalam."
Yuda tidak memedulikan ucapan istrinya. Dengan napas memburu, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, mencari kontak yang sengaja ia beri nama khusus: Steve - Danendra.
"Halo, Steve? Saya benar-benar minta maaf... minta maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan putriku malam ini," ujar Yuda begitu telepon diangkat. Suaranya mendadak melunak, sarat akan nada sungkan dan cemas.
Di seberang sana, Steve terdiam sejenak sebelum membalas dengan nada datar tanpa riak. "Ada apa, Tuan Crassia? Katakan saja langsung."
"Elleta... dia tidak bisa hadir di pertemuan malam ini, Steve. Dia mengunci diri di kamar sejak pagi tanpa makan atau minum sedikit pun. Saya mohon, jangan batalkan komitmen kerja sama kita. Perusahaan saya sedang sangat membutuhkan sokongan dari Danendra Group. Saya janji akan menjadwalkan ulang pertemuan ini secepat mungkin."
"Saya akan ke rumah anda sekarang juga," potong Steve pendek, suaranya terdengar mutlak. "Biar saya yang mengurus Elleta."
"Terima kasih, Steve. Saya benar-benar berutang budi padamu."
Hampir satu jam kemudian, deru mobil mewah milik Steve terdengar membelah kesunyian halaman depan kediaman Crassia. Rena sedikit bernapas lega entah mengapa kehadiran pria itu memercikkan rasa aman di hatinya.
Begitu sampai di depan kamar Elleta, Steve langsung menggenggam kenop pintu dan mencobanya. Terkunci rapat dari dalam.
Steve melepaskan tangannya, lalu berbalik menatap Yuda dengan tenang. "Apakah ada akses alternatif yang terhubung langsung ke kamar ini?"
Yuda mengangguk beralih memandu Steve menuju kamar tamu yang terletak tepat di sebelah kamar Elleta. Kamar itu kosong dan jarang ditempati. Steve berjalan mendekati jendela besar, menyingkap gorden putih, lalu menatap keluar ke arah balkon luar yang ternyata saling terhubung tanpa sekat masif.
"Apakah pintu balkon kamarnya biasanya dikunci?" tanya Steve, menilik jarak antar balkon.
"Saya kurang yakin, Steve. Biasanya Elleta jarang menguncinya jika cuaca sedang gerah," jawab Yuda cepat.
"Kalau begitu, Tuan dan Nyonya bisa tunggu di lantai bawah saja. Biarkan saya yang membawanya keluar," pinta Steve dengan nada sopan namun tidak menerima bantahan.
Ia hanya ingin menghadapi Elleta secara privat, tanpa perlu membuat kedua orang tuanya menyaksikan keliaran lidah gadis itu saat sedang meradang.
"Baiklah, kami titip Elleta, ya. Nak Steve," ucap Rena dengan tatapan penuh harap sebelum akhirnya menuntun suaminya untuk turun ke lantai dasar.
Setelah memastikan kedua orang tua Elleta menjauh dari koridor, Steve melangkah lebar melewati pembatas balkon. Sesuai dugaannya, pintu geser berbahan kaca tebal milik Elleta tidak terkunci sepenuhnya. Dengan satu sentakan tenang, Steve menggeser pintu itu dan melangkah masuk ke dalam area privat sang gadis.
Tak!
Suara gesekan pintu kaca itu seketika membuat Elleta tersentak dari ranjangnya. Ia langsung menegakkan tubuh, menatap tidak percaya pada sosok pria yang kini berdiri tegap di tengah kamarnya. Kondisi Elleta tampak kacau, wajahnya pucat, bibirnya kering pecah-pecah, dan sepasang matanya yang indah kini membengkak kemerahan.
"Kamu gila, ya, Steve?! Ini namanya pelanggaran privasi! Aku bisa melaporkanmu ke polisi karena masuk tanpa izin pemiliknya!" serang Elleta, berusaha meninggikan suaranya meski terdengar parau dan kehilangan tenaga.
Steve tidak terusik sedikit pun oleh ancaman itu. Ia melangkah mendekat, lalu dengan santai mendudukkan diri di tepi ranjang king-size milik Elleta. Jarak yang terkikis itu membuat aroma maskulin khas sandalwood dan sentuhan citrus dari tubuh Steve mendadak mendominasi udara kamar, menggusur keheningan yang suram.
"Aku enggak butuh izin dari pemiliknya jika kedua orang tuamu sendiri yang menyerahkan aksesnya padaku," jawab Steve tenang, matanya menelusuri wajah berantakan di hadapannya.
Elleta langsung memalingkan muka, menarik rambut panjangnya ke depan untuk menyembunyikan penampilannya yang kacau. Ia tahu betul saat ini dirinya terlihat sangat menyedihkan di depan pria yang selalu tampil sempurna ini. "Pergi dari kamarku, Steve. Aku sedang enggak ingin melihat wajahmu."
Bukannya pergi, Steve justru mengulurkan tangan, meraih dagu Elleta dengan sentuhan jari yang tegas namun tidak menyakiti, memaksa gadis itu untuk kembali menatap lurus ke arahnya. "Apa kamu begitu membenciku sampai memilih menyiksa dirimu sendiri seperti ini, Elleta?"
Elleta menepis tangan Steve dengan sentakan kasar. "Aku enggak butuh belas kasihan atau ceramah dari bajingan sepertimu!"
Mata Steve beralih pada ponsel Elleta yang tergeletak di atas selimut. Layarnya terus menyala, menampilkan rentetan pesan masuk dan komentar kasar dari warganet yang tak berwujud.
Steve mengambil benda pipih itu, membaca beberapa pesan acak, dan seketika itu juga rahangnya mengeras. Ada kilat kemarahan yang dingin di matanya, sebuah reaksi protektif yang asing, yang bahkan tidak ia mengerti mengapa harus muncul untuk gadis keras kepala ini.
"Dengar, Elleta," suara Steve kembali ke nada baritonnya yang tenang namun sarat akan otoritas. "Aku akan membereskan semua sampah dan kekacauan di media sosial itu dalam sekejap. Tapi aku minta satu hal darimu, beranjak dari kasur ini, makan makananmu, mandi, dan kompres matamu yang bengkak itu. Kamu enggak akan bisa memenangkan peperangan apa pun di luar sana jika kondisimu berantakan seperti ini."
Steve meletakkan kembali ponsel itu, lalu bangkit berdiri dari tepi ranjang. Ia menatap Elleta sejenak dari ketinggian badannya sebelum melangkah menuju pintu keluar.
"Apa seluruh penjuru negeri harus tahu kalau putri tunggal keluarga Crassia yang kemarin begitu tangguh, ternyata aslinya hanya gadis cengeng yang bersembunyi di balik selimut?" sindir Steve, sengaja memantik ego Elleta.
Elleta mendongak cepat, menatap punggung tegap Steve dengan kilat amarah yang kembali menyala. "Aku bilang, aku enggak butuh bantuanmu!"
Steve menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa berbalik sepenuhnya. "Jika ini adalah batas akhir dari keberanian yang kamu banggakan kemarin, maka jangan heran jika dunia akan terus menginjakmu. Menangis dan melarikan diri hanya akan membuat orang-orang rendahan itu merasa menang. Pilihan ada di tanganmu, Elleta."
Setelah melontarkan kalimat menohok itu, Steve melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat, meninggalkan Elleta dalam keheningan yang kini terasa berbeda.
Kata-kata pria itu, meski terdengar dingin dan menyebalkan, perlahan-lahan mulai merayap ke dalam benak Elleta, membakar kembali sisa-sisa harga diri dan keberanian yang sempat padam di dasar hatinya.