Semua orang pasti memiliki Cinta Pertama..
Kapan waktunya kita tak dapat menentukannya..
Seperti yang dialami Intan , gadis remaja yang kini baru merasakan cinta pertamanya di sekolah menengah pertama..
Bagas kakak kelas Intan, sosok yang selalu membuat jantung Intan berdebar lebih cepat dari biasanya..
Dari sinilah perjalanan cinta Intan di mulai..
Bagaimana kah, kelanjutan kisah cinta pertamanya? akan kah terbalas? ataukah sebaliknya??..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri
"Pagi" sapa Intan ceria pada Ifa, saat mereka bertemu di koridor sekolah pagi itu.
"Hai, Pagi juga" balas Ifa sambil tersenyum ke arah Intan.
"Sekarang datengnya lebih pagi lagi ya?" ucap Ifa menggoda.
"Iya lah, aku uda bebas dari anak itu" jawab Intan sumringah.
Sudah sebulan semenjak kedatangan ayahnya ke sekolah untuk menyelesaikan masalah Bara. Benar saja ayahnya tak membiarkan Bara lolos begitu saja.
Waku itu sang ayah langsung menemui kepala sekolah dan menceritakan kejadian yang menimpa Intan, langsung saja kepala sekolah memanggil orang tua Bara dan Bara.
Setelah proses perundingan akhirnya, Bara waktu itu diskors seminggu. Lalu semenjak saat itu Bara tak pernah menganggunya lagi.
Kehidupan Intan pun berjalan normal kembali.
(Sengaja gak aku jelaskan prosesnya ya kak. Aku sendiri juga takut gimana tegangnya waktu ayah Intan ke sekolah. Hehehe)
"Kamu uda siap belum nih buat ulangan minggu depan?" tanya Ifa ketika mereka telah sampai di kelas.
"Aku rasa sudah. Aku selalu mengulang pelajaran sesampaianya dirumah" ucap Intan mengingat-ingat.
"Hmm, aku kayaknya belom deh. Belajar waktu ada PR doang mah aku" kata Ifa nyengir.
"Mau belajar bareng kah? Mungkin aku bisa bantu?" tawar Intan ramah.
"Wah, boleh dong!! Kalau aku nginep di rumah kamu boleh gak? Mulai hari ini, ntar aku pulang minggu malam, gimana?" tanya Ifa memohon.
"Boleh ... tapi gak gratis dong" jawan Intan sambil tersenyum manis.
"Ih, apa'an sih masak sama temen sendiri perhitungan banget" jawab Ifa cemberut.
"Mana ada yang gratis dong di dunia ini" sindir Intan, sambil tertawa melihat wajah Ifa yang ditekuk.
"Yauda iya, kamu mau apa? Coklat tiap hari?" Ucap Ifa pasrah, ia menebak pasti Intan minta coklat.
"Wah-Wah ... Pinter banget sih kamu, sepakat ya!! Sama ice cream coklat sepulang sekolah dong" kata Intan antusias dengan sedikit menawar ke Ifa.
"Wah, Di kasih hati minta jantung nih anak! Tekor aku Tan" gerutu Ifa sambil mulai mengeluarkan buku pelajarannya pagi itu.
"Ahahahaha. Dapet pahala kamu nanti kalau buat aku bahagia, Hehehe" ucap Intan tertawa ia merasa mendapatkan harta karun.
Melihat Intan begitu bahagia akan mendapatkan coklat kesukaannya, membuat Ifa geleng-geleng kepala. Ia tahu bahwa temannya itu suka sekali dengan coklat dan seperti gak ada bosen-bosennya.
-----------------
Teeettttt ... Teeettttt
Bel pulang berbunyi, semua murid segera berhambur keluar. Seperti biasa Intan dan Ifa keluar paling akhir. Intan memegang kartu ulangannya yang tertera nomor tempat duduknya.
"Ihh, Kok pakek duduk sama kakak kelas sih. Aku gak kebayang deh, gimana nanti kalau kakak kelas yang duduk sama aku itu orangnya gak bener. Salah Amir duduk didepan aku lagi" gerutu Intan sambil melihat kartu ulangannya. Mendengar getutuan Intan, Ifa pun mengangguk setuju.
"Iya, aku juga gak tau kakak kelas yang duduk sama aku nih orangnya gimana. Kenapa juga harus pakek model duduk begini, entar aku susah dong tanya ke kamu Tan" ucap Ifa jengkel.
"Kamu mah, yang lebih kamu khawatirin bukannya kakak kelasnya, tapi karna gak duduk bareng aku kan?!" sindir Intan, sambil menatap Ifa tajam.
"Hehe, Kamu tau aja. Kamu kan yang paling penting dari segalanya" ucap Ifa sambil nyengir dan memeluk lengan Intan.
"Ihh, Lepasin! Risih tau gak?!" gerutu Intan sambil berusaha menyingkirkan pelukan Ifa.
"Gitu amat sama teman sendiri" ucap Ifa sambil mencebikkan bibirnya.
"Entah aku juga gak tau ya, gimana bisa aku punya temen modelan kamu Fa" ucap Intan mengingat-ingat pertemuannya dengan Ifa.
"Tapi kamu sayang sama aku kan? Seneng kalo temenen sama aku kan? Kamu aja sekarang uda berani cerewet kayak gini, gak kayak awal waktu kita kenal dulu" tanya Ifa menggoda sambil menyindir temannya itu.
"Mungkin" tanya Intan sambil menahan senyum. Ia sama sekali tak mengelak kalau ia suka berteman dengan Ifa. Sisi asli dirinya seperti ketika di rumah, bisa keluar jika bersama Ifa. Ia memang tergolong pendiam pada orang yang baru dikenal, tapi kalau sudah cocok dan akrab, dia bisa berubah cerewet, konyol dan pemberani dalam waktu bersamaan.
Melihat respon Intan, Ifapun tersenyum. Ia tahu, bahwa Intan sudah senyaman dan seterbuka itu. Terbukti dari obrolan-obrolan mereka yang sudah saling olok. Gak jaim-jaiman lagi. Ifa pun berdiri dan menarik tangan Intan untuk keluar kelas.
"Ih, pelan-pelan dong" kata Intan, ketika tangannya ditarik oleh Ifa.
"Sebelum pulang, cari kelas kita buat ulangan minggu depan yuk, kan besok uda libur. Seenggaknya kita bisa tahu yang duduk sama kita itu cewek atau cowok" ucap Ifa dan disetujui oleh Intan.
Mereka menyusuri kelas satu persatu, sampai mereka berhenti di kelas yang menghadap ke arah lapangan. Mereka menemukan kelas mereka dengan menyocokkan nomor di kartu ulangan mereka. Tapi, sangat disayangkan, tidak ada nama disana, hanya nomor ujian aja.
"Yaahh, Rese!! Gak ada namanya, gini kita masak bisa tahu besok duduk sama cewek atau cowok" gerutu Intan. Ia masih malas membayangkan jika ia harus duduk dengan kakak kelas yang gak bener. Intan menghembuskan nafasnya kasar sambil menghentakkan kakinya keras.
"Ya udalah, mau gimana lagi. Biarkan aja jadi misteri untuk minggu depan" ucap Ifa menenangkan Intan. Ia, tahu kekhawatiran yang dirasakan Intan, tapi mau gimana lagi, mereka gak bisa ngelakuin apa-apa.
"Yauda yuk pulang. Aku pulang dulu ambil baju-baju nanti aku diantar ibu aku ke rumah kamu ya Tan" ajak Ifa, yang melihat Intan masih menggerutu dengan sistem duduk untuk ulangan besok.
"Iya, terserah kamu. Pokoknya jangan lupa aja sama bayaranku" ucap Intan sambil tersenyum, seakan ia melupakan bahwa beberapa detik lalu ia sedang kesal.
-----------------
Hari ulangan pun tiba, hari itu Intan datang lebih pagi dari biasanya, ia juga memutuskan naik bus karna terlalu pagi. Ia ingin sampai sekolah lebih awal dan melihat siapa yang duduk dengannya.
Rasa penasaran 2 hari terakhir masih membuat Intan kepikiran. Ia masih takut kalau-kalau dirinya bener-bener duduk dengan kakak kelas yang gak bener.
Sekolah pagi itu masih sepi, bahkan belum terlihat murid lain yang datang. Intan nyengir sendiri, rencana datang paginya sepertinya terlalu pagi juga.
Ia berjalan masuk ke sekolahnya. Untung saja sekolahnya ini tergolong asri dan rindang, jadi suasana pagi itu sangat terasa nyaman bagi Intan.
Bahkan ia masih melihat kabut dilapangan. Hawa dingin dari semilir angin yang berhembus perlahan membuat Intan memeluk dirinya sendiri.
Saat ia sampai didepan kelasnya, ia memutuskan untuk duduk dibangku panjang di depan kelas. Memandang lapangan sekolah dan gedung-gedung kelas berlantai dua yang mengelilinginya.
Pohon-pohon menjulang tinggi dan rindang, bahkan Intan bisa mendengar suara-suara burung yang mulai meninggalkan sarang.
"Pagi banget?" ucap seseorang yang berdiri tak jauh dari Intan. Mendegar suara itu Intanpun reflek menoleh dan ia terbelalak kaget.
.
.
.
Bersambung...
harusnya tokohnya sudah SMA minimal kelas 9 lah
sukaaa ceritanyaaa thorrr 😍
tinggalin jejak juga yaaa di novelku ASIYAH AKHIR ZAMAN 😊
mari qt slg dukung. like balik novel q
the thunder's love
mari saling mendukung terimakasih
Kutunggu kedatangan kalian.
Terima kasih.