Bertahun-tahun Ivy membenci kakaknya, Adam. Adam sempurna dalam segala hal, kedua orang tuanya mencurahkan perhatian lebih besar padanya, segala yang yang diungkapkan Adam dianggap serius oleh orang-orang sekitarnya, Adam begitu populer, dan semua suka padanya.
Kecuali Ivy.
Entah sejak kapan ia merasa kalau Adam adalah saingannya dalam segala kehidupan.
Sampai Ivy tahu kalau semua hal yang dilakukan Adam sebenarnya adalah untuk kebaikan Ivy.
Juga sebuah rahasia yang selama ini disimpan Adam rapat-rapat, membuat pandangan Ivy ke Kakak angkatnya itu berubah seratus delapan puluh derajat.
Ivy yang tadinya sangat benci kepada Adam, menjadi bersemangat...
Bersemangat untuk menggoda cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Friend Or Foe
“Ngapain lo di sini? Emang lo suka makan di sini? Waaah, kemajuan niiih!” seru Maudy keras-keras, bagaikan mengejek kalau ini tempat yang mewah ini tidak sesuai dengan Ivy. “Biasanya kan lo makannya di pinggir got! Atau snack-snack dari minimarket muraaaah, hahahah!”
“Dia kemarin makan apa tuk blak-blak? Sama mol-mol apa tuh yang beli di abang-abang?” Kernyit yang lain.
“Itu kan nggak higienis iiih, keracunan tau rasa loh! Kasian tuh ginjal lo!” seru Maudy.
Ivy membalik badan ke belakang sambil menatap teman-temannya, “Bestie, seblak dan cimol yang suka gue makan itu lagi viral di tiktok. Sekarang lo ngomong gini, tapi sekalinya lo nyoba bakalan ketagihan,”
“Halah! Spik aje lu!” Maudy mengibaskan tangannya tak ingin mendengarkan kata-kata Ivy.
Maudy melepaskan rangkulan Adny dan dengan lancangnya ia duduk di sebelah Adam dan memeluk lengan cowok itu.
“Dam, kita ngada-in party di ruangan ujung, ikutan yuk? Kan kamu udah lama nggak gabung, Andy juga ikutan tuh Dam! Dijamin seru!”
Salah satu teman Maudy juga mencondongkan tubuhnya ke arah Adam, “Atau kamu maunya gimana Dam? Nanti kita pesenin wine sama kamu mau cocktail juga ayo, Party sampai besok juga oke kita sih!”
Adam hanya tersenyum sinis sambil melepaskan rangkulan Maudy.
“Mbak-mbak ini siapa ya?” tanya Cassandra sambil mencondongkan tubuhnya memperlihatkan belahan dadanya dan menatap semua teman-teman Ivy dengan pandangan mata berkilat karena kesal.
“Kita temennya Ivy, kamu siapa? Kuliah dimana? Eh aku calon pacarnya Adam deng, hahahaha!” Maudy mencoba bercanda.
“Wuuu enak aje, gue juga mau kalo yang itu!” seru yang lain.
“Mbaknya memang biasa seperti ini ya? Penyusup di acara makan keluarga? Kok KAMPUNGAN dan NORAK sekali yaaa,” seru Cassandra keras-keras agar semua orang di restoran itu mendengar. Itu restoran elit, mewah, dan rata-rata yang datang ke sana adalah kalngan atas. Jadi kalau ada yang berteriak semacam Cassandra sudah pasti akan jadi perhatian yang merasa terganggu.
“Ini tuh bukan warung makan pinggir jalan ya Mbaaaaak!! Yang bisa situ selak antriannyaaaa!! Kami ini sedang acara makan keluarga, INTERNAL! NGERTI NGGAK KATA ITU YAAA. Orang luar semacam kalian tidak boleh main duduk aja di bangku yang udah di booking orang lain!! Pake CHANEL KW AJA SOK-SOKAN PINGIN PARTY SEMALEMAN, PALINGAN PAKE KARTU BOKAP LO!” serang Cassandra dengan gaya menantang.
Semua langsung diam ternganga.
Ternyata mulut Cassandra lumayan pedas. Pantas saja dia tak gentar saat Adam menghindarinya.
Papa Ivy langsung terbahak, “Saya juga nggak akan merestui kalau ANAK SAYA, si ADAM sampai jadi pacar cewek nggak punya adab,” ketusnya tak kalah pedas.
“Iiiih, Bebeeeee, aku IBUNYA ADAM juga bakalan siram tu cewek pake air got kalau sampai lewat pintu rumah kitaaaa,” kata Cassandra. “DURHAKA ya kamu Adam, kalau sampai jadian sama salah satu dari yang ada di belakang ituuuh!”
“Ya Ampun! Itu bapak ibunya Adam!” Teman-teman Ivy di belakang kasak-kusuk.
“Ibunya masih muda banget ya!” desis yang lain.
“M4mpus si Maudy, ditandain tampangnya,” balas yang lain.
“Udah diwakilin aku nggak perlu berkata-kata, SIP!” ringis Adam senang sambil menyeruput minumannya.
Ivy sampai meringkuk di bangkunya karena malu.
Akibat hal ini, mungkin besok ia akan dijauhi teman-temannya.
Tapi herannya, kenapa saat ini hal itu seakan bukan masalah baginya? Padahal dulu dia takut sekali kalau sendirian, takut kalau berjalan di kampus dan semua menghindarinya.
Saat ini ia merasa mungkin memang lebih baik sendirian. Toh bukan teman-temannya yang membiayai kuliahnya, kenapa ia harus takut ditinggalkan?
Akhirnya, semua ‘teman-teman Ivy’ lari dari sana, salah satunya sempat menarik lengan Maudy yang masih shock dikata-katai sampai terpaku di tempatnya.
Dan setelah itu hening...
“Ivy, Shay...” Cassandra mengibaskan rambutnya ke belakang, “Kamu kuliah di mana sih? Kok banyak orang udik? Apa memang mahasiswa tingkahnya sekacau itu?! Wait, aku dulu Kejar Paket C buat ijazah SMA dan sempat tugas kelompok, teman-temanku nggak ada tuh yang tingkahnya begitu!”
“Iya, Tante... teman-temanku memang agak beda,” ucap Ivy, “Aku kayaknya tulang rusuknya bolong, jadi astral suka ngelilingin aku, hehehehe,” ringisnya
“Haaaahahahaha! Bisa aja kamu!!” lontar Cassandra sambiil gebrak meja.
“Tapi kamu hebat juga ya,” kata Adam ke arah Cassandra, “Masih mementingkan sekolah, sempat-sempatnya ambil Paket C,”
“Sekolah itu penting, karena dalam satu tempat banyak orang seusia berinteraksi untuk satu tujuan. Jadi banyak pelajaran berharga mengenai interaksi antar manusia. Seperti Si Ivy ini, jadi tahu bedanya mana teman mana Lawan. Friend Or Foe,” tegas Cassandra.
“Ngerti kan sekarang kenapa Papa milih Cassandra? Padahal banyak cewek seksi di Madrid, akhirnya nyantolnya ke Cewek Indonesia juga...” seloroh Papa.
“Mi Amooor,” Cassandra mencubit pipi Papa.
Adam membuang muka sambil mengernyit jijik.
“Ih kalian romantis deeeh,” kekeh Ivy.
“Halah...’ cela Adam. Tapi cowok itu mengakui kalau Cassandra memang wanita pintar yang berkelas. Bukan hanya sekedar Baby manja yang mengharapkan uang.
Tapi kemudian dia mengerutkan keningnya.
Dan menatap lorong di seberang sana, tempat Maudy dan Teman-teman Ivy berada. Ada Andy juga di sana. Mau apa dia?
Tapi bukan itu yang utama di pikiran Adam.
Perlakuan Maudy ke Ivy. Itu yang ada di pikirannya.
“Eh, tadi yang ngaku-ngaku jadi IBUKU, tanggung jawab loh!” seru Adam kemudian.
“Itu kan cuma untuk kamuflase biar mereka diam,”
“Nggak bisa, ucapan itu Doa,” kata Adam menggoda Cassandra. Wanita itu sampai salah tingkah dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Kakak kompor ih,” desis Ivy sambil menyenggol-nyenggol paha Adam.
“Biarin, daripada z1na melulu, mendingan nikah kan?” sindir Adam, diiringi dengan tatapan sinis Papa dan Cassandra.
**
Setelah makan malam, Adam dan Ivy berdiri berdampingan sambil menatap ke arah mobil Papa mereka yang menjauh dari halaman rumah.
“Aku benar-benar ingin Mama Papa bahagia,” lirih Adam.
“Hum, aku juga,”
“Tapi hal ini terasa ada yang salah, Vy. Walau pun ya kuakui Cassandra cewek baik,”
“Mama apa kabarnya ya kak? Apakah ia juga sering tertawa seperti Papa?” resah Ivy.
“Aku juga mau tahu yang itu,” ujar Adam sambil menghela nafas panjang dan menatap bintang di atas kepalanya. Langit malam tanpa awan dan cerah.
Tapi hatinya mendung.
“Masuk yuk, banyak nyamuk dari selokan, aku belom bersihin got nggak sempat soalnya,”
“Kakak minggu lalu udah nyerokin got seharian, memang mau dijadiin kayak apa sih kak? Mau ada penyaringnya biar bisa ditinggali ikan, gitu?!”
“Eh bagus juga idenya, boleh lah kanan kiri dikasih penyaring dobel terus taro ikan di got, hehe,”
“Jangan aneh-aneh deh, nanti Pak RT kerepotan lagi!” Ivy masuk ke rumah sambil ngomel-ngomel.