Semua menginginkan kisah cinta yang sangat manis dan mulus termasuk aku. Menjadi anak konglomerat dan dikelilingi orang-orang yang selalu menyayangiku tak cukup membuatku bahagia karena aku hanyalah wanita yang ingin merasakan cinta. Menyakitimu bukanlah keinginanku namun takdir lah yang mempermainkan kita.
Masuk kedalam sebuah hubungan rumit yang membuat banyak hati terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratnadewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri aku waktu
Hari ini, semua di kumpulkan untuk menyelesaikan masalah yang tengah menimpa keluarga mereka.
Disana, di sebuah ruang keluarga mansion Wijayanto sudah ada Aldi, Aletta, Arga, Bella, Olivia, kedua orang tua Arga, kedua orang tua Olivia dan juga kedua orang tua Aletta. Bahkan opa Ferry dan Oma buyut Kartika juga ikut berada disana.
Aletta hanya memeluk mama Dita sambil menangis sementara Aldi terus menatap adik kesayangannya yang tengah menangis itu dengan tatapan hancur.
"Dengan mengumpulkan kalian semua disini. Aku hanya ingin kalian menjadi saksi sekaligus memberikan pendapat bagaimana baiknya masalah ini diselesaikan" ucap papa Leo.
"Apa yang mau kamu jelaskan kepada kami Al??" tanya papa Leo masih dengan wajah dingin namun ia berusaha untuk tidak emosi dan mendengarkan kejadian yang sebenarnya.
"Pa, ma, Eca, dan semua yang ada disini. Sungguh aku tak ada maksud untuk melecehkan adikku sendiri. Aku juga tak tau mengapa aku bisa salah masuk kamar Aletta.
Malam itu aku sedang minum bersama teman-temanku, kalian tahu sendiri bahwa aku bukanlah pria yang suka minum namun aku berusaha menghargai teman-temanku dengan menuruti keinginan mereka. Kondisinya saat itu aku juga tengah kesal dengan salah satu teman ku yang mengatakan hal tak pantas. Aku yang kesal memukulnya dan berakhir ikut minum bersama teman-temanku. Mungkin aku juga yang sedang diliputi emosi malah minum terlalu banyak hingga botol terakhir itu, aku merasakan sesuatu yang tidak beres padaku. Tiba-tiba tubuhku terasa sangat panas dan gerah. Seperti sesuatu yang aneh dan aku sangat yakin ada yang mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku. Kemudian aku mendengar sebuah bisikan jika aku harus melepaskannya. Kebetulan Bella sedang berada di kamarku untuk beristirahat. Aku yang sudah tak bisa menahan gejolak itu pun langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamar yang kukira adalah kamarku namun ternyata aku salah. Ternyata kamar itu milik Aletta. Sungguh, saat itu aku melihat Bella bukan Aletta namun ternyata salah. Aku malah melukai adikku sendiri." jelas Aldi.
Aletta yang mendengar semakin menangis mengingat bagaimana perlakuan Aldi terhadapnya. Sudah ia duga jika ada yang tidak beres pada kakaknya waktu itu. Namun luka tetaplah luka. Aldi sudah melukai hati dan fisiknya.
"Kau ingat siapa yang membisikkan sesuatu padamu?? Kemungkinan dia yang sudah mencampurkan sesuatu di minumanmu" tanya Ayah Leon.
"Aku tak bisa mengingatnya ayah, saat itu aku benar-benar tengah mabuk berat. Dan aku juga tak tahu mengapa aku menurut saja disuruh untuk menyusul Bella di kamarku" jawab Aldi.
"Aletta, sekarang giliran papa yang bertanya padamu. Apa Aldi sudah berbuat jauh padamu??" tanya papa Leo.
Meski ia melihat jika waktu itu Aldi belum bertubuh polos juga namun ia hanya ingin memastikan karena takut terjadi sesuatu pada Aletta sebelum ia sampai disana.
Aletta hanya bisa menangis sambil memeluk mama Dita.
"Tak apa sayang, katakanlah yang sebenarnya. " bujuk mama Dita.
Aletta pun menarik nafas dalam-dalam meski terasa berat dan mengeluarkannya.
"Waktu itu, aku yang sudah lelah memutuskan untuk beristirahat di kamar. Aku saat itu tengah ingin melepas bajuku namun tiba-tiba dia datang dengan wajah yang sudah memerah. Dia,,," Aletta tak kuasa mengatakan tragedi mengerikan itu.
"Tak apa sayang, ceritakanlah kepada kami apa yang terjadi" ucap mama Dita.
Aletta melirik ke arah Arga dan Arga pun mengangguk pelan.
"Dia mendorongku dan berbuat hal yang tak pantas dilakukan oleh kakak kepada adiknya. Aku sdah berusaha melawan namun apalah dayaku yang hanya seorang wanita. Aku sudah mencoba menjelaskan jika aku adalah Aletta bukan kak Bella saat dia terus saja meracau memanggil nama kak Bella" ucap Aletta meski dengan terbata-bata.
"Dia sudah berbuat lebih padamu??" tanya opa Ferry.
"Tidak, dia memang belum melakukan hal lebih padaku. Tapi aku membencinya" tangis Aletta.
Deg,, seolah ada anak panah yang menancap di dada Aldi saat mendengar jika Aletta membencinya.
"Ca, aku tidak sengaja melakukan itu" jawab Aldi.
"Sudah jelas bukan, aku akan menikahkan mereka berdua sekarang juga!!" ucap papa Leo.
"Apa menikah??" semua orang disana terkejut mendengarnya.
"Om, Tante, bagaimana mungkin om mau menikahkan tunangan ku dengan adik kandungnya sendiri. Itu tidak akan sah di mata agama" protes Bella.
"Benar om, bagaimana mungkin Aldi harus menikahi Aletta" sahut Arga.
"Aldi bukanlah anak kandungku. Dia aku adopsi dari panti asuhan sewaktu istriku belum bisa hamil" jawab papa Leo singkat.
"Bee!!!" teriak mama Dita.
Semua yang ada disana hanya diam karena memang sudah mengetahuinya kecuali Aletta, Olivia, Arga, dan Bella.
"Apa maksud papa??" tanya Aletta bingung.
"Maaf Aletta, kamu harus tau kenyataannya" ucap papa Leo.
"Kau tidak seharusnya membicarakan ini bee. Kita bisa membicarakan ini baik-baik!" ucap mama Dita.
"Ya, lagipula aku sudah bertunangan dengan Aldi sementara Aletta juga sudah memiliki kekasih" ucap Bella.
"Hanya tunangan dan kekasih bukan?? Kalian belum menikah bukan??" tanya papa Leo yang kali ini menatap tajam ke arah Bella.
Bella yang ditatap hanya bisa menunduk sat melihat tatapan mengerikan dari calon mertuanya itu.
"Pa, ini tidak adil untuk mereka" protes mama Dita.
"Ini yang terbaik sayang"
"Tapi bagaimana dengan Arga dan Bella?? Apa kau tidak memikirkan perasaan mereka?" kali ini mama Reni yang berbicara.
"Aldi sudah melihat tubuh polos Aletta dan dia harus bertanggung jawab dengan perbuatan yang sudah ia lakukan itu." tegas papa Leo.
"Kau benar, Aldi harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia perbuat" sahut Oma buyut Kartika.
"Oma" lirih Aletta.
Ia melirik ke arah Arga yang hanya diam sambil meneteskan air matanya.
Sementara Arga sedang memikirkan cara agar bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus kehilangan Aletta.
"Om, saya mohon jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Om seharusnya menanyakannya kepada Aletta dan Aldi dahulu" ucap Arga.
"Kau setuju kan Al??" tanya papa Leo dengan tatapan menusuk.
Aldi bingung harus menjawab apa, ia sangat mencintai Bella dan tak mungkin meninggalkannya begitu saja namun di satu sisi ia harus bertanggung jawab terhadap Aletta. Papa Leo benar, sebagai seorang pria ia harus siap menerima resikonya.
Ia pun mengangguk dan diiringi tatapan tidak suka dari Bella dan Arga.
"Ya, aku akan bertanggung jawab pada Aletta" jawab Aldi mantap.
"Bagus, bagaimana denganmu Ca??" tanya papa Leo kali ini kepada Aletta.
"Aku,," ia melirik ke arah Arga yang menggelengkan kepalanya.
"Beri aku waktu sebentar saja" jawab Aletta yang langsung ditatap tajam oleh Bella.
"Baiklah, aku akan memberikan kamu waktu tiga hari dimulai dari sekarang. Dan ingat, selama Aletta berfikir, papa mau Aldi sementara jangan tinggal dirumah ini sampai Aletta sudah sedikit lega dan melupakan kejadian itu meski sedikit sulit." jawab papa Leo kemudian pergi dari sana dan diikuti yang lainnya hingga menyisakan Aldi, Bella, Arga, dan Aletta saja.
Arga pun menarik tangan Aletta untuk membawanya pergi dari sana.
"Sayang, mengapa kau menyetujuinya??" protes Bella saat Aletta dan Arga sudah pergi.
"Aku tidak ada maksud melukaimu sayang, setidaknya masih ada waktu tiga hari untuk Eca berfikir. Aku sebagai pria hanya ingin bertanggung jawab saja. Tapi percayalah, cintaku hanya untukmu" ucap Aldi mengusap air mata Bella yang sudah membasahi wajahnya.
aku jadi ikut baper dan haluuu thoor