Halo semua. Saya penulis pemula.
Mohon dilike dan diberi masukan, supaya saya semangat menulis.
Saya tidak pernah pacaran, saya tidak tahu apa itu jatuh cinta. Yang jelas saya tahu, sekarang kamu istri saya. Itu berarti saya bertanggung jawab menjaga dan melindungi kamu.
- Gerald Alexandro Bramasta
Kamu ganteng tapi kamu begitu dingin. Aku tidak akan menaruh cinta di atas pernikahan ini.
- Gita Ayu Berlian
Cerita ini mengisahkan sepasang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di universitas yang sama.
Mereka dinikahkan oleh nenek kandung Gerald yang sudah dianggap nenek sendiri oleh Gita. Nenek baik, begitu Gita menyebutnya. Nenek yang memberi namanya.
Akankah Gita bertahan dengan kesalahpahahamannya di awal pernikahan ini? Atau apakah nanti justru dia yang terlebih dahulu mencintai Gerald?
Selamat menikmati!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gelora Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Bersama Istri Saya.
" Apa kamu bahagia, nak? ", tanya bu Siti pada Gita yang sedang berbaring di kaki mertuanya itu. Iya, dia lebih memilih tidur dengannya malam ini. Bu Siti tak bisa menolak permintaan menantunya. Dia juga ingin mengobrol berdua, selain itu dia juga mengerti perasaan Gita yang masih canggung. Gita menggangguk pelan seraya melihat wajah bunda. Jauh dalam lubuk hatinya dia ingin sekali berteriak kenapa harus dia dan kenapa harus begini.
Bunda Siti sangat memahami Gita, dia selalu saja memeluk dan menenangkannya. Dia mulai bercerita, tak banyak yang dia katakan tentang Gerald, dia mau mereka saling mengenal satu sama lain secara langsung. Yang dia bahas hanya tentang pernikahan, tentang bagaimana seorang perempuan yang harus menjaga keharmonisan rumah tangga. Gita hanya menunjukkan wajah datar, menyimak apa saja yang disampaikan mertuanya.
Wejangan berakhir saat Gita sudah memejamkan mata, terlelap dalam tidurnya. Bu Siti tersenyum memandang wajah cantik anak perempuannya, " Selamat tidur anak bunda, semoga kamu selalu bahagia. Bunda selalu ada untukmu. I love you anakku ", ucapnya seraya mencium kening Gita lalu membenarkan posisi tidurnya.
Matahari menampakkan sinarnya. Pagi ini sepasang pengantin baru itu akan kembali ke Bandung. Gita akan mengikuti magang di Rumah Sakit, Gerald akan melanjutkan latihan bola, persiapan untuk tanding melawan liga mahasiswa di Surabaya. Semua turut serta mengantar mereka ke bandara, tak terkecuali keluarga Gita.
Di bandara Gita selalu saja menangis memeluk papahnya, dia memang sangat dekat dengan cinta pertamanya itu. Pak Herman ikut memeluk Gita. Mereka berdua menjadi sosok bapak yang baik untuk Gita. " Semua akan baik-baik saja sayang, percayalah. Kamu pasti bisa, papah selalu mendoakanmu ", ucap sang papah memegang tangan Gita. Dilanjut dengan Pak Herman yang mengelus rambut menantunya itu. " Ayah pasti selalu di depan untuk menjaga Gita, semangat anak ayah ", Gita tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke tubuh dua pria tua itu.
Gerald sedang asik mengobrol dengan kedua abang Gita, Gerald sangat menghormati abang iparnya itu. Mereka menitipkan Gita padanya, mempercayakannya sebagai sayap pelindung untuk Gita. Gerald hanya mengangguk mengiyakannya. Dering informasi berbunyi, pertanda penumpang sudah bisa memasuki ruang tunggu sebelum nantinya akan naik ke pesawat. Tangis Gita pecah saat semuanya melambaikan tangan, Gerald mendorong koper masuk ke dalam.
Tak ada pembicaraan keduanya sampai waktunya tiba untuk memasuki pesawat. Mereka duduk berdampingan namun kali ini ada seorang anak balita di kursi tengah, memisahkan mereka berdua yang berada di sisi kanan dan kiri anak itu. Orangtuanya datang memasangkan sabuk pengamannya, melempar senyum pada Gita lalu kembali ke tempat duduknya di belakang mereka.
Gita yang sangat menyukai anak-anak dibuat kegirangan dengan kehadiran anak itu. Air matanya mulai surut, wajah cerianya kembali tampak.
Gerald hanya asik melihatnya. Gita mengobrol dan bermain dengan bocah lima tahun itu. " Kalau sudah besar mau jadi apa? ", tanya Gita seraya mencoel hidungnya. " Jadi polisi tante ", jawabnya lantang pada Gita. " Mantap. Siap komandan ! ", puji Gita dengan tangan yang dia angkat menirukan polisi yang sedang menghormat. Anak itu tertawa melihat Gita. " Tante cantik sekali, tante udah punya pacal? ", tanyanya tiba-tiba. Gerald berdehem pelan, Gita melihatnya dengan tatapan tajam.
" Tante gak punya pacar, kenapa ? ", kali ini Gerald berdehem cukup kuat. Gita kembali menatapnya dengan tajam. Anak itu melanjutkan bicaranya. " Omku baik tante, dia belum punya pacal ", seru anak itu dengan polos. Gita tertawa mendengarnya. Kini anak itu menoleh ke kanannya, menanyakan hal yang sama pada Gerald. Gerald menjawab seadanya " Iya punya ". Gita mendengarnya dengan eksperesi sinis, dalam hati dia menggerutu, iya tau kamu punya pacar. Aku cuman istri, istri yang tidak dicintai.
Anak itu bertepuk tangan tiba-tiba. " Yey om ganteng telnyata punya pacal, belalti tante cantik bisa jadi pacal om Elik ", girangnya. Gerald ingin sekali menutup paksa mulut anak itu namun dicegat oleh Gita. " Biarkan dia, tidak seperti itu menunjukkan kalau dia salah ", ucapnya pada Gerald. Dia menoleh ke anak itu " Erik, itu ya namamu? Tante gak punya pacar,tapi udah punya suami. Semoga ommu dapat pacar yang baik ya ", dia memeluk anak itu.
Masih timbul pertanyaan di benak Erik, dia ingin menanyakan apa itu suami namun dia sudah terlelap di pelukan Gita.
Gerald masih kesal memandangi anak itu. Makanan sudah hadir, Gerald tidak mau berbagi puding dengannya bahkan saat Erik sudah merengek memintanya. Gita menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. " Erik, makan punya tante aja ya. Sama kok ", ucapnya memberikan puding itu ke tangannya. Dia tetap merengek menginginkan puding dari Gerald. Gita mengedipkan matanya, alhasil Gerald pasrah memberikannya. Sebenarnya dia tak doyan puding, dia hanya bete pada anak itu.
Selesai menyantap, Erik tetap berceloteh pada keduanya. Gerald sudah semakin malas mendengarkannya. Tiba tiba Erik menggoyang tangan Gerald . " Om ganteng, kenapa om bisa ganteng? Gimana calanya om ". Gerald sangat senang mendengarnya, dia merasa menang dari anak itu. Dengan percaya diri dia menjawab " Om sejak kecil udah ganteng. Gak tau gimana caranya, emang udah begini dari sononya ". Kali ini gantian Gita yang berdehem, Gerald tertawa kegirangan.
Tawanya terhenti saat Erik kembali melemparkan pertanyaan selanjutnya. " Apa pacal om cantik juga? Om kan ganteng ". Gerald melirik Gita, Gita memalingkan wajahnya. " Jelas cantik dong ", balasnya seraya memperhatikan respon Gita. " Oh ya? Lebih cantik mana om? Pacal om atau tante Gita ? "
Gita mengelus pipi Erik, mengisyaratkan untuk menyudahinya. Gerald tidak manjawab apa-apa, Gita mengatainya dalam hati. Pacarmu kok yang lebih cantik, kamu sangat mencintainya bukan, dia melirik Gerald yang sudah asik dengan buku di depannya. Dia salah tingkah.
Perjalanan berakhir, semua penumpang turun dari pesawat. Gita berpelukan dengan Erik, berharap akan ada pertemuannya selanjutnya dengan bocah imut yang menggemaskan itu. " Kami duluan ya tante, semoga tante dapat pacal yang ganteng kayak om ganteng ", ucapnya polos. Gerald tersenyum mendengarnya, tidak dengan Gita yang hanya meresponnya dengan wajah datarnya.
Gita segera memesan ojek online, dia pergi ke luar bandara mencari dimana keberadaan driver yang sudah sampai menurut maps yang dilihatnya. Gerald mengejarnya, " Mau kemana kamu ? ", tanyanya dengan nada tinggi. Gita gemetaran melihatnya. " Maaf, tadi aku niat mau permisi kok tapi tiba-tiba driver ojek online meneleponku ", jawabnya dengan ketakutan.
" Apa? Driver ojek online ? ", kembali dia mengeluarkan suara tinggi. Gita menggangguk.
Gerald merampas ponsel Gita, dia segera menjawab telepon masuk dari driver. " Segeralah pergi, saya akan pulang bersama istri saya, yang ngorder tadi ". Driver itu marah marah namun tak digubris oleh Gerald, dia segera mematikan telepon itu.
Gerald membawanya ke parkiran, disana sudah ada mobil fortuner. Gerald melangkahkan kakinya, masuk ke mobil itu dan diikuti oleh Gita.
Kemanakah mereka?