Siapa sangka, jika pesona dingin seorang dosen mampu memikat hati dua perempuan kakak beradik.
****
Bryan Atmaja, dosen muda yang tampan selalu ketus dan dingin terhadap orang asing. Namun begitu lembut dan penuh kasih terhadap orang-orang yang dia sayangi.
Andin Mulia Pratiwi gadis polos sederhana yang tidak pernah mengenal cinta. Ia dijadikan asdos oleh dosen ganteng bernama Bryan Atmaja, yang pernah mencintai sahabatnya. Andin tidak percaya ketika cinta itu telah berlabuh untuknya.
Dewi Permata Putri, kakak kandung Andin juga jatuh cinta dengan Bryan sejak pandangan pertama. Bagaimana kisah segitiga itu berlangsung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dismenore
Sesaat, Bryan terdiam ketika ia sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Entah itu karena gerakan refleks atau apa, yang pasti Bryan juga terkejut dengan tingkahnya sendiri.
Bryan meletakkan kembali tangan Andin perlahan, dia memilih keluar kamar menunggu kedatangan dokter. Pria itu terus mondar-mandir di ruang tamu.
"Dokter Ryan! Lambat sekali kamu seperti siput!" geram Bryan yang masih tidak bisa tenang.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi bell apartemennya. Bryan berlari menuju pintu dan segera membukanya.
"Hah, akhirnya datang juga. Lamban sekali sih," geram Bryan melebarkan pintu memberikan jalan untuk Dokter Ryan.
Dokter itu direkomendasikan oleh pihak kampus beberapa waktu silam saat dia mengalami drop. Karena penanganan yang bagus dan cekatan, Bryan memintanya sebagai dokter pribadinya juga. Dokter Ryan seumuran dengan Bryan, makanya mereka pun tidak baku dalam bercakap-cakap.
"Siapa sih yang sakit? Heboh bener kayak cacing kepanasan. Padahal 15 menit udah sampe sini," cebik Dokter Ryan melangkah masuk.
Bryan menutup pintu, lalu bergegas menuju kamarnya. Dokter Ryan hanya menggelengkan kepala melihat kepanikan dosen muda itu.
Pintu terbuka, kedua mata Dokter itu langsung terfokus pada gadis dengan mata tertutup di ranjang. Ia nampak pucat sekali. Namun tidak menghilangkan aura kecantikannya.
"Wow, gadis cantik ini yang membuat kamu kalang kabut," sindir Dokter Ryan mengeluarkan alat-alatnya.
"Berisik! Cepat periksa!" seru Bryan melipat kedua lengan dengan tatapan serius.
Dokter Ryan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mulai menyoroti kedua bola mata, kemudian tangannya mulai menempelkan stetoskop pada bagian tubuh Andin.
Bryan menepuk pundak Dokter Ryan, "Tadi dia mengeluh sakit perut," adunya diangguki oleh Dokter muda itu.
Setelah memeriksa detak jantung dan pernapasannya, Dokter tersebut memeriksa bagian perut. Menekan halus dengan tangannya.
"Kenapa? Dia sakit apa?" tanya Bryan cepat setelah sang dokter selesai melakukan seluruh pemeriksaan.
Dokter Ryan menghela napas panjang, "Gadis ini mengalami dismenore ditambah kondisi lambung yang kosong menyebabkan asam lambungnya naik," jelas Dokter Ryan.
"Ap ...."
"Dismenore adalah kram atau nyeri di perut bagian bawah yang bisa menyebar sampai ke punggung, dan paha bagian dalam. Biasanya rasa nyeri itu akan timbul 1-2 hari sebelum menstruasi atau diawal-awal menstruasi," jelas Dokter Ryan sebelum Bryan menyelesaikan pertanyaannya.
Bryan terdiam menyerap penjelasan dokter, "Apakah itu berbahaya? Kenapa dia terlihat begitu kesakitan? Apa penyebabnya?" tanyanya kemudian.
"Tidak bahaya, keadaan ini umumnya disebabkan peningkatan dari prostaglandin, yang diproduksi pada lapisan dari rahim. Peningkatan prostaglandin memicu kontraksi dari uterus atau rahim. Secara alami, rahim cenderung memiliki kontraksi lebih kuat semasa haid. Kontraksi rahim ini dapat menimbulkan keluhan nyeri," imbuh Dokter Ryan dengan rentetan penjelasannya.
Bryan mengangguk, "Oh begitu. Tapi aku sama sekali tidak mengerti. Apa pun itu, beri dia obat biar nggak merasakan sakit lagi," kata Bryan yang merasa iba melihatnya.
Dokter Ryan menahan senyum. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah Bryan. Ia lalu menuliskan sebuah resep obat anti nyeri. Dokter Ryan juga menyarankan agar setelah bangun nanti diberi minum air hangat.
Jika diperlukan, memberikan pijatan pada punggung atau perut juga bisa membantu meredakan sedikit rasa nyeri.
Setelah menyerahkan selembar resep, Dokter Ryan berpamitan. Bersamaan dengan Bryan yang keluar untuk menebus obat. Namun mereka terpisah di parkiran, karena keduanya melesat dengan kendaraan masing-masing.
Selang beberapa menit di apartemen, Andin mengerjapkan mata. Kepalanya masih terasa berdenyut hebat. Tangannya terangkat menyentuh dan meremas rambutnya.
Andin mencoba untuk bangun, namun rasa nyeri kembali menghujam perutnya. Ia memaksa duduk bersandar pada sandaran ranjang sambil meremas perutnya dengan kedua tangan.
"Awwwhh ... sakit banget!" desisnya melihat sekeliling kamar.
"Di mana ini?" Andin bertanya-tanya.
Bersambung~
Kalo up-nya lebih dari satu likenya jangan cuma bab terakhir yah gengss...
aaahh... lope you all 😘