Putih abu-abu alias SMA disebut-sebut sebagai masa yang paling indah. Wajar saja, SMA adalah tiga tahun terakhir merasakan duduk di bangku sekolah.
Masa-masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Adapula yang mengatakan masa-masa pencarian jati diri.
Bahkan mungkin di sinilah tempat kita pertama kali mengenal cinta. Masa SMA memang penuh lika-liku remaja, dari cerita cinta, persahabatan, kekonyolan, hingga kenakalan.
Waktu terus berjalan, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Banyak cerita-cerita yang akan terus terkenang.
Banyak momen-momen keindahan yang telah tercipta di sekolah kesayangan, tentang kebersamaan, persahabatan bahkan tentang percintaan.
Semua tertuang menjadi satu cerita yang begitu indah. Inilah kisah CINTA SMA seorang siswi SMA bernama Sinta Cahaya bersama sahabatnya dan kisah cintanya.
Yuk simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febti Sela Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Dito 1
Waktu menunjukkan pukul 12 siang dan rombongan sekolah berkumpul di area parkir.
Kemudian menuju masjid terdekat untuk melaksanakan solat zuhur.
Karena Terry, Puput dan Wahyu Ningsih sedang datang bulan, maka Sinta jalan sendiri menuju masjid. Sesampainya di masjid, Sinta pun langsung melaksanakan solat zuhur.
Selesai melaksanakan solat, Sinta pun keluar menuju pelataran masjid. Saat mengikat tali sepatu, Sinta menoleh ke arah kanan untuk melihat siapa yang berada di sebelahnya.
"Sin, sendiri aja?" sapa Dito sambil tersenyum.
"Eh, kamu Dit!" jawab Sinta yang masih sibuk mengikat tali sepatunya.
"Iya, aku sendiri," sambung Sinta
Saat Sinta mau melangkah, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Lalu tangan Sinta ditarik oleh Dito, dan dia hampir jatuh ke pelukan Dito.
"Maaf ya, Sin! Bukan maksud ku--- " ucap Dito meminta maaf sambil menggaruk kepalanya.
"Ya, enggak apa-apa. Aku tau kamu ingin menolong ku dari guyuran air hujan," kata Sinta sambil menjauhkan badannya beberapa langkah dari Dito .
Udara sangat dingin sekali, Sinta tidak membawa jaket. Seketika Dito memberikan jaketnya untuk dipakai oleh Sinta. Dito melihat Sinta memeluk tubuhnya dengan tangan karena kedinginan.
"Pakai jaketku, Sin! Kelihatan nya kamu sangat kedinginan," ucap Dito seraya memakai kan jaketnya ke badan Sinta.
" Ah, Dito. Aku gak enak tau sama yang lain," ucap Sinta yang ingin membuka jaketnya.
Dan Dito pun memaksa sambil membisikkan kata di telinga Sinta.
"Pakailah, aku kasihan melihat kamu kedinginan," bisik Dito sambil memegang pundak Sinta.
"Iya, juga sih! Lagi pula kalo kedinginan aku bisa meriang," gumam Sinta dalam hati, lalu kembali memakai jaket yang di berikan oleh Dito.
Tiga puluh menit sudah berlalu, Sinta dan para siswa pun bergegas meninggalkan masjid.
Tanpa banyak kata, Dito pun melangkah pergi meninggalkan Sinta. Dan Sinta pun menyusul di belakangnya Dito.
Sinta bingung dengan sikapnya Dito, yang kadang acuh dan kadang perhatian.
"Sin..." panggil suara seorang laki-laki dari arah belakang Sinta.
"Sepertinya, suara itu tak asing bagiku!" kata Sinta dalam hati. Lalu Sinta pun menoleh ke arah belakang.
"Malik, aku pikir makhluk penghuni pohon beringin itu!" canda Sinta seraya menunjuk kearah pohon beringin yang ada di depannya.
Lalu Sinta pun berjalan bersama Malik menuju bis. Sesampainya di bis, Sinta melihat kearah bangku tempat Dito duduk. Dia melihat Dito tidak ada di bangkunya. Sinta bermaksud ingin mengembalikan jaket milik Dito, yang tadi dipakaikan kepadanya sewaktu hujan.
Tanpa sadar, Sinta langsung tertidur pulas sambil memeluk jaket milik Dito.
***
"Anak-anak ayo berkumpul di area parkir!" panggilan suara pengeras suara dari arah luar bis.
"Sin, Sinta..." teriak Terry ditelinga Sinta.
Sontak seketika Sinta pun terkejut, dan terbangun dari tidurnya.
"Ada apa, Ter?" tanya Sinta sambil mengusap kedua mata.
"Sudah sampai di penginapan, Cantik! Kalo mau tidur nanti di kasur," ucap Terry sambil menggoyangkan tubuh Sinta.
"Iya," gerutu Sinta.
"Oh, iya. Ini jaket Dito, lupa aku kembalikan," ucap Sinta dalam hati seraya mencari keberadaan Dito.
Sinta dan Terry berkemas untuk turun dari bis. Semua siswa berbaris rapi dan para guru mulai mengabsen setiap siswa untuk membagikan kunci kamar.
"Satu kamar ada 2 kasur, jadi diisi oleh 4 orang. Silahkan hubungi Bu Widia, siapa saja teman sekamar kalian..." teriak pak Anton dari arah depan.
"Ayo, Sin! Kemarin kita sudah daftar berempat dengan Wahyuningsih dan Puput. Ayo langsung ke kamar..." panggil Terry seraya memberikan kunci kamar.
Sinta masih mencari Dito untuk mengembalikan jaket miliknya.
"Dito, ini jaket mu!" panggil Sinta seraya memberikan jeket, "terima kasih," ucapnya.
"Oh, iya! Sama-sama," sahut Dito.
Dan kebetulan kamar Dito bersebelahan dengan kamar Sinta.
Dukung terus karya author dengan cara like, vote dan berikan komentar.
mari saling mendukung,
singgah di karya ku juga ya kak
"Transfer Student"
Di sini ramai bgt ya❤️❤️