Merasakan jatuh cinta diusianya yang menginjak 17 tahun, adalah sesuatu yang wajar. Namun yang tidak wajar adalah jika lelaki yang ia cintai adalah ayah sahabatnya sendiri.
Akankah persahabatan antara Alena dan Angel hancur karena Alena mencintai ayah sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon requeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si merah tak bertuan
Dua Hari menjalani masa hukuman, Alena membantu bundanya di butik, Gadis itu melakukan apa yang bisa Ia lakukan.Dari merapikan display, mengganti baju manekin, hingga melayani pembeli.
Alena harus beberapa kali bertanya kepada bundanya ketika ada pembeli yang meminta potongan harga sebagai bonus karena telah belanja cukup banyak dibutik bundanya.
"karyawan baru ya mbak? " tebak si ibu yang tampak sumringah karena telah mendapat potongan harga. Alena hanya tersenyum sambil memasukan belanjaan si ibu itu ke dalam beberapa paperbag. Setelah melakukan pembayaran, si ibu itu pun pergi dengan menenteng cukup banyak paperbag ditangannya.
Alena memandang kepergian pembelinya dengan puas. Ternyata menyenangkan juga. Alena menghampiri bundanya yang sedang membuat design, Ada beberapa yang sudah selesai cukup menarik perhatiannya.
"bun, kalau sudah dibikin design terus gimana? " Alena penasaran akan kelanjutan proses pembuatan baju-baju dibutik bundanya.
"nanti tinggal menentukan bahan yang cocok, kemudian penjahit yang mengerjakannya " jawab bundanya. Alena manggut-manggut mulai paham, bagaimana gambar-gambar design itu hingga menjadi baju-baju cantik yang dipajang dibutik bundanya.
"besok kamu ikut bunda ke gudang kain, kita ngecek persediaan kain disana. Biar kamu tau jenis-jenis kain apa saja yang ada disana! "
"iya bun " jawab Alena semangat.
Selanjutnya Alena membantu bundanya memisahkan beberapa item baju stok lama yang akan masuk daftar discount karena akan masuk koleksi terbaru awal bulan ini.
Dewi salah Satu Karyawan menggantung baju-baju tersebut diatas rak khusus discount dekat pintu masuk.Ini lumayan efektif menarik perhatian pembeli.
"aih Ada discount nih " suara cempreng yang begitu dikenalnya mengagetkan Alena yang sedang menggantung baju di hanger. Siapa lagi kalau bukan Angel.
"kok lu tau gue ada disini? " tanya Alena sambil merapikan hanger.
'tadi gue ke rumah lu, kata si bibi lu ikut bunda ke butik. ya udah gue nyusul kesini " jawab Angel. Tangan nya memilih beberapa koleksi baju di display, kemudian Ia beralih pada deretan rok dan mengambil sebuah rok diatas lutut dari bahan jeans.
"tolong dibungkus ya mbak " Angel memberikan barang pilihannya ketangan Alena layaknya seorang pembeli.
"bungkus sendiri, noh paperbagnya di meja kasir "
"aih.. gue laporin bunda loh. lu memperlakukan pembeli dengan tidak sopan. ingat pembeli itu adalah raja! " Angel mengutip sebuah pepatah klasik. Kalimat keramat itu membuat Alena tidak berkutik. ia pun mengambil paperbag dan memasukan barang pilihan Angel
"mau bayar apa ngutang? "
"ga sopan lu.. masa Angela Wijaya putri tunggal Doni Wijaya ngutang? " Angel mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya kemudian memberikan pada sahabatnya yang sekarang bertugas sebagai kasir. "discount ya "
Alena melirik sahabatnya sinis "masa Angela Wijaya putri tunggal Doni Wijaya minta discount " sindir Alena
"dasar pelit luh! " Angel mengerucutkan bibirnya.
Usai melayani pembeli reseh nya Alena pun melanjutkan pekerjaannya merapikan rak-rak baju dengan Dewi. Kali ini Angel tidak tinggal diam, Ia membantu sahabatnya menyusun baju sesuai model dan size mengikuti petunjuk Dewi.
Menjelang sore, Angel pulang dijemput pak Ali supir Doni. Tak lama kemudian Alena dan bundanya pun pulang. Tinggal lah Dewi tetap dibutik hingga tutup jam 8 malam.
Ketika mobil bunda Alena memasuki halaman rumah, mereka dikejutkan dengan keberadaan sebuah motor matic terparkir didepan garasi.
Sebuah motor matic besar berwarna merah langsung menjadi pusat perhatian ibu dan anak itu.
"motor baru siapa ini? " tanya bunda Alena kepada bibi yang baru saja membukakan pintu.
"tadi Ada orang suruhan pak Doni kesini, katanya ini buat non Alena bu " jawab bibi
Bunda Alena langsung mengarahkan pandangannya pada putrinya yang terlihat ketakutan.
"apa maksud papihnya Angel memberikan motor baru kepadamu? " Bunda Alena mulai Mengintrogasi putrinya. Tatapan tajam bundanya membuat gadis itu menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Seharusnya Alena mempertimbangkan reaksi bundanya ketika meminta motor itu sebagai hadiah dari Doni.
"Al..?! " bundanya menunggu jawaban putrinya.
Tak ada jalan lain kecuali jujur dan mengatakan semuanya pada bundanya.Bunda Alena mendengarkan putrinya bercerita sambil sesekali menyusut ingusnya.
"kalau kamu niat menolong, seharusnya kamu iklas tidak boleh meminta imbalan " bunda Alena mengusap air mata yang membasahi pipi mulus putrinya.
"iya bun " jawab Alena diantara isakannya.
"bunda bangga akan kepedulian kamu pada sahabat kamu, tapi bunda tidak suka kamu menerima pemberian papihnya Angel " ucap bunda. Alena mengangguk. "besok kita kembalikan motor itu "
****
ddrrtt.. ddrrtt
Ada panggilan masuk diponsel Alena. Ternyata dari Doni. Alena pun mengusap tanda hijau menerima panggilan dari ayah sahabatnya itu
"Al..om sudah menyuruh orang untuk mengantarkan pesanan kamu, apa sudah sampai?" tanya Doni
"iya om sudah sampai. tapi__"
"tapi kenapa, apa kamu tidak suka warna nya? kalau kamu tidak suka masih bisa ditukar "
"maaf om. Alen tidak bisa menerimanya " Alena bingung mencari alasan kenapa ia tidak bisa menerima motor itu, padahal itu permintaannya sendiri.
"apakah bunda kamu yang melarang menerima pemberian dari om? " tebak Doni. Alena diam bingung harus menjawab apa
"ya sudah nanti om yang bicara sama bunda kamu "
Belum sempat mengatakan apa-apa, Doni langsung menutup panggilannya.
Jam 7 malam, Alena dikagetkan oleh kedatangan Doni. Sepertinya duda tampan itu baru pulang dari kantornya karena masih mengenakan setelan jasnya.
Bunda Alena menyambut ramah kedatangan ayah sahabat putrinya itu. Alena sudah dapat menebak maksud kedatangan Doni.
"maaf mbak kedatangan saya kesini bermaksud untuk meluruskan masalah motor yang saya berikan untuk Alena. saya tidak ingin mbak salah paham kepada Alena "
"iya saya mengerti, Alena sudah menceritakan semuanya kepada saya " ucap bunda Alena. "saya hanya melarang Alena untuk meminta hadiah atau pamrih "
"Alena tidak meminta apapun, saya yang menawarkan pada nya " ucap Doni. "sebagai ucapan terimakasih kasih saya "
Bunda Alena terdiam, ia tetap tidak setuju putrinya menerima motor hadiah dari Doni.
"Alena sudah saya anggap seperti anak saya sendiri.. anggap saja ini pemberian dari seorang ayah untuk putrinya " ucap Doni. Alena menelan ludah getir mendengar ucapan Doni. Seharusnya Ia senang Doni Menganggap Alena seperti anaknya,tapi kenyataannya malah rasa sakit yang Ia rasa kan.
"baiklah kalau begitu " akhirnya bunda Alena tidak keberatan Alena menerima pemberian dari Doni.
"Alena nya jangan dimarahin mbak " pesan Doni sebelum pamit.
"tidak akan " jawab bunda Alena tersenyum mengantarkan Doni sampai teras.