"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Dingin di Bawah Pohon Meranggas
Hening seketika mencekik halaman tanah di sudut timur desa. Suara tawa riuh anak-anak desa yang beberapa menit lalu menggema kini telah menguap tanpa sisa, digantikan oleh suara siulan angin musim dingin yang menyapu butiran salju halus di atas tanah beku.
Sepuluh langkah. Itu adalah jarak yang memisahkan Lin Ling dan Tuan Muda Kedua Klan Huang, Huang Shi.
Aura laten dari seorang kultivator Tahap Kondensasi Qi yang memancar dari tubuh Huang Shi terasa seperti beban tak kasat mata yang menekan atmosfer sekitar. Namun, Lin Ling tetap berdiri tegak.
Secara taktis, Lin Ling tahu dia tidak boleh terlihat "terlalu tenang" seperti di pasar kemarin, karena hal itu justru memicu kecurigaan Huang Shi. Dia harus bermain peran. Dengan sengaja, Lin Ling menurunkan sedikit bahunya, membuat tubuh mungilnya tampak bergetar halus akibat hawa dingin, dan menundukkan kepalanya sedikit—menampilkan gestur pertahanan diri khas anak fana yang waspada namun tahu diri.
Huang Shi menghentikan langkah kakinya tepat di depan garis pembatas yang digambar anak-anak desa di atas salju. Sepasang mata kuningnya yang tajam menyapu sosok Lin Ling dari ujung rambut putihnya hingga ke ujung sepatu kainnya yang basah oleh salju mencair.
"Jadi, di sini tempat tinggalmu, Bocah?" suara Huang Shi terdengar santai, namun memiliki intonasi berat yang menuntut jawaban mutlak.
Lin Ling tidak langsung mendongak.
Dia meremas ujung lengan jubah merah tuanya yang lusuh dengan jemari yang sengaja dibuat gemetar. "Tuan Muda..." suara Lin Ling keluar dengan nada kecil, serak, dan penuh ketakutan yang dibuat-buat dengan sangat rapi. "Saya... saya hanya orang fana yang menumpang tinggal di gubuk Nenek di ujung timur ini. Apakah... apakah ada kesalahan yang saya perbuat hingga Tuan Muda datang ke tempat kumal ini?"
Dua pengawal bertubuh kekar di belakang Huang Shi mendengus meremehkan mendengar nada ketakutan tersebut. Bagi mereka, semua manusia fana pada akhirnya sama saja—lemah dan mudah diintimidasi.
Namun, Huang Shi tidak mengalihkan pandangannya. Kedipan mata Lin Ling yang konstan dan ketegangan otot tubuhnya yang terukur tidak lolos dari pengamatannya. Sebagai seorang kultivator yang terbiasa dengan intrik klan, dia tahu ada sesuatu yang tidak selaras antara cerita ketakutan bocah ini dengan tatapan matanya saat berada di pasar kemarin.
Huang Shi melangkah maju satu kali lagi, menginjak garis pola persegi di atas salju hingga hancur.
Hawa dingin yang pekat mendadak berembus dari jubah sutra biru tuanya, membawa aroma tipis minyak esensial tanaman spiritual yang sangat tajam di hidung Lin Ling. "Kau sangat pandai berakting, Xiao Yu—jika itu memang nama aslimu," Huang Shi tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang tidak mencapai matanya. "Kayu Batu Gunung dengan kepadatan murni seperti yang kau jual kemarin... bahkan para pemburu gunung paling berpengalaman pun membutuhkan waktu berhari-hari untuk menemukannya di pedalaman hutan utara. Tapi kau, seorang anak kecil tanpa Qi, bisa membawa satu keranjang penuh sendirian."
Huang Shi membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Lin Ling, membiarkan tekanan mentalnya mengunci jiwa bocah di depannya.
"Katakan padaku, siapa yang berdiri di belakangmu? Sekte luar mana yang mengirimmu untuk memata-matai wilayah Klan Huang?"
Pertanyaan itu langsung mengungkap kecurigaan terbesar Huang Shi. Dia mengira Lin Ling adalah pion atau mata-mata yang dikirim oleh klan saingan dengan menyamar sebagai anak fana.
Mendengar tuduhan itu, batin Lin Ling mendengus dingin. 'Klan Huang ternyata sama saja dengan Klan Lin... selalu penuh kecurigaan dan melihat segalanya sebagai ancaman politik.'
Namun secara lahiriah, Lin Ling justru membelalakkan sepasang mata hitamnya, menampilkan ekspresi keterkejutan murni dan kepanikan seorang anak yang dituduh secara tidak adil.
"Saya bersumpah demi langit, Tuan Muda!" Lin Ling menjatuhkan dirinya berlutut di atas salju yang dingin, membiarkan permukaan es yang membeku menusuk kulit lututnya yang ringkih hingga terasa perih dan kebas. "Saya tidak tahu apa-apa tentang sekte luar! Kayu-kayu itu... saya hanya mengumpulkannya dari sisa pohon yang hancur akibat badai di tepi luar hutan batu! Saya tidak berani membohongi Tuan Muda!"
Suara Lin Ling bergetar hebat, napasnya memburu hingga uap putih tebal keluar dengan tidak beraturan dari mulutnya yang pucat. Akting ketakutannya begitu matang hingga tidak meninggalkan celah cacat sedikit pun bagi mata awam.
Huang Shi menatap sosok kecil yang berlutut di depannya dalam diam selama beberapa belas detik yang terasa mencekam. Suasana halaman tanah itu kembali jatuh ke dalam keheningan yang mati, hanya menyisakan suara derit parau dari dahan pohon tua di atas kepala mereka yang bergoyang ditiup angin.
Apakah dia benar-benar salah menilai? Apakah anak ini memang hanya seorang bocah fana yang kebetulan beruntung menemukan sisa dahan badai?
Sebelum Huang Shi sempat mengeluarkan kata-kata berikutnya, dari ujung jalan setapak, suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan batuk parau yang akrab mendadak memecah ketegangan.
"Tuan Muda! Mohon ampuni cucu saya...!"
Nenek tua berjalan setengah berlari dengan tubuh bungkuknya yang gemetar, wajah rentanya dipenuhi air mata ketakutan saat melihat Lin Ling berlutut di depan rombongan klan penguasa tersebut. Dinamika di sudut timur desa kini telah sepenuhnya bergeser dari sekadar permainan anak-anak menjadi panggung bertahan hidup yang sesungguhnya.