"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas
Kabut yang dihasilkan oleh napas sembilan naga perak di tepi sungai merayap pelan, menyelimuti permukaan tanah Desa Jinan dengan lapisan putih yang sejuk. Di tengah keremangan fajar, pendaran cahaya keemasan dari ladang Padi Surgawi dan pendaran perak dari tunas Jagung Perak menciptakan pemandangan yang seolah-olah berasal dari lukisan dewa. Suasana pagi ini begitu hening, hanya diselingi oleh suara gemericik air dari kincir raksasa dan sesekali rintihan kecil dari arah lereng bukit.
Sun Bo, Master Sekte Matahari Terbit yang agung, kini sedang berlutut di antara barisan tunas Jagung Perak. Tangannya yang biasanya digunakan untuk memanggil badai api kini memegang sebuah sendok kayu kecil dan sebuah pinset bambu. Di bawah pengawasan ketat Jenderal Han, ia bertugas untuk memastikan tidak ada butiran tanah yang menutupi bagian pucuk tunas yang baru tumbuh. Jika ada sedikit saja debu yang menghalangi pendaran perak tunas tersebut, tekanan gravitasi di lehernya akan meningkat secara otomatis.
"Master Sekte Sun, kau terlalu lambat. Lihat murid-muridmu, mereka sudah menyelesaikan tiga baris sementara kau masih berkutat dengan satu tunas," ucap Jenderal Han sambil menyandarkan bahunya pada sebuah batang kayu besar. Han tampak sangat menikmati perannya sebagai pengawas, memutar-mutar sebuah apel merah di tangannya dengan santai.
Sun Bo menyeka keringat dingin di dahinya. "Jenderal Han... ini bukan masalah kecepatan. Tunas ini... mereka memiliki kesadaran. Setiap kali aku mendekatkan tanganku, mereka seolah-olah mencoba menghisap energi api dalam tubuhku. Ini sangat melelahkan!"
"Tentu saja mereka menghisapnya. Tuan Zhou menanam Jagung Perak ini untuk menyerap energi yang tidak stabil. Kau seharusnya bersyukur; dengan membiarkan mereka menghisap energimu, meridianmu yang tadinya terbakar oleh ambisi kini mulai mendingin dan menjadi lebih murni. Anggap saja ini sebagai pembersihan jiwa secara cuma-cuma," balas Han sambil menggigit apelnya dengan suara renyah yang provokatif.
Di teras gubuk kayu, Zhou Ji Ran duduk dengan kaki telanjang yang diletakkan di atas pagar kayu. Ia menyeruput teh pahitnya dengan mata terpejam, menikmati simfoni pagi yang dihasilkan oleh alam. Baginya, setiap keluhan dari para kultivator di ladangnya adalah musik latar yang menyenangkan. Kehidupan tanpa instruksi dari entitas mekanis benar-benar memberikan kepuasan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
"Tuan, bubur ubi jalar dan acar lobak sudah siap. Saya juga membuat sedikit tahu goreng dengan bumbu bawang putih dari kebun belakang," Lin Xiaoqi keluar dari dapur, membawa baki kayu yang mengeluarkan aroma menggoda.
Zhou Ji Ran membuka matanya dan tersenyum. "Terima kasih, Xiaoqi. Aroma masakanmu selalu berhasil membuat dunia terasa lebih nyata daripada ribuan tahun yang aku habiskan di dimensi lain."
Su Ruo, yang baru saja menyelesaikan lagu paginya di atas batu besar, berjalan mendekat dengan langkah yang ringan. Jubah putihnya kini memiliki sedikit noda tanah di bagian bawah, namun ia tidak lagi tampak terganggu oleh hal itu. Ia duduk di tangga teras, meletakkan kecapinya dengan sangat hati-hati.
"Tuan Zhou, pendaran Jagung Perak pagi ini terasa lebih kuat. Saya merasa ada resonansi antara musik saya dan pertumbuhan mereka. Apakah itu normal?" tanya Su Ruo dengan nada ingin tahu yang tulus.
"Sangat normal, Ruo. Tanaman di tempat ini tidak tumbuh dengan nutrisi biasa. Mereka tumbuh dengan harmoni. Musikmu memberikan keteraturan pada energi yang mereka serap dari murid-murid Sekte Matahari Terbit. Tanpa musikmu, jagung-jagung itu mungkin akan meledak karena kelebihan energi panas yang tidak teratur," jelas Zhou Ji Ran sambil mengambil sepotong tahu goreng.
Ye Hua muncul dari arah sungai, membawa sekeranjang pakaian yang sudah dilipat rapi. Meskipun ia adalah seorang ahli pedang yang bisa membelah gunung, ia kini telah menemukan kepuasan dalam cara kain-kain itu dilipat dengan presisi yang sempurna. "Tuan, Panglima Xin Yan sedang mencoba melatih rajawali emasnya untuk mengangkut air secara otomatis ke tangki penyimpanan. Namun sepertinya rajawali itu sedikit tersinggung karena harus membawa ember kayu."
Zhou Ji Ran terkekeh. "Biarkan saja dia belajar. Kebanggaan adalah beban yang paling berat bagi makhluk hidup. Jika rajawali itu tidak mau membawa ember, katakan pada Xin Yan untuk mengikatkan bajak padanya besok. Kita butuh tenaga untuk menggemburkan tanah di lahan sebelah selatan."
Saat mereka sedang menikmati sarapan yang tenang, kedamaian itu tiba-tiba terganggu oleh sebuah getaran di atmosfer. Bukan getaran yang kasar seperti armada kapal terbang, melainkan getaran yang halus, dingin, dan sangat berwibawa. Dari arah cakrawala, sebuah titik cahaya putih meluncur dengan kecepatan yang mengabaikan hambatan udara. Hanya dalam hitungan detik, titik cahaya itu berubah menjadi sesosok pria yang melayang dengan tenang di atas gerbang desa.
Pria itu mengenakan jubah abu-abu polos tanpa hiasan apa pun, namun kehadirannya membuat seluruh burung di hutan berhenti berkicau. Ia membawa sebuah gulungan perkamen yang memancarkan cahaya perak redup. Matanya berwarna abu-abu jernih, menatap ke arah ladang dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca.
Namanya adalah Zhang Tian, Sang Penegak Hukum dari Aliansi Dua Belas Sekte Ilahi Dunia Atas. Posisinya jauh di atas Master Sekte biasa atau Jenderal kerajaan. Ia adalah salah satu dari sedikit individu yang dipercaya untuk menjaga keseimbangan hukum di benua ini.
"Siapa yang bertanggung jawab atas distorsi ruang dan penahanan paksa para elit dunia di tempat terpencil ini?" suara Zhang Tian terdengar tenang, namun setiap katanya bergema langsung di dalam jiwa siapa pun yang mendengarnya.
Jenderal Han dan Pangeran Long Wei seketika membeku. Mereka mengenal sosok ini sebagai "Pedang Tak Berwujud" yang tidak pernah gagal dalam menjalankan tugasnya. Master Sekte Sun Bo yang sedang berlutut di ladang jagung seketika merasa harapan hidupnya muncul kembali.
"Tuan Zhang Tian! Tolong kami! Kami dipaksa mencabuti rumput dan menjadi penyangga tanaman oleh penyihir gila ini!" teriak Sun Bo dengan suara lantang.
Zhang Tian menatap Sun Bo, lalu matanya beralih ke Elder Mo yang tertanam di ladang melon, dan akhirnya mendarat pada Zhou Ji Ran yang masih asyik mengunyah tahu goreng di teras.
"Zhou Ji Ran... nama yang tidak ada dalam daftar ahli dunia ini. Namun, kau telah menciptakan sebuah domain yang menolak hukum Dunia Atas. Kau tahu bahwa mencampuri urusan sekte besar dan kerajaan adalah pelanggaran tingkat pertama dalam Kitab Hukum Surgawi?" ucap Zhang Tian sambil perlahan turun dari langit, kakinya tidak menyentuh tanah, tetap melayang beberapa inci di atas debu.
Zhou Ji Ran menelan tahu gorengnya, lalu menyeka mulutnya dengan santai. Ia tidak berdiri untuk menyambut tamu agung itu. "Kitab Hukum Surgawi? Aku pernah menggunakannya sebagai ganjal meja di perpustakaan multisemesta beberapa waktu lalu. Isinya terlalu banyak teori dan kurang praktis. Dan soal penahanan... aku lebih suka menyebutnya sebagai program rehabilitasi sosial melalui sektor pertanian."
Mata Zhang Tian menyipit. "Kesombonganmu melampaui batas, Petani. Aku diperintahkan untuk membawa kembali semua tawanan ini dan menghancurkan setiap anomali yang mengancam stabilitas energi benua. Padi Surgawi dan Jagung Perak ini... mereka tidak seharusnya ada di sini. Keberadaan mereka adalah ketidakseimbangan."
Zhang Tian mengangkat tangannya, dan gulungan perkamen di tangannya terbuka. Cahaya perak meledak dari gulungan tersebut, membentuk ribuan rantai energi yang transparan namun sangat kuat. Rantai-rantai itu meluncur ke arah Zhou Ji Ran, bermaksud untuk mengikat jiwa dan raganya secara bersamaan.
"Hukum adalah absolut. Patuhilah," ucap Zhang Tian.
Lin Xiaoqi dan Ye Hua segera berdiri di depan Zhou Ji Ran, namun Zhou Ji Ran hanya melambaikan tangan, memberi isyarat agar mereka mundur. Ia mengambil sumpit bambunya dan melakukan gerakan mengetuk udara di depannya seolah-olah sedang mengusir nyamuk.
*Tring!*
Rantai-rantai energi yang tak terkalahkan itu seketika hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan getaran yang dihasilkan oleh ketukan sumpit Zhou Ji Ran. Fragmen cahaya perak itu kemudian jatuh ke tanah dan meresap ke dalam akar tanaman Jagung Perak, justru memberikan nutrisi tambahan bagi mereka.
"Terima kasih atas suplemen energinya, Tuan Penegak Hukum. Jagung-jagung ini memang sedang kekurangan unsur perak murni pagi ini," kata Zhou Ji Ran dengan nada yang sangat sopan namun mematikan.
Zhang Tian tertegun untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun. Teknik "Rantai Kehendak Langit" miliknya telah dihancurkan oleh sepasang sumpit bambu? Logika kultivasinya mulai goyah. Ia segera menarik napas dalam, memanggil pedang tak berwujudnya yang legendaris. Pedang itu tidak terlihat, hanya berupa distorsi udara yang sangat tajam yang bisa memotong konsep ruang itu sendiri.
"Jika hukum tidak bisa mengikatmu, maka hukum akan menghapusmu," Zhang Tian melesat maju. Gerakannya bukan lagi sekadar kecepatan fisik, melainkan perpindahan instan antar titik koordinat ruang.
Namun, di mata Zhou Ji Ran, gerakan itu tampak lambat seperti siput yang sedang merayap. Saat Zhang Tian muncul tepat di depannya dengan pedang tak berwujud yang ditujukan ke lehernya, Zhou Ji Ran hanya menggunakan jempol dan telunjuknya untuk menjepit pedang yang tidak terlihat itu.
*Crak!*
Udara di sekitar mereka seolah-olah pecah. Zhang Tian merasakan tekanan yang begitu masif dari dua jari Zhou Ji Ran, sebuah tekanan yang tidak berasal dari energi spiritual, melainkan dari otoritas absolut atas eksistensi. Pedang tak berwujudnya hancur menjadi partikel udara biasa.
"Hukum yang kau bawa itu terlalu kaku, Zhang Tian. Kau terlalu banyak membaca teks dan terlalu sedikit merasakan tanah. Di dunia ini, hukum tertinggi bukanlah apa yang tertulis di perkamen emasmu, tapi apa yang bisa membuat kehidupan tumbuh dengan subur," Zhou Ji Ran memberikan dorongan ringan pada dahi Zhang Tian dengan jari tengahnya.
*Plak!*
Sentuhan itu tidak keras, namun Zhang Tian merasa seolah-olah sebuah galaksi sedang menghantam kesadarannya. Ia terlempar ke belakang, melewati gerbang desa, dan mendarat dengan keras di dalam parit irigasi yang baru saja digali oleh Long Wei.
Seluruh Desa Jinan seketika menjadi sunyi. Ribuan murid Sekte Matahari Terbit hanya bisa menatap dengan mulut terbuka. Penegak Hukum Zhang Tian... dikalahkan dengan sentilan jari?
Zhang Tian merangkak keluar dari parit, jubah abu-abunya kini basah kuyup dan penuh dengan lumut sungai. Ia menatap Zhou Ji Ran dengan tatapan yang tidak lagi mengandung keangkuhan, melainkan ketakutan yang murni dan penghormatan yang mendalam. Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan seorang petani, melainkan dengan sesuatu yang berdiri di atas segala hukum penciptaan.
"Siapa... siapa Anda sebenarnya?" tanya Zhang Tian dengan suara gemetar.
Zhou Ji Ran berdiri dari kursinya, merenggangkan tubuhnya sejenak. "Sudah aku katakan berkali-kali. Aku hanyalah seorang petani yang sedang mencoba menikmati masa pensiunnya. Dan karena kau baru saja merusak parit irigasi yang susah payah dibuat oleh Long Wei, kau punya tugas baru."
Zhou Ji Ran menunjuk ke arah tumpukan batu di pinggir parit. "Kau memiliki kemampuan memanipulasi ruang yang sangat bagus. Gunakan itu untuk menghaluskan dasar parit ini agar air bisa mengalir tanpa hambatan. Jika aku melihat ada satu kerikil yang tidak rata, aku akan menjadikan gulungan hukummu itu sebagai tisu toilet untuk naga-nagaku."
Zhang Tian menatap gulungan sucinya, lalu menatap parit yang berlumpur. Dengan kepala tertunduk, ia berjalan menuju parit tersebut. "Saya... saya akan mengerjakannya, Tuan."
Gu Lao tertawa terpingkal-pingkal di teras hingga hampir terjatuh dari kursinya. "Ji Ran, kau benar-benar keterlaluan! Menjadikan Penegak Hukum Dunia Atas sebagai tukang plester parit! Apa yang akan dikatakan oleh Aliansi Dua Belas Sekte jika mereka tahu?"
"Mereka akan mengatakan bahwa paritku adalah parit yang paling rapi di seluruh benua," sahut Zhou Ji Ran santai. Ia menoleh ke arah Su Ruo. "Ruo, lanjutkan musiknya. Tunas Jagung Perak itu tampak sangat senang setelah menyerap energi rantai tadi. Mereka butuh melodi untuk membantu proses pencernaannya."
Su Ruo tersenyum lebar, jemarinya kembali menari di atas senar kecapi. Melodi yang keluar kali ini terasa lebih megah, seolah-olah merayakan kemenangan kehidupan atas hukum yang kaku.
Namun, di balik suasana komedi itu, Zhou Ji Ran tetap waspada. Ia menatap ke arah utara, ke arah pegunungan yang tertutup salju abadi. Ia bisa merasakan bahwa kekalahan Zhang Tian akan memicu reaksi berantai yang jauh lebih besar. Aliansi Dua Belas Sekte bukanlah organisasi yang mudah menyerah, dan mereka memiliki akses ke artefak kuno yang seharusnya tetap terkubur.
"Tuan, apakah kita perlu memperkuat pagar lagi?" tanya Ye Hua, menyadari tatapan serius tuannya.
"Tidak perlu, Ye Hua. Pagar kayu ini sudah cukup kuat karena sudah aku lumuri dengan minyak napas naga. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan setiap pekerja baru kita merasa 'nyaman' dengan tugas mereka. Xiaoqi, siapkan porsi bubur tambahan untuk Zhang Tian. Dia butuh energi untuk menghaluskan parit sepanjang tiga kilometer itu."
Lin Xiaoqi mengangguk dan segera masuk ke dapur. Sore itu, Desa Jinan kembali ke rutinitas pertaniannya, namun dengan penambahan seorang Penegak Hukum yang sangat teliti dalam meratakan tanah. Matahari mulai condong ke barat, memberikan warna keemasan pada ladang-ladang yang kini tampak semakin luas dan subur.
Zhou Ji Ran kembali duduk, memejamkan matanya, dan mendengarkan suara harmoni yang tercipta. Ia tahu bahwa masa damai ini mungkin hanya akan bertahan satu atau dua hari lagi sebelum tantangan berikutnya datang. Tapi baginya, selama ia masih bisa menikmati teh pahit dan melihat tanamannya tumbuh, tantangan apa pun hanyalah pupuk tambahan bagi kehidupan barunya.
Di tempat yang sangat jauh, di sebuah aula yang melayang di atas awan, sebelas sosok berjubah emas duduk melingkar di sekitar sebuah meja bundar. Di tengah meja tersebut, sebuah bola kristal menunjukkan gambaran Zhang Tian yang sedang berlutut di parit sambil menggosok batu dengan tangan kosong.
"Penghinaan ini tidak bisa dibiarkan," suara salah satu sosok itu menggelegar, memancarkan aura kemarahan yang bisa membuat lautan bergejolak. "Kirimkan 'Penjaga Batas'. Aktifkan Gerbang Pemusnahan. Jika petani itu ingin bermain dengan tanah, kita akan menguburnya bersama seluruh desa itu ke dalam inti bumi."
Mereka tidak tahu bahwa ancaman mereka hanya akan menambah daftar pekerja kasar di ladang Zhou Ji Ran. Di Desa Jinan, tidak ada yang namanya kekuasaan absolut, yang ada hanyalah efisiensi kerja.
Malam kembali turun, membawa keheningan yang dalam bagi mereka yang lelah bekerja. Zhang Tian duduk di pinggir parit, menatap tangannya yang lecet. Ia merasa ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Selama ratusan tahun ia hanya memikirkan hukum, tapi hari ini, saat melihat air mengalir dengan lancar di parit yang ia buat sendiri, ia merasakan kepuasan yang lebih nyata daripada memenangkan seribu pertempuran.
"Mungkin... ini adalah hukum yang sesungguhnya," gumam Zhang Tian pelan sebelum ia tertidur di bawah pohon willow.
Zhou Ji Ran melihatnya dari jendela rumah, tersenyum kecil sebelum meniup lilinnya. "Selamat datang di kehidupan nyata, Zhang Tian. Besok pagi, tugasmu adalah membersihkan kandang ayam."
Kegelapan menyelimuti desa, namun di bawah tanah, tunas-tunas Jagung Perak terus bersinar, menjadi saksi bisu atas transformasi para penguasa dunia menjadi pelayan bumi. Perjalanan tanpa instruksi sistem ini memang penuh dengan kejutan, dan Zhou Ji Ran tidak akan menukarnya dengan apa pun di multisemesta ini. Kedamaian adalah perjuangan, dan ia adalah pejuang yang paling tekun dalam menjaga kedamaian ladang sawinya.
Tiba-tiba, suara derik halus terdengar dari arah hutan bambu. Bukan suara angin, melainkan suara gesekan sisik yang sangat besar. Sesuatu yang telah tertidur selama jutaan tahun di bawah Desa Jinan mulai terusik oleh pendaran energi Padi Surgawi. Seekor Naga Bumi Kuno, penjaga asli dari esensi tanah ini, perlahan membuka matanya yang sebesar roda kereta.
Zhou Ji Ran menguap dalam tidurnya, tanpa sadar menepuk bantalnya. "Jika kau bangun hanya untuk meminta makan, tunggulah sampai pagi. Sekarang adalah waktu tidur."
Suara gesekan sisik itu seketika berhenti. Naga Bumi itu kembali memejamkan matanya, seolah-olah baru saja menerima perintah dari penciptanya sendiri. Di bawah bimbingan Zhou Ji Ran, bahkan legenda kuno pun harus belajar untuk patuh pada jadwal istirahat. Hari yang panjang telah usai, namun esok hari menjanjikan kerja keras yang jauh lebih besar dan kebahagiaan yang jauh lebih mendalam.
Semuanya berjalan sesuai rencana, satu benih pada satu waktu, di atas tanah yang kini menjadi pusat dari seluruh perhatian semesta. Zhou Ji Ran mendengkur halus, memimpikan panen raya yang akan segera tiba. Dunia boleh mencoba mengganggunya, namun mereka harus siap dengan satu konsekuensi: setiap pengganggu adalah pupuk, dan setiap serangan adalah suplemen pertumbuhan. Kehidupan ini memang benar-benar indah.