NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

[10] Luka yang Disembunyikan

"Alden!" Panggilan Langit membuat empat orang cowok yang tengah duduk di warung belakang menoleh. Alden yang dipanggil langsung berdiri kala Langit tiba-tiba datang.

"Ngapain lo ke sini?" itu Bumi yang bertanya. Ia tengah duduk bersandar dengan kaki berselonjor ke atas meja. Matanya melirik minuman kaleng dan jajanan seafood di tangan Langit.

"Ketemu Alden." Langit berdiri di depan Alden dan menyerahkan apa yang dia bawa. Bumi memperhatikan mereka.

"Hm?" Alden belum menerima langsung. Sebelah alisnya naik.

"Gue sengaja beliin buat lo. Ya walaupun kecil. Tapi anggap aja ucapan makasih karena udah bantu gue." Langit memamerkan senyumannya dan mendapat tatapan tulus Alden.

Cowok itu menarik sudut bibirnya dan menerimanya.

"Makasih."

"Gue yang bilang makasih. Lain kali jangan segan untuk bantu gue ya?" Langit terkekeh. "Gue senang banget malah."

"Alden bantuin apa. Lah tumben?" Hugo bertanya penasaran.

"Tugas tadi, matematika."

"Sejak kapan lo dekat sama Langit?" Liam menaikkan sebelas alisnya. Yang ditanya hanya mengedikkan bahu dan kembali duduk.

"Bantuin aja."

"Bukan Alden banget." Hugo menyipit.

"Lo gak cocok serajin itu kerjain tugas, Langit" Bumi mendengus dan menurunkan kakinya. "Jadi kedepannya gak usah kerajinan gini," ejeknya.

Perhatian Langit beralih pada Bumi. Ia mendelik. "Cowok aneh."

"Memang." Bumi mencibir. "Gak usah nyaingin gue. Lo udah bagus peringkat 25."

Kalimat Bumi membuatnya sebal. "Lihat aja semester ini peringkat kita dekat. Gue bakal di atas lo," tekannya yakin.

Bumi menyeringai. Ia bangkit dan berdiri mendekat ke depan Langit. Gadis itu mundur

Selangkah. "Peringkat 10 besar. Lo yakin bakal ngalahin gue?"

"Walaupun gue bodoh. Gue bisa kalau gue usaha. Gue akan berjuang."

"Jangan nantangin kalau gak bisa. Lo itu kodratnya memang bikin masalah. Nilai juga rendah."

"Lo remehin gue Bumi. Kalau ngomong dipikir dulu." Ekspresi Langit berganti dingin. Kalimat Bumi mencubit hatinya. Sakit. Langit tidak suka diremehkan. "Orang bodoh gak selamanya bodoh. Ingat itu." Tangannya menunjuk muka Bumi. Setelahnya Langit membalikkan badan pergi.

"Lo gak keterlaluan Bum?" Liam menatap Bumi.

Bumi menatap punggung Langit yang menjauh. Ia berbalik badan lalu mengedikkan bahu. "Emang kenyataannya, kan?" Wajahnya tampak santai namun ada perasaan gusar yang ia rasakan.

"Kalimat lo kejam Bum." Hugo juga berkomentar. Sementara Alden melirik kepergian Langit yang kemudian menghilang.

"Btw gue duluan." Bumi tiba-tiba mengambil jaket dan kunci motornya.

"Nyusul Langit?"

"Nyusul dia? Gaklah! Gue ada ganti shift kerja sore."

"Lo gak bersalah Bum?"

"Gak," jawabnya acuh tak acuh. Setelah bertos dengan ketiganya, dia naik ke atas motornya.

Di sisi lain, Langit yang sudah duduk di halte menunggu angkutan tampak murung. Ia menatap langit yang tampak mendung dengan cebikan. Sekolah sudah sepi begitu juga dengan halte.

"Gue emang bodoh, suka nakal, tapi apa Bumi gak mikir dulu kalau ngomong."

"Nyelekit banget," sebalnya menendang botol minum yang ada di bawah. Langit tahu itu memang kenyataannya dia begitu, tapi Bumi juga tidak seharusnya blak-blakan remehin dia kan?

"Angkotnya mana sih." Ia celingukan melihat arah kanan. Arah angkot melaju ke arah rumahnya.

Dia menunduk melirik waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah 4. Langit tadi piket dulu makanya telat pulang. Selain itu

Saat menggunakan tugas matematika Buk Rini menyuruhnya menemui sepulang sekolah untuk menjelaskan apa yang dia buat. Dia yang bisa membuat Buk Rini memuji bangga.

"Ternyata kamu bisa Langit. Asal rajin aja pasti bakal bagus nilainya." Pujian yang membuat Langit kesenangan tapi balik dari warung belakang malah mood-nya rusak gara-gara Bumi.

Tin!

Klakson motor membuat perhatiannya beralih pada motor besar yang tidak asing. Empu yang duduk di atasnya memakai helm full face dan menghadapnya. Tahu itu Bumi, ia membuang pandang sebal.

Bumi membuka helmnya lalu turun. Ia mengambil duduk di samping Langit. Sontak Langit bergeser. Kalau biasanya mereka akan ribut mulut. Kali ini diam diam saja. Jelas membuat Bumi kian gusar.

Langit biasanya sih ngomel.

"Lagi ngambek ya?" tanyanya walau sudah tahu.

Tatapan Langit hanya lurus ke depan.

"Muka lo jelek kalau ngambek sumpah."

Bumi masih gengsi minta maaf. "Mirip itu tuh." Tangannya menunjuk poster monyet hilang yang ada dekat halte.

Bola mata Langit tetap lirik apa yang Bumi tunjuk. Tahu dia disamai dengan monyet. Ia baru menatap Bumi melotot.

Bumi tertawa.

"Mirip. Kayak gini." Bumi menirukan eskpresi Langit yang manyun begitu juga monyet di poster itu.

"Lo salah bukannya minta maaf, malah ngatain gue ya!"

"Gue kan bilang jelek aja."

"Sana lo. Gak usah dekat-dekat sama cewek bodoh."

"Jangan galak kenapa?"

"Lo yang bilang gue bodoh, kan?"

sindirnya. Bumi tertohok.

"Lo marah?"

"Lo pikir gue lagi ketawa-ketiwi?"

"Ngelucu lo." Bumi terkekeh. Tapi wajah Langit datar saja. Ia kemudian berdehem.

"Maaf," ujarnya pelan. Sangat pelan.

"Gak kedengaran."

"Maaf."

"Gak kedengaran."

"Gue minta maaf Langit," ulangnya lebih keras.

"Gak!"

"Sorry gue gak maksud." Bumi berujar tulus. Langit hanya melirik. "Di maafin gak?"

"Gak."

Bumi mengacak rambutnya lalu berdiri dihadapan Langit. Menghalangi pandangan gadis itu.

"Ganggu lo!"

"Langit?"

Langit menatapnya wajah Bumi yang tampak sangat menyesal. Cowok itu menungkup kedua tangannya. "Maaf ya?"

"Mm," balasnya bergumam.

"Gue beliin es cream deh," bujuk Bumi. "Satu atau dua? Cokelat apa Stowbery?"

Kening Langit mengernyit. "Gue gak bocil."

"Lo Bocil. Masih bocil."

"Bumi lo lagi minta maaf," ucapnya mengingatkan. Kalau-kalau Bumi lupa.

"Oh ya."

Langit mendengus. Tidak habis pikir. "Sana lo pulang."

"Gue minta maaf. Kok disuruh pulang. "

"Minta maaf pun. Lo bakal bikin gue emosi lagi Bumi. "

Bumi tertawa renyah. "Ya udah gak jadi minta maaf, " angguknya kembali duduk di samping Langit.

"Kon diiyain sih? Minta maaf. Kalimatnya nyelekit tadi."

Bumi menaikkan dua alisnya. "Loh lo bilang gak usah."

"Perlulah."

"Plin plan lo jadi cewek."

"Gak jadi kalau gitu."

"Tuh kan." Perempuan itu memang membuat pusing. Tadi katanya tidak, malah marah.

"Lo memang gak paham rumus cewek."

"Gue gak punya cewek."

"Pantes lo jomblo."

"Lo juga jomblo."

"Ish!"

Bumi terkekeh. Ia cukup senang karena Langit tidak lagi marah padanya. "Kalau lo mau gak?" tanyanya menatap Langit yang mengerucutkan bibirnya kesal.

Langit menoleh bingung. "Mau apa?"

"Jadi cewek gue."

Ia terkejut. Langit menatap kornea hitam milik Bumi yang menatapnya lekat. "Lo lagi becanda ya?"

"Iyalah. Ya kali serius."

Ia mendengus. "Lucu."

"Apanya yang lucu?"

"Ngebayangin kalau lo suka gue dan beneran nembak. Iih gue ngeri kalau lo kejar-kejar gue." Langit bergidik membayangkan.

"Gak akan terjadilah!!"

"Gak usah nyolot. Kan gue bilang bayangin," sebalnya.

"Lo bayangin karena suka gue ya? " Dua alis Bumi naik turun. "Udah cinta lo kan sama guee? " Dia menyugar rambutnya ke belakang dan tersenyum menggoda.

Langit memutar bola matanya malas." Males banget."

Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Ia kemudian menatap jalanan kala adzan ashar berkumandang. Memang angkutan kalau tidak jamnya pulang, sangat sepi.

Jalanan sekolahnya tidak banyak dilalui angkutan selain jam masuk atau pulang.

"Mau gue tebengin?" tawar Bumi langsung dapat penolakan.

"Ya udah." Bumi lantas berdiri dan menuju motornya.

"Lo ke mana?"

Bumi membalikkan badannya. "Kenapa? Lo mau ikut?"

"Enggaklah!"

"Gue mau sholat. Gak dengar suara adzan?"

"Ooh."

"Ikut gak? Sholat dulu."

Langit melirik jam ditangannya. Ia kembali melihat jalanan lagi dengan ragu. "Em nanti aja deh."

"Entar tahu-tahu mati di jalan, terus malah ke neraka karena gak sempat sholat, ucap Bumi. Mata Langit melotot. Kalimat Bumi tidak asing di telinganya. Papanya juga dulu pernah bilang hal serupa.

"Jangan gitu dong Bumi. Doain itu yang baik-baik." Tetap aja dia merinding.

"Permisalan."

"Gak lucu. Lo do'ain gue mati ya? Parah!"

"Kita gak tahu ajal. Kalau malaikat Izrail jemput lo di angkutan umum entar gimana?

"Iya gue sholat sekarang." Langit sontak berdiri dan kembali berjalan menuju gebang sekolah. Bumi tersenyum puas. Ia juga lekas memasang helm dan naik ke atas motor. Menyusul Langit ke mushalla sekolah.

Mushalla sekolah mereka cukup besar dan luas. Fasilitasnya pun lengkap. Hanya saja hari-hari sekolah, tidak banyak para siswa-siswi yang mendirikan sholat.

Langit maupun Bumi sama-sama mengambil wudhu di tempat berbeda.

Keduanya lalu mendirikan sholat ashar empat rakaat. Langit mengambil mukenah putih yang berjejer dalam lemari. Ia lalu mengambil posisi di paling tepi.

Dia membaca niat seraya takbir. Memulai sholat Ashar. Papanya pernah bilang Rasulullah pernah mengatakan bahwa jika meninggalkan sholat ashar, maka amalan kita bisa terhapus.

Saat mendengar hal tersebut, Langit bergidik ngeri. Rugi sekali jika sholat ashar tinggal, amalan lain juga terhapus. Padahal kita sudah lelah mengumpulkan amal. Makanya itu dikatakan sholat adalah tiang agama.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Selesai sholat ashar. Ia melakukan dzikir dan berdoa. Ketika kita berdoa, diharuskan memuji Allah setelah itu bersholawat kepada Rasullulah. Baru berdoa apa yang kita inginkan. Sholawat bagaikan sayap. Doa tanpa sayap maka tidak akan sampai. Itulah yang menyebabkan terkadang doa tidak dikabulkan.

Langit mengaminkan doanya begitu selesai, bertepatan dengan lantunkan alquran dari bagian shaft depan yang terdengar.

Ia terdiam mendengar lantunan yang terdengar merdu itu. Karena penasaran, Langit menyingkap sedikit gorden pembatasan sholat laki-laki dan wanita. Di sana ia melihat punggung laki-laki berjaket. Laki-laki yang sedang sholat Satu-satunya, Bumi.

"Wah," bisiknya. Langit tidak pernah mengira Bumi rajin untuk mengaji selepas sholat dan memiliki suara yang sangat merdu.

Untuk pertama kalinya dia terkagum-kagum.sampai memejamkan mata mendengarkan.

Satu kelebihan Bumi.

Lantunan Al-quran itu terhenti kemudian. Bumi yang menyadari sedang dilihat menolehkan kepalanya. Ia menutup lantunannya lalu menyimpan kembali androidnya. Iya tadi Bumi mengaji lewat ponsel.

"Terpesona sama gue sampai segitunya?"

Bumi berdiri dengan senyum menggoda.

Langit sontak membuka matanya.

Wajahnya memerah karena ketahuan. Ia sontak menutup tirai pembatas itu.

Bumi terkekeh. Ia membuka lagi tirai dan melangkahinya hingga kini berdiri di bagian perempuan. Melihat langit yang kini membuka mukena.

"Ketahuan lo."

"Gak usah GR. Gue cukup kaget aja sekelas lo suaranya bagus."

"Iya artinya lo terpesona kan?"

"Dih gak. Beda ya. Gue baru tahu aja." Langit berdiri dan berjalan ke lemari mukenah. Bumi Mengikutinya.

"Ngeles bilang." Bumi menyimpan kedua tangannya ke saku jaket. Angin berhembus kencang di luar. Awan kian nampak berat dan kelabu. Guntur pun terdengar.

"Mau hujan ya?" Langit berbadan setelah menaruh mukena. Tatapannya pada langit yang terlihat dari balik jendela mushalla.

"Hm."

Langit lalu menunduk dan mencari nomor papanya. Ia berjalan keluar kemudian. Lalu duduk di bangku depan mushala untuk memakai sepatu.

"Yakin gak gue anter aja?" tawar Bumi duduk di sebelah Langit. Juga memakai sepatunya.

"Gue telfon papa aja." Ia menyentuh icon panggil hingga tidak menunggu lama terdengar jawaban.

[Paa]

[Asalamualaikum sayang]

[Wa'alaikumusalam. Papa Langit masih di sekolah. Gak ada angkutan. Jempuut, mau hujan]

Minta Langit manja. Bumi melirik.

[Kenapa telat sayang?]

[Tadi ketemu guru dulu Papa. Terus Langit piket kelas]

[Ya sudah, Papa baru keluar kampus. Sekitar 10 menit tunggu ya?]

[Iya Pa. Assalamu'alaikum]

[Wa'alaikumusalam]

Ia sudahi panggilan itu kemudian dan menaruh ponselnya di atas bangku. Langit melanjutkan memasang sepatunya.

Bumi yang sudah selesai melihat layar

Ponsel Langit bertuliskan nama papa itu lama.

Tatapannya meredup.

Bagaimana rasanya? monolognya dalam diam.

Hujan yang tiba-tiba turun deras membuat perhatiannya beralih pada tetes air yang jatuh menghantam Bumi.

"Hujan." Langit memperbaiki posisinya duduk tegak setelah selesai. Senyumnya melengkung.

"Langit?"

"Ya?"

"Suka hujan?"

"Kenapa?"

"Lo tahu hal yang paling menyenangkan dari hujan?"

"Larian di bawah Hujan?" tebaknya.

"Ada dua hal yang menyenangkan saat hujan lebat seperti ini. Pertama kala dulu tawa waktu kecil berderai riang di bawah hujan. Kedua, kala rasa sakit bisa pecah bersama tanggis yang disamarkan, jadi tameng."

Langit terdiam. Ia menatap tatapan pilu yang dipancarkan langit ke arah hujan.

"Masa kecil seruu ya. Kita gak tahu-tahu apa dan kita bahagia semudah itu. Tapi mulai beranjak dewasa. Semuanya rumit. Bahkan untuk bahagia."

"Lo baik-baik aja?"

Bumi terkekeh dan menatapnya kemudian. "Memangnya gue kelihatan gak baik-baik aja?"

Langit tidak menjawab. "Kenapa bahagia nangis di bawah hujan kalau itu sakit Bumi?"

"Karena orang gak akan tahu kita sedang menangis menahan sakit, Langit."

"Lo lagi ada masalah?"

"Enggak. Gue lagi sok bijak aja." Bumi tertawa, tapi untuk pertama kalinya Langit melihat ada luka yang tersimpan dibalik mata itu. Ia jadi teringat saat mata Bumi memerah di dekat gramedia.

Apa Bumi sedang punya masalah?

Dering ponsel yang berbunyi kemudian membuat perhatiannya beralih. Dari Ezhar. Papanya. Ia menatap Bumi sesaat sebelum menerima panggilan. Ternyata Ezhar Sudah di depan.

"Bum, gue duluan ya?" Langit lekas berdiri

Menyandang tanya. Ia hendak akan menerobos hujan agar sampai di lobi. Di sana papanya menunggu. Mobil tidak bisa masuk.

"Tunggu!!" Seruan itu membuatnya menggurungkan niat. Kedua alis Langit menyatu.

"Kenapa?"

Dia bingung melihat Bumi melepas jaketnya. Dan tanpa Langit diduga, cowok itu menyampirkan jaket bomber itu di atas kepalanya.

"Hujan. Pakai jaket gue."

Sesaat dia tertegun akan sikap Bumi seperti ini. Apalagi jarak mereka sedekat itu. Jaket Bumi membuat tubuhnya hangat atau malah pipinya yang mendadak panas?

Harum parfum cowok itu memenuhi indra penciumannya. Bumi lalu menatap matanya hingga keduannya saling bertatapan sesaat sebelum langit menatap arah lain.

"Jangan sok gantle deh Bum. Gak cocok," ledeknya menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba datang.

"Gue lagi baik. Sana lo. Ntar bokap lo lama nungguin."

"Gue gak perlu jaket. Lagian gue bisa lari. Basah dikit ya gak apa. Sampai rumah juga ganti baju."

"Lo lari lewati lapangan aja udah basah kuyup kalau hujan gede gini." Mushola mereka memang melintasi lapangan yang besar.

"Lo gima-"

"Gue di sini. Nunggu reda."

"Ta-"

Bumi menaruh telunjuknya di depan bibir. "Diam bawel. Pulang sana."

Langit berdecak. "Jangan nyesel ya minjemin ke gue?"

"Ck. Gak. Sana!"

"Iih iya. Ngusir lo!" Ia mencebik seraya memegang kedua sisi jaket Bumi hingga melindungi kepala dan bajunya.

Bumi terkekeh.

"Gue duluan!" teriak Langit seraya berlari menembus hujan. Bumi di tempatnya memberi anggukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!