NovelToon NovelToon
Janda Seksi Milik Duda Dingin

Janda Seksi Milik Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Lari Saat Hamil
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Prettyies

Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Iddah

Raisa masih menatap ponsel Aditya di tangannya, pikirannya kacau. Tiba-tiba ponselnya sendiri berdering.

Nama Lina muncul di layar.

Raisa ragu sejenak, lalu mengangkatnya.

"Hallo, Sa…" suara Lina terdengar lebih pelan dari biasanya.

"Hallo… mih," jawab Raisa hati-hati.

Ada jeda sebentar.

"Maafkan ucapan mami tadi…" lanjut Lina akhirnya, suaranya terdengar menyesal.

Raisa terdiam sesaat, jelas kaget dengan nada suara Lina yang berbeda.

"Maafkan ucapan mami tadi…" ulang Lina pelan. "Mami sudah keterlaluan sama kamu."

Raisa menelan ludah, masih canggung.

"Nggak apa-apa, mih…" jawabnya hati-hati. "Aku ngerti… mami lagi sedih."

Lina menarik napas panjang.

"Bukan cuma karena sedih, Sa… tapi mami juga salah menilai kamu."

Raisa terdiam, tidak langsung menjawab.

"Kamu itu perempuan baik," lanjut Lina. "Dan… mami minta maaf sudah menuduh kamu macam-macam."

Mata Raisa mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih, mih…" ucapnya lirih.

Lina kembali bicara, kali ini lebih serius.

"Mami juga mau tanya sesuatu sama kamu… jujur ya."

Raisa sedikit tegang.

"Iya, mih…"

Lina menarik napas dalam.

"Kamu… punya perasaan apa sama Evan?"

Deg.

Jantung Raisa langsung berdegup kencang.

"Mih… aku…" ia terdiam, bingung harus menjawab apa.

Lina menunggu.

"Mami cuma ingin tahu… kamu melihat Evan itu bagaimana."

Raisa menggenggam ponselnya erat.

"Aku… nggak tahu, mih," jawabnya akhirnya jujur. "Semuanya terlalu cepat… aku masih bingung sama semuanya."

Lina mengangguk pelan di seberang.

"Mami ngerti…"

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,

"Tapi kalau… suatu saat Evan serius sama kamu… kamu mau kasih dia kesempatan? Sebenarnya Evan itu anak yang baik,tapi karena Ibunya meninggal dia jadi sedikit nakal."

Raisa langsung terdiam lagi.

Pertanyaan itu terasa terlalu berat untuk dijawab sekarang.

"Mih… aku belum bisa jawab," ucapnya pelan.

Lina tidak memaksa.

"Nggak apa-apa… mami cuma mau kamu tahu, mami nggak akan memaksa kamu apa-apa lagi."

Raisa sedikit lega mendengarnya.

"Iya, mih…"

"Jaga diri kamu baik-baik, Sa," ucap Lina lembut. "Kalau ada apa-apa… kamu bisa hubungi mami."

Raisa terdiam sejenak, lalu menjawab,

"Iya… terima kasih, mih."

Telepon pun berakhir.

Raisa menatap layar ponselnya lagi, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih rumit.antara lega… bingung… dan sesuatu yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.

Raisa menatap ponselnya kosong, pikirannya semakin penuh tanda tanya.

"Kenapa mami tiba-tiba berubah jadi baik…?" gumamnya pelan. "Tadi jelas-jelas dia nolak… sekarang malah nyuruh aku nerima mas Evan. Sebenarnya ada apa sih…?"

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun semuanya.

"Apa yang sebenarnya disembunyikan mas Aditya…?" bisiknya. "Atau… jangan-jangan… dia memang homo… dan mereka semua sudah tahu tapi sengaja menyembunyikannya dari aku?"

Raisa langsung menggeleng keras.

"Nggak mungkin…" ucapnya cepat, seolah menolak pikirannya sendiri. "Mas Aditya itu taat agama… dia yang ngajak aku ta’aruf, nggak pacaran… dia sopan banget… bahkan terlalu menjaga diri."

Ia terdiam, napasnya mulai berat.

"Nggak seperti mas Evan…" lanjutnya lirih. "Yang… seenaknya."

Namun pikirannya kembali berputar.

"Tapi… kalau memang begitu…" suaranya melemah, "kenapa dia nggak pernah menyentuh aku…?"

Raisa menatap kosong ke depan.

"Lalu tujuan dia menikahi aku apa…?"

Pertanyaan itu menggantung, menyesakkan.

Ia menggigit bibirnya, ragu.

"Apa aku harus… menerima mas Evan… supaya aku tahu semuanya?"

Namun detik berikutnya, ia langsung menggeleng pelan.

"Tapi… pernikahan itu bukan hal main-main…"

bisiknya. "Aku nggak bisa asal ambil keputusan cuma karena penasaran…"

Raisa menggigit bibirnya, pikirannya makin kacau.

"Apa aku tanya ibu aja ya…?" gumamnya pelan. "Tapi nanti ibu malah kepikiran…"

Belum sempat ia memutuskan, ponselnya berdering.

"Hallo, Sa…" suara ibunya terdengar dari seberang.

"Hallo, bu…" jawab Raisa pelan.

"Maaf ya, ibu nggak bisa lama-lama nemenin kamu di sana… ini lagi musim panen," ucap Surti.

Raisa tersenyum tipis.

"Iya, bu… nggak apa-apa. Raisa paham kok."

Surti terdengar ragu sejenak.

"Sa… tadi ada Vino datang ke rumah."

Raisa langsung mengernyit.

"Vino? Anak Pak Basuki?"

"Iya," jawab Surti. "Dia baru pulang dari Kalimantan. Dia bilang… mau melamar kamu."

Raisa langsung terdiam.

"Gimana menurut kamu?" lanjut Surti. "Anaknya baik loh, Sa… ibu lihat dia serius."

Raisa menghela napas panjang.

"Bu… mas Aditya baru dua minggu meninggal…" ucapnya pelan. "Kuburannya aja belum kering."

"Ibu tahu…" balas Surti lembut. "Nggak harus sekarang. Tapi nanti… setelah masa iddah kamu selesai."

Ia melanjutkan,

"Kamu juga bisa pulang ke sini. Ibu cuma khawatir… kamu di sana sendirian. Apalagi kamu nggak punya anak dari Aditya… ibu takut nanti kamu diperlakukan nggak baik sama keluarga mereka."

Raisa terdiam.

"Iya, bu… Raisa ngerti."

Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan,

"Sebenarnya… mas Evan juga…"

Surti langsung menyela,

"Dia melamar kamu?"

Raisa menelan ludah.

"Iya, bu…" jawabnya pelan. "Dan… mami Lina juga setuju aki naik ranjang."

Di ujung sana, Surti terdiam cukup lama.

Seolah mencoba mencerna kenyataan yang tiba-tiba datang bertubi-tubi.

Surti terdiam cukup lama di ujung telepon. Napasnya terdengar berat, seperti sedang berpikir keras.

"Evan itu… kakaknya Aditya, kan?" tanyanya hati-hati.

"Iya, bu…" jawab Raisa pelan.

"Terus dia mau menikahi kamu?" suara Surti masih penuh keraguan.

Raisa menelan ludah.

"Iya… dia bilang serius."

Hening sejenak.

"Sa…" suara Surti melembut. "Kamu sendiri… gimana perasaan kamu ke dia?"

Raisa langsung terdiam.

"Aku… nggak tahu, bu," jawabnya jujur. "Semuanya terlalu cepat… aku masih bingung."

Surti menghela napas.

"Jangan ambil keputusan karena terdesak, nduk," ucapnya pelan. "Nikah itu bukan main-main."

"Iya, bu…"

"Tapi ibu juga ngerti," lanjut Surti. "Kalau kamu sendirian di sana… pasti berat."

Raisa menahan air matanya.

"Ibu cuma mau kamu bahagia… bukan malah masuk ke masalah baru."

Raisa mengangguk, meski ibunya tak bisa melihat.

"Iya, bu…"

Surti terdiam lagi, lalu bertanya,

"Evan itu orangnya gimana ke kamu?"

Raisa berpikir sejenak.

"Dia… kadang baik," jawabnya pelan. "Tapi juga… maksa."

Surti langsung mengernyit di seberang.

"Kalau dia maksa… itu sudah tanda nggak baik, Sa."

Raisa terdiam.

"Ibu nggak melarang," lanjut Surti. "Tapi ibu juga nggak mau kamu nikah karena tekanan… atau karena keadaan."

Raisa menggenggam ponselnya erat.

"Iya, bu… aku ngerti."

Surti menarik napas panjang.

"Kamu pikirkan baik-baik. Jangan karena bingung, kamu pilih jalan yang malah nyakitin kamu sendiri."

Raisa memejamkan mata.

"Iya…"

"Kalau kamu mau pulang ke sini juga nggak apa-apa," tambah Surti. "Rumah ini tetap rumah kamu."

Mata Raisa mulai berkaca-kaca.

"Makasih, bu…"

Telepon pun berakhir.

Raisa menatap kosong ke depan.

Raisa duduk lemas di tepi tempat tidur, pikirannya semakin kacau.

"Bagaimana kalau ibu tahu Mas Evan lah yang mengambil keperawanan ku…?" gumamnya pelan.

Tangannya gemetar, memegang ujung selimut erat-erat.

Ia menunduk, air matanya mulai jatuh.

"Ibu pasti kecewa…" lanjutnya. "Ibu pasti mikir aku perempuan nggak benar…"

1
Felycia R. Fernandez
udah deh Sa,gak usah bolak balik menyangkal...
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
Prettyies: Dia gak normal kak😂
total 3 replies
Felycia R. Fernandez
ya bodoh kalau gak jadi nikah.
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
Prettyies: ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Prettyies: Haha emang nakal evan
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
cukup sekali ini doank
Prettyies: Ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
dasar ular...🤬
Prettyies: ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
Usir aja gih 🤬🤬🤬
Prettyies: Ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
lha 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Prettyies: betul kak
total 5 replies
Felycia R. Fernandez
Ternyata mau balikan karena ada baby yang butuh seorang ayah.laaah kenapa harus Evan
Prettyies: Karena dia kaya raya
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
kurang asem 😆😆😆
Prettyies: Betul sekali😊
total 3 replies
Felycia R. Fernandez
kenapa gtu?? karena Raisa hanya sebagai alat untuk kesembuhan aditya
Prettyies: ditunggu kelanjutannya☺
total 1 replies
vita
suka
vita
gmn kabar mona di kamar tamu
Prettyies: Ditunggu kelanjutannya☺
total 1 replies
Yulisna Yulisna
suka
Prettyies: Terima kasih☺
total 1 replies
Scarlett Rose
lnjt
Felycia R. Fernandez
ternyata oh ternyata...
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya
Felycia R. Fernandez: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Mita Paramita
jangan jangan Aditya hompipa🤣🤣🤣 ketahuan rahasianya
Prettyies: Ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
Aditya menjadikan Raisa tameng dari penyimpanan nya...
Prettyies: Ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
Raisa sebenarnya ada rasa ma Evan,cuma terpendam karena Mak nya yang gila kasta...
Mita Paramita
lanjut 🔥🔥🔥
Prettyies: Ditunggu kelanjutan nya
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
gay ya???
Felycia R. Fernandez: selalu kk Thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!