NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Pelakor

"Nina!"

Sebuah tangan menepuk pundak dan itu membuat Nina terkejut bukan main. Ia yang tengah larut dalam lamunan dibuat gugup oleh kehadiran temannya.

"Eh, ya ampun, Sania! Suka banget bikin orang jantungan! Sejak kapan kamu mengikutiku?" tanya Nina dengan menajamkan matanya, terkejut bukan main.

"Udah lumayan lama sih, sejak kamu keluar dari mobil Lamborghini."

Bola mata gadis itu terbelalak. "What? Serius kamu?"

Sania mengangkat dua jari tangannya. "Duarius," jawabnya begitu meyakinkan. "Ngomong-ngomong siapa cowok yang mengantarmu tadi? Jangan bilang kamu sudah dapat gebetan baru?"

Gadis itu menarik nafas. Itulah salah satu alasannya tidak ingin diantar oleh kakak tirinya, pasti ada orang yang julit yang selalu ingin mengetahui kepribadiannya, termasuk sahabatnya sendiri.

"Gebetan baru apaan?! Dia itu kakakku," jawab Nina jujur, tak ingin terjadi kesalahpahaman.

Sania mengerutkan keningnya. " Kakak? Setahunya Nina tidak memiliki kakak, dia hanya berdua bersaudara dengan adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP.

"Ini kamu serius cowok tadi kakakmu? Sejak kapan kamu punya kakak? Kok aku nggak pernah tahu? Bukannya kamu cuman punya adik doang?"

Gadis itu kurang yakin dengan penjelasan sahabatnya. Seumur-umur mengenalnya baru kali ini didapati orang baru di kehidupan sahabatnya.

Nina tersenyum samar dan membantahnya. "Jangankan kamu, aku saja baru tahu kalau ternyata Papa memiliki anak dari pernikahannya yang terdahulu. Selama ini Papa nggak pernah cerita mengenai kehidupan di masa lalunya. Aku pikir anak Papa cuma Dion doang, ternyata dari pernikahan pertamanya Papa memiliki dua anak laki-laki, dan mereka menetap di luar negeri bersama ibunya. Sekarang salah satu dari anaknya datang untuk mengunjunginya, aku sendiri juga nggak tahu apakah kakakku bakalan menetap atau kembali ke luar negeri."

Sania belum paham betul dengan wajah pria yang di klaim sahabatnya sebagai kakak laki-lakinya, tapi ia begitu yakin kalau pria itu memiliki paras yang tampan dengan postur tubuh tinggi tegap.

"Ngomong-ngomong kakakmu itu udah punya cewek belum? Kali aja belum punya cewek, aku bisa daftar."

Sania suka bicara jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi darinya, tapi haruskah ia bicara jujur mengenai kejadian yang menimpanya kala itu?

"Nina, kamu mendengarkan kan? Diajak ngomong dari tadi kok diam mulu!"

"Ah ..., i-iya kenapa Sania?" Lamunannya seketika buyar oleh omelan sahabatnya.

"Tuh kan, diajak ngomong dari tadi nggak didengerin. Kamu itu lagi mikirin apa sih Nin! Lagi mikirin Bagas ya?" Merasa diabaikan gadis itupun bicara cukup keras, dan itu membuatnya geram.

"Apa-apaan sih? Siapa juga yang lagi mikirin dia? Memangnya nggak ada cowok yang lebih baik lagi dari dia? Cowok macam itu bagiku sudah nggak penting!"

"Ya terus, apa yang tengah kamu lamunin?"

"Aku cuma mikir, kamu yakin mau deketin kakakku?"

Sania mengangguk. "Iya, aku yakin mau deketin dia, dan aku butuh suportmu. Kalau sampai aku jadian sama dia kita bakalan jadi satu keluarga. Kita bisa hangout bareng, kita bisa makan bareng dan kita bisa kemana-mana bareng."

Dengan cepat Nina menjawab. "Sebaiknya urungkan saja niatanmu itu!"

"Kenapa? Apa ada yang salah? Apa kakakmu sudah punya pasangan?"

"Bukan karena dia sudah ada pasangan, tapi dia begitu dingin dan alergi sama perempuan. Daripada kamu sakit hati karena sikapnya lebih baik jangan main-main dengannya!"

Entah kenapa ia tak rela sahabatnya ingin menaruh harapan pada kakak laki-lakinya. Seandainya saja Sania bisa menjadi saudaranya mungkin kemana-mana tak akan dilarang, tapi hatinya tak rela jika sampai Sania bisa dekat dengan Rendra.

'maafkan aku Sania, bukannya aku tak suka kamu jadi saudariku, tapi aku nggak bisa kasih bekasku. Kamu pantas mendapatkan pria yang baik. Memang kak Rendra baik, tapi dia sudah mengambil kehormatanku, dan aku nggak bisa membaginya denganmu.'

Sania membeku. Ia langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Ia pikir pria alergi terhadap wanita itu hanya ada di novel ataupun drama, ternyata masih ada di dunia nyata.

"Serius kamu Nin?"

"Terserah kamu mau percaya ataupun tidak itu hakmu. Aku sendiri juga baru tahu kalau dia itu alergi terhadap wanita."

Sebenarnya ingin tertawa, namun ia takut rencana untuk membohongi sahabatnya itu bakalan ketahuan.

"Terus tadi apa dia nggak ngerasa gatal-gatal atau sakit saat mengantarmu ke kampus? Atau jangan-jangan dia langsung pergi ke rumah sakit untuk mencari penawarannya?"

Semakin terlihat bodoh saja Sania tertipu oleh ucapannya. Sebenarnya kasihan, tapi sudah terlanjur.

Nina menarik nafas dan kembali membuatnya yakin. "Tadi dia sudah minum obat alergi, jadi kurasa masih aman. Aku mau banget kamu jadi saudariku, tapi aku tidak ingin kamu menanggung resikonya. Kamu itu baik dan juga cantik Sania, kamu bisa dapatkan laki-laki yang lebih baik. Keluargamu juga terpandang, aku yakin kamu bisa menaklukkan ribuan laki-laki."

Sepanjang jalan menuju kantin mereka tak berhenti membahas Rendra. Gelak tawa membuat orang-orang disekitarnya menatapnya risih.

Sania menghentikan langkahnya ketika tak sengaja melihat sosok wanita yang begitu familiar. Ya, dia masih ingat betul dengan perawakan wanita tersebut.

"Nina coba lihat," tunjuknya ke satu titik di mana wanita itu telah berdiri. " Bukannya dia cewek yang di unboxing sama si Bagas? Ngapain dia ada di sini? Apa dia kuliah di sini?"

Mata Nina menyipit mengikuti telunjuk Sania. "Sepertinya benar, dia cewek selingkuhan si Bagas. "Kok dia ada di sini?"

"Kurasa itu cewek memang kuliah di sini. Tapi kenapa kita baru mengetahuinya? Atau jangan-jangan dia masih baru menjadi penghuni kampus ini?"

Mereka sama-sama dibuat penasaran dengan keberadaan sosok tersebut. Rasanya ingin menguliti dan memberinya pelajaran agar semua orang tahu bahwa wanita itu suka membuat masalah.

"Kayaknya dia baru masuk kampus ini. Atau jangan-jangan dia anaknya dosen?"

Sania mengibaskan tangannya. "Halah, apapun alasannya, pelakor tetaplah pelakor. Mau anaknya dosen ataupun anaknya Jendral kalau salah tetap akan salah. Jangan karena dia anaknya dosen di sini kita harus menghormatinya. Wanita macam itu tak pantas untuk dihormati."

Meskipun bukan dirinya yang diselingkuhi tapi rasa sakitnya menjalar hingga merusak syaraf motoriknya. Ia harus bisa membalaskan dendam atas penghianatan yang dilakukan terhadap sahabatnya.

"Yaudah deh, kita balik ke kelas aja. Malas bertemu dengan sampah di sini."

Sania meraih tangan Nina untuk dibawanya pergi. Tiba-tiba saja ada sebuah tangan terlentang menghalangi jalannya.

"Hai, sepertinya kita pernah bertemu? Tapi di mana ya?"

Dengan percaya dirinya wanita itu berjalan mendekati mereka.

"Jaman gini kok masih ada cewek berpenampilan cupu. Pantas saja cowoknya berpaling, penampilan ceweknya aja kampungan!"

Secara terang-terangan wanita bernama Maura itu menghina penampilan Nina. Sontak ucapannya itu memacu kemarahan keduanya.

"Apa kamu bilang barusan? Penampilan temanku ini kampungan? Kau punya kaca mata nggak sih? Mata rabun masih juga dipakai!"

Sania tak bisa mengendalikan emosinya. Bisa-bisanya seorang pelakor mengatai orang yang sudah direbut kekasihnya.

"Kau sadar dirimu itu siapa? Kau hanyalah manusia sampah yang tak tahu diri. Bangga sekali menjadi pelakor."

Wanita itu mendelik tak terima dengan penghinaan yang diterimanya. "Jaga ucapanmu! Atas dasar apa kau mengataiku pelakor!" Bola matanya melotot, tersulut emosi.

"Apa? Nggak terima aku katain pelakor?" Sania menantang dengan berkacak pinggang, tak peduli menjadi tontonan banyak orang. "Wanita terhormat itu tidak akan mengganggu hubungan orang apalagi menyerahkan kehormatannya pada pria yang sudah memiliki kekasih. Kau pikir sudah benar ngatain orang kampungan. Jangan coba-coba cari masalah denganku kalau ingin hidupmu tenang!"

1
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!