NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Aning

"Hee ...?" Collins bingung menjawabnya. Ia menggaruk-garuk kepala. "Iya ... begitulah."

"Padahal, dari cara bicara, kayaknya pendidikan Abang tinggi."

Pria itu tentu saja semakin heran karena tebakan sang wanita benar semua. Collins merasa beruntung Aida tak bisa melihatnya, sebab kalau bisa, mungkin wanita itu tahu dari mana ia berasal. Begitulah pemikiran dangkal pria itu ketika Aida bisa menebak banyak hal hanya dari suaranya.

"Pasti pernah kuliah 'kan? Pernah kerja kantoran juga?"

"Eh ... ya, tapi sudah berhenti." Collins semakin ragu-ragu. Sampai di mana sebenarnya pengetahuan wanita itu akan dirinya hanya dengan mendengarkan suaranya?

"Dipecat ya? Oh, sayang ya. Jadi sekarang lagi cari-cari kerjaan? Tapi Abang gigih juga. Pekerjaan apapun dikerjakan. Demi anak istri ya, Bang?"

"Eh, bukan. Aku masih sendiri." Kali ini tebakan Aida salah dan membuat Collins lega. Wanita itu tak sepenuhnya pintar dalam menebak.

"Oh, maaf." Aida mengangguk pelan. Ia terdiam sejenak. Aida merasa telah terlalu banyak bertanya hingga ia langsung beranjak berdiri. "Eh, silakan istirahat saja, gak usah buru-buru. Saya masuk ke dalam dulu." Ia melangkah masuk. "Nanti kalau sudah selesai, panggil saja ya?" ujarnya ketika melangkah masuk.

"Eh, iya." Collins menikmati tehnya sambil tersenyum. Sangat menyenangkan bisa mengobrol dengan Aida walau hanya sebentar. Wanita itu tak menyadari sang pria bisa bebas memandangi wajah cantiknya dari dekat.

Saat Collins menyelesaikan pekerjaan yang tersisa, sebuah motor berhenti di depan pagar. Yang wanita membuka pintu pagar dan yang pria memasukkan motornya. Wanita muda berambut lurus sebahu itu kaget melihat keberadaan Collins. "Kamu tukang bersihin halaman?" tanyanya saat melihat apa yang dikerjakan Collins.

"Eh, iya, Mbak." Collins mengangguk pelan.

Wanita itu terus memandangi Collins sambil menghampiri pria yang membawa motor. Pria itu melepas helm seraya menyentuh lengan sang wanita. "Hei, mata kamu ke mana? Lepas helmnya!" Ia sepertinya kesal, wanita itu memperhatikan Collins.

"Eh, iya." Sang wanita melepas helmnya.

Sang pria yang memakai t-shirt dan celana jeans, cemberut saat melirik Collins yang sedang memotong dahan dan daun yang sudah kering. "Ada yang gantengan dikit aja ...," gumamnya dengan nada kesal.

"Apa sih ... aku hanya kaget karena orangnya bukan yang biasa!" Wanita itu menghindar. "Ayo, masuk!"

Pria itu mengikuti sang wanita masuk ke dalam rumah. Collins tentu saja heran. Ia melihat pria itu duduk di ruang tamu dengan pintu terbuka. 'Apa ini sepupu Aida yang dibilang Babe waktu itu? Mmh, sepertinya begitu ....'

Di dalam, wanita muda itu menemui Aida dengan masuk ke kamarnya. "Kak, itu siapa di depan?"

"Oh, dia gantiin Pak Munir." Aida yang tengah duduk di kursi, menoleh. Ia tengah membaca buku dengan huruf Braille.

"Saudaranya Pak Munir?"

"Oh, aku gak tau. Tapi kerjanya memang serabutan."

Wanita berambut sebahu itu mengerut kening. "Dari mana kakak tahu?"

"Mmh? Aku sering ketemu dia. Di pasar, depan sekolah SLB, ...."

"Jangan-jangan dia ngikuti Kakak lagi seperti yang waktu itu? Hati-hati lho, Kak! Kakak juga jangan genit-genit jadi orang!" tuduh wanita itu lagi.

"Aning, Kakak gak pernah gitu." Aida menekan suaranya agar tidak terdengar sampai keluar.

"Alah, siapa yang percaya!? Kakak mungkin buta, tapi enggak otaknya. Merasa diri paling cantik, terus kalau ada yang deketin aja, sok jual mahal. Padahal mau. Ini juga, orangnya gak jelas. Masa dia ada di mana-mana? Kalo bukan karena ngikutin Kakak, lalu apa!? Jangan pura-pura naif deh, Kak, jadi orang!" ucap Aning sengit seraya melipat tangan di dada.

"Kakak memang gak pernah suudzon sama orang, Aning, tapi setidaknya waspada. Apalagi, kakak buta. Kakak juga tidak mau dekat dengan laki-laki seperti itu. Sejauh ini kakak lihat dia sopan, jadi kakak biarkan dia bekerja."

"Mentang-mentang ganteng," gumam Aning.

"Apa? Ganteng?" Mata Aida melebar.

'Oh, iya. Dia buta ya. Mana bisa lihat. Wajahnya seperti artis Jepang. Kalo gak miskin-miskin amat, aku juga mau dekat-dekat ama dia, mmh!' "Eh, Kak, ada Ryan di luar. Jangan keluar ya?"

"Lama gak? Nanti Bang Bara selesai, kakak harus bagaimana?"

"Ntar aku kasih tau. Awas ya, jangan keluar!" Aning memperingatkan sambil keluar dan menutup pintu. Ia kemudian duduk menemani pacarnya, Ryan di ruang tamu. Sesekali Aning melirik ke arah luar di mana Collins sedang bekerja. Matanya memang tak bisa memungkiri, pria itu sangat tampan walaupun hanya memakai baju kaos dengan celana jeans yang murah.

Baju Collins sedikit basah karena matahari masih bersinar, walaupun tidak terlalu terik. Sesekali ia menyeka keringat yang mengalir di dahi dengan punggung tangannya.

Tak lama Ryan pamit. Aning membantu membukakan pintu pagar. Pria itu memakai helm dan mendorong motornya keluar. Aning melambaikan tangan pada Ryan ketika motor pacarnya itu bergerak pergi.

Saat beralih pada Collins, pria itu sedang menuju gudang belakang rumah. Aning bergerak masuk ke dalam rumah. Ketika ia merapikan cangkir minuman bekas pacarnya, Collins datang.

"Eh, maaf, Mbak. Saya mau numpang cuci tangan."

"Apa?" tanya Aning terkejut. 'Bukankah dia bisa cuci tangan di luar?'

"Eh, Saya minta sabun sedikit untuk cuci tangan."

Dengan pandangan aneh wanita itu menjawab. "Eh, ya ... di kamar mandi."

Collins menganggukkan kepala dengan sopan. Ketika ia melangkah ke kamar mandi, Aning segera masuk ke kamar Aida dan memberi tahu. "Tuh. Dia udah selesai, tuh!"

"Oh, iya." Aida mengambil uang yang sudah disiapkan di atas meja dan beranjak berdiri. Dengan tongkatnya ia bergerak keluar kamar menuju beranda.

'Dasar orang buta boddoh!' Aning memperhatikan sepupunya yang berdiri menunggu dengan pandangan meremehkan.

Tak lama Collins keluar dan mengangguk sopan pada Aning saat melewati. Ia mendatangi beranda di mana Aida tengah berdiri. "Eh, sudah selesai, ustadzah."

Aida memutar tubuhnya ke arah datangnya suara. Ternyata Collins ada di sampingnya. "Oh, iya. Ini upahnya. Terima kasih ya."

Collins menerima uang yang diberikan Aida. "Ah, sama-sama. Kalau butuh lagi, tinggal bilang aja."

"Oh, Abang punya nomor telepon?"

Seketika Collins terdiam. Ia sengaja meninggalkan ponsel di loker stasiun kereta api karena tidak ingin sang ayah melacak keberadaannya. Lalu, bagaimana caranya Aida bisa menghubunginya? "Eh, ponselku rusak karena jatuh. Aku belum beli lagi. Nanti kalau sudah beli yang baru, nanti aku kasih tau."

****

Pintu dibuka. Ada Ipah di depan pintu. Collins tak tahu apa yang diinginkan wanita ini hingga mencarinya ke kamar. "Apa, Mpok?"

Ipah tersenyum penuh arti. "Katenye lu beli Alquran ye? Mane, coba liat?"

Collins mengerut kening. "Untuk apa?"

Ipah menyerobot masuk. Ia melihat Alquran itu terbuka di atas meja. "Lu lagi baca?"

"Iya. Kenapa?"

"Coba, gue mau denger lu baca."

Kini Collins merengut. "Apa sih? Mau usil lagi ya?"

"Cuma pengen tau doang, kenape sih?" Ipah duduk di tepi ranjang. "Ayo ...."

"Untuk apa?" Pria itu masih berkeras berdiri.

"Alah ... bilang aja lu kagak bisa baca, iye 'kan?"

"Bisa!" sanggah Collins dengan tegas.

"Coba, Mpok mau denger!"

Dengan ragu, pria itu duduk di kursi. Sebenarnya agak malu juga, karena ia tidak bisa membacanya dengan lancar, tapi demi agar tidak diledek Ipah, Collins mulai membaca Alquran. "Bismillahirrahmanirrahim. Alif-lam-mim."

"Bacenye jangan 'mim'. 'Miim', karena die terakhir. Coba ulangi." Ipah mulai mengajari.

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!