NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:142k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Tempat yang Perlahan Digantikan

Alvian menunduk sebentar. Lalu berkata pelan, “Tadi… kalau Al jatuh…” Ia berhenti sejenak. “…Om pasti pegang, 'kan?”

Fahri tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak.

“Iya,” jawabnya akhirnya. Pelan. Pasti. “Om pegang.”

Alvian mengangguk kecil. Senyum itu kembali muncul. Kali ini… lebih kecil. Namun cukup untuk membuatnya tidak lagi menoleh ke arah gerbang.

Ayza berdiri di pinggir lapangan.

Sejak tadi… ia tidak benar-benar bernapas dengan tenang. Matanya tidak pernah lepas dari satu titik.

Alvian.

Dan pria di sampingnya.

Fahri.

Setiap tarikan tambang itu seperti ikut menarik sesuatu di dalam dadanya. Kuat. Menyesakkan.

Saat Alvian hampir kehilangan keseimbangan, jantungnya seperti ikut jatuh.

Namun detik berikutnya… Fahri menahan. Menopang. Tanpa berkata apa-apa. Dan Alvian… tetap berdiri. Tetap bertahan.

Napas Ayza tertahan. Ia tidak tahu… sejak kapan matanya mulai memanas. Yang ia tahu, anaknya tidak sendiri. Meski bukan dengan orang yang seharusnya.

Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Bukan karena marah. Tapi karena… ada rasa yang lebih sulit dijelaskan.

Lega… dan sekaligus perih.

Di tengah sorak-sorai orang tua lain, ia justru terdiam. Tatapannya tidak berpindah. Melihat bagaimana Alvian menoleh ke Fahri. Melihat bagaimana bocah itu tersenyum.

Senyum itu… begitu lepas. Begitu tulus. Dan justru karena itu, dada Ayza terasa seperti diremas pelan.

Karena senyum seperti itu… seharusnya hanya muncul untuk satu orang.

“Harusnya… kamu yang ada di sana,” gumamnya lirih dalam hati.

Bukan Fahri. Bukan siapa pun. Tapi, ayahnya.

Ia mengedip cepat. Menahan sesuatu yang hampir jatuh. Tidak di sini. Tidak sekarang.

Namun saat Alvian tertawa kecil di sana… dan tanpa sadar sedikit mendekat pada Fahri, sesuatu di dalam dirinya… benar-benar retak.

Bukan karena Fahri salah. Justru karena… ia melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang lain.

Dan sejak lomba itu dimulai… Ayza baru menyadari satu hal.

Yang perlahan berubah… bukan lagi hubungan mereka sebagai suami istri. Tapi sesuatu yang seharusnya tidak pernah tergantikan.

Tempat itu, yang dulu hanya milik seorang ayah… kini… perlahan mulai diisi oleh orang lain.

***

Di dalam mobil Kaisyaf. Tatapan pria itu masih tertuju pada putranya dan Fahri.

Tarikan tambang dimulai. Dan Fahri menarik. Menahan. Menjaga. Seperti… seperti yang seharusnya seorang ayah lakukan.

Jari-jari Kaisyaf menekan setir lebih kuat. Sampai buku-buku jarinya memucat.

Namun ia tidak bergerak. Tidak keluar. Tidak menghampiri. Hanya… melihat.

Melihat bagaimana anaknya bertahan di atas pundak pria lain.

Melihat bagaimana Fahri menjaga keseimbangannya… tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

Lalu, lomba itu berakhir. Tarikan terakhir dilepas. Tubuh-tubuh yang tadi tegang perlahan mengendur.

Dan saat itu, Alvian menoleh. Ke arah Fahri. Senyum kecil itu akhirnya muncul. Lepas. Ringan. Seolah semua tegang tadi… hilang begitu saja.

Dan tanpa sadar, bocah itu sedikit condong ke depan. Ke arah Fahri. Lebih dekat. Percaya. Nyaman.

Dan di saat itu, sesuatu di dalam dada Kaisyaf… terasa seperti ditarik paksa.

Bukan karena cemburu. Bukan juga karena marah. Tapi karena, itu adalah tempatnya.

Dan ia sendiri yang memilih untuk tidak berada di sana.

Napasnya keluar pelan. Berat. Matanya masih tertuju ke satu titik itu.

“Bagus…” gumamnya pelan.

Entah untuk siapa.

Untuk Fahri. Atau untuk dirinya sendiri yang sedang meyakinkan sesuatu.

Tangannya perlahan melepas setir. Namun tidak untuk keluar. Ia justru bersandar ke kursi.

Tetap di tempatnya. Seolah ada garis yang tidak boleh ia lewati. Dan hari ini, ia memilih… tetap berada di sisi yang lain.

Ia menyalakan mesin mobil. Tatapannya kembali dingin. Terkunci. Seolah semuanya tadi… tidak pernah terjadi.

Mobil itu perlahan bergerak. Menjauh. Dari tempat di mana seharusnya ia berada.

***

Usai lomba, suasana masih riuh. Beberapa anak tertawa, sebagian lain sibuk menceritakan kemenangan mereka.

Fahri berdiri di dekat Alvian. Tangannya masih sesekali menepuk pelan bahu bocah itu.

Langkah seseorang mendekat.

“Maaf…” suara seorang pria terdengar ragu, tapi antusias. “Anda Fahri Al-Fadhli, 'kan?”

Fahri menoleh.

Pria itu menatapnya lekat, seolah memastikan. “Pembalap nasional yang masuk lima besar di balap Asia itu?”

Beberapa orang tua lain mulai menoleh. Memerhatikan.

Fahri mengangguk kecil. “Iya.”

“Masya Allah… ternyata benar,” ucap pria itu, senyumnya melebar. “Anda lebih tampan dari yang di layar.”

Beberapa ibu-ibu mulai berbisik pelan.

“Itu dia?”

“Iya, kayaknya benar deh…”

“Yang kemarin masuk balap Asia itu, 'kan?”

Fahri tersenyum tipis. Sedikit canggung, tapi tetap ramah. “Terima kasih, Pak.”

“Prestasi Anda itu luar biasa,” lanjut pria tadi. “Masuk lima besar di balap Asia… itu kebanggaan, lho.”

Fahri menggeleng pelan. “Baru lima besar, Pak. Belum podium.”

“Lima besar itu sudah luar biasa,” potong pria itu cepat. “Sebagai fans, saya bangga.”

Bisik-bisik makin terdengar.

“Gila… ternyata dia…”

“Gak nyangka ketemu di sini…”

“Aku juga fansnya…”

Di samping Fahri, Alvian berdiri diam. Matanya menatap pria di sebelahnya itu. Lama.

Biasanya… ia sudah tahu. Om Fahri hebat. Tapi mendengar orang lain mengatakannya seperti itu… rasanya berbeda.

Dadanya terasa hangat. Kecil. Tapi jelas.

Tanpa sadar, tangannya sedikit mendekat. Menyentuh sisi baju Fahri. Pelan. Seolah… ingin memastikan pria itu benar-benar ada di sana.

“Boleh… minta foto bareng, Mas?” tanya pria itu lagi.

Fahri tersenyum.

“Tentu, Pak.”

Ia sedikit bergeser, memberi ruang. Pria itu berdiri di sampingnya, seseorang lain langsung membantu mengambil foto.

Klik.

Beberapa orang lain mulai mendekat. Minta foto. Menyapa. Fahri melayani dengan sabar.

Dan di tengah keramaian itu… Alvian berdiri di sampingnya. Tidak mengatakan apa-apa. Namun kali ini… ia tidak menjauh.

***

Seorang anak di samping Alvian menepuk lengannya pelan. “Al… ternyata Om kamu hebat, ya.”

Alvian menoleh. Lalu… tersenyum. Kecil, tapi bangga. “Iya.”

Anak itu melanjutkan, polos seperti biasa. “Ayahku bukan pembalap. Tapi aku suka naik motor sama Ayah. Di depan.” Ia tertawa kecil. “Seru banget.”

Alvian diam.

“Kalau kamu… sudah pernah naik motor sama Om kamu?”

Alvian menggeleng pelan.

Anak itu mengerucutkan bibir. “Wah… sayang sekali.”

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa… terasa tertinggal.

Beberapa orang tua mulai pamit. Keramaian perlahan berkurang. Satu per satu, orang yang tadi meminta foto mulai meninggalkan tempat itu.

Kini, suasana jauh lebih tenang.

Alvian menatap Fahri. “Om…”

Fahri menunduk. “Iya?”

“Om ke sini pakai apa?”

“Motor,” jawab Fahri ringan. “Tadi buru-buru. Takut terlambat… tapi tetap aja telat.” Ia tertawa kecil.

Mata Alvian langsung berbinar.

“Boleh Al pulang bareng Om?” Kalimat itu keluar cepat. Penuh harap.

Fahri tidak langsung menjawab. Tatapannya… beralih ke Ayza.

Alvian mengikuti arah itu. Ia menoleh ke ibunya. “Umi…” suaranya melembut. “Boleh, ya?”

Tangannya menarik pelan ujung hijab Ayza. Wajahnya menengadah. Mata itu… jernih. Memohon. Tanpa paksaan, tapi sulit ditolak.

Ayza terdiam.

 

...🔸🔸🔸...

...“Kehadiran yang kosong lebih menyakitkan saat ada orang lain yang mengisinya.”...

...“Yang hilang bukan langsung pergi, tapi pelan-pelan tergantikan.”...

...“Seorang anak tidak berhenti berharap… sampai ia mulai menerima.”...

...“Ia tidak kehilangan ayahnya hari itu… ia hanya belajar hidup tanpa menunggunya.”...

...“Beberapa posisi tidak direbut… hanya ditinggalkan terlalu lama.”...

...“Kadang, yang datang bukan yang ditunggu, tapi yang akhirnya tinggal.”...

...“Yang hilang bukan langsung pergi, tapi pelan-pelan tergantikan.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Akhirnya tamat sudah cerita yang sangat bagus ini.
Terima kasih Author dengan cerita yang bagus, menghibur, terharu, dan bisa dipetik sebagai pembelajaran dalam kehidupan nyata. Semoga Author selalu sehat, semangat, penuh berkat dan senantiasa dalam perlindunganNya 🙏🙏
Anitha Ramto
yaaaa tidak terasa udah end lagi, padahal masih seneng dengan kisah Ayza dan Fahri..

happy ending
Dew666
💜💜💜💜
Anonim
Ternyata Reza mengikut Fahri dan keluarganya yang sedang berada di pantai. Benar-benar penguntit sejati.

Ayza ke toilet. Reza bergerak mendekati bangunan toilet.

Ayza keluar dari toilet - Reza sudah berdiri di depannya. Bikin Ayza terkejut.

Reza sudah mendengar Ayza berkata yang sebenarnya. Apa masih kurang jelas - masihkah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki kembali.
Hanima
😍👍🙏
Anonim
Reza sebagai pengamat sejati ketika mereka makan pagi. Dia tahu kenapa Fahri terlihat berwajah cerah.

Melihat interaksi atara Fahri dan Ayza. Mendengar Alvian memanggil Abi untuk Fahri.

Semua itu membuat dada Reza terasa semakin sesak.

Alvian mau mancing di pantai. Mereka bertiga menuju pantai.

Reza mau ngapain keluar rumah juga dengan mobilnya.

Ditanya Bundanya - jawabnya ada urusan sedikit.

Sepertinya Rahman was-was terhadap Reza. Tidak akan tinggal diam kalau Reza sampai mengusik keluarga Fahri.
Rea
iya aku bacanya jg loncat krn nangis terus
🌠Naπa Kiarra🍁: Berarti sedihnya sampai nggak kuat ya, Kak 🥹

Tapi bacanya jangan lompat-lompat, kasihan retensinya 😭 Kita sesama penulis pasti tahu rasanya lihat grafik tiba-tiba jungkir balik.

Ujung-ujungnya reward melambaikan tangan dari kejauhan: waalaikumsalam 😂

Yang tersisa cuma mata panda gara-gara sistem baca model kodok.😭
total 1 replies
ngatun Lestari
masyaalloh.... banyak liku" hidup yg jadi pelajaran
Dek Sri
terima kasih atas karyanya kak, semoga sukses selalu
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author 🙏
Sehat selalu ya 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kisah yang haru biru sih, semoga kisah baru yang juga sudah dibaca juga seru yah🥰🥰
Sugiharti Rusli
bahkan pada akhirnya Fahri mengakui perasaan yang dia punya ke Ayza setelah dia sah sebagai suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena mau menolak seperti apapun Ayza, kalo takdirnya berjodog dengan Fahri makanya memang ada jalannya melalui Alvian yang sangat menyayanginya,,,
Sugiharti Rusli
dan Fahri juga tidak pernah melampaui batasannya, bahkan setelah Kaisyaf wafat, dan pada akhirnya takdirlah yang meruntuhkan hati Ayza,,,
Sugiharti Rusli
bahkan mungkin dulu saat akhirnya Ayza berjodoh sama mendiang Kaisyaf, dia tetap ada bersama mereka sebagai adik mereka
Sugiharti Rusli
yah memang pada akhirnya memenangkan hati Ayza bukan karena ambisi buta sih,,,
Eliermswati
trma ksh thor untuk semua cerita nya, smngt dan sukses untuk karya mu selanjutnya, 😍😍😍y q msh penasaran pengen d lnjut tentang alvian gede dan ank ayza sm fahri sih
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Asih Prawawati
Terima Kasih Thour..
Terima Kasih...akhir cerita yang indah .
aku suka .
Bukan sekedar bacaan...yg perlu di baca .
Tapi lebih dari itu ..ada pembelajaran juga .
🙏🙏🙏🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Dek Sri
saya sudah mampir kak
🌠Naπa Kiarra🍁: Iya, Kak. Makasih 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Juriah Juriah
trimakasih kepada author Nana atas crita bagus nya ga krasa aku mengikuti jln crita kisah kehidupan Ayza hingga season 2 dan sudah tamat ..dan sy akan mencoba mengikuti crita yg baru terbit semangat trus buat crita baru yg lebih bagus dan sukses selalu 🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!