Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Tidak Bisa Menunggu Lama
Sore ini suasana langit sudah mulai berubah menjadi warna keemasan, Adrian sore ini memutuskan untuk pulang ke rumah utama Mahendra karena ada hal penting yang ingin disampaikan.
Perasaannya kali ini terasa lebih terasa campur aduk, cemas, tidak sabar, bahagia, ada sedikit ragu tapi semua itu tidak mengubah rencananya saat ini.
Diruang kerja rumah utama keluarga Mahendra Adrian kini berdiri tegak didekat jendela, tangannya berada didalam saku celana dengan tatapan yang mulai jauh menerawang kedepan dengan jutaan rencana.
Ara... Satu bulan yang pernah kita sepakati bahkan terkesan tidak masuk akal untuk sebuah perkenalan melalui perjodohan orangtua.
Ternyata kini rasanya terlalu lama untuk melewati waktu satu bulan itu, bukan karena cepat tapi karena tepat.
Tok... Tok... Tok...
" Masuk"
Ketukan pintu terdengar, meskipun dirumah pribadi etika tetap yang utama.
" Kamu memanggil kami, Adrian? Apa apa tumben sekali. Jarang pulang sekalinya pulang banyak mau" ucap sang Ayah yang kini mulai melangkahkan kakinya menuju sofa diikuti sang istri.
" Sabar dulu kenapa, Yah. Ngedumel terus duduk dulu santai dulu takut kaget apalagi usia udah tua kan" Adrian menganggukkan kepalanya.
Sang Ibu hanya bisa menghela nafasnya karena jika anak dan Ayah sudah dekat, sepertinya jika tidak ribut tidak akan tenang hidup mereka.
Suasana hening sejenak bukan karena canggung tapi karena Adrian sang pemilik acara yang tengah memilah dan memilih kata yang tepat untuk disampaikan kepada kedua orangtuanya.
" Ayah... Bunda... Aku berencana ingin melamar Nayara lebih cepat dari kesepakatan awal" Adrian mencoba menatap kedua orangtuanya.
" Hahh... kamu mimpi apa gimana, Ad?" benar saja respon kedua orangtuanya cukup kaget.
" Mulutnya, Yah".
" Ya kamu mau lamar anak orang udah kaya ngajakin pergi liburan, tahu bulat juga minder sama kamu" Jawab sang Ayah.
" Udah... Udah... Kenapa lebih cepat, Ad? Semua baik-baik aja kan?" tanya sang ibu yang mulai menengahi.
" Iya, Bun. Kalau udah tepat kenapa harus nunggu lama ya kan? Udah sama-sama dewasa kalau tujuan udah sama, hati udah searah mau apalagi, Bun". Adrian menjawab dengan tenang.
Kembali hening dengan posisi sang Ayah kini menyandarkan tubuhnya disofa, tatapannya kini menatap dalam wajah sang anak seolah tengah mencari jawaban.
" Kamu yakin dengan keinginan kamu? Pernikahan itu bukan main-main loh Adrian, jadi jangan memutuskan suatu hal dalam kondisi emosi" Ayahnya kini menatap sedikit tajam.
" Bukan karena terburu-buru apalagi jadi mainan, Yah. Aku enggak sepolos itu juga" Adrian sedikit mengerucutkan bibirnya.
" Lalu, bagaimana dengan Nayara? Memangnya dia mau?" Sang Ayah kembali bertanya untuk memastikan.
" Astaga, Ayah mulutnya jahat banget sama anak sendiri. Nayara juga sudah yakin dan kami sama-sama sepakat untuk berjalan kearah lebih serius" Adrian tersenyum tipis.
Sebagai orangtua mereka sangat mengenal bagaimana anaknya, dan kali ini mereka melihat jika tatapan bahkan ekspresi sang anak menunjukkan bahwa Adrian adalah laki-laki yang sudah memilih.
" Apa yang membuat kamu yakin?" Kini sang Bunda yang bertanya.
" Karena untuk pertama kalinya aku merasa tidak harus berpikir dua kali" Jawaban mudah dari mulut Adrian.
" Apa Nayara yang membuat kamu seperti itu?" kembali sang ibu meyakinkan.
" Iya, Bunda" Adrian menganggukkan kepalanya
Keheningan kembali datang dengan suasana yang lebih ringan dan hangat.
" Baiklah kalau begitu, kita percepat saja Bun" Ayah Adrian kini membuka suaranya.
" Serius, Yah?" Adrian membuka kedua matanya.
" Iya semakin cepat semakin baik"
Ada kelegaan yang langsung terasa didada Adrian, ia tidak menyangka jika keputusan yang sejak tadi dikhawatirkan ternyata mendapat dukungan dan diterima secepat ini tanpa drama.
" Terimakasih banyak, Yah, Bun".
" Kami hanya ingin kamu bahagia, tinggal kamu kasih tau Nayara. Jangan sampe kita kesana Nayara menolak malu nanti harga diri kamu drop" Canda sang Ayah serasa menepuk pundak Adrian.
Ara...
Aku tidak tahu bagaimana reaksi kamu nanti setelah tahu rencanaku kali ini.
Tapi aku benar-benar ingin kita melangkah lebih cepat bersamamu.
Selesai dengan rencana yang telah dibicarakan dengan kedua orangtuanya, kini malam mulai hadir menggantikan posisi matahari.
Adrian kembali berdiri didekat jendela kamarnya, ponsel yang berada ditangannya kini terlihat jelas nama yang sedang ditatap olehnya.
My Ara ❣️
Adrian tersenyum tipis seraya menatap nama kontak yang kini benar-benar mengalihkan dunianya, menarik nafas pelan dan mulai menekan tombol memanggil.
Ttuuuutttt.... Ttuuuutttt... Ttuuuutttt...
Tiga kali sambungan baru terdengar sapaan lembut diseberang sana, terlihat Nayara yang baru saja selesai dengan ritual membersihkan tubuhnya dengan rambut yang masih sedikit basah.
" Hallo Mas Mahen..."
" Ara... Rambut kamu basah, keringkan dulu" Suara Adrian terdengar rendah namun lebih dalam.
Nayara tidak tahu saja kita saat ini Adrian sedang mengalihkan pikirannya, melihat Nayara segar malam ini membuat ego ingin memiliki seutuhnya kembali hadir.
" Iya, aku baru selesai mandi Mas hehe..."
" Cantik..." pujian itu keluar dengan mandiri dari bibirnya.
" Gombal banget, Mas lagi ngapain?" tanya Nayara seraya gerakannya kali ini sedang mengeringkan rambutnya.
" Lagi mikirin hal baik, kamu pasti kepo hehehe" Adrian tatapannya sangat fokus melihat kecantikan Nayara.
" Apa tuh" jawab Nayara.
" Ara... " Panggil Adrian.
" Apa kamu siap jika semua berjalan lebih cepat dari rencana kita?" Tanya Adrian hati-hati.
" Lebih cepat? Maksudnya gimana Mas? Aku takut salah memahami" Nayara mulai terlihat bingung.
" Aku ingin melamar kamu, dan menikahi kamu lebih cepat" Jawab Adrian seraya menarik nafas pelan.
Tuhan...
Ini lebih cepat dari apa yang aku bayangkan, tapi anehnya kenapa aku tidak merasa takut?
" Maksudnya Mas Mahen, kita tidak akan menunggu satu bulan?" Nayara kini tersenyum tipis.
" Iya, apa kamu keberatan?" tanya Adrian dengan jantung mulai berolahraga dimana detaknya lebih kenceng.
" Tapi jika kamu merasa belum siap, tidak perlu khawatir...." suara Adrian kini berubah lebih lembut.
" Kata siapa? Aku sangat tidak keberatan kok" ucap Nayara ceria.
" Benarkah?" Adrian seolah tengah memastikan apa yang ia dengar tidak salah.
Beneran banget Mas, karena aku juga tidak bisa menunggu terlalu lama ".
" Ara... Terimakasih karena mau berjalan lebih cepat denganku" Nayara tersenyum kecil menatap layar ponselnya yang masih terhubung dengan Adrian.
" Sama-sama, terimakasih juga sudah hadir dan menjadi salah satu alasan aku masih hidup" Jawab Adrian.
Dan malam ini, meskipun tidak ada pertemuan dan tatapan langsung.
Namun jarak tidak lagi terasa berarti ketika dua hati itu telah memutuskan untuk tidak ragu, tidak menunda, tidak ragu.
Ara ...
Aku akan datang bukan hanya untuk bertemu denganmu, apalagi untuk membatalkan perjodohan kita, tapi untuk meminta kamu secara resmi kepada kedua orangtua kamu yang telah melahirkan seorang anak hebat untuk menjadi teman hidupku.