Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML011~ Minta Papa Baru
Di kamar Pak Alex...
Sebuah foto yang ia simpan di laci dengan posisi terbalik akhirnya ia berani membalikkannya lagi. Pak Alex mengambil foto itu dan memandanginya dengan lekat.
Foto Alena saat masih kuliah dulu, selama 10 tahun saat foto itu mulai buram, ia kembali mencetak ulang, hingga 8 tahun yang lalu ia berpikir akan mendapatkan Alena namun ternyata tidak, ia kembaku menyimpan foto itu.
Selama 8 tahun, Alena tidak pernah mati dalam hatinya, selama 8 tahun ini Pak Alex sudah mencetak foto Alena sebanyak 3 kali, foto-foto yang sudah rusak tidak dibakar melainkan disimpan di sebuah kotak. Foto ini sangat berharga baginya, foto pertama kalinya ia menyadari hatinya sudah tertuju pada Alena, senyum Alena yang diyakini mengandung perasaan yang sama sepertinya. 18 tahun lalu, Pak Alex merasa Alena juga menyukainya, namun ia tidak berani. Ini adalah kesalahan yang membuatnya menanti selama 18 tahun ini.
"Alena, aku kembali lagi untukmu..." ucapnya sembari mengelus foto itu.
"Andai 18 tahun lalu aku mengungkapkan perasaanku padamu, mungkin saat ini kita sudah satu atap. Maafkan aku yang meninggalkanmu kala itu."
"Tapi apakah saat ini hatimu masih bisa terbuka untukku?"
"Delapan belas tahun... Apa penantianku kali ini berbuah manis? Ku harap iya."
Pak Alex melangkah ke arah jendela, perlahan angin berhembus menyapu wajah dikala jendela sengaja ia buka, Pak Alex menatap lurus ke depan.
Bukan tanpa alasan, Pak Alex sengaja membeli sebuah rumah yang sekarang ia tempati saat ini agar lebih dekat dengan rumah lama Alena, rumah mereka hanya beda gang saja. Hatinya tidak pernah redup untuk Alena, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk kembali ke kota ini.
"Alena... Sekarang aku sudah mapan, aku tidak lagi khawatir tidak dapat memenuhi kebutuhanmu, yang ku khawatirkan saat ini justru hatimu... Melihatmu begitu kecewa saat aku meninggalkanmu dulu membuatku berpikir setidaknya hatimu pernah terbuka untukku."
Pak Alex tersenyum menatap arah rumah Alena.
"Terlebih sekarang aku tidak lagi sendiri, ada Axan. Akankah kamu mau padaku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, Alena menerima pesan dari nomor baru yang tidak lain dari Pak Alex.
"Mama," panggil Ziya secara tiba-tiba, karena terkejut ia tidak sengaja menekan tombol panggilan, Alena langsung meletakkan HP nya begitu saja dan beralih pada Ziya.
"Ya ampun, ngagetin Mama aja."
"Hmm, Mama terlalu fokus sama HP, bukan salah aku." Ziya tidak mau kalah.
Alena hanya menghela napas, lelah juga ia berdebat dengan salinan dirinya ini.
"Ziya ada perlu apa? Kenapa belum tidur?" tanya Alena sembari membawa Ziya ke dalam pangkuannya.
Sementara itu di sisi lain, Pak Alex dan Axan yang sedang menonton televisi langsung teralihkan pada suara dering HP Pak Alex.
Mata Pak Alex membulat sempurna, ia langsung menerima panggilan. Namun belum sempat ia membuka suara, ia lebih dulu mendengar suara percakapan Alena dan Ziya, suara mereka agak jauh yang menjadi tanda HP Alena saat ini tidak ada ditangannya.
"Mama, Ziya nggak bisa tidur." ungkap Ziya.
Tiba-tiba Ziya memeluk Alena dengan manja.
"Gara-gara tidur sendirian ya?"
Ziya mengangguk, malam ini memang kali pertamanya Ziya dilatih tidur sendiri di kamar yang berbeda.
"Mau Mama temenin malam ini?"
Ziya menggeleng.
"Ziya pernah lihat kartun dan film, yang punya Papa Mama pasti tidurnya bareng. Ziya nggak takut kok, cuma Ziya tiba-tiba inget sama film itu."
Alena mengecup kening Ziya.
"Ziya kan punya Mama, jangan sedih ya..." hibu Alena.
"Ziya pengen tau rasanya tidur sama Papa. Ziya nggak pernah tau rasanya gimana." ujar Ziya.
"Emmmm di film itu anaknya tidur di tengah ya?"
Ziya mengangguk.
"Mama ada ide! Mama tidur di sisi kanan Ziya, terus di sisi kiri Ziya dikasih dua guling. Jadi deh, nanti Ziya kayak tidur di tengah."
Ziya menggeleng lagi.
"Ziya mau Papa yang hangat, Ma. Yang bisa peluk Ziya. Guling kan nggak punya tangan."
"Sayang... Dengerin Mama, Papa udah istirahat di tempat berbeda sama kita. Papa nggak bisa balik ke sini buat nemenin Ziya."
"Iya, Ziya tau." Ziya menenggelamkan wajahnya di dada Alena, perlahan punggung mungil itu bergetar tanda ia menangis.
"Maafin Mama ya, Nak."
Ziya mendongakkan kepalanya.
"Xan juga nggak punya Mama. Apa dia juga sedih kayak Ziya? Apa cuma Ziya yang lebay?"
"Ziya nggak lebay kok."
"Kira-kira Axan sedih juga nggak, Ma?"
Alena menggaruk kepalanya, ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan anaknya ini.
"Xan mungkin juga pernah merasa sedih, tapi itu wajar. Ziya jangan sedih ya, Ziya punya Mama. Selagi Mama hidup, Mama akan berusaha terus ada buat anak cantik ini."
"Maafin Ziya kalau Ziya sering nakal, sering bikin Mama marah, bikin Mama sedih. Ziya mau belajar keras biar Ziya nanti sukses kayak Mama, nanti Mama nggak usah kerja lagi, nanti Ziya yang beli-beliin Mama."
Alena mengangguk, air matanya jatuh, tangan kecil Ziya mengusap air mata Ibunya dengan lembut.
"Maafin Ziya udah bikin Mama nangis. Mama pasti sedih juga ya nggak tidur sama Ziya?"
"Aha!!! Ziya ada ide!" tiba-tiba raut wajah sedih Ziya menghilang.
"Apa tuh?"
"Gimana kalau kita cari Papa baru?!" saran Ziya dengan penuh semangat.
Alena sampai tersedak saking terkejutnya.
"Pasti banyak yang suka sama Mama. Kan Mama cantik dan kaya."
"Ziya, cari Papa baru itu nggak segampang kamu beli es krim."
"Tapi Ziya pengen punya Papa lagi, Ma." rengeknya.
"Udah yuk tidur," Alena mengalihkan topik.
"Janji dulu, Mama mau cariin Ziya Papa baru. Ziya pengen di gendong kayak temen-temen Ziya."
"Hmmmm gimana ya? Coba Ziya tidur dulu,"
"Mama harus cariin Ziya Papa baruuuu!!"
Alena langsung menggendong Ziya menuju kamarnya.
"Besok Ziya mau sarapan sama apa?"
"Sama Papa baru."
Alena merebahkan Ziya di tempat tidur.
"Gimana kalau sarapannya nasi goreng sama telur mata sapi?" Alena masih berusaha mengalihkan obrolan.
"Tapi dibuatin Papa baru."
"Astagaaaa, anak ini." batin Alena.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin