Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Tak Terduga
Seminggu sudah Yuri bekerja di perusahaan Y&G Dreams dan belum ada perubahan yang berarti. Dia juga masih menyesuaikan posisinya sebagai kepala tim design dan menjalin kerjasama diantara empat orang designer lainnya. Kehadiran Yuri yang mendadak dan langsung menempat posisi kepala tim tentu mengundang tanda tanya besar, apalagi bukan orang sembarangan yang bisa bekerja di perusahaan Y&G.
Keempat orang designer di timnya pun memiliki latar belakang yang tidak main-main. Ada yang merupakan lulusan luar negeri dan ada juga yang lulusan S2, berbagai pengalaman dan penghargaan mereka miliki sebagai designer. Yuri pun sempat merasa rendah diri karena latar belakang pendidikannya yang tidak sepadan serta tidak ada pengalaman atau penghargaan apapun. Tetapi atas dukungan dan semangat sahabatnya, Yuri berusaha untuk buktikan diri jika dia memang pantas mendapatkan posisi kepala tim design.
"Aaahhhhhkkkkkk." Yuri melakukan peregangan setelah beberapa jam mengerjakan beberapa design untuk memenuhi projek yang telah dia terima bulan ini.
Tetapi jika dia saja yang mengerjakan projek itu sendiri maka sudah dipastikan tidak akan selesai dalam waktu dua minggu. Belum lagi dia harus mencari bahan -bahan yang dibutuhkan untuk mulai merancang dan menjahit design tersebut. Mau tidak mau dia harus mempekerjakan designer yang ada di timnya.
"Mohon perhatiannya semua, maaf menganggu pekerjaan kalian sebentar. Berhubung ada beberapa projek yang masuk dan harus segera dikerjakan di bukan berjalan, maka saya meminta kepada kalian semua untuk menyiapkan sepuluh design terbaik."
"Untuk konsep dan tema serta hal apa saja yang harus diperhatikan, saya sudah mengirimkan ke email masing-masing untuk detailnya. Design dikumpulkan paling telat tiga hari dari sekarang. Seluruh design yang masuk akan saya seleksi dan hanya 20 design terbaik dan sesuai dengan konsep yang akan terpilih."
"Saya harap kita dapat bekerjasama dengan baik untuk mengerjakan setiap projek yang masuk. Tentu saja setiap projek yang selesai target akan mendapatkan bonus. Jika ada yang kurang paham bisa langsung ditanyakan pada saya. Ada pertanyaan?" jelas Yuri dengan lugas.
Ada dua orang yang tidak memperhatikan saat Yuri berbicara, mereka justru sibuk dengan ponsel dan gambar designnya. Namun Yuri tak menegurnya, untuk sementara dia tak ingin membuat masalah.
"Maaf Bu Yuri, apakah design yang diserahkan harus sepuluh gambar? Jika kurang dari itu bagaimana?" tanya Tasya, dia adalah designer yang paling muda diantara ketiga designer lainnya.
"Sepuluh gambar yang saya minta adalah jumlah maksimal, artinya kalian boleh mengumpulkan kurang dari sepuluh gambar. Boleh lima, tiga atau bahkan satu. Semua design akan saya terima dan mendapatkan penilaian yang sama. Apa ada pertanyaan lain?" jawab Yuri dengan senyuman yang ramah, setidaknya masih ada orang yang mendengar dan memperhatikan.
Karena tidak ada yang bertanya, Yuri menganggap jika timnya sudah paham dengan tugas yang diberikan oleh Yuri. Dia pun sebenarnya tengah mempersiapkan dua projek lainnya yang menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Sebelum jam makan siang, Yuri hendak pergi ke ruangan kerja Boss Gio karena ada dokumen yang harus ditandatangani. Beberapa tatapan karyawan bagian lain begitu kentara, apalagi saat dirinya menuju ruangan kerja Boss Gio yang berada di lantai 4.
"No--nona, eh maaf maksud saya Ibu Yuri ada keperluan apa datang kesini?" tanya Ziyan gugup.
"Ahh ini pak Ziyan, apa boss Gio ada didalam? Ada dokumen pemesanan bahan kain yang harus ditandatangani agar besok dapat langsung dikirim oleh supplier." Yuri memperlihatkan dokumennya kepada Ziyan.
Ziyan menggaruk tengkuk bagian belakang, bagaimana dia menjelaskan situasi ini kepada Yuri. Tidak mungkin juga Ziyan menceritakan kondisi Gio kepada Yuri.
"Ma--maaf Bu Yuri, tetapi Boss Gio sedang tidak dapat ditemui saat ini, beliau--"
Prangg
Prangg
Braakkk
Terdengar suara yang keras membuat Yuri langsung terkejut dan menjatuhkan dokumen yang tengah dia pegang. Suara- suara seperti benda jatuh dan dilempar semakin kentara, membuat Yuri memandang Ziyan untuk mencari jawaban dan penjelasan tentang apa yang terjadi.
"Nona jangan ma---"
Terlambat, Yuri terlanjur mengambil langkah seribu dan masuk ke dalam ruangan kerja Boss Gio. Bodohnya Ziyan yang justru diam di tempatnya karena ketakutan akan menjadi sasaran amarah boss Gio, tapi dia juga lupa memikirkan keselamatan Yuri.
Pintu tertutup, yang Yuri lihat adalah ruangan yang sudah berantakan. Vas bunga pecah, kertas dan alat tulis berserakan, laptop dan ponsel yang sudah terhempas ke lantai dan meja dan kursi yang terbalik. Kondisinya sudah sangat kacau, lampu pecah sehingga pencahayaan ruangan hanya bersumber dari sinar matahari yang masuk melalui celah jendela.
"Boss Gio, a-anda baik-baik saja?" Yuri melihat Gio yang meringkuk di sudut ruangan, matanya memerah dan rambut acak-acakan.
Yuri menutup mulutnya dan memundurkan langkahnya saat mendapat tatapan maut dari Gio. Aura kemarahan jelas tergambarkan dari wajah dan urat-urat lehernya yang tercetak jelas. Ketakutan mulai melanda pada diri Yuri, apalagi jaraknya kian terpangkas karena Gio berjalan mendekatinya.
"Siapa kamu!!" Kedua matanya Gio nyaris keluar, tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Yuri semakin ketakutan, terlalu takut jika pria yang sedang mengamuk itu melakukan kekerasan kepadanya. Kemejanya dibiarkan terbuka sehingga Yuri dapat melihat dada Gio yang bidang basah karena keringat.
Ahh sial, Yuri justru berimajinasi hal yang tak pernah dia bayangkan. Pesona tubuh yang berotot dan mengkilap basah karena keringat, pesonanya terlalu sulit untuk Yuri tolak. Yuri kehilangan pengendalian diri, dia terlena.
Prakkkk
Bunyi benda pecah membuyarkan lamunan Yuri dalam situasi yang genting ini. Jantungnya pun mulai tak karuan, napasnya pun terasa sesak, Gio terlihat semakin marah dan membanting guci yang ukurannya lumayan besar.
"Hahahahaha... Hancur semuanya sudah hancur!!! Sialan kalian semua!!!"
Suara bariton yang cukup nyari dan memekakkan telinganya, bersatu dengan suara benda yang pecah membuat Yuri terdiam di tempatnya. Tubuhnya bergetar, semakin larut dalam ketakutan, apalagi emosi Gio semakin tak terkendali.
"Apa aku harus hancur juga hah!!!"
Air mata Yuri tak kuasa tahannya, pada akhirnya membasahi pipinya. Gio yang semula dilanda emosi tingkat dewa mulai teralihkan dengan suara sesenggukan saat Yuri menangis.
"Kamu menangis??"
Gio mengapit dagu Yuri yang mungil dengan jemarinya, matanya bergerak menelusuri wajah cantik Yuri yang menarik perhatiannya. Jemari dari tangan yang satunya pun menghapus jejak air mata yang dirasa mengganggu penglihatan.
"Jangan menangis. Saya tidak suka wanita cengeng, saya benci wanita yang mengeluarkan air mata. Di wajah ini hanya boleh ada senyuman."
Ekpresinya datar, namun Yuri tahu Gio masih dalam kondisi emosi, kedua bola matanya masih memerah dan sorot matanya tajam.
"Aaaarrrggghhhhhh"
Teriakan itu membuat Yuri semakin merinding, Gio kembali berulah melempar, menghancurkan benda-benda yang ada di ruangan itu. Yuri berjongkok sambil melindungi kepalanya dengan tangan, takut terkena lemparan benda yang nyasar. Video berteriak tak terkendali, terdengar begitu marah dan penuh dendam tapi Yuri bisa merasakan jika ada rasa sakit dan tertekan yang tengah dia pendam.
Hampir semua benda di ruangan itu tak luput dari amukan Gio, pecahan beling dimana -mana. Tubuh Gio pun tak luput dari goresan luka, jejak darah terlihat nyata di kemajanya yang berwrna putih. Tak ada lagı suara benda-benda yang jatuh atau di lempar, Yuri mulai mengangkat kepalanya untuk melihat situasi saat ini.
Dengan napas yang terengah-engah, Gio bersandar di dinding sementara waktu beristirahat. Meskipun dalam keadaan emosi, Gio pun masih bisa merasakan lelah, terutama hatinya yang sangat lelah. Ada beban besar yang tengah Gio tanggung sendiri, belum lagı berbagai tekanan dari semua pihak termasuk orang tuanya.
"Hentikan!!"
Dengan keberanian yang hanya secuil, Yuri berusaha menghentikan tindakan Gio yang tengah membenturkan kepalanya ke dinding. Refleks Yuri memeluk tubuh kekar Gio dari belakang, berusaha menarik tubuh Gio menjauh dari dinding meskipun itu akan sia- sia.
Sungguh ajaib.
Seperti tersihir, tubuh Gio terdiam dan tak bertenaga, mudah saja bagi Yuri menariknya menjauh. Amarah dalam dirinya seolah-olah mereda dan berganti sebuah kesejukan seperti embun pagi.
"Tidak bisakah Boss Gio tidak menyakiti diri sendiri. Jika memiliki masalah jangan dipendam sendiri boss, berceritalah kepadaku. Meskipun tidak mungkin menyelesaikan semuanya, setidaknya aku akan membantu untuk memikirkan solusinya," ucap Yuri panjang lebar lupa dengan siapa dia berbicara.
Menit berikutnya Yuri tersadar jika dia tengah memeluk tubuh Gio, kemudian mulai melepaskan pelukannya karena tak ada respon dari pria itu. Dirasa Gio lebih tenang, Yuri berjalan mundur hendak meninggalkan ruangan itu, membiarkan Gio untuk beristirahat dan menenangkan diri.
Baru saja berbalik, tiba- tiba saja sebuah tangan yang kekar menyambar tangan Yuri dan menariknya. Dalam satu tarikan tubuh Yuri pun menabrak dada Gio yang bidang.
"Apa yang boss Gi--"
Kedua mata Yuri membola saat tangan pria itu meraih dagunya kembali dan menundukkan kepalanya.
Deg
Deg
Deg
Yuri syok dan tak menduga hal itu akan terjadi, kejadiannya sangat cepat dan tak mungkin bisa menghindari.
"Dia... Dia... Menci------"
kalau rumah tangga mertua ikut ngatur dan campur tangan ngurusin susah adanya pasti ribut terus