"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.
Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.
Akankah Demir bisa menemukan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Safira
🌻
🌻
🌻
🌻
🌻
Demir langsung melajukan mobilnya, dia akan mencari Safira walaupun dia tidak tahu harus mencarinya ke mana.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.00 dan sebentar lagi masuk waktu maghrib dan Demir masih saja berkeliling di jalanan mencari keberadaan Safira.
"Kamu pergi ke mana, Fira?" gumam Demir.
Raut wajah Demir tampak cemas, Demir pun tetlihat frustasi. Karena Demir sudah kelelahan, akhirnya Demir pun memilih untuk pulang dan Demir akan melanjutkan pencariannya esok hari.
Demir masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai, dia sungguh tidak bersemangat.
"Demir, dari mana kamu jam segini baru pulang?" tanya Kakek Demir.
Seperti biasa, Demir tidak pernah memperdulikan keberadaan mereka, Demir terus saja melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Dasar anak itu, tidak pernah punya sopan santun kalau ditanya," kesal Kakek Demir.
Sedangkan Nenek Demir terlihat menyunggingkan senyumannya, dia sudah bisa memastikan kalau Demir sudah mencari gadis buta itu.
Demir menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, sungguh Demir menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya tadi Demir tidak bangun kesiangan, sudah pasti Demir tidak akan kehilangan Safira.
"Apa ini ada hubungannya dengan si Nenek lampir itu? Soalnya, kalau Safira mau pindah, mungkin kemarin waktu kita jalan-jalan dia akan mengatakannya kepadaku, sedangkan ini dia tidak bicara apa-apa, bahkan dia langsung menghilang begitu saja," gumam Demir.
Demir kembali bangkit dan segera berlari untuk menemui Neneknya. Demir berdiri di samping Neneknya yang saat ini sedang makan malam dengan santainya.
"Apa ini semua perbuatanmu?" tanya Demir.
"Apa yang kamu maksud? Perbuatan apa?" tanya Nenek Demir.
"Apa kamu yang sudah menyebabkan Safira menghilang?"
"Safira siapa?"
"Kamu jangan pura-pura lagi?" bentak Demir.
"Demir, berani sekali kamu membentak Nenekmu? Orang yabg sudah merawatmu sejak kecil?" bentak Kakek Demir.
"Aku tidak pernah meminta kalian untuk mengurusku, kenapa dulu kalian tidak berikan saja aku ke panti asuhan karena aku lebih baik tinggal di panti asuhan daripada harus tinggal di rumah yang seperti neraka ini!" teriak Demir.
Kakek Demir berdiri dan menghampiri Demir...
Bugghh....
Kakeknya kembali memukul Demir, napas Kakeknya begitu ngos-ngosan saking emosinya memuncak.
"Anak tidak tahu diuntung, sudah bagus kami mengurusmu dan memberikan fasilitas enak tapi kamu malah tidak pernah menghargai kami!" bentak Kakek Demir.
Demir menatap tajam ke arah Kakek dan Neneknya secara bergantian, kemudian Demir menoleh ke arah Neneknya.
"Kalau sampai aku tahu, penyebab menghilangnya Safira gara-gara kamu, aku tidak akan memaafkan kamu, ingat itu!" teriak Demir dengan mata yang memerah.
Demir pun pergi dari rumah itu dan kembali mengendarai mobilnya, kali ini tujuan Demir adalah ke sebuah bar. Demir akan melampiaskan semua kemarahannya di sana.
Demir memesan minuman dan minum sepuasnya, hidup Demir memang sudah hancur akibat perlakuan Kakek dan Neneknya.
Setelah puas minum, akhirnya Demir pun memutuskan untuk pulang. Langkah Demir tampak sempoyongan, tapi Demir terus saja memaksakan diri untuk tetap mengendarai mobilnya.
"Fira, kamu di mana?"
Demir terus saja bergumam seperti itu, hati Demir baru saja mencair tapi di saat Demir sudah mulai menyukai seorang gadis kenapa gadis itu harus kembali pergi.
"Apakah aku tidak diberi kesempatan untuk bahagia, kenapa hidupku selalu seperti ini? Aku capek, dan aku juga ingin merasakan bahagia seperti orang-orang yang lain," gumam Demir dengan terus melajukan mobilnya.
Tidak terasa, airmata Demir pun menetes sungguh Demir sudah tidak kuat lagi harus menjalani hidup seperti ini.