Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung yang Menyakitkan
Kereta melaju stabil, membelah malam yang semakin pekat.
Lampu di dalam gerbong meredup, menyisakan cahaya hangat yang justru membuat suasana terasa lebih sunyi.
Nara masih duduk tegak, menatap lurus ke depan.
Bukan karena tidak ingin menoleh tapi karena dia tahu, sekali saja dia melihat ke samping… semuanya bisa runtuh.
Di sebelahnya, Arka diam.
Terlalu diam untuk seseorang yang dulu tidak pernah kehabisan kata.
Dulu, mereka adalah dua orang yang bisa tertawa hanya karena hal sepele.
Sekarang… bahkan untuk bernapas di ruang yang sama saja terasa berat.
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya suara roda kereta yang beradu dengan rel, berulang, seperti detak yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan meskipun mereka berdua seperti tertinggal di tempat yang sama.
Akhirnya, Arka menarik napas pelan.
“Lo… ke Bandung ada urusan apa?”
Pertanyaan sederhana.
Tapi cara dia mengucapkannya hati-hati, ragu membuat Nara sadar, mereka benar-benar sudah menjadi dua orang asing.
Nara tidak langsung menjawab.
Dia menimbang, seberapa banyak yang harus dia katakan. Seberapa jauh dia ingin membuka diri… pada seseorang yang pernah tahu segalanya tentang dirinya.
“Kerja,” jawabnya singkat.
“Meeting.”
Arka mengangguk pelan.
“Oh… masih di tempat yang sama?”
Nara menggeleng. “Nggak.”
Hening lagi.
Percakapan mereka terasa seperti langkah di atas kaca setiap kata bisa melukai.
Arka menatap ke depan, lalu kembali bicara, lebih pelan dari sebelumnya.
“Gue… kira lo udah pindah jauh.”
Nara tersenyum tipis.
“Sempat mikir gitu.”
Sempat ingin lari sejauh mungkin.
Dari kota, dari kenangan… dari dia.
“Tapi nggak jadi?” tanya Arka.
Nara menggeleng kecil.
“Ya… ternyata nggak semua bisa ditinggal.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Arka tidak langsung menjawab.
Tapi rahangnya sedikit menegang seolah dia tahu, kalimat itu bukan sekadar tentang tempat.
Dan mungkin… tentang dirinya juga.
Kereta sedikit berguncang.
Lampu luar jendela melintas cepat, menciptakan bayangan yang bergerak di wajah mereka.
Nara akhirnya menoleh, sekilas.
Dan itu kesalahan.
Karena dalam satu detik itu, semua kembali.
Cara Arka duduk.
Cara dia menunduk saat berpikir.
Dan mata itu… yang dulu selalu mencari Nara, seolah dia adalah satu-satunya hal yang penting di dunia.
Nara buru-buru mengalihkan pandangan.
“Lo sendiri?” tanyanya, mencoba terdengar biasa.
“Ke Bandung ngapain?”
Arka tersenyum kecil.
“Kerja juga.”
“Masih di bidang yang sama?”
“Iya.”
Jawaban singkat.
Tapi ada sesuatu di baliknya sesuatu yang tidak diucapkan.
Nara mengangguk, meski dia tidak benar-benar tahu harus merespons apa.
Dulu, dia tahu segalanya tentang hidup Arka.
Sekarang… bahkan pertanyaan sederhana terasa seperti menembus batas yang tidak terlihat.
Beberapa saat kemudian, Arka bersandar ke kursinya.
“Lo… kelihatan beda.”
Nara mengernyit sedikit.
“Beda gimana?”
Arka terdiam sejenak, seolah mencari kata yang tepat.
“Lebih… tenang,” katanya akhirnya.
“Tapi juga… lebih jauh.”
Nara tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi
karena ironis.
“Jauh dari siapa?”
Arka tidak langsung menjawab.
Dari gue.
Jawaban itu tidak pernah keluar, tapi terasa jelas di antara mereka.
Nara menatap jendela lagi.
Pantulan wajahnya terlihat samar, bercampur dengan gelap di luar.
“Wajar sih,” katanya pelan.
“Orang berubah.”
Arka mengangguk.
“Iya… berubah.”
Lalu, setelah jeda singkat
“Tapi nggak semua berubah, kan?”
Nara menegang.
Kalimat itu terlalu dalam.
Terlalu dekat dengan sesuatu yang selama ini dia hindari.
Dia tidak menjawab.
Karena dia tahu… beberapa hal memang tidak berubah.
Seperti rasa sakit.
Seperti kenangan.
Dan seperti perasaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Kereta terus melaju.
Seorang penjual minuman lewat, menawarkan kopi dan teh dengan suara pelan. Nara membeli satu botol air, hanya untuk memberi dirinya sesuatu untuk dilakukan.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka tutup botol.
Arka memperhatikannya.
Masih seperti dulu selalu peka pada hal kecil tentang Nara.
“Lo masih suka dingin?” tanyanya tiba-tiba.
Nara berhenti sejenak.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi langsung menariknya ke masa lalu ke malam-malam di mana Arka selalu menyelimutinya, ke caranya mengeluh kedinginan meski cuaca tidak terlalu dingin.
“Iya,” jawabnya pelan.
Arka tersenyum tipis.
Refleks. Tanpa sadar.
“Masih sama.”
Nara menutup botolnya cepat.
“Iya. Nggak semua berubah, kan?”
Nada suaranya lebih tajam kali ini.
Bukan marah tapi seperti peringatan.
Arka terdiam.
Dia mengangguk pelan, menerima batas itu.
“Maaf,” katanya.
Satu kata yang terlambat.
Atau mungkin… terlalu cepat.
Nara menoleh.
“Buat apa?”
Arka membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Karena “maaf” itu tidak punya satu arti.
Terlalu banyak yang harus disesali.
Terlalu banyak yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan satu kata.
“Buat… semuanya,” jawabnya akhirnya.
Nara menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu malam ini… ada sesuatu yang retak di matanya.
Bukan marah
Bukan benci.
Tapi sesuatu yang lebih dalam sesuatu yang belum selesai.
Nara tersenyum kecil.
Senyum yang lelah.
“Udah lama, Ka,” katanya pelan.
“Nggak semua hal bisa diselesaikan sekarang.”
Arka menunduk.
Dia tahu itu.
Tapi tetap saja… berada di samping Nara lagi membuatnya ingin mencoba.
Kereta melaju semakin cepat, meninggalkan kota sepenuhnya.
Di luar, hanya gelap dan bayangan
Di dalam, dua orang duduk berdampingan
dengan jarak yang tidak bisa diukur oleh kursi.
Dan percakapan yang baru saja dimulai…
perlahan membuka luka yang selama ini mereka pikir sudah tertutup.