Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Perlahan Menjadi Dekat
Setelah hari itu, aku pikir semuanya akan kembali seperti semula.
Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang perlu dipikirkan lebih jauh.
Raka hanyalah seseorang yang kebetulan aku temui, lalu berbicara sedikit lebih lama dari biasanya.
Seharusnya begitu.
Tapi kenyataannya, tidak sesederhana itu.
Sejak malam itu, namanya mulai lebih sering muncul di layar ponselku.
Tidak selalu dengan percakapan panjang. Kadang hanya satu atau dua pesan sederhana yang bahkan tidak berarti apa-apa.
“Lagi apa?”
Atau
“Udah makan belum?”
Hal-hal kecil yang sebenarnya bisa ditanyakan oleh siapa saja…
tapi entah kenapa, terasa berbeda ketika itu datang darinya.
“Lagi istirahat,” balasku suatu siang.
“Sendiri?”
Aku menatap pesan itu sejenak sebelum menjawab.
“Iya.”
Tidak lama, balasan lain muncul.
“Kamu sering sendiri ya.”
Aku sedikit terdiam membaca itu.
“Emang kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma nanya.”
Aku tidak tahu kenapa, tapi percakapan sederhana seperti itu terasa… hangat.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada tuntutan untuk selalu menarik atau menyenangkan.
Semua berjalan begitu saja.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang hampir sama.
Kami mulai lebih sering berbicara.
Dari hal-hal ringan, sampai perlahan menyentuh hal-hal yang sedikit lebih dalam.
Tentang pekerjaan yang melelahkan.
Tentang hari-hari yang terasa panjang.
Bahkan tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak aku ceritakan ke siapa pun.
“Kamu kalau udah nyaman ternyata banyak ngomong juga ya,” tulisnya suatu malam.
Aku tersenyum kecil membaca itu.
“Nggak juga,” balasku, meski aku tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Karena tanpa aku sadari… aku memang mulai banyak bercerita.
Dan yang lebih aneh, aku mulai menunggu.
Menunggu pesannya muncul.
Menunggu percakapan sederhana yang entah kenapa selalu aku cari.
Suatu malam, pesan darinya tidak kunjung datang.
Aku sudah mencoba mengabaikannya.
Meletakkan ponsel.
Mencoba tidur lebih awal.
Tapi pikiranku tetap kembali ke hal yang sama.
Kenapa hari ini dia tidak muncul?
Aku menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri sendiri.
“Biasa aja,” gumamku pelan.
Tapi jauh di dalam hati, aku tahu… ini sudah tidak biasa lagi.
Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Tidak pernah menunggu seseorang dengan cara seperti ini.
Dan mungkin, itu yang membuat semuanya terasa sedikit menakutkan.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Nama itu muncul lagi.
Raka.
“Maaf baru sempat. Hari ini agak sibuk.”
Aku menatap pesan itu, lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa,” balasku.
Sesederhana itu.
Tapi cukup untuk membuat perasaan yang tadi terasa kosong, kembali terisi.
Malam itu, aku kembali berbicara dengannya.
Seolah tidak ada jeda, seolah semuanya tetap sama seperti sebelumnya.
Dan di tengah percakapan yang berjalan ringan itu, aku mulai menyadari satu hal…
Raka bukan lagi sekadar seseorang yang lewat.
Dia mulai menjadi bagian dari hari-hariku.
Bagian kecil… tapi cukup untuk terasa.
Dan tanpa aku sadari,
aku sudah tidak lagi menjaga jarak.
Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya
bukan sebagai seseorang yang datang dan pergi,
Tapi sebagai seseorang yang perlahan…
mulai tinggal.
Ponselku sudah tidak berbunyi lagi.
Percakapan kami sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.
Tapi aku belum benar-benar ingin meletakkannya.
Aku menatap layar yang sudah kembali kosong.
Lalu perlahan menghela napas, mencoba memahami apa yang sebenarnya aku rasakan.
Ini bukan sesuatu yang besar.
Bukan juga sesuatu yang tiba-tiba.
Tapi cukup untuk membuatku sadar…
bahwa aku mulai menaruh sesuatu di sana.
Sesuatu yang belum aku beri nama.