NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan Seorang Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2.

Di sebuah rumah mewah, kini tampak begitu ramai dengan tenda yang dipasang didepan rumah itu.

Karena banyak pelayat yang datang mendatangi rumah itu.

"Rena, kenapa meninggalkan ku secepat ini. Baru saja aku akan menebus dosa dosaku kepadamu. Karena dulu aku sangat menyakiti mu," ucap Marcel dengan suara parau, sembari memegang tangan pasiennya.

Air mata terus membasahi kedua pipi Marcell.

Melihat kedua mertua Renata yang mendekat ke arah jenazah menantunya. Akhirnya Marcell pun memilih pamit untuk kembali ke rumah sakit.

"Pak, Bu saya mau pamit untuk kembali ke rumah sakit, karena ada pasien gawat darurat yang sedang membutuhkan pertolongan saya." Marcell terlihat pamit kepada kedua mertua Renata.

"Kamu gak ikut nak, ke pemakamannya Renata?" Tanya ibu mertua Renata dengan mata sembab, dengan posisi menggendong cucunya.

"Gak Bu, kalau saya ikut ke pemakaman. Saya takut jika saya tidak kuat dan akan limbung. Saya mau pamit saja untuk kembali ke rumah sakit," ucap Marcell dengan wajah yang terlihat penuh penyesalan.

Akhirnya Marcell berjalan ke arah mobilnya. Setelah Marcell sudah masuk kedalam mobil, dia pun mulai menghidupkan mesin mobil miliknya dan mulai mengendarai dengan kecepatan yang sangat tinggi.

"Apakah aku bisa hidup di dunia ini tanpa senyumanmu itu Renata," gumam Marcell dari balik kemudi.

"Jika memang dunia bisa diputar kembali, aku berjanji tidak akan pernah menyia nyiakan dia seperti dulu. Andai saja Tuhan, andai saja." ucap Marcell dengan nada meninggi.

Tak berselang lama, sebuah kilatan cahaya putih menghampiri dirinya.

****

Di sebuah ruang dokter yang ada di rumah sakit daerah milik pemerintah kota.

Seorang wanita terlihat memasang wajah sedih, bahkan mati matian wanita itu menahan dirinya agar tidak menangis.

Wanita itu sedang duduk di kursi, yang biasanya digunakan oleh pasien untuk berkonsultasi tentang permasalahan kesehatan yang sedang di alaminya.

Wanita itu bernama Renata Belinda. Berumur kurang lebih 30 tahunan.

"Ap - apa?" Renata terlihat begitu kaget, dengan apa yang baru saja dikatakan oleh dokter yang duduk tepat berada di depannya.

Dokter itu melihat kertas hasil pemeriksaan yang baru saja Renata jalani. Sembari menjelaskan dengan rinci mengenai permasalahan kesehatan yang sedang Renata alami.

Lalu dia beralih menatap putra semata wayangnya, yang sedang dia rebahkan diatas ranjang rumah sakit. Yang biasanya di gunakan dokter spesialis penyakit dalam itu. Untuk memeriksa kondisi pasiennya.

"Benar ibu ... Rena," ucap Dokter spesialis penyakit dalam itu, dengan wajah terlihat sedih dan juga sendu. Kala menatap wajah pasiennya yang terlihat begitu menyedihkan.

Bahkan terdengar helaan nafas panjang yang di hembuskan oleh dokter spesialis penyakit dalam yang bernama Marcell itu.

"Terima kasih dokter, kalau begitu saya permisi." Renata pun memilih pamit, untuk meninggalkan ruangan dokter yang terasa begitu canggung bagi diri nya.

Setelah mendengarkan dengan jelas dan juga seksama setiap kata yang diucapkan dokter yang bernama Marcell itu.

Renata lalu menggendong balita yang berumur dua tahun yang sedang tertidur pulas diatas brangkar rumah sakit.

Marcell hanya diam, tidak menjawab pasien yang tadi terlihat mengucapkan kata pamit kepadanya. Lidah Marcell terasa begitu kelu.

Marcell terus menatap punggung wanita yang bernama Renata dengan wajah yang iba dan juga kasiha, walaupun punggung Renata sekarang benar benar sudah menghilang dari balik pintu ruang konsultasi dokter miliknya.

Padahal dokter Marcell, adalah seorang dokter yang terkenal akan ketampanan dan juga keramahan. Tapi kenapa sekarang dia terlihat begitu sedih.

Renata keluar dari ruangan dokter itu dengan mata berkaca kaca. Dia terlihat sangat cantik walaupun tubuhnya begitu kurus dan rona di tubuhnya itu berwarna pucat.

Renata menggendong seorang balita gemuk, walaupun tubuhnya terlihat sama sekali tidak bertenaga.

Kanker?

Ya, dokter spesialis itu, memvonisnya menderita sebuah penyakit kanker lambung stadium 2.

Tubuh yang begitu kurus dan pucat ditambah lagi, dia harus merasakan sakit yang luar biasa dibagian perutnya. Kram perut dengan nyeri yang hebat. Tapi Dia harus tetap menunggu dengan duduk di kursi tunggu yang ada di depan apotik.

Menunggu obat dan masih harus menggendong anak semata wayang yang begitu gendut dan juga lucu. anak nya itu berumur 2 tahun

Anak laki laki yang terlihat tampan, dengan kulit seputih susu yang berasal dari gen ibunya. Anak laki laki yang berumur 2 tahun dengan badan yang gemuk dan juga terawat.

7 tahun Renata dan suaminya yang bernama Ivan menunggu, kehadiran sang buah hati.

Pernikahannya sekarang ini memang sudah berjalan selama 10 tahun.

"Ibu Renata Belinda," panggil seorang apoteker dari loket nya yang memang tersedia di rumah sakit.

"Iya .. suster," ucap Renata sembari menggigit bibir bagian bawahnya. Guna menahan sakit dan juga nyeri yang sekarang ini menyerang perutnya.

Dia berjalan ke arah loket apotek dengan kaki yang terseok seok, dengan sisa tenaganya sembari masih menggendong tubuh gembul anaknya.

"Ini dokter Marcell sudah membayar kan obat untuk menahan sel sel kanker yang menyebar. Obat ini seharga 5 juta rupiah. Karena pihak BPJS tidak menanggung obat ini. Oh iya, obat ini di minum sehari sekali. Dan satu lagi, ada obat penahan nyeri dan beberapa vitamin. Semua nya harus di minum setelah makan," ucap suster itu sembari memandang fisik Renata dengan tatapan remeh, lalu melihat Renata dengan tatapan tidak suka dari atas sampai bawah.

Suster itu terlihat ter senyum miring, kala melihat pakaian Renata yang terlihat begitu usang  dan juga buluk, dengan beberapa lubang yang menghiasi pakaian yang sekarang ini dia kenakan.

Bahkan suster itu memasang wajah mengejek kala melihat wajah pucat polos Renata tanpa sentuhan make up.

Renata sendiri sampai dibuat salting, dengan tatapan suster yang terlihat terus menatap dirinya dengan tatapan menghina.

"Maaf suster, bolehkah saya hanya mengambil obat yang dari BPJS saja. Bisakah suster mengembalikan obat ini ke dokter Marcell. Karena saya tidak bisa menerima obat itu," ucap Renata dengan wajah yang terlihat tidak enak.

"Astaga, anda menolak obat pemberian dokter Marcell. Ternyata belagu sekali sikap anda. Udah miskin tidak tahu diri lagi, mana sombong pula," ucap suster penjaga apotek dengan nada meninggi.

"Ada apasih Ra?" Tanya salah satu apoteker, yang berjalan mendekat ke arah teman nya yang terlihat marah itu.

"Nih lihat pakaian orang ini. Udah bagus di bayarin obat sama dokter Marcell yang tampan itu, sok sokan nolak niat baik dari dokter Marcell."

Mata Renata pun nampak berkaca kaca, bahkan anak dalam gendongannya yang sedari tadi tertidur dengan pulas. Kini terlihat bangun, dan membulatkan matanya.

"Udah Ra, sabar. Bagaimanapun dia itu seorang pasien, biar aku saja yang memberi pengertian kepada nya."

Akhirnya seorang wanita yang berpakaian suster yang dipanggil temannya dengan nama Ra itu, akhirnya pergi menjauh.

"Begini ibu Renata, obat yang seharga 5 juta ini sangatlah penting. Untuk kesembuhan penyakit ibu."

"Ta - tapi bukannya menolak pemberian dokter Marcell sus, obat ini sangatlah mahal. 5 juta hanya untuk beberapa butir saja, saya juga tidak mau berhutang budi dengan dokter Marcell."

"Tenang ibu Renata, ini bukanlah sebuah hutang budi. Dokter Marcell emang terkenal akan kebaikannya dirumah sakit ini kok Bu, lagian kata dokter Marcell. Ini untuk menebus kesalahannya dimasa lalu. Tolong diterima ya Bu, nanti kalau tidak diterima saya dipecat sama dokter Marcell." Wanita itu terlihat begitu halus menjelaskan pada Renata, karena Marcell lah yang meminta bantuan wanita itu. Dengan iming iming uang.

Renata hanya mengangguk pasrah seraya mengucapkan, "terimakasih sus."

"Sama sama ibu Renata Belinda, semoga lekas sembuh," ucap suster itu dengan senyuman palsu. Dia ramah karena diberikan imbalan uang oleh Marcell.

Renata sekuat tenaga menahan nyeri di sekujur tubuh nya. Renata kini duduk di sebuah kursi yang tersedia didalam lobi rumah sakit.

Renata terlihat sibuk mengotak atik ponsel dengan layar pecah yang ada di tangannya, bahkan layar dari ponsel itu juga terlihat buram.

Renata sekarang sedang sibuk memesan taksi online dari sebuah aplikasi. Tapi sayang beberapa kali dirinya mendapatkan sebuah penolakan dari sang Driver.

karena sekarang ini ada hujan badai dan angin bertiup begitu kencang diarea rumah sakit milik pemerintah daerah. Hujan turun begitu lebat. Apa lagi disertai petir yang menyambar, mungkin Tuhan sedang menunjukan kemarahannya.

Renata akhirnya memilih untuk mengubungi sahabat baik nya, yang bernama Esther. Untuk menjemput nya dirumah sakit dan mengantarnya pulang ke rumah.

Renata berkali kali menghubungi nomor sahabat baiknya, yang bersahabat dengannya sejak dia masih kecil. Tapi sayang sepertinya nomor Esther dalam keadaan yang tidak aktif.

Sama seperti nomor suaminya yang juga dalam keadaan tidak aktif.

Karena setelah menghubungi Esther, Renata beralih menghubungi nomor suaminya.

Kadang Renata dibuat heran, nomor suami dan juga sahabatnya itu, kenapa kalau tidak aktif? Harus selalu dalam posisi bersamaan.

Karena bagi hidup Renata, selain anak dan juga suaminya itu. Didunia ini orang paling dekat dengannya hanya sahabatnya yang bernama Esther itu.

1
Uthie
Dosa yg akan terus tak berujung itu 🤨😏

Kapan sihh moment pintarnya si Renata sbg wanita 👍😂
Uthie
Dasar suami durjana 😡
Uthie
Biar kena karma yg lebih menyakitkan tuhhhh buat wanita super jahat dan berhati keji macam si Esther itu Thor👍👍👍😡😡😡
Uthie
Gak sabar terus mantau kelanjutan cerita yg penuh nguras emosi ini 👍👍😆
Uthie
dasar laki Lucknut 😡
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
Uthie
Nahhh lohhhhh.... 🤨
Uthie
Ada udang di balik batu kah itu 😏😏
Uthie
Ini masih POV ke belakang kan ya???
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
Uthie
Yaaa ampun.... miris banget dan ikut sakit bacanya Thor 👍😭
Uthie
dasarnya wanita jahat 😡😤
Uthie
hmmmm... lucknut banget emangnya si Ivan😡😤
Uthie
makaya jangan jadi wanita bodoh dan malah menyakiti diri sendiri 😤
Uthie
istrinya terlalu pasrah dan lemah!
Uthie
suami lucknut 😡
Uthie
Duhhhh... terlalu lemah sihhhh tokoh utamanya 😤😤
Uthie
suami lucknut 😡😡😡😡
Uthie
Sukkkkaaa 👍👍
Uthie
Ada baiknya hati melihat kebaikan orang lain....
Uthie
Jangan terlalu percaya orang yg tidak pantas di percayai 👍😡
Uthie
Baru baca aja udah nyesek😭
dasar suami lucknut 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!