Hana Wanita yang di Hamili mantanya, namun dia menikah dengan anak SMA yang patah hati di tinggal nikah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Hana adalah seorang wanita manis. Dia sangat sibuk dengan pekerjaan dan tugas kampusnya. Setiap malam, dia bekerja sebagai pelayan di sebuah hotel. Hana juga dikenal sebagai sosok yang cantik dan imut. Dia memiliki tujuan hidup yang tinggi. Meskipun orang tuanya kaya, dia memilih untuk bekerja dan kuliah dengan usahanya sendiri. Nama panjangnya adalah Yohana, tetapi semua orang terbiasa memanggilnya Hana.
Hana berangkat ke kampusnya pada pagi hari karena dia mengambil mata kuliah siang. Saat hari menjelang sore, Hana bersiap-siap untuk bekerja. Dia pergi menggunakan taksi daring karena jarak hotel dari rumahnya tidak terlalu jauh. Di hotel, dia mulai melakukan pekerjaannya, melayani setiap tamu yang datang dan menyewa kamar.
Hana adalah seorang wanita yang pernah gagal dalam percintaan. Bukan karena tidak ada yang menyukainya, melainkan karena pacarnya saat itu memilih untuk putus dengan alasan fokus bekerja. Namun, yang lebih menyakitkan bagi Hana bukan perkataan yang diucapkan, melainkan kenyataan yang dia lihat dengan kedua matanya sendiri. Sejak saat itu, Hana tidak ingin lagi jatuh cinta atau menyukai siapa pun. Hingga lulus sekolah, Hana tidak ingin mengenal atau berteman dengan pria mana pun. Dia lebih memilih hidup tanpa seorang pria dalam hidupnya, karena rasa sakitnya tidak bisa terobati hanya dengan ucapan.
Di hotel, Hana sedang duduk di kursi sambil melihat ke layar komputer untuk memeriksa data-data. Tiba-tiba, telepon hotel berdering, berasal dari kamar satu kosong empat.
Kring... kring...
Hana langsung melihat dan mengangkatnya. Dia berbicara dengan lembut dan sopan, sesuai dengan ucapan yang sudah dia pelajari sejak awal dia bekerja.
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" ucap Hana.
"Bisa bantu saya untuk membuka pintu? Pintu kamar mandi ini susah sekali dibuka," jawab suara pria dari seberang dengan nada yang begitu lemas.
"Iya, Pak. Saya segera ke sana," ucap Hana sambil melihat layar komputernya. Karena menggunakan telepon hotel, dia tidak perlu bertanya nomor kamar. Dia bisa langsung melihatnya di layar komputer.
Hana langsung menutup telepon, berdiri, dan melangkah menuju kamar satu kosong empat yang berada di lantai paling atas. Sesampainya di depan pintu kamar, dia mengetuknya terlebih dahulu sambil berbicara kepada orang di dalam.
Tok... tok...
"Permisi..." panggil Hana.
Krekk...
Pintu kamar terbuka dan terlihat seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut berwarna kecokelatan. Hana tidak mengenalnya. Dia juga baru kali ini melihat penghuni kamar itu. Setelah beberapa saat terdiam dan ditatap oleh pria itu, Hana pun berbicara.
"Maaf, Pak. Saya mau melihat pintu kamar mandi yang tidak bisa dibuka," ucap Hana.
Pria itu kemudian berbicara kepada Hana setelah beberapa saat memandanginya, membuat Hana sempat bingung.
"Oh, iya, Mbak Hana. Mari masuk," ucapnya.
Hana sempat menatap pria itu, bertanya-tanya sejak kapan dia mengenalnya. Hana pun melangkah masuk ke dalam kamar sambil berbicara kepada pria itu.
"Bapak kenapa tahu nama saya?" tanya Hana.
"Sa-saya diberi tahu Mbak Leni yang menjaga lobi. Mbak Leni juga yang memberitahu kalau Mbak Hana bisa memperbaikinya," jawabnya dengan nada kaku.
Hana hanya mengangguk. Di dalam kamar, Hana langsung menuju ke depan pintu kamar mandi. Sementara itu, pria itu masih berdiri di depan pintu dan menguncinya.
Saat Hana mencoba membuka pintu kamar mandi, rasanya tidak ada masalah sama sekali. Hana menariknya hingga terbuka, dan di dalam kamar mandi, dia melihat seorang pria. Dia menatap pria itu lekat-lekat dan memanggil namanya.
"Vino..."
"Haha, Hana. Kamu masih ingat aku ternyata," ucap Vino.
Vino adalah pria yang pernah jatuh cinta kepada Hana saat mereka masih di SMA. Vino sudah beberapa kali mengungkapkan perasaannya, tetapi Hana terus menolaknya. Hana sudah tidak ingin mencintai siapa pun dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak ingin mengenal seorang pria.
Vino merasa sakit hati karena terus ditolak Hana. Setelah lulus sekolah, Hana tidak pernah bertemu dengan Vino lagi. Namun, saat ini, dia dibuat sangat bingung dan mengira pertemuannya dengan Vino di hotel tempatnya bekerja adalah kebetulan.
"Mon, lakukan tugasmu," ucap Vino.
Hana langsung membalikkan badannya dan menatap ke arah teman Vino. Hana langsung berbicara kepada Vino sambil menatapnya lekat.
"Ada apa ini? Kamu mau melakukan apa kepadaku?" ucap Hana.
Mondy adalah teman Vino. Dia selalu menuruti setiap tugas yang diberikan Vino. Mondy adalah salah satu orang kepercayaan Vino. Mondy langsung memegang Hana dengan erat. Hana mencoba melepaskan diri, tetapi pegangan Mondy begitu kuat hingga membuat Hana kesakitan. Hana terus berteriak.
"Vin, lepaskan! Apa-apaan ini, Vin!" ucap Hana dengan keras.
Vino melangkah menuju ranjang. Dia duduk di sana, mengambil ranselnya, dan mengeluarkan tali dari dalam ranselnya. Sebelum berdiri, dia berbicara kepada Hana.
"Haha, diam, sayang. Aku tidak akan melakukan apa pun. Aku hanya ingin menitipkan bayi untukmu," ucap Vino.
"Vino!" ucap Hana sambil merasakan detak jantungnya berdebar kencang karena perkataan Vino.
Vino berdiri, melangkah mendekat ke arah Hana yang sedang dipegang erat oleh Mondy. Hana melihat ke arah Vino, dan air mata mulai menetes dari matanya. Rasa benci pun terasa begitu lekat di hatinya. Hana tidak tahu apa tujuan Vino. Pikirannya sangat kacau, seakan dia pasrah dengan apa pun yang akan terjadi pada dirinya.
Hana diikat dengan tali oleh Vino. Tangan dan kakinya diikat kuat agar dia tidak bisa berdaya. Hana terus menangis dan meminta untuk dilepaskan, tetapi Vino tetap melanjutkan rencana busuknya.
Hana diangkat oleh Mondy dan dibaringkan di atas ranjang. Setelah itu, Mondy langsung berpamitan kepada Vino.
"Oke, Mon, tugasmu selesai. Ini uangnya, sesuai dengan tugasmu," ucap Vino dengan senyum manis.
"Baik, Bos. Selamat menikmati malam pertama dengan kesayanganmu," ucap Mondy sambil tersenyum.
Mondy melangkah menuju pintu, diikuti oleh Vino. Setelah pintu dibuka dan Mondy keluar kamar, Vino kembali menguncinya dan mulai menikmati rencananya.