Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sunyi di Balik Hutan Glanzwald
Deru mesin mobil hitam mengkilap itu perlahan menghilang, meninggalkan jejak debu tipis di jalanan berkerikil yang membelah hutan pinus Glanzwald. Daisy berdiri di teras depan paviliun utama, jemarinya meremas pinggiran gaun katun putihnya yang halus. Matthew baru saja pergi. Pria itu tidak menoleh ke belakang saat mobilnya melaju membelah kabut fajar, seolah ia sedang menuju kantor biasa, bukan menuju medan perang yang mungkin merenggut nyawanya dalam dua tahun ke depan.
Kini, keheningan menyergap. Glanzwald bukanlah sekadar tempat tinggal, ini adalah simbol kekuasaan keluarga Eisenberg selama berabad-abad. Jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, kediaman ini dikelilingi oleh hutan pribadi yang begitu luas hingga suara burung-burung liar terdengar lebih dominan daripada suara manusia. Pohon-pohon tua yang menjulang tinggi seakan menjadi penjaga rahasia di tempat ini.
"Nyonya Muda, sarapan sudah siap di ruang makan," suara pelayan tua memecah lamunannya.
Daisy menggeleng pelan. Wajah baby face-nya yang biasanya ceria kini tampak sedikit layu. "Bawa saja ke dermaga, Bi. Aku ingin di sana hari ini."
Tanpa menunggu jawaban, Daisy melangkah turun dari teras. Ia tidak butuh alas kaki yang rumit, ia lebih suka merasakan rumput pagi yang masih basah oleh embun di bawah telapak kakinya. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang terlindung oleh kanopi pepohonan yang rapat, menuju bagian favoritnya di properti ini, sisi sungai yang tenang.
Di Glanzwald, terdapat sebuah dermaga kecil yang menjorok ke sungai yang jernih. Di samping dermaga itu, berdiri sebuah pohon ek raksasa yang dahan-dahannya menjuntai hampir menyentuh permukaan air. Bagi Daisy, tempat ini adalah pelariannya dari segala ekspektasi sebagai istri seorang Jenderal Agung.
Ia duduk bersandar di batang pohon ek yang kokoh itu. Di hadapannya, permukaan sungai berkilau tertimpa cahaya matahari yang mulai meninggi. Daisy membuka tabletnya yang sering ia gunakan untuk membuat sketsanya, namun pikirannya melayang pada Matthew. Enam bulan pernikahan mereka terasa seperti sebuah drama tanpa naskah. Matthew adalah pria yang dibentuk, bukan tumbuh. Ibu dan neneknya telah menempa Matthew menjadi pedang yang tajam—dingin, presisi, dan tidak kenal ampun. Bagi Matthew, cinta mungkin hanya sekadar kata dalam kamus yang tidak pernah ia gunakan dalam strategi perang.
Sifat pemalunya seringkali membuat Daisy terlihat angkuh di depan Matthew, padahal jantungnya berdebar kencang tiap kali pria itu berada di ruangan yang sama.
"Enam bulan... dan sekarang dua tahun," gumam Daisy sembari mulai menggoreskan pensilnya.
Alih-alih membuat sketsa karakter komik barunya, tangan Daisy justru menggambar garis rahang yang tegas dan sepasang mata dark blue yang selalu menatapnya dengan kaku. Ia menghela napas, menutup tablet itu dengan sedikit kesal. Bagaimana bisa seorang wanita yang bisa menciptakan kisah cinta yang membuat jutaan orang menangis di komik genre romance buatannya sendiri, justru tidak tahu cara mencairkan es di hati suaminya?
Daisy memutuskan untuk tenggelam dalam pekerjaannya. Di bawah pohon besar ini, ia adalah sang Ratu Cerita. Ia mulai menyusun lirik lagu untuk album terbaru penyanyi kelas dunia yang ia samarkan identitasnya dalam catatan pribadinya. Di sini, ia tidak perlu menjadi Nyonya Eisenberg yang anggun, ia bisa menjadi dirinya sendiri yang kreatif dan bebas.
Siang berganti sore. Suasana Glanzwald yang tenang—dengan hutan yang seolah tak berujung dan aroma kayu basah—memberikan Daisy ketenangan luar biasa. Sesekali ia akan berjalan ke dermaga, membiarkan kakinya tercelup ke dalam air sungai yang dingin, menatap ke arah hutan di seberang sungai sambil membayangkan Matthew mungkin sedang mengatur strategi di tenda militer yang panas.
"Apakah dia akan merindukanku?" Daisy bertanya pada angin. "Atau baginya aku hanya bagian dari furnitur di Glanzwald ini?"
Sifat gengsi Daisy bangkit. Ia bersumpah pada diri sendiri, selama dua tahun Matthew pergi, ia akan membuktikan bahwa ia bisa hidup dengan sangat baik tanpa pria itu. Ia akan membuat karya-karya yang lebih fenomenal lagi. Ia akan membangun kerajaan opininya sendiri dari balik hutan ini.
Namun, saat malam tiba dan ia kembali ke paviliun yang luas dan mewah itu, kesunyian mulai terasa menyesakkan. Kamar tidur utama yang megah terasa terlalu besar untuknya sendirian. Bau parfum maskulin Matthew masih tertinggal samar di bantal, sebuah pengingat yang menyakitkan bahwa pria itu benar-benar ada, namun tidak pernah benar-benar hadir.
Daisy berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah hutan. Di kejauhan, ia bisa melihat bayangan pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam, tampak seperti barisan tentara yang sedang berjaga. Ia menyentuh kaca jendela yang dingin dengan ujung jarinya.
Matthew—kau benar-benar pria yang menyebalkan, batinnya.
Dua tahun adalah waktu yang sangat lama bagi seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun yang sedang berada di puncak kreativitasnya. Namun bagi Daisy, ini juga merupakan ujian. Apakah jarak akan membuat mereka semakin jauh, atau justru karya-karyanya di balik kemahirannya menulis dan melukis akan menjadi jembatan yang membawa Matthew pulang lebih cepat?
Besok, Daisy memutuskan akan pergi ke kota untuk menemui agennya. Ia tidak boleh membiarkan kesedihan ini menumpulkan pena-nya. Jika Matthew bisa berperang dengan senjata, maka Daisy akan berperang dengan kata-kata.
Malam itu, di Glanzwald yang sunyi, Daisy tertidur dengan mimpi tentang mata dark blue yang menatapnya dari balik kabut hutan, sebuah tatapan yang tidak lagi kaku, melainkan penuh dengan sesuatu yang selama ini ia cari, sebuah pengakuan.