NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguasa kantin dan skripsi yang menghantui

Dua tahun setelah tragedi topi caping yang legendaris itu, dunia ternyata tidak menjadi lebih mudah. Dewi Laras menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong. Kursor di sana berkedip-kedip, seolah sedang melakukan tarian ejekan karena sudah lima belas menit berlalu dan Laras baru berhasil menulis: Bab 1: Pendahuluan.

"Ras, kalau lo ngeliatin laptop kayak gitu terus dengan penuh nafsu, yang ada laptopnya baper, bukan tugasnya yang selesai," celetuk Eno Surya yang duduk di hadapannya.

Eno sedang sibuk menghisap sisa-sisa es teh plastik sampai menimbulkan bunyi srak-sruk yang sangat mengganggu konsentrasi. Di depan cowok itu, ada tumpukan piring bekas yang tidak jelas milik siapa saja, tapi Laras yakin sebagian besar adalah hasil "sumbangan" dari sisa makanan teman-temannya yang tidak habis.

"Diem lo, No. Gue lagi berusaha masuk ke zona meditasi tingkat tinggi," sahut Laras tanpa menoleh, jemarinya masih kaku di atas keyboard.

"Zona meditasi atau zona bengongin Bagas Putra yang lagi tanding basket di lapangan?" Gia Kirana menyahut tajam tanpa mengalihkan pandangan dari buku tebal Metodologi Penelitian. Gia ini memang punya bakat alami untuk menghancurkan pertahanan seseorang hanya dengan satu kalimat datar.

Laras spontan menoleh ke arah lapangan basket di luar kantin yang terpampang jelas dari meja pojok mereka. Benar saja, di sana Bagas sedang berlari, kaosnya sudah basah kuyup oleh keringat, dan sesekali dia menyeka wajahnya dengan cara yang—menurut Laras—agak terlalu keren untuk ukuran orang yang belum mandi pagi.

"Gue cuma... memastikan dia nggak pingsan karena dehidrasi, Gi. Sebagai sahabat yang baik, gue punya kewajiban moral," kilas Laras dengan wajah yang mendadak terasa lebih panas dari suhu kantin.

"Kewajiban moral atau keinginan personal?" Rhea Amara muncul dari kerumunan antrean makanan sambil membawa nampan berisi enam mangkuk bakso. Aroma penyedap rasa dan sambal yang menyengat langsung menyeruakan aroma kemenangan, mengalahkan bau apek buku perpustakaan yang dibawa Gia.

"Sini, sini! Makanan datang, penderitaan hilang!" seru Eno penuh semangat sambil langsung menyambar mangkuk pertama.

"Mana Juna?" tanya Laras, berusaha keras mengalihkan pembicaraan dari topik Bagas.

"Lagi di fotokopian depan. Katanya mau cetak revisian buat yang ke-12 kalinya. Kasihan, mas-mas fotokopiannya sampai hapal nomor induk mahasiswa dia, bahkan kabarnya Juna udah dianggap jadi anggota keluarga kehormatan di sana," jawab Rhea sambil mulai membagi-bagikan sendok.

Tak lama kemudian, Juna Pratama muncul dengan langkah gontai. Bahunya miring ke satu sisi karena beban tas yang penuh dengan tumpukan kertas gagal. Dia duduk di sebelah Eno dan langsung menjatuhkan kepalanya ke meja kayu yang agak berminyak itu. BRAK.

"Jun, lo masih napas kan? Atau perlu gue panggilin ambulans?" tanya Eno sambil menusuk bakso milik Juna tanpa izin.

"Dosen pembimbing gue... dia bukan manusia, No," gumam Juna dari balik lipatan tangannya, suaranya teredam meja. "Dia itu bot yang diprogram buat nyoret-nyoret kerjaan gue pakai pulpen merah sampai kertasnya mirip korban kecelakaan. Dia bilang hipotesis gue 'terlalu imajinatif'. Maksudnya apa coba? Emangnya gue lagi bikin novel fantasi?"

"Sabar, Jun. Mungkin lo emang ditakdirkan jadi penulis, bukan peneliti," hibur Rhea sambil menyodorkan kerupuk.

Laras akhirnya menyerah. Dia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. Masa bodoh dengan bab pendahuluan. Melihat teman-temannya yang sama-sama menderita karena tuntutan akademis, dia merasa bebannya sedikit terangkat. Inilah mereka sekarang; bukan lagi maba culun yang takut sama senior, tapi mahasiswa semester tua yang sudah paham kalau kunci kebahagiaan itu sederhana: makan bakso pas lagi stres dan punya teman yang bisa diajak gila bareng.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar mendarat di bahu Laras, membuat cewek itu hampir saja melompat dari kursinya.

"Woy, serius banget mukanya. Lagi ngerjain skripsi atau lagi ngerencanain kudeta?"

Bagas Putra sudah berdiri di sana, aromanya campuran antara matahari dan parfum maskulin yang samar. Dia langsung menarik kursi di sebelah Laras dan meraih gelas es teh Laras yang masih setengah, meminumnya tanpa rasa bersalah.

"Heh! Itu bekas gue!" protes Laras, meski dalam hati jantungnya mulai melakukan senam irama.

"Pelit amat sama sahabat sendiri," sahut Bagas sambil nyengir, menampilkan lesung pipi yang selalu sukses bikin Laras lupa mau marah apa. "Lagian tadi di lapangan panas banget. Makasih ya es tehnya, calon sarjana."

Eno berdeham sangat keras, sampai-sampai Gia harus memukul kepalanya dengan buku. "Kantin ini luas, tapi kenapa rasanya dunia cuma milik dua orang ya? Yang lain cuma butiran debu di mangkuk bakso," sindir Eno.

Tawa mereka pecah di pojok kantin itu. Di tengah hiruk-pikuk suara piring bersentuhan dan obrolan mahasiswa lain, Laras memandangi satu per satu wajah sahabatnya. Ada Gia yang selalu logis, Rhea yang selalu punya stok makanan dan gosip, Juna yang tragis tapi jenius, Eno yang ajaib, dan Bagas yang... yah, Bagas.

Laras tersenyum tipis. Dia belum tahu bahwa sebentar lagi, masa-masa santai ini akan berubah. Dia belum tahu bahwa di antara tawa ini, ada perasaan yang sudah terlalu lama dipendam, dan ada satu rahasia besar yang sedang menunggu waktu tepat untuk meledak dan menguji sekuat apa ikatan mereka sebenarnya.

"Eh, malam Minggu besok kita ke pasar malam yuk?" ajak Rhea tiba-tiba. "Katanya ada wahana bianglala baru. Siapa tahu ada yang mau nembak seseorang di puncak bianglala?"

Mata Rhea melirik nakal ke arah Laras dan Bagas, membuat suasana meja itu mendadak jadi jauh lebih seru sekaligus canggung bagi beberapa orang.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!