NovelToon NovelToon
FROZEN DAWN

FROZEN DAWN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Noulmi

Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. Fajar yang Membeku

Aku adalah Krystal Sang Naga Es Agung.

Namun, gelar agung itu hanyalah kenangan samar yang terkubur di bawah tumpukan kutukan abadi. Aku dikutuk untuk mengingat segalanya—setiap napas, setiap detak jantung, dan setiap kematian dari ratusan kehidupan sebelumnya. Jati diriku sebagai penguasa es telah luntur, digantikan oleh jiwa yang lelah karena dipaksa bereinkarnasi tanpa henti.

Semua bermula dari sebuah hubungan terlarang. Sebuah kesalahan semalam dengan Alucas, Naga Cahaya. Hubungan kami bukanlah karena cinta.

Kami melanggar hukum alam semesta yang paling sakral, aturan tak tertulis namun mengikat sepuluh Naga Keseimbangan:

"Sepuluh Naga Keseimbangan harus tetap seimbang. Cinta di antara mereka adalah guncangan. Guncangan menjadi retakan. Retakan membawa kehancuran."

Hubungan kami bukan sekadar kesalahan semalam; itu adalah bencana kosmik. Waktu terhenti. Dimensi retak. Siklus kelahiran dan kematian menjadi kacau balau. Sebagai hukuman atas kekacauan yang kami ciptakan bersama, "Permata Naga" milikku dihancurkan menjadi seratus kepingan. Setiap keping terjebak dalam dimensi waktu yang berbeda, menjalani hidup dan mati berulang kali.

Dan hari ini... satu lagi kepingan permata naga itu hancur.

Pyar!

Suara itu bukan ledakan fisik, melainkan suara jiwaku yang pecah sekali lagi.

Aku terbaring lemah di tengah reruntuhan katedral yang dingin. Debu batu berterbangan perlahan, menari-nari di bawah sinar bulan yang menyusup melalui atap yang runtuh. Mataku—yang telah buta sejak lahir di kehidupan ini—menatap kosong ke arah kegelapan.

Hyal mendekap tubuhku dengan erat, isak tangisnya memecah kesunyian malam yang mencekam.

"Kumohon!" teriak Hyal, suaranya penuh dengan keputusasaan. "Jangan tinggalkan aku!"

"Kenapa kau masih di sini, Hyal?" bisikku. "Aku selalu merasakannya... kehadiranmu. Mengapa kau selalu menangis di setiap akhir hidupku?"

"Kumohon... Kumohon pada Dewa mana pun!" Hyal menggenggam tanganku yang mulai dingin, mendekapku seolah-olah kekuatan cintanya bisa menahan nyawa yang lepas.

"Jangan memohon lagi, Hyal," potongku lirih, menghentikan racauan pria itu. Napasku tersengal-sengal. "Tidakkah kau lihat? Aku lelah. Sangat lelah. Sembilan puluh delapan kali aku hidup, dan sembilan puluh delapan kali pula aku mati dalam kesakitan yang sama. Relakan aku..."

"Aku tidak bisa!" seru Hyal, air matanya jatuh membasahi wajahku. "Kau adalah separuh jiwaku! Kau adalah satu jiwa yang terbelah dariku!"

Aku menghela napas terakhirku dengan berusaha tersenyum yang menyedihkan.

"Egois..." desisku, nyaris tak terdengar. "Kau lebih memilih melihat penderitaanku... daripada memberikanku kedamaian."

Gelap. Dingin. Hening.

Seorang Saintess buta yang miskin. Mati sia-sia karena gagal mengalahkan kaki tangan iblis.

Aethermoor.

Kekaisaran terbesar di Benua Utara, tempat matahari seolah enggan tenggelam, memandikan tanah dengan cahaya keemasan abadi.

Gyut... gyut... gyut...

Suara aneh dari mainan kayu yang berputar lambat membuatku terbangun, aku melihat sekelilingku. Kamar bayi yang mewah.

Aku mengangkat tangan mungil ini ke udara. Jari-jari kecilku mengepal, lalu membuka perlahan, kehidupanku yang ke sembilan puluh sembilan kali.

Kedip. Kedip. Aku mengedipkan mata berulang-ulang.

Kali ini aku jadi siapa lagi ya? Dilihat dari interior kamarnya, sepertinya aku seorang bangsawan.

Aku membentangkan tangan mungilku, lalu aku tersentak saat merasakan kehangatan empuk di sampingku. Di sana, tertidur lelap, ada bayi lain. Bayi dengan rambut putih bersih bak salju pertama, sangat kontras dengan rambut Krystal yang berwarna emas pucat.

Wah, imutnya, pikirku. Tanpa sadar, jari telunjukku menyentuh pipi bayi itu. Tuing!

"Mmm..." Bayi itu mengerang pelan. Kelopak matanya terbuka, menampilkan sepasang iris biru jernih sedalam lautan. Ia menatap kearahku sejenak, bingung, sebelum wajahnya memerah dan meledak dalam tangisan keras.

Owaaaa! Owaaaa!

Aku menjadi panik. Insting bayiku mengambil alih. Karena kaget mendengar tangisan keras di telingaku, aku pun ikut menangis.

Waaaaa!

Ruangan yang tadinya tenang seketika ricuh. Pintu terbuka lebar, dan para pelayan berseragam rapi bergegas masuk dengan wajah cemas.

"Yang Mulia, sepertinya Tuan Putri dan Pangeran lapar," lapor seseorang yang terlihat seperti kepala pelayan sambil dengan hati-hati menggendongku dan bayi berambut putih. Kami dibawa menuju ranjang besar tempat seorang wanita cantik sedang berbaring lemah pasca-persalinan.

Seraphina menyambut kedatangan kami, anak-anaknya dengan senyuman lelah namun hangat. Rambutnya yang basah menempel di dahi, namun matanya bersinar penuh kasih sayang.

"Sayangku... apakah kalian lapar?" bisiknya lembut, mencoba menawarkan payudara kepadaku terlebih dahulu.

Aku mematung. Jiwaku yang berusia ribuan tahun berontak hebat di dalam tubuh mungil ini.

Tidak, tidak! Tunggu dulu! batinku merasa panik. Meskipun secara teknis aku sudah ahli menjadi bayi, dignitasku sebagai Naga Es menolak melakukan ini di depan umum!

Melihat aku yang menutup rapat-rapat mulutku dan menolehkan kepala, senyuman wanita itu pudar, digantikan oleh raut wajah sedih. "Ada apa dengan Putri kecilku? Apakah Ibu melakukan kesalahan?"

Rasa bersalah menyergap hatiku. Ia melihat kesedihan di mata wanita yang melahirkan tubuhku kali ini.

Ah, sialan. Baiklah. Demi kedamaian dunia, dan karena sepertinya kau Ratu... berarti aku Tuan Putri sekarang? Fine.

Dengan berat hati, aku akhirnya menyerah dan mulai menyusu.

Namun, kejutan belum berakhir.

Bayi berambut putih di sebelah sana justru menolak dengan gigih. Ia menggeleng-gelengkan kepala, menangis kencang, dan mendorong sekuat tenaganya. Para pelayan tampak bingung. Wajah wanita itu berubah gusar dan khawatir.

Hey, bayi! batinku berteriak karena kesal. Kenapa kau tidak mau menyusu? Kau membuat Ibu kita bersedih! Lihat dia hampir menangis!

Tiba-tiba, sebuah suara bergema jelas di dalam kepalaku. Suara itu tajam, jantan, dan terdengar sangat kesal.

'Meskipun aku bayi, tapi aku ini laki-laki! Jangan paksa aku!'

Aku terperanjat hingga hampir tersedak ASI.

Hah?! mataku membelalak (sebisa mungkin bagi bayi). Tadi... kau menjawabku? Aku tidak salah dengar, kan?

Bayi berambut putih itu hanya menatapnya datar, lalu kembali diam, pura-pura tidak tahu apa-apa.

Hey! Hey! Jawab aku, bayi! Krystal merasa kesal sekaligus penasaran. Setidaknya kau harus makan! Lihat! Ibu kita jadi stres karena kau!

Merasa tatapanku yang menusuk, dan mungkin juga karena perutnya memang berbunyi, bayi berambut putih itu akhirnya menyerah. Ia menyusu dengan ekspresi pasrah, sementara aku hanya mengamati dengan penuh curiga.

Tak lama kemudian, aura berat memenuhi ruangan. Seorang pria gagah berjubah merah menyala memasuki kamar. Mahkota emas bertatahkan permata cahaya berkilau di kepalanya. Semua orang di ruangan itu langsung menunduk hormat, termasuk para pelayan.

"Salam kepada Yang Mulia Kaisar Athanasius, Sang Matahari Kekaisaran," ucap mereka serempak.

Kaisar Athanasius berjalan cepat mendekati ranjang, mengabaikan protokol istana demi kecemasannya. "Apa kau baik-baik saja, Seraphina, Ratuku?" suaranya dalam dan penuh perhatian.

Seraphina menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan rasa hormat sekaligus kelembutan. "Saya baik-baik saja, berkat kerendahan hati Yang Mulia."

Aku mengamati interaksi itu sambil terus menyusu. Jadi, mereka adalah orang tuaku. Kaisar Athanasius dan Ratu Seraphina. Dan bayi berambut putih itu... aromanya terasa aneh. Tidak asing, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Ada getaran energi yang familiar, seperti gema dari masa lalu yang terlupakan.

Satu bulan berlalu.

Istana Aethermoor disibukkan oleh persiapan Upacara Pemberkatan Nama, ritual suci bagi bayi kerajaan yang telah mencapai usia satu bulan. Di tengah hiruk-pikuk penjahit istana dan dekorasi bunga, seorang ibu pengasuh tua bernama Martha dengan wajah ramah sedang menggendongku.

Di sebelahnya, bayi berambut putih itu juga sedang diukur untuk pakaian upacara.

Kenapa mengukurnya lama sekali, keluhku dalam hati. Aku menatap bayi berambut putih itu dengan intens. Hey! Hey bayi berambut putih! Kenapa kau diam saja sekarang? Aku yakin sekali kau menjawabku waktu itu. Jangan pura-pura bodoh!

Tanpa sadar, Krystal meronta-ronta kecil dalam gendongan.

"Ada apa, Tuan Putri? Apakah Anda merasa tidak nyaman? Atau lapar?" tanya ibu pengasuh dengan nada lembut, mengira aku rewel.

Seorang wanita penjahit segera menghentikan pekerjaannya. "Baiklah, mari kita akhiri pengukuran badan untuk hari ini. Jangan sampai Tuan Putri kelelahan."

Malam pun tiba.

Kamar bayi kini sunyi senyap. Para pelayan telah mundur, meninggalkan hanya seorang ibu pengasuh yang tertidur pulas di kursi goyang dekat perapian yang menyala redup.

Aku terbaring di keranjang bayi berbahan kayu cokelat muda. Mainannya sederhana, bahkan bisa dibilang alakadarnya dibandingkan dengan kemewahan sekitarnya.

Di seberangku, bayi berambut putih itu tidur di keranjang berlapis emas murni, dikelilingi oleh boneka-boneka impor dan mainan musik yang rumit.

Wah, wah, wah. Lihatlah betapa tidak adilnya dunia, sindirku dalam hati terasa pahit. Bahkan di usia satu bulan, perlakuan beda sudah terlihat. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana masa depanku akan penuh dengan intrik dan pengabaian.

Fakta pahit mulai terungkap seiring berjalannya waktu. Sejak tiga hari setelah melahirkan, Ratu Seraphina tampak enggan menyentuhku. Sang Ratu lebih sering menggendong dan menyusui bayi berambut putih—kakak kembarku. Lambat laun, sikap dingin itu menular. Para pelayan, penjaga, hingga ibu asuh pun mulai mengutamakan si Pangeran kecil. aku, si Tuan Putri, menjadi anak yang "tidak merepotkan" karena aku jarang menangis. Bukan karena aku bahagia, tapi karena aku tahu menangis tidak akan mengubah apa-apa.

Aku memejamkan mata, lalu mengumpulkan seluruh tenaganya. Dengan usaha keras menggunakan otot leher dan punggung bayiku yang lemah, aku mencoba berguling.

Uuuuukh... Sulit sekali...

Tidak, tidak. Aku tidak boleh menyerah pada gravitasi.

Uuuuukh...

Dengan usaha terakhir yang menguras tenaga, aku berhasil memiringkan tubuhku. Sekarang, ia bisa menatap langsung ke arah keranjang emas di seberang.

Bayi berambut putih itu tidur nyenyak, dadanya naik turun dengan tenang. Wajahnya damai, sangat berbeda dengan kekacauan batin Krystal.

Sepertinya kita tidak akan bisa menjadi saudara kembar yang akrab, gumamku dalam hati, rasa dingin yang familiar mulai menjalar di dada kecilku. Selamat tinggal, kedamaian. Selamat datang, kembali ke permainan takdir yang kejam.

1
Jasa Curhat
waktu antara hyal memohon dan bulan purnama pertama tidak sinkron
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!