"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Live Streaming
Satu bulan sebelum hari pernikahan seharusnya menjadi waktu tersibuk bagi seorang calon pengantin.
Mencocokkan warna taplak meja katering, memastikan dekorasi pelaminan tidak terlihat seperti taman pemakaman umum, hingga mencoba gaun yang harganya setara dengan cicilan rumah lima tahun.
Tapi bagi Cantik (26 tahun), sore ini dia justru sibuk melakukan hal lain: Berdiri mematung di depan pintu Lounge Hotel Grand Emerald dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Di pojok ruangan yang remang dan aromanya tercium seperti parfum mahal bercampur kebohongan, Satria—pria yang namanya sudah terukir rapi di undangan emas mereka—sedang tertawa sangat akrab.
Bukan dengan Cantik. Tapi dengan seorang wanita berseragam ketat yang jemarinya sedang asyik merapikan kerah kemeja Satria.
Puncaknya, Satria mengecup kening wanita itu dengan lembut. Sebuah kecupan yang seharusnya hanya milik Cantik sebagai pemegang hak cipta sah di atas materai sepuluh ribu.
Prang!
Hati Cantik rasa-rasanya pecah lebih berisik daripada gelas kristal yang jatuh. Tapi alih-alih pingsan atau lari sambil nangis ala drama Korea tahun 2000-an, Cantik justru mengeluarkan ponsel pintarnya. Jarinya bergerak gesit.
"Halo, teman-teman follower-ku yang haus akan keadilan dan gosip panas..." gumam Cantik pelan. Dia menekan tombol GO LIVE.
"Oke, viewers sudah naik ke angka seribu. Bagus." Cantik menarik napas panjang, lalu dengan langkah anggun namun mantap, dia berjalan menghampiri meja pojok itu.
Satria yang sedang asyik membelai rambut si selingkuhan—Sintia, yang ternyata adalah SPG pameran mobil bulan lalu—langsung mematung. Wajahnya berubah pucat seperti kain kafan yang baru dicuci pakai pemutih.
"Loh, Mas Satria? Kok di sini? Katanya lagi rapat darurat sama klien dari luar negeri? Kliennya kok mirip model brosur oli motor?" suara Cantik terdengar sangat merdu di depan kamera, tapi tajamnya melebihi silet.
"Cantik?! Kamu... kok bisa di sini? Matikan kameranya!" Satria panik. Dia langsung berdiri, mencoba menutupi muka Sintia dengan punggungnya yang lebar, sementara tangan kirinya mencoba menutupi kamera ponsel Cantik.
Cantik justru memasang muka paling melas sedunia. Matanya yang jernih mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar.
"Teman-teman lihat sendiri, kan? Ini pria yang bulan depan janji mau nikahin aku di depan penghulu. Ternyata dia lagi 'rapat' privat sambil pelukan. Tega ya, Mas... padahal tadi pagi aku baru aja bayar DP rendang katering buat pesta kita."
Kolom komentar live langsung meledak.
@LambeTumpah: "WAH PARAH SIH! SIAPA TUH COWOKNYA? TAG IG-NYA DONG!"
@NetizenJulid: "Katering rendangnya buat gue aja Kak, sini Kakak aku peluk!"
"Cantik, cukup! Malu dilihat orang!" Satria mencoba meraih ponsel Cantik, tapi Cantik dengan lincah menghindar.
"Malu? Mas punya rasa malu ya? Aku kira sudah hilang barengan sama rasa setiamu." Cantik menghadap ke kamera lagi dengan ekspresi yang begitu hancur hingga siapapun yang melihat pasti ingin menyumbangkan ginjal untuknya.
"Mbaknya cantik loh. Sayang banget seleranya cuma sisa-sisa calon suami orang. Semoga langgeng ya, Mas... oh ya, jangan lupa kirim balik uang gedung yang sudah aku bayar pakai tabunganku."
Tanpa menunggu balasan, Cantik mematikan live-nya dengan elegan. Dia berbalik, berjalan keluar hotel dengan langkah tegap, meskipun hatinya terasa seperti dihantam palu godam. Dia tidak sudi membuang air matanya di depan dua orang serendah itu.
Di luar gedung, hujan mulai turun rintik-rintik, seolah mengejek nasibnya yang mendadak jadi janda sebelum menikah. Cantik berjalan dengan pandangan kosong menuju parkiran, tidak menyadari ada sebuah motor sport hitam yang terparkir tak jauh dari sana.
Seorang remaja dengan jaket denim dan helm di tangan, berdiri di samping motor itu. Itu Juna (18 tahun), adik kandung Satria.
Juna melihat segalanya melalui kaca besar lounge. Matanya yang tajam sempat menatap ke arah kakaknya dengan tangan yang mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah mendidih di dadanya—berani-beraninya Satria menyakiti wanita hebat seperti Cantik? Satria benar-benar sampah kelas berat yang harus didaur ulang.
Namun, sedetik kemudian, kepalan tangan itu perlahan melonggar. Juna menarik napas panjang, membiarkan udara dingin meredakan emosinya. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seringai tipis yang penuh kemenangan. Ia menatap punggung Cantik yang menjauh dengan langkah gontai menuju mobilnya.
"Gila... Kak Cantik keren banget pas live tadi. Akting melasnya dapet, tapi pedasnya dapet," bisik Juna pelan sambil menggelengkan kepala kagum.
Juna menatap kakaknya di dalam ruangan yang sekarang sibuk ditenangkan oleh Sintia.
"Maaf ya, Bang. Lu yang buang bidadarinya, berarti sekarang statusnya jadi... available buat gue," gumam Juna pada angin malam.
Juna menyalakan mesin motornya. Suara knalpotnya yang sudah dimodifikasi itu menggelegar, membelah kesunyian parkiran hotel, seolah merayakan kebebasan Cantik. Matanya berbinar penuh semangat yang hampir ugal-ugalan.
"Satu detik yang lalu gue marah banget liat dia nangis. Tapi satu detik kemudian gue sadar... ini jalan Tuhan buat gue." Juna memakai helmnya, menggas motornya pelan sambil terus memantau posisi mobil Cantik dari kejauhan.
"Satu bulan dari sekarang seharusnya lu nikah sama Bang Satria, Kak. Tapi tenang aja... slot pengantin prianya biar gue yang isi. Dan kali ini, gue bakal pastiin lu nggak perlu akting melas lagi di depan kamera."
Juna menggas motornya kencang, meninggalkan area hotel dengan senyuman lebar. Dia sudah punya rencana gila. Rencana yang melibatkan sepuluh teman motornya, sebuah megaphone, dan mawar merah yang besarnya lebih luas dari kesabaran Cantik.
Petualangan "tikung-menikung" di tikungan paling tajam baru saja dimulai.