Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01. Omnya Bella
"Gue ke rumah Lo ya, Bel," ucap Kania di telepon.
"Eh, mau ngapain?"
"Boring nih, gue pengen main ke rumah Lo."
"Ish, lagi acara keluarga. Gue ngga bisa nemenin Lo."
"Udah tenang aja, gue mandiri kok orangnya. Gue datang ya."
"Ya udah deh, tapi sorry ya kalau gue ngga bisa lama-lama temenin di rumah gue. Nanti gue jemput depan rumah aja, setelah itu Lo masuk kamar gue."
"Oke, siip."
Klik!
Kania menutup sambungan teleponnya dengan sahabatnya Bella, hari Minggu ini dia bosan di rumah terus. Apa lagi papa dan mamanya lagi acara kondangan pada temannya, awalnya dia di ajak tapi Kania menolak.
Tentu saja dia malas bertemu dengan teman-teman mamanya yang cerewet kenapa belum nikah, kenapa belum lulus kuliah, bla bla bla.
Gadis ceria itu segera mengganti bajunya jadi kaos oblong dan celana jeans, tak lupa dia memakai bedak dan lipstik tipis-tipis agar tidak terlalu pucat bibirnya. Setelah semua selesai, dia mengambil tas cangklongnya lalu bergegas keluar dari kamarnya.
Berlari menuruni anak tangga, tampak bi Marni melihatnya turun dari tangga dan menyapanya.
"Mau kenapa non? Ibu sama bapak lagi pergi," tanya bi Marni.
"Mau ke rumah Bella, bilang aja nanti kalau mama papa pulang aku pergi ke rumah Bella," jawab Kania.
"Oh, mau main toh."
"Iya. Kenapa sih kepo banget jadi orang," ucap Kania.
"Tanya saja non, kalau ibu tanya non kemana kan bibi bisa jawab," kata bi Marni lagi.
"Oke, aku pergi dulu ya bi."
"Hati-hati di jalan non."
"Yaa."
Kania bergegas keluar dari rumah, bi Marni menggeleng kepala saja. Perempuan itu sudah bekerja dengan mama Kania sejak gadis itu masih bayi, dan mamanya Kania menyuruh bi Marni agar tetap bekerja di rumahnya meski memang dulu tugasnya hanya sebagai baby sitter saja.
Kania menaiki motor Scoopy hitamnya, meski Kania anak orang kaya namun dia lebih suka dengan mengendarai motor pergi ke kampus. Dan akan menghampiri Bella untuk berangkat sama-sama.
Papanya pernah melarangnya bermotoran karena Kania sering ngebut di jalan, tapi malah larangan papanya jadi ngambek. Akhirnya papanya mengalah membolehkannya memakai motor kemana-mana.
"Hmm, kok macet sih. Biasanya hari Minggu ngga macet, kenapa macet?" gumamnya melihat kendaraan jalan merayap.
Gadis itu masih sabar untuk jalan, dia tanya-tanya pada pengendara lain kenapa bisa macet seperti itu. Dan ternyata memang ada kecelakaan lalu lintas di depan jalan rel kereta api.
Menunggu beberapa menit akhirnya kemacetan terurai, Kania langsung melakukan motornya segera pergi ke rumah Bella. Dia tidak ingin waktunya habis di jalanan, akhirnya ngebut untuk segera sampai di rumah sahabatnya itu.
_
Bella menyambut Kania di depan pintu, gadis itu cukup senang sahabatnya datang ke rumahnya meski di rumahnya ada acara keluarga.
"Gue ganggu Lo ngga?" tanya Kania.
"Ngga apa-apa, udah yuk masuk."
Bella menarik tangan Kania masuk ke dalam rumahnya, memang benar di dalam rumah Bella banyak sekali orang. Tepat ketika melewati ruang keluarga, Kania menatap seorang laki-laki tampan dan bertubuh tegap gagah.
Matanya tak teralihkan pada sosok laki-laki tampan yang juga kebetulan menatapnya.
"Aduh!"
Kania tersandung ketika Bella menariknya untuk naik tangga, gadis itu juga kaget kenapa Kania tersandung.
"Lo kenapa?" tanya Bella.
"Uh, lihat cowok ganteng. Ngga tahu mau naik tangga," jawab Kania masih melihat ke arah laki-laki tampan.
Bella mentah Kania heran, pandangannya mengarah pada sosok laki-laki tampan juga yang sedang duduk mengobrol dengan papanya.
"Dia om gue, udah ayo naik. Jangan lihatin dia terus," ucap Bella menarik lagi tangan Kania.
Gadis itu menatap sahabatnya lalu kembali menatap omnya Bella tersebut kemudian tersenyum kecil.
"Ganteng ya om Lo itu, siapa namanya?" tanya Kania.
"Om Axel," jawab Bella.
"Kok gue baru tahu Lo punya Om ganteng," kata Kania, mereka menaiki tangga terakhir dan melangkah menuju kamar Bella.
"Dia lama di Jerman, emang gue males cerita tentang om gue."
"Ih, jahat Lo."
Bella menatap Kania datar, lalu membolak dan segera membuka pintu kamarnya. Kania masuk ke dalam kamar Bella yang sudah familiar baginya.
"Gue boleh kenalan sama om Lo ngga?" tanya Kania.
"Mau ngapain? Dia udah punya istri dan anak," jawab Bella sedikit kesal.
"Ish, ya cuma kenalan aja kan. Soalnya dia ganteng, heheh," ucap Kania sembari tertawa kecil membuat Bella malas meladeninya.
Dia tahu Kania itu memang suka dengan laki-laki ganteng, di kampus saja kalau ada dosen yang masih muda akan terus di dekati. Makanya Bella tidak pernah menceritakan om-nya itu.
"Gue tinggal ya, Lo di sini aja yang santai," ucap Bella.
"Eh, beneran lho gue mau kenalan sama om Axel Lo, Bel," ujar Kania.
"Ish, males banget. Udah gue tinggal, nanti gue suruh mbok Jum anter makanan ke kamar. By."
Bella langsung menutup pintu kamar membuat Kania kaget, lalu berdecih kesal. Kakinya melangkah menuju ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sana, melepas tasnya dan melemparnya sembarangan.
"Oh, om Axel. Tunggu ya, kita harus kenalan dulu heheh."
_
_
*****