IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Naufal Adhitama, 32 tahun.
Seorang dokter anestesi yang tampan, konglomerat, hangat, dan mudah bergaul. Dikenal sebagai pria yang selalu berhasil membuat orang nyaman, sekaligus dicap sebagai playboy karena kedekatannya dengan banyak perempuan.
Untuk urusan perempuan ia memiliki kriteria khusus untuk ia jadikan pacar. Diantaranya adalah usia. Dia tidak suka dengan perempuan yang usianya di bawah 25 tahun, karna bagi Naufal ukuran kedewasaan perempuan haruslah di atas itu.
"Wah Bie, she is to young! Dia baru dua puluh dua tahun. Dan kamu sudah tidur semalaman dengannya? Aku yang begini aja masih milih-milih." Ujar Naufal saat bersama Albie, rekan sejawat dan sekaligus sahabat kentalnya
Saat itu Albie tengah menghadapi masalah, dengan seorang perempuan yang berusia di bawah dua puluh lima tahun, dan dari masalah itu akhirnya membuat Albie memutuskan untuk menikahinya.
Dan reaksi Naufal adalah, mengomentari usia yang masih sangat muda dan tidak sesuai dengan standarnya.
Naufal juga sangat menyukai perempuan-perempuan mandiri, yang anti ribet dan nggak drama, karna dia bisa pusing kalau sudah menghadapi sikap kekanakan wanita. Karna sebenarnya justru dirinya sendiri yang seringnya bertingkah kekanakan.
Dia ingin di manja, dan tidak bisa kalau kesepian. Karna hidupnya selama ini seringnya merasa sepi. Ya, sebagai anak tunggal di keluarga Adhitama ia merasa sangat kesepian. Memiliki kedua orang tua yang sibuk di bidang bisnis membuat ia jadi sering sendiri. Terlebih sekarang orang tua mereka berada di luar negri.
Meski begitu hubungan ketiganya tetap hangat. Ibunya tetap perhatian padanya, juga dengan Ayahnya. Soal kasih sayang ia tidak pernah kekurangan.
Apa lagi ia di kelilingi oleh sahabat-sahabat Ibunya yang ia rasa lebih kental dari saudara. Di tambah rekan sejawatnya di rumah sakit pusat, membuat seorang Naufal merasa tambah bersyukur dengan privilage yang ia punya.
Di tengah pemikiran teman-teman sejawatnya yang menganggap pernikahan bisa dijalani meski tanpa cinta—bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu dan cinta bisa di adjust—Naufal justru memiliki prinsip berbeda.
Seperti saat menanggapi ucapan Adrian Wiratama, rekan sejawat dan juga salah satu sahabatnya ketika membahas tentang perjodohan dari orang tuanya.
"Syarat pernikahan itu bukan cinta bro, syaratnya mampu. Mampu menjadi suami, mampu menjadi istri. Soal cinta bisa di adjust. Aku yakin sama kemampuan aku, aku juga yakin sama kemampuan Aisyah. Itu cukup buat aku jadikan pondasi."
Naufal menaikkan bahunya, "Bisa di adjust? Mana bisa menikah tanpa ada cinta sebelumnya. Pernikahan itu perjalanan panjang. Aku yang pacaran satu atau dua bulan aja bisa putus, karna merasa tidak ada kecocokan, padahal pada awalnya aku merasa mencintainya. Itu tidak masuk akal bro!" sahutnya.
Baginya, pernikahan tanpa cinta adalah hal yang mustahil untuk dipertahankan. Omong kosong. Tidak masuk akal. Namun ironisnya, ia sendiri tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan.
Bagi Naufal, pernikahan hanyalah sebuah kurungan yang bisa membatasi kebebasan, penuh tuntutan, dan dipenuhi masalah yang tak ada habisnya. Tak terbayangkan olehnya jika harus bangun pagi dengan segudang tuntutan sebagai seorang suami. Belum lagi jika memiliki anak, yang dia yakin pasti akan rewel dan memperburuk dunianya. Naufal tidak suka anak-anak dan belum siap jika harus menjadi Bapak. Karna itu, ia memilih menjalani hidup tanpa beban… tanpa komitmen.
Namun teori Naufal runtuh ketika bertemu dengan Anin Ratri Maharani, 27 tahun.
Seorang perempuan cantik berambut lurus, kuat, mandiri namun penuh luka. Tumbuh dalam keluarga broken home dengan seorang ayah yang gemar berselingkuh, membuat Anin kehilangan kepercayaannya pada cinta.
Baginya, semua laki-laki pada akhirnya akan sama.
Menyakitkan. Apalagi laki-laki seperti Naufal—tampan, hangat, kaya raya, dan terlalu mudah membuat perempuan jatuh hati. Perempuan mana yang tidak terpikat dengan pria seperti itu.
Sungguh Naufal adalah definisi cowok idaman semua perempuan.
Teringat dengan percakapan dengan Qistina, salah satu sahabatnya yang sama-sama bekerja sebagai kasir kafe, ketika pertama kali bertemu Naufal.
"Qis, kamu udah pernah denger suara Ayam?"
Qistina mengangguk, "Tahu..."
"Suara kucing?"
"Meong, gitu kan suaranya?!"
Anin mendekat di telinga Qistina dan melirik Naufal dengan ujung matanya, "Kalau suara buaya?"
Qistina menggeleng, "Memangnya gimana?"
"Kamu dengerin aja, kalau cowok itu ngomong!" Anin menunjuk Naufal dengan dagunya, "Suaranya, persis seperti buaya yang lagi naik ke permukaan. Buaya JakSel!" bisik Anin. Dan sukses membuat Qistina tertawa.
Meski tembok yang di bangun Anin begitu tinggi, tapi justru membuat Naufal semakin jatuh hati. Bagi Naufal, Anin adalah paket komplit perempuan yang selama ini ia idam-idamkan.
"Tipe cewek yang di chat Senin, tapi balesnya Minggu. Aku suka itu!" ujar Naufal, ketika mulai mendekati Anin. Seiring berjalannya kedekatan Albie sahabatnya dengan Qistina yang juga sahabat dekat Anin.
Ia mulai membayangkan pulang ke rumah dengan seseorang menunggunya. Membayangkan makan malam sederhana, suara langkah di rumah, bahkan hal-hal kecil yang dulu ia benci. Untuk pertama kalinya, Naufal ingin menikah. Ingin hidup bersama satu perempuan saja.
Keluarganya pun menerima Anin. Bahkan ibunya menyambut perempuan itu dengan hangat. Semua terasa mudah, seolah takdir akhirnya berpihak pada mereka.
Sampai akhirnya tragedi itu terjadi, semuanya runtuh.
Adik Anin membunuh ayah mereka sendiri.
Tak ada yang menduga. Tak ada yang sempat mencegah. Pertengkaran panjang di rumah itu akhirnya pecah menjadi tragedi berdarah.
Rumah Anin berubah menjadi tempat yang dipenuhi garis polisi, tangis, dan tatapan orang-orang yang menghakimi.
Berita menyebar cepat. Nama keluarga Anin menjadi bahan pembicaraan. Semua orang tahu.
Dan sejak saat itu, keluarga Naufal berubah.
Restu yang dulu diberikan, perlahan ditarik. Kehangatan berganti keraguan. Orang tua Naufal yang semula menganggap Anin perempuan baik-baik, kini melihat keluarganya sebagai beban yang akan menyeret nama baik mereka.
"Mama tidak pernah berniat punya hubungan dengan keluarga pembunuh."
Kalimat dingin itu langsung membelah ruangan.
Rahang Naufal sedikit mengeras, tapi ia memilih diam.
"Mama akui, Anin perempuan yang baik." Regina melanjutkan dengan nada tenang, meski sorot matanya tetap tajam. "Dia sopan, mandiri, dan tahu cara membawa diri. Mama bisa lihat itu dari beberapa kali pertemuan dengannya."
Naufal menatap Regina tanpa berkedip.
"Mama juga tidak pernah mempermasalahkan, kalau dia berasal dari keluarga biasa." Regina menyandarkan punggungnya. "Tapi tragedi pembunuhan dalam keluarganya, itu berbeda."
Hening sesaat.
"Hubungan seperti itu, bukan sesuatu yang bisa Mama toleransi begitu saja."
"Sudahi hubungan kamu sama dia, sebelum semuanya bertambah parah." Ucapan dari Frans, membuat Naufal kehilangan nafas. Ia tahu akan seperti ini, namun ia baru tahu dengan rasanya setelah ucapan itu terlontar. Sesak. Dan membuat Naufal kehilangan pita suaranya.
Suaranya hanya sampai di kerongkongan—begitu mencekik, hingga Naufal hanya mampu menunduk dan memejamkan mata menanggapinya.
Suaranya hanya sampai di kerongkongan—begitu mencekik, hingga Naufal hanya mampu menunduk dan memejamkan mata menanggapinya.
"Naufal, kamu tahu ini bukan permasalahan latar belakang yang berbeda." Timpal Regina, "Kamu tahu, kami juga tidak pernah mendidik kamu untuk membedakan orang hanya dari status sosialnya saja. Kita bukan orang yang kolot, yang memandang tolak ukur seseorang adalah harta. Tapi ini soal bagaimana, kelangsungan hidup kamu, jika anggota keluarga adalah seseorang pelaku kriminal. Kamu yakin, kamu sanggup dengan itu semua?"
Naufal pun sebenarnya berfikir sama, tapi tiap kali melihat Anin menjalani kesedihannya sendirian Naufal tidak pernah bisa membiarkan. Jika ingin jujur, ia merasakan dilema yang sama dengan orang tuanya. Ia bingung memutuskan, apakah hubungan ini harus berlanjut, atau memang harus berakhir dengan perpisahan.
"Naf, Mama tahu..." Suara Regina melunak, "Berpisah dengan orang yang kita cintai itu tidak mudah. Mama bisa melihat kalau kamu sangat mencintai Anin. Tapi cinta saja tidak cukup untuk membangun suatu hubungan. Harus ada penyeimbang diantara keduanya. Dengan keadaan keluarga Anin yang seperti itu, kamu yakin semuanya akan berjalan dengan seimbang? Menikah bukan cuma kalian berdua. Ada keterlibatan keluarga nantinya. Nggak mungkin kan kamu menikahi Anin, lalu kamu membawa Anin untuk menjauhi keluarganya? Kalaupun harus berdampingan dengan keluarga nya, apa kamu yakin bisa masuk dengan keadaan yang seperti itu?"
Ucapan Regina begitu menusuk pemikiran Naufal, apa yang di bicarakan Ibunya adalah benar. Namun masalahnya, hati Naufal yang belum bisa menerima perpisahan. Hatinya sudah di isi oleh Anin, dan ia tidak pernah bisa menampiknya.
Naufal di landa kegamangan. Ia tidak bisa menyahut sepatah kata pun ucapan Regina dan Frans. Ia semakin termangu, bingung menentukan langkah.
Karena saat ia memilih Anin, itu berarti ia melawan keluarganya sendiri. Dan saat Anin melihat semua itu, perempuan itu justru memilih mundur.
Bukan karena tidak cinta. Tapi karena ia tahu, luka keluarganya terlalu besar untuk dipikul orang lain.
Naufal pernah berkata pernikahan tanpa cinta adalah omong kosong.
Namun ketika ia akhirnya menemukan cinta yang membuatnya ingin menikah, justru keluargalah yang memaksanya melepaskan.
Dan di antara semua hal yang pernah ia takutkan, kehilangan Anin ternyata yang paling menghancurkan.
*
*
*
~Lantas bagaimana kelanjutan kisah Anin dan Naufal? Simak cerita selengkapnya 💕
~ Salam hangat dari Penulis🤍