NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Harga Diri di Ujung Pedang

Angin pagi yang bertiup dari Lembah Cheonho membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Di langit, awan kelabu menggantung rendah seolah ikut menanggung beban hari itu. Pelataran utama Klan Ryu—sebuah lahan berbatu yang dikelilingi gapura batu usang—telah dipadati oleh lebih dari seratus orang. Mereka datang bukan untuk merayakan, melainkan untuk menyaksikan ritual tahunan yang paling dinanti sekaligus paling ditakuti: Ujian Kemurnian Qi.

Di atas panggung batu, tiga tetua klan duduk bersila dengan wajah keras. Di antara mereka, sebuah batu uji setinggi dada manusia—disebut Batu Nadi—berdiri menjulang. Batu hitam legam itu akan menyala sesuai kualitas qi yang ditusukkan ke dalamnya. Semakin terang cahayanya, semakin besar pula pengakuan yang akan didapat.

Namun bagi seorang pemuda yang berdiri di barisan paling belakang, hari itu hanya menjanjikan satu hal: penghinaan.

Ryu Seol menarik napas dalam-dalam. Seragam abu-abu lusuh yang ia kenakan kontras menyakitkan dengan jubah hijau kebanggaan keluarga utama yang dikenakan oleh sebagian besar peserta di depannya. Ia tahu betul bagaimana sorot mata mereka saat menatapnya. Bukan iri, bukan hormat, melainkan kasihan yang bercampur jijik.

“Seol, kau yakin ingin ikut lagi tahun ini?”

Suara lembut di sampingnya berasal dari Ryu Yeon, sepupu dari cabang lain yang masih peduli padanya. Gadis sebaya itu menatapnya dengan mata cemas.

“Aku tidak punya pilihan,” jawab Seol pelan. “Aturan klan mengharuskan setiap keturunan Ryu yang berusia di bawah dua puluh tahun untuk mengikuti ujian. Jika aku tidak ikut, mereka akan mencabut hak tinggalku di desa.”

Yeon menggigit bibir. “Tapi kau tahu apa yang akan terjadi. Cheonmyeong hyung-nim sudah menunggu kesempatan ini.”

Seol tidak menjawab. Matanya terpaku pada sosok yang berdiri di barisan terdepan, persis di depan Batu Nadi.

Ryu Cheonmyeong. Usia sembilan belas tahun. Tubuh tegap dengan bahu bidang, rambut hitam tersisir rapi, dan jubah hijau bertabur sulur emas—lambang status sebagai pewaris utama Klan Ryu. Ia sedang berbicara dengan dua orang pengiringnya sambil tersenyum. Senyum yang bagi sebagian orang tampak ramah, tetapi bagi Seol adalah senyum predator yang tahu kapan akan menerkam.

“Kurasa tahun ini akan lebih membosankan dari biasanya,” kata Cheonmyeong dengan nada santai. “Tidak ada lawan yang sepadan. Kecuali… ah, aku lihat sepupu kecil kita ikut lagi.”

Ia menoleh ke arah Seol. Mata mereka bertemu.

Cheonmyeong mengangkat alis, lalu membentuk senyum yang lebih lebar. Ia berkata cukup keras agar semua orang di sekitarnya mendengar:

“Sampah seperti dia masih punya muka untuk berdiri di sini? Sungguh menghibur.”

Tawa kecil mengikuti ucapannya. Beberapa peserta menoleh ke arah Seol, ada yang tersenyum sinis, ada pula yang menunduk malu—bukan karena ikut merasa terhina, melainkan karena tidak tega melihat pemuda malang itu.

Seol menggenggam erat ujung bajunya. Kuku jarinya hampir menembus kain tipis itu.

Jangan. Jangan bereaksi. Itu yang ia inginkan.

Gu, sosok yang hanya ia sendiri tahu keberadaannya, belum muncul. Belum waktunya. Ia harus menanggung ini sendirian, seperti biasa.

---

Sinar matahari tepat berada di puncak kepala saat tetua tertua, Ryu Dohwan, berdiri. Usianya mungkin sudah mendekati delapan puluh, tetapi suaranya masih bergema keras di seluruh pelataran.

“Ujian Kemurnian Qi Klan Ryu tahun ke-317 dimulai!”

Suara genderang menyambut. Tiga kali pukulan bergemuruh, menggetarkan tanah.

“Aturannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya,” lanjut tetua. “Setiap peserta akan menusukkan telapak tangan ke Batu Nadi dan mengalirkan qi-nya. Batu akan menyala dalam lima tingkatan: Hijau untuk pemula, Biru untuk yang berbakat, Merah untuk jenius, Emas untuk yang langka, dan… Putih.”

Ia berhenti sejenak, matanya menyapu semua peserta.

“Putih hanya terjadi sekali dalam seratus tahun. Itu menandakan kaisar bela diri sejati. Terakhir kali cahaya putih muncul adalah dari kakek buyut kita, Pendiri Klan Ryu.”

Suasana menjadi hening. Semua orang membayangkan kejayaan masa lalu yang kini hanya tinggal kenangan.

“Dimulai dari barisan depan,” perintah tetua.

Satu per satu peserta maju. Cheonmyeong adalah yang pertama.

Ia berjalan dengan penuh percaya diri, melompat ke atas panggung dengan gerakan anggun yang membuat beberapa gadis di antara penonton berdecak kagum. Ia berdiri di depan Batu Nadi, merentangkan tangan kanannya, dan menempelkan telapak tangannya ke permukaan batu hitam itu.

Qi-nya mengalir deras. Batu itu langsung menyala.

Hijau. Biru. Merah.

Cahaya merah menyala terang, memenuhi pelataran dengan aura yang hangat. Beberapa tetua mengangguk puas. Cheonmyeong tersenyum, lalu menekan lebih kuat.

Batu itu bergetar. Cahaya merah mulai bergeser ke arah keemasan…

Namun hanya mencapai setengah jalan sebelum akhirnya padam.

“Merah tingkat tinggi,” kata tetua Ryu Dohwan. “Sangat baik. Hampir menyentuh emas. Kau akan menjadi tulang punggung klan suatu hari nanti, Cheonmyeong.”

Pemuda itu membungkuk dengan anggun, tetapi saat berbalik, matanya melirik ke arah Seol. Tatapan itu berkata: Lihat, ini kekuatan sejati. Kau takkan pernah bisa mencapai ini.

Peserta lain maju satu per satu. Sebagian besar hanya mencapai hijau. Beberapa mencapai biru. Tidak ada yang melampaui Cheonmyeong.

Dan akhirnya, saat matahari mulai condong ke barat, tetua memanggil nama terakhir.

“Ryu Seol.”

Seluruh pelataran mendadak sunyi.

Seol melangkah maju. Ia bisa merasakan semua mata tertuju padanya. Bukan karena ia dihormati, tetapi karena mereka penasaran—seperti menonton atraksi sirkus yang menyedihkan.

Yeon menggenggam tangannya sekilas sebelum melepaskannya. “Hati-hati,” bisiknya.

Seol tidak menjawab. Ia menaiki anak tangga batu menuju panggung. Setiap langkah terasa berat, tetapi ia tidak membiarkan tubuhnya bergeming.

Di atas panggung, ia berdiri di depan Batu Nadi. Dari dekat, batu itu terlihat lebih menakutkan—permukaannya dipenuhi urat-urat bercahaya seperti pembuluh darah makhluk hidup.

Ia mengangkat tangan kanannya.

“Tunggu.”

Suara Cheonmyeong memotong dari bawah panggung. Ia berdiri dengan tangan disilangkan di dada, senyum tipis menghiasi bibirnya.

“Sabeom-nim,” katanya menoleh ke tetua. “Bukankah sebaiknya kita mengingatkan peserta tentang konsekuensi gagal total? Untuk… edukasi.”

Tetua Ryu Dohwan mengernyit, tetapi tidak membantah. “Batu Nadi tidak hanya menguji qi, tetapi juga meridian. Jika meridian seseorang benar-benar rusak dan ia memaksakan diri, batu ini dapat menghancurkan jalur qi-nya secara permanen. Atau lebih buruk, melukai dirinya sendiri.”

Cheonmyeong mengangguk puas. “Jadi, Seol, kau yakin masih ingin mencoba? Kasihanilah dirimu sendiri.”

Seol tidak menoleh. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang dingin.

Aku tidak peduli.

Ia menekan telapak tangannya.

Dan mengalirkan qi.

Tidak ada yang terjadi.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, qi dalam tubuhnya seperti sungai yang tersumbat batu besar—tidak bisa mengalir, hanya bergetar lemah lalu pecah sebelum mencapai ujung jari. Batu Nadi itu… mati. Tidak ada cahaya, tidak ada getaran, tidak ada apa pun.

Keheningan yang canggung menyelimuti.

“Luar biasa,” kata Cheonmyeong dengan nada sangat bersemangat. “Tahun ini dia berhasil membuat batu itu lebih mati dari biasanya.”

Beberapa orang tertawa. Seol tidak bergerak.

Tetua Ryu Dohwan menghela napas. “Ryu Seol, kau boleh mundur. Hasilmu… nihil.”

Seol menarik tangannya perlahan. Ia menunduk, berbalik, dan melangkah turun dari panggung.

Tapi Cheonmyeong belum selesai.

Dengan dua langkah panjang, ia menghadang jalan Seol. Mereka berhadapan hanya sejengkal. Dari dekat, Seol bisa mencium bau wewangian mahal dari jubah hijau itu.

“Ryu Seol,” kata Cheonmyeong dengan suara cukup pelan agar tidak terdengar tetua, tetapi cukup keras untuk didengar oleh mereka yang berada di barisan depan. “Kau tahu apa bedanya kau dengan sampah? Sampah setidaknya bisa diolah menjadi pupuk. Tapi kau? Tidak ada gunanya. Sama sekali.”

Ia menjentikkan jari ke dahi Seol. Sentuhan ringan, tetapi terasa seperti tamparan.

“Keluarga cabang seharusnya tahu diri. Jangan memalukan nama Ryu di depan umum. Mulai tahun depan, kau dilarang ikut ujian. Tidak ada gunanya menyia-nyiakan waktu klan.”

Seol mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Cheonmyeong.

Di dalam diri Seol, api membara. Bukan amarah yang meledak-ledak, tetapi api yang dingin—api yang membakar dari dalam, merembes ke setiap tulang, setiap otot, setiap urat nadi yang rusak itu.

Suatu hari. Aku bersumpah. Suatu hari.

Ia tidak berkata apa pun. Hanya menatap, lalu berjalan memutar melewati Cheonmyeong.

Di belakangnya, tawa kecil kembali terdengar.

---

Saat senja tiba, Seol duduk sendirian di tepi tebing yang menghadap ke luar desa. Angin sore membawa dingin yang menusuk, tetapi ia tidak bergerak. Pemandangan lembah di bawah sana tampak tenang—pohon-pohon hijau, sungai berkelok, dan di kejauhan, puncak Gunung Cheongmyeong yang diselimuti kabut.

“Seol.”

Suara Yeon dari belakang. Ia mendekat, lalu duduk di sampingnya tanpa diminta.

“Maaf,” kata Yeon pelan. “Cheonmyeong hyung-nim terlalu keterlaluan.”

“Dia benar,” kata Seol datar. “Aku memang tidak berguna.”

“Jangan bilang begitu!”

Seol menoleh. Wajah Yeon memerah karena emosi. “Kau tahu, kakekku dulu pernah bilang bahwa Klan Ryu dulu didirikan oleh seorang pendekar yang juga dianggap tidak berguna oleh keluarganya sendiri. Tapi lihatlah, dia membangun klan ini dari nol.”

Seol tersenyum kecil. “Itu dongeng.”

“Bukan dongeng! Itu sejarah.” Yeon meraih tangannya. “Kau punya sesuatu yang tidak mereka miliki, Seol. Ketekunan. Mereka menyerah setelah satu kali gagal. Tapi kau sudah gagal tujuh kali, dan kau masih di sini. Itu bukan kelemahan. Itu… kekuatan yang berbeda.”

Seol menatap tangan Yeon yang menggenggam tangannya. Hangat.

“Terima kasih,” katanya. “Tapi… aku perlu sendiri sekarang.”

Yeon menghela napas, lalu berdiri. “Jangan terlalu lama di sini. Udara malam bisa membuatmu sakit.”

Ia pergi. Kepergiannya meninggalkan aroma bunga kering yang samar.

Seol kembali menatap ke kejauhan. Matanya menyusuri aliran sungai di bawah, lalu tanpa sengaja menangkap sesuatu yang tak biasa.

Di balik air terjun yang berada di sisi lembah—air terjun yang menurut legenda adalah tempat pemakaman leluhur pertama Klan Ryu—ada celah kecil yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Atau mungkin celah itu memang baru terbuka karena musim kemarau.

Gua?

Seol tidak tahu mengapa, tetapi sesuatu dalam dirinya berdesir. Sebuah dorongan yang tidak masuk akal, seperti ada suara yang memanggil dari balik air terjun itu.

Ia berdiri.

Matahari telah sepenuhnya tenggelam. Langit berubah menjadi ungu tua. Jika ia pergi sekarang, ia harus kembali dalam kegelapan. Tapi…

Tidak ada yang menungguku di rumah. Tidak ada yang peduli jika aku hilang semalam.

Ia mulai berjalan menuruni tebing, menuju sungai di bawah.

---

Di sisi lain desa, di kediaman keluarga utama, Ryu Cheonmyeong duduk di beranda dengan secangkir anggur hangat. Seorang pelayan berlutut di depannya.

“Apa yang dilakukan anak cabang itu setelah ujian?” tanyanya santai.

“Duduk di tebing timur sampai senja, Tuan. Lalu ia turun ke arah sungai.”

“Sungai?” Cheonmyeong mengernyit. “Mau bunuh diri mungkin. Sudahlah, tidak penting. Awasi saja kalau-kalau ia melakukan hal bodoh yang mencoreng nama klan.”

“Baik, Tuan.”

Pelayan itu pergi. Cheonmyeong menyesap anggurnya, matanya menyipit.

“Ryu Seol… kau benar-benar sampah yang merepotkan.”

Ia tidak tahu bahwa malam itu, di balik air terjun yang terlarang, seorang pemuda yang ia anggap sampah akan menemukan sesuatu yang akan mengubah takdir Murim selamanya.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!